Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4:Api yang Membakar
Udara di dalam kamar luas itu terasa semakin berat dan panas, seolah suhu ruangan meningkat drastis hanya dengan kehadiran satu orang itu. Hujan di luar masih mengguyur deras, menciptakan suara gemuruh yang kontras dengan keheningan menegangkan di antara mereka, namun bagi Grey, suara hujan itu seolah lenyap tertelan oleh detak jantungnya sendiri yang berpacu kian cepat. Dia berdiri terpaku di tempatnya, mata abu-abunya menatap tajam namun juga penuh kegelisahan ke arah Davian yang kini berdiri di sisi tempat tidur, perlahan melepaskan jas hitam mahalnya dan meletakkannya di kursi di dekat sana. Di balik kemeja putih ketat yang melekat sempurna di tubuhnya, garis-garis otot yang keras dan terbentuk sempurna terlihat jelas, mengisyaratkan kekuatan besar yang tersimpan di dalam tubuh tegap itu.
Setiap gerakan Davian begitu tenang, terukur, dan penuh kendali, namun ada gelombang panas yang terpancar dari dirinya—gelombang hasrat dan kepemilikan yang begitu kuat hingga membuat kulit Grey terasa gatal dan panas hanya dengan memandangnya. Pria itu berbalik menghadapnya lagi, dan kali ini, pandangan matanya yang hitam pekat itu berubah total. Tidak lagi hanya berisi ancaman atau perintah, melainkan kini dipenuhi nyala api yang membara, menelanjangi setiap inci tubuh Grey dengan tatapan yang begitu dalam, begitu lapar, dan begitu menguasai hingga gadis itu merasa seolah dia sudah telanjang di hadapannya meski masih tertutup pakaian.
"Kau menatapku seperti apa, Grey?" tanya Davian pelan, suaranya serak dan berat, bergema rendah di udara yang kian memanas. Dia mulai melangkah mendekat, satu langkah demi satu langkah, perlahan namun tak terelakkan seperti pemangsa yang mendekati mangsanya—namun bukan untuk dimakan, melainkan untuk diklaim sepenuhnya. "Kau benci aku? Atau… kau sebenarnya sudah lama menunggu momen ini? Menunggu saat di mana aku akhirnya membuatmu tidak bisa berpikir lagi selain tentangku?"
Grey menelan ludah, berusaha keras mempertahankan sikap menentangnya meski lututnya mulai terasa lemas. Dia mengangkat dagunya, berusaha terlihat berani meski napasnya mulai memburu. "Jangan terlalu percaya diri, Davian. Aku hanya… aku hanya terkejut. Dan aku tidak suka caramu menganggap aku sebagai milikmu tanpa persetujuanku."
Davian terkekeh pelan, suara tawanya terdengar rendah dan menggetarkan dada. Dia berhenti tepat di depan Grey, begitu dekat hingga dada bidangnya hampir bersentuhan dengan dada gadis itu. Aroma tubuhnya yang maskulin—campuran antara wangi kayu cendana, tembakau halus, dan sesuatu yang khas miliknya—langsung mengisi seluruh rongga hidung Grey, membuat kepalanya terasa pening dan seluruh sarafnya seolah menegang.
"Persetujuan?" Davian mengulangi kata itu dengan nada mengejek namun lembut. Dia mengangkat tangannya, jari-jarinya yang besar dan kasar menyentuh lembut ujung rambut Grey, lalu turun perlahan menyusuri pipi halusnya, menyentuh rahangnya, hingga akhirnya berhenti di leher jenjang gadis itu. Sentuhan itu begitu ringan, seolah dia sedang memegang benda paling rapuh di dunia, namun tekanan yang diberikan di sana cukup jelas untuk menunjukkan siapa yang memegang kendali sepenuhnya.
"Sayang… sejak pertama kali mataku bertemu dengan matamu malam tadi di klub itu, persetujuan itu sudah tidak diperlukan lagi. Karena saat itu juga, tubuhmu, matamu, dan senyum licikmu itu sudah berbicara padaku. Kau menginginkanku sama besarnya dengan aku menginginkanmu. Kau mungkin terbiasa bermain-main dengan laki-laki lain, menggoda mereka lalu membuang mereka sesuka hatimu… tapi dengarkan aku baik-baik, Grey Cha Lavian. Bersamaku, permainanmu itu berakhir. Mulai malam ini, akulah yang akan bermain denganmu. Dan permainanku jauh lebih panas, jauh lebih dalam, dan jauh lebih berbahaya daripada apa pun yang pernah kau bayangkan."
Sebelum Grey sempat menjawab atau melontarkan protes apa pun, tangan lainnya Davian melingkar erat di pinggang rampingnya, menarik tubuh gadis itu menempel rapat ke tubuhnya hingga tak ada celah sedikit pun yang tersisa. Grey mendesis pelan saat merasakan kekuatan tarikan itu, merasakan betapa kokoh dan kerasnya tubuh pria itu di hadapannya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dia khawatir Davian bisa mendengarnya dengan jelas. Ada rasa takut, tentu saja, rasa takut akan kekuasaan pria ini, rasa takut akan bahaya yang selalu mengikutinya. Tapi lebih dari itu, ada rasa rangsangan yang liar, rasa penasaran yang membakar, dan ketertarikan yang tak terbantahkan yang membuat seluruh darah di pembuluh nadanya terasa mendidih.
"Kau tidak berhak… menyentuhku sembarangan…" bisik Grey lemah, matanya menatap bibir Davian yang begitu dekat, jauh lebih lama daripada yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang mengaku benci.
"Siapa yang bilang aku tidak berhak?" Davian berbisik balik, wajahnya semakin mendekat hingga hidung mereka saling bersentuhan, napas panasnya menyapu wajah Grey. "Aku punya segalanya atas dirimu. Hak untuk menyentuhmu, hak untuk memilikimu, hak untuk membuatmu merasakan kenikmatan yang belum pernah kau rasakan sebelumnya… dan hak untuk membuatmu melupakan semua laki-laki lain yang pernah menyentuhmu, karena mulai sekarang, hanya sentuhanku yang boleh kau ingat."
Tanpa menunggu perlawanan lebih lanjut, Davian menundukkan kepalanya dan mencium bibir Grey. Ciuman itu bukanlah ciuman yang lembut atau ragu-ragu. Itu adalah ciuman yang penuh kekuasaan, penuh hasrat yang terpendam, dan penuh kepemilikan mutlak. Davian menuntut segalanya, masuk dan menjelajahi setiap sudut mulut gadis itu dengan keagresifan yang membuat kepala Grey terasa berputar. Dia mengeratkan pelukannya di pinggang Grey, mendesak tubuh gadis itu semakin melekat padanya, seolah ingin menyatukan kedua tubuh itu menjadi satu agar tidak ada lagi jarak, tidak ada lagi perpisahan.
Grey terkejut hebat, tubuhnya sempat menegang sejenak karena keterkejutan itu. Dia ingin mendorongnya, ingin memberontak, ingin berteriak bahwa dia bukan barang sembarangan. Namun saat bibir kasar dan hangat itu terus bergerak menuntut dan memanjakan bibirnya, saat rasa panas itu menjalar dari bibirnya ke seluruh tubuhnya, seluruh pertahanan dirinya perlahan runtuh begitu saja. Tangannya yang tadinya terangkat untuk menolak, malah berakhir melingkar di leher Davian, jari-jarinya menyelip ke sela-sela rambut hitamnya yang sedikit berantakan, menarik pria itu lebih dalam lagi ke dalam ciuman itu.
Dia benci mengakuinya, tapi Davian benar. Tidak ada satu pun pria yang pernah menyentuhnya atau menciumnya dengan rasa lapar, rasa memiliki, dan rasa gairah sebesar ini. Semua hubungan masa lalunya hanyalah permainan, hiburan kosong yang tidak memiliki rasa apa pun. Tapi dengan Davian? Segalanya terasa begitu nyata, begitu hidup, dan begitu membakar. Rasanya seperti dilemparkan ke dalam lautan api yang panas, di mana dia bisa terbakar habis kapan saja, tapi di situlah dia merasa paling hidup.
Davian menggerakkan bibirnya menjauh sedikit, beralih mencium sudut bibir Grey, turun ke rahang yang halus, lalu mendaratkan ciuman-ciuman basah dan panas di leher jenjang gadis itu. Di sana, tepat di tempat yang paling sensitif, dia memberikan sedikit gigitan lembut namun cukup kuat untuk meninggalkan jejak, sebuah tanda nyata bahwa tempat itu, tubuh itu, dan wanita itu adalah miliknya sepenuhnya.
"Ah… Davian…" desah Grey pelan, kepalanya terhuyung ke belakang, memberi ruang lebih luas bagi pria itu untuk menjelajah. Suaranya keluar begitu lembut dan bergetar, bukan lagi suara kemarahan, melainkan suara kelemahan dan kenikmatan yang tak bisa dia sembunyikan lagi.
"Kau milikku, Grey… hanya milikku…" gumam Davian di samping telinganya, suaranya serak dan berat penuh gairah. Tangannya yang besar mulai bergerak lebih berani, menyusuri lekuk tubuh gadis itu di balik pakaiannya, merasakan setiap lengkungan dan kehangatan kulitnya seolah ingin menghafalnya di luar kepala. "Tidak ada yang boleh menyentuhmu seperti ini. Tidak ada yang boleh membuatmu bernapas berat seperti ini. Tidak ada yang boleh membuatmu merasakan panas seperti ini selain aku. Ingat itu, Sayang. Ingat itu baik-baik."
Dia berjalan mundur perlahan sambil tetap memeluk erat tubuh Grey, membawa gadis itu melangkah mundur hingga kaki belakang Grey menyentuh pinggiran kasur besar itu. Dengan satu gerakan halus namun kuat, Davian mengangkat tubuh mungil itu dan meletakkannya di atas kasur empuk berbalut beludru hitam itu, lalu dia sendiri naik ke atasnya, mengurung tubuh Grey di antara kedua lengannya yang kokoh dan kakinya yang panjang.
Cahaya remang dari lampu tidur di sudut ruangan jatuh menimpa wajah mereka, menyoroti kilatan keringat yang mulai muncul di dahi mereka dan kilatan hasrat yang menyala terang di mata keduanya. Davian menatap ke bawah, menatap wajah Grey yang tampak memerah padam, bibirnya yang sedikit bengkak dan basah akibat ciuman mereka, serta mata abu-abunya yang kini menatapnya dengan pandangan yang kacau, campuran antara ketakutan dan ketertarikan yang liar.
"Kau cantik sekali saat ada di bawahku seperti ini," bisik Davian, tangannya bergerak menyisir rambut yang berantakan itu menjauhi wajah Grey. "Sangat cantik… dan semuanya milikku. Malam ini panjang, Grey. Dan aku akan membuktikan padamu, betapa salahnya kau berpikir kau bisa bebas dariku. Aku akan membuatmu lupa caranya bernapas, aku akan membuatmu merasakan betapa besarnya cintaku, betapa besarnya rasa kepemilikanku… sampai kau sendiri yang memohon padaku untuk tidak pernah melepaskanmu."
Grey menelan ludah, dadanya naik turun hebat, merasakan berat tubuh Davian yang menekannya dengan cara yang begitu memabukkan. Dia tahu, malam ini akan menjadi malam yang panjang, malam yang penuh dengan api dan gairah yang tak terpadamkan. Dia tahu, setelah malam ini, tidak akan ada lagi sisa dari kebebasannya yang dulu. Davian akan mengambil segalanya, setiap bagian dari dirinya, setiap ingatannya, setiap perasaannya.
Namun saat Davian kembali menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya lagi ke bibir Grey dengan tatapan yang tak berhenti memandang lekat-lekat ke dalam matanya, Grey menyadari satu hal yang paling gila dari semuanya.
Dia tidak lagi ingin lari. Dia tidak lagi ingin melawan. Di tengah panasnya suasana itu, di tengah cengkeraman posesif pria yang paling berbahaya sekaligus paling berkuasa itu, Grey Cha Lavian justru merasa lebih aman, lebih dicintai, dan lebih dimiliki daripada yang pernah dia rasakan seumur hidupnya.
"Kalau begitu… lakukan apa yang kau mau, Davian," bisik Grey pelan, hampir tak terdengar, namun penuh dengan penyerahan diri yang perlahan tumbuh. Matanya menatap tajam, penuh tantangan yang masih tersisa namun kini bercampur dengan gairah yang sama besarnya. "Tapi ingatlah satu hal… kau yang menginginkanku. Dan begitu kau memilikiku sepenuhnya… kau tidak akan pernah bisa melepaskanku lagi. Aku akan merasuk ke dalam darahmu, ke dalam tulangmu, sama sepertimu merasuk ke dalam diriku malam ini."
Davian tersenyum, senyum yang penuh kemenangan dan kepuasan mutlak. Dia mengecup kening gadis itu panjang dan dalam, sebelum akhirnya berbisik dengan suara yang bergetar karena hasrat yang tak tertahankan lagi.
"Sudah terlambat untuk itu, Sayang. Aku sudah terperangkap sejak detik pertama aku melihatmu. Dan malam ini… kita berdua akan terbakar habis dalam api yang sama."
Dan di bawah guyuran hujan yang terus turun di luar sana, di dalam kamar besar yang kini menjadi tempat persembunyian dan penjara sekaligus, malam itu berlanjut dengan kehangatan yang semakin membara, dengan sentuhan yang semakin dalam, dan dengan ikatan yang semakin erat terjalin di antara seorang gadis bebas dan seorang pemimpin mafia yang sangat posesif—ikatan yang terbuat dari api, keinginan, dan cinta yang berbahaya namun tak tergoyahkan.
(Lanjut ke Bab 5)