NovelToon NovelToon
Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kilau Kanvas

​Aroma minyak esensial lavender dan kayu cendana yang menenangkan perlahan-lahan menguar, memenuhi setiap sudut kamar utama yang luas dan megah itu. Pagi yang tegang setelah kepergian Asher yang dingin kini telah bergeser menuju siang yang tenang. Sesuai dengan instruksi protokoler harian yang telah diatur sejak Chloe pertama kali menginjakkan kaki di mansion ini sebagai Nyonya Sterling, hari ini adalah jadwal rutin bagi Chloe untuk menerima rangkaian body treatment—sebuah kemewahan perawatan tubuh menyeluruh yang biasa dia dapatkan bahkan sejak sebelum hari pernikahannya yang megah namun kaku itu digelar.

​Pintu kayu ek kamar utama terbuka perlahan dengan bunyi klik yang halus. Bi Mirna melangkah masuk terlebih dahulu dengan senyuman keibuannya yang hangat, memimpin tiga orang terapis wanita berseragam putih bersih yang membawa berbagai macam perlengkapan perawatan: mulai dari krim lulur organik, minyak pijat aromaterapi kualitas premium, hingga handuk-handuk hangat yang mengepulkan uap tipis.

​"Selamat siang, Nyonya Muda," sapa Bi Mirna sembari membungkuk hormat dengan sangat sopan. "Para terapis dari klinik kecantikan langganan keluarga sudah tiba. Hari ini jadwal Nyonya untuk pijat relaksasi, lulur susu, dan perawatan rambut agar pikiran Nyonya bisa sedikit lebih rileks."

​Chloe yang saat itu sedang duduk di tepi ranjang dengan gaun tidur sutra putihnya hanya mengangguk pelan, membalas sapaan itu dengan seulas senyuman tipis yang manis. "Terima kasih, Bi. Silakan atur saja."

​Tidak butuh waktu lama bagi para terapis profesional itu untuk menyulap sudut kamar dekat jendela besar menjadi ruang spa pribadi yang sangat nyaman. Chloe perlahan merebahkan tubuh mungilnya di atas matras pijat yang empuk dengan posisi tengkurap, membiarkan selembar kain batik halus menutupi bagian bawah tubuhnya. Jemari lihai dan hangat dari terapis utama mulai menekan titik-titik kaku di sepanjang pundak dan punggung Chloe, menyalurkan rasa hangat yang perlahan-lahan mengendurkan otot-ototnya yang menegang akibat stres psikologis yang dia hadapi selama beberapa hari terakhir.

​Alunan musik instrumental beritme lambat yang diputar dari pengeras suara kecil di sudut ruangan seharusnya mampu membawa Chloe tenggelam dalam kantuk yang dalam. Namun, alih-alih merasa rileks, pikiran Chloe justru tetap terjaga, berputar-putar di dalam labirin rasa penasaran yang sama yang tadi pagi gagal dia tuntaskan bersama Kenzo di ruang makan. Peringatan keras dan tatapan mata kelabu Asher yang penuh ancaman kepemilikan mutlak justru semakin memicu rasa ingin tahunya tentang siapa sebenarnya sosok pria yang kini menjadi suaminya tersebut.

​Melihat Bi Mirna yang sedang sibuk merapikan tumpukan handuk hangat di dekat meja rias, Chloe perlahan membuka suaranya, memutus keheningan kamar.

​"Bi Mirna..." panggil Chloe dengan nada suara yang sangat lembut, hampir tenggelam di antara desing halus pendingin ruangan.

​Bi Mirna menghentikan gerakannya, lalu menoleh dan melangkah mendekati matras tempat Chloe berbaring. "Iya, Nyonya Muda? Apakah tekanannya terlalu keras? Atau ada sesuatu yang Nyonya membutuhkan?"

​Chloe menggelengkan kepalanya sedikit di atas bantal wajah. "Tidak, Bi. Tekanannya sudah sangat pas. Aku hanya... aku hanya ingin mengobrol sebentar denganmu." Chloe menjeda kalimatnya sejenak, mengatur ritme napasnya sebelum meluncurkan pertanyaan yang terus menyiksa batinnya. "Bi, kau sudah bekerja di mansion ini selama puluhan tahun, bukan? Sejak Asher masih kecil?"

​"Benar, Nyonya. Saya sudah ikut merawat Tuan Asher sejak beliau masih berusia sepuluh tahun, bahkan sebelum mendiang Tuan Besar Sterling menyerahkan takhta kepemimpinan organisasi kepada beliau," jawab Bi Mirna dengan binar mata yang mendadak dipenuhi oleh kilas balik masa lalu.

​"Jika begitu... kau pasti tahu betul orang seperti apa dia yang sebenarnya," ucap Chloe, matanya menatap lurus ke arah marmer lantai bawah. "Bi, katakan padaku dengan jujur... Seperti apa sebenarnya seorang Asher Sterling itu? Mengapa dia bisa menjadi sosok yang begitu mengerikan, dingin, dan tak tersentuh di depan semua orang?"

​Bi Mirna terdiam sejenak, seulas senyuman maklum yang sarat akan rasa sayang terukir di wajah tuanya yang mulai berkerut. Beliau mengembuskan napas pendek sebelum menjawab dengan nada suara yang teramat tenang. "Tuan Asher... beliau adalah orang yang sangat baik, Nyonya Muda. Di balik semua ketegasan dan sikap diamnya yang menakutkan itu, beliau memiliki hati yang sangat setia dan bertanggung jawab penuh atas keselamatan seluruh orang yang berada di bawah perlindungannya. Beliau hanya tidak pandai menunjukkan emosinya dengan kata-kata manis."

​Mendengar jawaban yang terkesan sangat normatif dan protektif itu, Chloe merasa sama sekali tidak puas. "Orang baik?" gumam Chloe dalam hati dengan seulas senyuman pahit. Seorang pria yang semalam melumat bibirnya dengan begitu liar tanpa ampun sebagai bentuk hukuman atas ketidakpatuhannya, dan seorang pria yang dengan santai memerintahkan pematahan jari tangan manusia di ruang kerjanya, rasanya terlalu jauh untuk dikategorikan sebagai 'orang baik' dalam kamus akal sehat Chloe. Dia tahu Bi Mirna berbicara dari sudut pandang seorang pelayan setia yang penuh rasa hormat, bukan dari sudut pandang seorang wanita yang terperangkap dalam sangkar emas pria tersebut.

​Menyadari dia tidak akan mendapatkan informasi yang lebih dalam dari Bi Mirna yang sangat menjaga rahasia tuannya, Chloe memilih untuk mengalihkan taktiknya. Pandangan matanya perlahan beralih menatap profil wajah terapis wanita berusia sekitar akhir tiga puluhan yang saat ini sedang telaten memijat area betis dan kakinya. Terapis ini tampak sangat fokus, namun gestur tubuhnya menunjukkan bahwa dia sudah sangat terbiasa dengan atmosfer mansion mewah ini.

​"Mbak..." panggil Chloe dengan suara rendah, mencoba mencairkan kekakuan di antara mereka.

​Terapis itu sedikit tersentak, lalu menundukkan kepalanya dengan sopan. "Iya, Nyonya?"

​"Apakah kau... apakah kau sudah sering datang ke mansion ini untuk memberikan perawatan seperti ini sebelum aku menikah dengan Asher?" tanya Chloe perlahan, memancing pembicaraan.

​Terapis itu mengangguk pelan sembari terus melanjutkan pijatannya dengan ritme yang teratur. "Benar, Nyonya. Klinik kami sudah menjadi rekanan resmi keluarga Sterling selama hampir tujuh tahun terakhir. Saya dan tim beberapa kali ditugaskan untuk datang ke sini jika ada permintaan khusus."

​Jantung Chloe mendadak berdegup sedikit lebih cepat. Sebuah pintu informasi baru tampaknya baru saja terbuka di hadapannya. "Lalu... apakah kau pernah bertemu langsung dengan Asher selama kau bekerja di sini?"

​Terapis itu kembali mengangguk, kali ini dengan ekspresi wajah yang sedikit lebih kaku, tampak seolah-olah mengingat aura mengintimidasi sang pemilik mansion. "Pernah, Nyonya. Beberapa kali saya tidak sengaja berpapasan dengan Tuan Asher di koridor lantai bawah saat beliau hendak pergi bekerja atau baru saja pulang. Beliau... beliau selalu dikelilingi oleh banyak pengawal berjas hitam dan memancarkan aura yang sangat berwibawa."

​Chloe menarik napas pendek, lalu meluncurkan pertanyaan pamungkas yang paling sensitif, sebuah pertanyaan yang sebenarnya didasari oleh rasa penasaran yang teramat dalam mengenai masa lalu kehidupan asmara suaminya. "Selama tahun-tahun kau datang ke sini sebelum kehadiranku... apakah kau pernah memberikan pelayanan perawatan tubuh atau spa seperti ini kepada perempuan lain di mansion ini? Maksudku... apakah Asher pernah membawa wanita lain untuk tinggal di kamar ini selain diriku?"

​Mendengar pertanyaan yang begitu frontal mengenai kehidupan pribadi sang bos besar, gerakan tangan terapis itu seketika terhenti di atas kulit kaki Chloe. Wajahnya tampak mendadak memucat, dan sepasang matanya bergerak gelisah, melirik cemas ke arah Bi Mirna yang saat itu sedang berada di ruang pakaian dalam kamar yang agak jauh. Terapis itu tampak sangat ragu-ragu, bibirnya bergetar sedikit seolah-olah dia mengetahui sebuah rahasia besar namun terikat oleh sumpah kerahasiaan yang taruhannya adalah pekerjaannya—atau bahkan keselamatannya sendiri.

​"Itu... mengenai hal itu, Nyonya... sebenarnya saya..." terapis itu terbata-bata, suaranya mencicit ketakutan di tengah keheningan kamar.

​Rasa penasaran di dalam dada Chloe seketika membubung tinggi hingga ke puncaknya. Dia menopang tubuhnya sedikit menggunakan kedua sikunya, hendak mendesak terapis itu untuk terus berbicara dan menceritakan apa pun yang dia ketahui tentang wanita-wanita di masa lalu Asher.

​Kringgg! Kringgg!

​Namun, belum sempat kata berikutnya keluar dari bibir Chloe yang mendesak, suara dering ponsel pintar miliknya yang diletakkan di atas meja nakas dekat ranjang mendadak berbunyi dengan sangat nyaring, memecah ketegangan yang baru saja terbangun di dalam ruangan.

​Chloe mengembuskan napas jengkel dalam hati, merasa momentum emasnya baru saja dihancurkan oleh sebuah gangguan suara. Dia kembali merebahkan tubuhnya, lalu mengulurkan tangan kanannya untuk meraih ponsel tersebut. Begitu layar ponsel menyala, nama yang tertera di sana seketika membuat rasa jengkel Chloe menguap tanpa bekas, digantikan oleh binar kebahagiaan yang instan.

​Cassandra Sterling.

​Itu adalah nama kakak kedua Asher, wanita yang dikenal memiliki jiwa seni tinggi dan pembawaan yang jauh lebih hangat dibandingkan adiknya yang kaku. Tidak seperti Eleanor yang kerap menggunakan otoritas dominan untuk mendikte situasi, Cassandra cenderung mendekati Chloe dengan kelembutan yang tulus dan penuh perhatian.

​Chloe dengan cepat menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Kak Cassandra! Oh Tuhan, senang sekali mendengar suaramu!" ucap Chloe dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat ceria, penuh dengan sukacita murni yang sudah sangat lama tidak pernah terdengar di dalam kamar dingin ini.

​"Chloe, Sayang! Akhirnya panggilanku diangkat juga!" suara renyah dan penuh kehangatan khas Cassandra mengalun dari seberang saluran, membawa atmosfer segar dunia luar masuk ke dalam kurungan Chloe. "Hei, Mawar Kecil, Eleanor bilang kau datang ke acara yayasannya beberapa waktu lalu dan tampil luar biasa cantik, tapi aku sedih sekali karena tidak bisa melihatmu langsung karena masih tertahan di Florence."

​Chloe terkekeh pelan, mencoba menyembunyikan kenyataan bahwa kehadirannya semalam berujung pada hukuman panas dari sang suami. "Maafkan aku, Kak. Ada banyak sekali urusan adaptasi rumah tangga yang harus kuselesaikan di sini. Kau tahu sendiri bagaimana rasanya menjadi pengantin baru di kediaman Sterling."

​"Iya, aku paham betul bagaimana kaku dan melelahkannya atmosfer di sekitar adik bodohku itu," Cassandra mendesah pelan di seberang telepon, sebelum suaranya mendadak berubah menjadi lebih bersemangat. "Oh ya, Chloe, tujuan utamaku meneleponmu siang ini adalah untuk mengundangmu secara resmi. Nanti malam, galeri seni yang bekerja sama dengan yayasanku mengadakan Acara Pameran Lukisan Eksklusif dari beberapa seniman kontemporer ternama Eropa. Acaranya diadakan di Galeri Veritas di pusat kota pukul delapan malam."

​Cassandra menjeda kalimatnya, memberikan nada memohon yang sangat anggun. "Kau harus datang, ya, Chloe! Please... Aku sangat ingin mengobrol banyak hal denganmu sembari menikmati wine dan melihat karya seni yang indah di sana. Jangan bilang kau tidak bisa datang karena dilarang oleh beruang kutub itu, ya? Tenang saja, ini undangan resmi dariku, kakak keduanya. Dia tidak akan berani macam-macam."

​Mendengar undangan dari kakak iparnya itu, gelombang kebahagiaan dan kerinduan akan kebebasan seketika membanjiri seluruh sudut hati Chloe. Sejak dulu, Chloe memang sangat menyukai dunia seni dan estetika; melihat lukisan selalu menjadi pelarian terbaik bagi jiwanya yang rapuh. Setelah berhari-hari dikurung di dalam mansion yang kaku, menghadapi amarah dingin Asher, dan disiksa oleh ketakutan akan dunia hitam, kesempatan untuk keluar dan kembali merasakan atmosfer pameran seni yang tenang terasa seperti sebuah oase di tengah padang gurun yang gersang.

​Tanpa memikirkan risiko panjang mengenai peringatan keras yang baru tadi pagi dijatuhkan Asher kepadanya di ruang makan, Chloe langsung menyambut undangan itu dengan sukacita yang meluap-luap. Fokusnya seutuhnya teralihkan oleh bayangan kebebasan sesaat malam nanti bersama Cassandra.

​"Tentu saja aku akan datang, Kak Cassandra! Aku tidak akan melewatkan pameran lukisan itu untuk apa pun," jawab Chloe mantap, sepasang mata rusanya berbinar cerah. "Kirimkan saja detail lokasi dan kode undangannya ke ponselku. Aku akan bersiap-siap dan memastikan diriku tiba di sana tepat waktu nanti malam."

​"Yesss! Itu baru adik ipar kesayanganku! Sampai jumpa nanti malam, Chloe!" seru Cassandra gembira sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon setelah bertukar beberapa kalimat salam perpisahan yang hangat.

​Chloe menurunkan ponselnya dari telinga dengan senyuman lebar yang masih tersisa di bibir ranumnya. Rasa bahagia yang membuncah karena akan menghadiri pameran seni membuat seluruh atmosfer kamar utama terasa jauh lebih ringan bagi dirinya.

​Dia meletakkan kembali ponselnya di atas meja nakas, lalu membalikkan tubuhnya untuk kembali bersiap menerima sisa perawatan pijat dari sang terapis wanita. Akibat gelombang kegembiraan yang terlampau besar dari panggilan telepon Cassandra tadi, pikiran Chloe seutuhnya teralihkan. Dia benar-benar lupa untuk menanyakan lebih lanjut mengenai rahasia masa lalu wanita-wanita Asher kepada terapis yang kini sudah kembali melanjutkan pijatannya dengan wajah yang tampak jauh lebih lega karena terbebas dari interogasi sensitif sang nyonya muda. Chloe sama sekali tidak menyadari bahwa keputusan impulsifnya untuk mendatangi acara pameran lukisan nanti malam tanpa izin tertulis dari Asher adalah sebuah langkah berani yang akan kembali menyeret dirinya masuk ke dalam pusaran badai amarah yang jauh lebih mengerikan dari malam sebelumnya.

1
Idah Faridah
dtunggu thor lanjutanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!