NovelToon NovelToon
Talak Tiga Di Malam Pertama

Talak Tiga Di Malam Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .

Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.

Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Malam itu berlanjut dengan tawa renyah dan obrolan yang penuh kegembiraan di kediaman Pratama. Tidak ada satu pun di antara mereka yang memiliki keraguan sedikit pun atas keputusan yang telah diambil. Bagi mereka, segala sesuatu berjalan begitu mulus dan sempurna. Seolah takdir memang sudah digariskan untuk menyatukan Yogie dan Sania, sementara Salwa dianggap sebagai kesalahan besar yang sudah berhasil dihapus dari lembaran hidup mereka.

Sania duduk bersandar nyaman di samping Yogie, sesekali tertawa mendengar candaan calon mertuanya. Di dalam hatinya, rasa bangga dan kemenangan membara hebat. Ia menatap kosong ke arah ruangan yang luas dan mewah itu, membayangkan dirinya kelak menjadi nyonya rumah di sini, memegang kendali atas segala kekayaan, dan dihormati oleh semua orang. Bayangan wajah Salwa yang penuh luka dan kesusahan terlintas sekilas di benaknya, dan Sania hanya tersenyum miring puas.

" Lihatlah, Kak. Kau yang bodoh dan kaku itu kini entah di mana, mungkin sudah mati kelaparan di jalanan. Sedangkan aku... aku akan menjadi wanita paling beruntung dan paling kaya di kota ini."

Yogie sendiri merasa sangat lega. Rasa malu akibat peristiwa perceraiannya yang memalukan beberapa waktu lalu perlahan hilang terhapus oleh kehadiran Sania. Baginya, Sania adalah obat segala luka dan aib. Gadis ini cantik, cerdas, pandai bicara, dan yang paling penting berasal dari keluarga yang dianggapnya setara dan baik-baik. Ia sama sekali tidak menyesali perbuatannya membuang Salwa. Justru ia merasa sangat bijaksana telah melakukan hal itu, sehingga kini ia bisa mendapatkan wanita seindah dan seberkelas Sania.

"Kita akan persiapkan segalanya dengan matang," ucap Tuan Pratama dengan semangat, sambil memegang gelas minumannya. "Pesta pertunangan kalian akan buat besar-besaran, tapi... aku rasa momen terbaik untuk mengumumkan hubungan resmi kalian adalah tepat di acara ulang tahun Perusahaan Laksana nanti. Di depan semua orang penting, di hadapan para pejabat dan pengusaha besar. Itu akan menjadi pengumuman yang sangat bergengsi. Nama keluarga Pratama dan nama keluarga kalian akan semakin harum dan dihormati."

Sania membelalakkan matanya berpura-pura terkejut dan senang. "Benarkah, tuan ? Di acara sebesar itu? Wah... saya pasti akan sangat gugup, tapi... saya sangat berterima kasih. Itu adalah kehormatan terbesar bagi saya dan keluarga saya."

"Kau memang pantas mendapatkannya, Nak," sahut Nyonya Pratama sambil mengusap tangan Sania. "Beda sekali dengan kakakmu dulu. Dulu saja kami sudah malu mengajaknya ke acara biasa, apalagi acara sebesar itu. Dia tidak punya gaya, tidak punya wawasan, kaku, dan selalu saja membuat masalah. Syukurlah kau lahir berbeda, Sania. Kau adalah permata sejati keluarga kami."

Pujian-pujian manis itu terus mengalir, semakin membutakan mata hati mereka semua. Mereka membicarakan pakaian apa yang akan dipakai, siapa saja yang akan diundang, dan betapa irinya orang-orang nanti saat melihat kemegahan dan kebahagiaan mereka. Tidak ada yang sadar bahwa kebahagiaan yang mereka nikmati malam itu hanyalah momen terakhir sebelum badai besar menghancurkan segalanya.

Di sisi lain, saat mobil Sania melaju pulang dengan kecepatan sedang menembus kegelapan malam, gadis itu tersenyum sendiri di dalam kendaraannya. Ia langsung menelepon ayahnya, Pak Joko, untuk menyampaikan kabar emas ini.

"Halo, Yah...? Hebat sekali, Ayah! Rencana kita berhasil seratus persen. Mereka setuju, Yah! Mereka setuju aku menjadi istri Mas Yogie. Dan lebih hebat lagi... mereka berencana mengumumkan hubungan kita secara resmi di pesta Laksana Group nanti. Di depan semua orang penting!" seru Sania penuh kemenangan lewat telepon.

Suara tawa keras Pak Joko terdengar dari ujung telepon. Tawa yang penuh keserakahan dan kepuasan.

"Bagus! Hebat, putri Ayah! Kau memang jenius. Itu lebih dari yang Ayah bayangkan. Mengumumkan hubungan di sana... wah, itu akan membuat posisi kita semakin kuat. Kita akan terlihat semakin hebat di mata semua orang. Tunggu saja, Nak. Nanti setelah kau resmi menjadi istri Yogie, kita akan mulai mengatur semuanya. Kekayaan keluarga Pratama perlahan-lahan akan masuk ke kantong kita. Kita akan menjadi orang terkaya di kota ini. Dan Salwa... gadis sialan itu, biarkan saja dia membusuk di mana pun dia berada. Dia sudah kalah telak dari kamu, Sania. Dia tidak akan pernah bisa bangkit lagi."

Bu Ratna yang duduk di samping suaminya pun ikut tersenyum puas, meski di sudut hatinya yang paling dalam ada rasa gusar dan takut yang samar-samar. Ada suara kecil di hatinya yang berkata bahwa segala sesuatu berjalan terlalu mulus, terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Tapi ia segera membuang rasa itu jauh-jauh. Ia pikir, mungkin itu hanya rasa bersalahnya terhadap anak yang telah ia buang.

Mereka semua tertidur lelap malam itu, bermimpi indah tentang kekayaan, kekuasaan, dan kebanggaan. Mereka tidur dengan tenang, tidak tahu bahwa di kediaman megah Laksana Group, di ruang kerja yang luas dan penuh berkas-berkas penting, ada tiga orang yang sedang duduk serius menatap satu sama lain dengan sorot mata yang jauh berbeda.

Ardiansyah, Bunga, dan Salwa.

Mereka bertiga baru saja menerima laporan lengkap dari orang kepercayaan Ardiansyah yang mengawasi setiap gerak-gerik keluarga Pratama dan keluarga Joko. Di atas meja kerja itu terdapat berkas-berkas foto dan rekaman pembicaraan yang baru saja terjadi.

Salwa duduk tegak, wajahnya tenang namun matanya memancarkan kilatan dingin yang tajam. Mendengar bahwa mereka semua begitu angkuh, begitu sombong, dan begitu yakin akan kemenangan mereka, hati Salwa justru terasa semakin tenang. Ia tidak lagi merasa sakit hati atau marah meledak-ledak seperti dulu. Kini, rasa sakit itu telah berubah menjadi kekuatan yang dingin dan terencana.

"Lihatlah mereka, Ayah..." ucap Salwa pelan namun tegas, sambil menunjuk salah satu foto yang menampakkan wajah Sania yang tersenyum bangga. "Mereka merasa sudah menang. Mereka merasa mereka adalah penguasa, dan saya hanyalah debu yang sudah hilang ditiap angin. Mereka bahkan berniat mengumumkan hubungan mereka di pesta kita nanti. Mereka pikir pesta itu adalah tempat untuk mereka bersinar."

Ardiansyah tersenyum miring, senyum yang penuh wibawa dan rencana matang. Ia menatap putrinya dengan bangga, melihat betapa dewasa dan tegarnya gadis itu kini.

"Biarkan saja mereka bermimpi indah sedikit lagi, Nak. Semakin tinggi mereka terbang dengan kesombongan mereka, semakin keras dan menyakitkan kejatuhan mereka nanti. Biarkan mereka bersiap dengan pakaian terbaik mereka, biarkan mereka memoles wajah mereka dengan senyum kemenangan, dan biarkan mereka membayangkan diri mereka sebagai pusat perhatian."

Bunga yang duduk di samping Salwa mengusap bahu gadis itu lembut, namun suaranya tegas dan dingin.

"Mereka tidak tahu, Nak. Undangan yang mereka anggap sebagai kehormatan terbesar itu sebenarnya adalah tiket masuk ke ruang pengadilan mereka sendiri. Di pesta itu nanti, lampu sorot tidak akan tertuju pada Sania atau Yogie. Lampu itu hanya akan tertuju padamu, Salwa. Dan saat kau berdiri di sana sebagai Direktur Utama yang baru, saat kau berjalan masuk mendampingi kami... di situlah mimpi indah mereka akan hancur berantakan dalam sekejap mata."

Salwa mengangguk mantap, dadanya membusung penuh keyakinan. Ia menatap ayahnya dan ibunya dengan pandangan yang bertekad baja.

"Mereka ingin bersinar di sana? Baiklah. Biarkan mereka datang. Saya akan pastikan, di saat itu juga, di depan mata kepala mereka sendiri dan di depan seluruh orang penting di kota ini... saya akan mengambil kembali segalanya. Nama baik yang mereka curi, harga diri yang mereka injak, dan kebahagiaan yang mereka nikmati dengan cara curang... semuanya akan saya ambil kembali, bahkan berkali-kali lipat lebih banyak lagi."

Salwa berdiri tegak, menatap keluar jendela besar ke arah kegelapan malam yang menyelimuti kota.

"Dua minggu lagi... tunggu saja, Yogie. Sania. Ibu. Ayah tiri... Di pesta itu nanti, kita akan bertemu kembali. Dan saat itu terjadi... kalian akan tahu siapa sebenarnya Salwa Azzahra yang kalian buang itu. Kalian akan tahu bahwa kalian tidak sedang bermain dengan gadis miskin dan lemah, tapi kalian sedang bermain dengan api yang siap membakar habis seluruh hidup kalian."

Malam itu, dua kubu besar itu tidur dengan perasaan yang sangat berbeda. Satu kubu tidur dengan mimpi kesombongan dan kekayaan. Kubu lainnya tidur dengan tekad pembalasan dan kebangkitan. Dan keduanya sama-sama menunggu hari besar itu tiba, tanpa menyadari bahwa takdir telah menyiapkan panggung yang sangat besar untuk pertemuan terakhir mereka yang akan mengubah segalanya selamanya.

Bersambung,,,,

1
Alit Liet
ceritanya bagus tidak berbelit2
Alit Liet
bab 23 nya mana
Jetva
Yogie..kamu sayang tp kamu talak 3...jelas kamu tak bisa lagi kembali padanya...lelaki koq otaknya kecil..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!