Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Nascent Soul
Di dalam kamar penginapan yang sempit itu, Wang Chan dan Qing Yi terbaring letih di lantai anyaman bambu. Udara masih terasa berat, masih menyisakan sisa-sisa tekanan spiritual dari proses penerobosan tadi.
Retakan-retakan halus pada anyaman di bawah Wang Chan menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya energi yang baru saja lepas.
Napas keduanya masih terdengar memburu. Wang Chan menatap langit-langit kayu yang gelap, dadanya naik turun perlahan.
Di sekujur tubuhnya, sisa-sisa Qi keemasan masih merambat tipis seperti ular-ular kecil yang tengah mencari tempat bersarang.
Samar, tapi terasa. Hangat, tapi menusuk.
Ia telah berhasil menerobos.
Ranah Nascent Soul. Tahap awal.
Seulas senyum tipis terukir di sudut bibirnya. Bukan senyum sombong, lebih seperti helaan lega yang tertahan terlalu lama.
Selama bertahun-tahun ia hanya menjadi bulan-bulanan, ejekan, tontonan warga desa yang menganggapnya sampah.
Kini, meskipun baru tahap awal, ia bukan lagi semut.
Di sampingnya, Qing Yi terbaring miring. Wajahnya pucat, keringat tipis masih membasahi pelipis dan lehernya.
Pakaian tidur krem yang longgar itu kini basah di beberapa bagian, menempel pada kulitnya.
Ia kelelahan. Bukan karena bertarang, tapi karena mengorbankan Qi-nya untuk menstabilkan aliran dalam tubuh Wang Chan di saat-saat kritis.
Ia berada di Ranah Golden Core tahap akhir.
Hanya selisih satu langkah lagi dari Wang Chan. Tapi langit dan bumi.
"Makasih, aku berhutang padamu lagi." Wang Chan memecah sunyi. Suaranya serak, tapi hangat.
Qing Yi hanya bergumam pelan, matanya masih terpejam. Ia terlalu lelah bahkan untuk sekadar membuka kelopak mata.
Wang Chan mengangkat tangannya ke atas, menghadap ke langit-langit.
Telapak tangannya yang kasar, penuh kapalan dan bekas luka, kini diselimuti lapisan Qi tipis pucat. Ia mengepalkannya perlahan, lalu membuka lagi.
Energi itu menurut padanya. Mengalir seperti anak sungai yang jinak.
"Akhirnya... kultivator sejati."
Ucapannya lirih, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri. Bukan untuk bermegah.
Tapi untuk mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia sudah sampai di sini. Bahwa semua peluh, darah, dan air mata yang tertahan selama ini, tidak sia-sia.
Di dunia ini, yang namanya kultivator sejati dimulai dari Nascent Soul.
Di bawah itu, sekencang apa pun seseorang berlatih, sehebat apa pun teknik yang dikuasai, tetaplah hanya semut.
Mudah diinjak. Mudah dilupakan.
Dan Wang Chan butuh waktu sangat lama untuk berhenti menjadi semut.
"Selama atas kenaikanmu." Suara Qing Yi terdengar dari samping, masih lemah, tapi ada getar tulus di dalamnya.
Ia perlahan membuka mata.
Pupilnya masih sedikit buram karena kelelahan, namun senyum kecil sudah menghiasi bibirnya yang sedikit pecah-pecah.
Tapi senyum itu tak bertahan lama. Ia mengerutkan kening, lalu dengan susah payah setengah duduk, kedua tangannya menopang di lantai.
Pakaian tidurnya yang longgar melorot sedikit dari bahu, memperlihatkan tulang selangkanya yang putih dan basah oleh keringat.
"Wang Chan. Dengarkan aku."
Wang Chan menoleh.
"Kau mungkin sudah mencapai Nascent Soul." Qing Yi menatapnya lurus-lurus. Serius. "Tapi kau tidak punya senjata magis. Itu masalah besar."
Ia benar.
Seorang Nascent Soul tanpa senjata magis seperti harimau tanpa taring. Bisa mengaum, bisa menerkam, tapi tidak bisa membunuh secara efektif.
Sementara para kultivator lain di ranah yang sama biasanya sudah memiliki setidaknya dua atau tiga senjata magis.
Satu untuk menyerang. Satu untuk bertahan. Satu cadangan.
Wang Chan hanya tersenyum. Bukan senyum meremehkan.
Tapi senyum sabar yang membuat Qing Yi gemas sekaligus bingung.
"Tidak," katanya pelan. "Untuk sekarang, kita butuh batu sumber. Buat makan. Buat hidup. Bukan untuk senjata magis."
"Tapi—"
"Qing Yi."
Ia memotong lembut. Matanya bertemu dengan mata Qing Yi. Untuk sesaat, tidak ada kata-kata. Hanya tatapan.
"Kita baru kehilangan desa. Kita baru sampai di kota ini. Kita hampir mati tadi malam." Suaranya pelan, tapi setiap katanya jatuh dengan berat. "Senjata magis tidak akan membuatku kenyang. Tidak akan membuatmu hangat di malam hari."
Qing Yi terdiam. Ia tahu Wang Chan benar. Tapi sesuatu di dadanya terasa sesak.
Bukan karena ia tidak setuju. Tapi karena ia tahu, dibalik kata-kata itu, Wang Chan mengorbankan kebutuhannya sendiri. Lagi.
Seperti biasa.
Wang Chan kemudian bangkit perlahan. Tubuhnya masih terasa pegal, otot-ototnya masih bergetar sisa-sisa tekanan tadi.
Ia berdiri, lalu berjalan ke jendela kecil di sudut ruangan. Kayu jendela itu usang, dengan engsel berkarat yang berdecit pelan saat ia buka.
Angin sore memasuki ruangan. Dingin.
Membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang lain... sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia menatap ke luar. Ke langit Kota Jiang yang mulai jingga.
"Lagipula..." Wang Chan berkata tanpa menoleh. "Aku sekarang punya sesuatu yang menarik."
Qing Yi mengernyit. Ia menghela tubuhnya yang lelah hingga bersandar pada dinding bambu.
Tangannya meraih selimut biru tua yang jatuh di sampingnya, lalu menariknya perlahan menutupi dada.
"Apa itu?"
Senyum Wang Chan melebar. Tapi bukan senyum bahagia. Senyum itu lebih terasa... misterius.
Seperti orang yang baru menemukan kunci pada pintu yang selama ini ia kira hanya hiasan dinding.
"Rahasia."
"Wang Chan!"
"Kuberitahu nanti," ucapnya masih dengan senyum yang sama.
Qing Yi cemberut. Bibirnya yang merah sedikit maju ke depan, alisnya menyatu, pipinya mengembang karena kesal. Tapi ia tidak memaksa.
Ia tahu Wang Chan tidak akan berbohong padanya. Jika ia bilang nanti, maka nanti.
Bisa besok, bisa lusa, atau bisa minggu depan. Tapi akan sampai.
"Bodoh," gumamnya pelan, lalu membuang muka ke arah lain.
Namun di sudut bibirnya, ada senyum kecil yang tidak bisa ia sembunyikan.
Wang Chan menyadari sesuatu.
Setelah menerobos ke Nascent Soul, matanya terasa... berbeda. Lebih jernih. Lebih tajam. Bukan hanya melihat, tapi menangkap.
Ia bisa melihat aliran Qi di udara yang dulu tidak pernah ia sadari. Bisa merasakan jejak spiritual samar dari benda-benda di sekitarnya.
Bahkan dari kejauhan, ia seperti bisa mendeteksi keberadaan makhluk hidup hanya dari getaran kecil energi mereka.
Itu tidak normal.
Ia tahu. Seorang kultivator Nascent Soul biasa memang memiliki peningkatan indra. Tapi tidak seperti ini. Ini terlalu... presisi.
Terasa seperti ada lapisan tipis di atas bola matanya yang memungkinkannya melihat sesuatu yang tidak seharusnya terlihat.
Dan Wang Chan punya satu dugaan.
Wanita berambut putih itu.
Senyumnya. Rasa panas di mata kirinya saat itu. Semua terhubung.
Wang Chan tidak tahu caranya, tapi ia yakin wanita itu melakukan sesuatu padanya.
Mungkin sengaja. Mungkin tidak. Tapi hasilnya, matanya kini berbeda.
Dengan tangan bersila di dada, Wang Chan bersandar pada dinding dekat jendela.
Angin sore membelai rambutnya yang hitam dan sedikit panjang.
Matanya menyipit menembus langit jingga.
'Sebenarnya apa tujuanmu...' gumamnya dalam hati. 'Kau membantuku... atau ada hal lain di balik semua ini?'
Wanita itu tidak muncul lagi setelah pertemuan singkat di alun-alun.
Tidak ada jejak energi, tidak ada bisikan, tidak ada tanda-tanda. Seolah ia hanya fatamorgana. Seolah ia tidak pernah ada.
Tapi Wang Chan tahu.
Ia nyata.
Dan senyumnya yang misterius itu... masih terukir jelas di benaknya. Terlalu jelas. Seperti diukir dengan pisau.
"Wang Chan." Suara Qing Yi memecah lamunannya.
"Ya?"
"Kau serius tidak akan beli senjata magis?"
Wang Chan tertawa kecil.
Ia berbalik, menatap Qing Yi yang masih duduk bersandar di dinding dengan selimut melingkar di bahunya.
Rambutnya yang panjang kusut, matanya masih mengantuk, tapi tatapannya keras. Nekat. Khas Qing Yi.
"Serius."
"Bodoh."
"Sudah kudengar."
"Kubilang dua kali karena kau bodoh banget."
Wang Chan menggeleng. Tapi senyumnya tidak hilang.
Di luar jendela, mentari sore perlahan tenggelam di ufuk barat. Langit berubah dari jingga menjadi ungu, lalu perlahan gelap.
Lentera-lentera di Kota Jiang mulai menyala satu per satu, seperti kunang-kunang raksasa yang terbang rendah.
Hari pertama mereka di kota asing.
Tanpa desa. Tanpa rumah. Tanpa senjata magis.
Tapi tidak sendirian.
Wang Chan melirik Qing Yi sekilas.
Lalu ia kembali menatap jendela, sambil terus bertanya-tanya dalam diam.
'Apa kau musuh? Atau... apa kau?'
...---...
1. Tubuh Mortal
2. Penempaan Tubuh
3. Pengumpul Qi
4. Golden Core
5. Nascent Soul
6. Transformasi Roh
7. Nirvana
8. Empat Pilar
9. Lima Elemen
10. Enam Harmoni
11. Tujuh Bintang
12. Delapan Arah
13. Sembilan Langit
14. Saint Realm
15. Half-Immortal
16. True Immortal
17. Immortal King
18. Immortal Emperor
19. Daluo