Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.
dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMUNCULAN ZOMBIE LEVEL 2 PUNCAK
Cincin di tangan kiri Rian tiba-tiba terasa panas.
Rasa terbakar itu membuat alisnya langsung berkerut.
"...!"
Ia melirik sekilas ke arah lantai atas, tepat ke lokasi awal kemunculan zombie level 2 tadi.
Reaksi cincin itu semakin kuat.
Itu hanya berarti satu hal.
Ada _Wheel_... atau sesuatu yang sangat berharga di sana.
Namun—
Tatapan Rian kembali tertuju ke depan.
Zombie raksasa itu masih berdiri tidak jauh dari mereka sambil mengeluarkan suara geraman rendah yang membuat udara terasa berat.
Aura monster itu jauh lebih kuat dibanding dirinya saat ini.
Kalau memaksa naik sekarang... kemungkinan mati sangat besar.
Rian menggertakkan giginya pelan.
Ia harus memilih.
Mempertaruhkan nyawa demi sesuatu di lantai atas... Atau mundur menuju zona aman bersama semuanya.
...
Namun keputusan itu ternyata tidak membutuhkan waktu lama.
Tatapan Rian berubah tajam.
"Budi!" teriaknya lantang.
Budi langsung menoleh.
"Berubah jadi monster harimau api sekarang dan hantam zombienya!"
"Oke!"
Tanpa ragu, tubuh Budi langsung diselimuti kobaran api merah menyala.
_BOOOOM!!_
Ledakan panas memenuhi area sekitar.
Otot tubuhnya membesar.
Taring tajam muncul dari mulutnya.
Dalam beberapa detik, sosok manusia Budi telah berubah menjadi monster harimau api setinggi hampir tiga meter.
Api berkobar liar di sekujur tubuhnya.
_RAAAARGH!!_
Raungan panas monster api itu menggema memenuhi mall.
Bahkan zombie raksasa di depan mereka sampai berhenti bergerak sesaat.
"Untuk para perempuan, cepat pergi ke zona aman di belakang!" perintah Rian.
"Kami akan mengulur waktu!"
Rahma langsung panik.
"Tapi bagaimana dengan kalian?!"
"Pergi sekarang!" bentak Ridho sambil mengangkat pisau esnya.
Indah menggigit bibir bawahnya.
Tatapannya dipenuhi kecemasan saat melihat Rian.
"Tapi kamu sendiri bagaimana, Rian?"
"CEPAT!"
Kali ini suara Rian terdengar jauh lebih dingin.
Tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.
Ia tahu— kalau mereka terus ragu, semuanya justru akan mati di sini.
Nadia menarik tangan Rahma dengan paksa.
"Ayo!"
Mereka akhirnya mulai mundur menuju pintu mall.
Sementara itu...
Rian perlahan melangkah maju.
Napasnya berubah berat.
Aura hitam kehijauan mulai keluar dari tubuhnya seperti kabut pekat.
Kegelapan menyelimuti lantai di sekitar kakinya.
Ridho yang berada di sampingnya langsung merasakan hawa dingin menusuk tulang.
"Rian..."
Namun Rian tidak menjawab.
Matanya perlahan berubah kosong.
Tidak ada emosi.
Tidak ada kehidupan.
Yang tersisa hanyalah aura dingin seperti monster dari jurang neraka.
_Shadow Demon Spirit Form._
_Wuuusshhh..._
Energi bayangan mulai berputar di sekitar tubuhnya.
Lalu—
Sebuah bilah hitam pekat perlahan tercipta dari genggaman tangannya.
Pedang bayangan itu tampak tidak stabil, seolah terbuat dari kabut gelap yang terus bergerak.
Tetapi aura mematikannya sangat jelas terasa.
Zombie raksasa di depan mereka menggeram kasar.
_ROOOARRR!!_
Monster itu langsung menerjang.
_DUARRR!!_
Lantainya pecah saat tubuh besar itu melompat ke arah mereka.
"BUDI!" teriak Rian.
"Serahkan pukulan pertama padaku!"
_RAAARGH!!_
Monster harimau api langsung melesat maju.
Api merah menyala berkumpul di kedua cakarnya.
_BOOOOM!!_
Cakar api raksasa menghantam tubuh zombie besar itu dengan keras.
Ledakan panas langsung mengguncang seluruh lobi.
Untuk sesaat—
Tubuh zombie raksasa terdorong mundur beberapa meter.
Namun...
"...Apa?!"
Ekspresi Budi berubah.
Kulit monster itu hanya sedikit terbakar.
Ketahanannya benar-benar tidak normal.
Zombie raksasa itu meraung marah lalu mengayunkan cakarnya.
_BRAK!!_
Tubuh Budi terpental keras menghantam tiang mall hingga retak.
"Budi!" teriak Ridho.
Namun sebelum monster itu sempat menyerang lagi.
_Swish!_
Bayangan hitam melintas cepat.
Rian muncul tepat di depan zombie raksasa.
Pedang bayangannya langsung menebas horizontal.
_SLASH!!_
Untuk pertama kalinya—
Kulit keras monster itu berhasil terbelah.
Darah hitam pekat muncrat keluar.
_ROOOAAARRR!!_
Zombie raksasa meraung kesakitan.
Mata merahnya langsung terkunci pada Rian.
"Memang keras..." gumam Rian dingin.
Tubuhnya kembali berubah menjadi bayangan kabur.
Kecepatannya meningkat drastis dalam mode roh iblis itu.
_Slash!_
_Slash!!_
_Slash!!!_
Serangan demi serangan menghujani tubuh monster.
Luka hitam mulai memenuhi dada dan lengannya.
Namun—
Regenerasi monster itu juga berlangsung sangat cepat.
Lukanya perlahan menutup kembali.
"Sial..." Ridho berkeringat dingin melihatnya.
Kalau pertarungan terus seperti ini, stamina Rian pasti habis lebih dulu.
Dan benar saja—
Napas Rian mulai terasa berat.
Aura hitam di tubuhnya perlahan tidak stabil.
Mode itu jelas menguras energi dalam jumlah besar.
Zombie raksasa menyadari perubahan itu
.
Monster tersebut tiba-tiba menyeringai mengerikan.
Lalu—
_DUARR!!_
Tubuhnya melompat tinggi ke udara sebelum menghantam turun tepat ke arah Rian.
Serangan itu terlalu cepat.
Mata Rian sedikit membesar.
Tidak sempat menghindar sepenuhnya.
_BOOOOM!!_
Ledakan besar mengguncang lantai mall.
Debu tebal langsung memenuhi area pertarungan.
"RIAN!!"
Ridho berteriak panik.
Beberapa detik kemudian...
Siluet seseorang perlahan terlihat di tengah kepulan debu.
Rian masih berdiri.
nafasnya terengah-engah.
Namun lengan kirinya berlumuran darah.
Ia menahan serangan itu secara paksa menggunakan pedang bayangannya.
Darah menetes perlahan ke lantai.
Tetapi—
Tatapan kosong Rian tidak berubah sedikit pun.
Justru aura gelap di sekelilingnya semakin pekat.
Dan cincin di tangan kirinya...
Masih terus terasa panas.
---