Memiliki tubuh obesitas ternyata membuat Amanda dibenci orang-orang di sekeliling, keluarga yang selama ini dia percaya. Di saat usianya berusia 10 tahun ibunya pergi meninggalkannya membuatnya hidup bersama sang ayah.
Hidupnya sejak kecil begitu sempurna nyaris tidak pernah merasakan kesulitan, ketika sang ayah menikah dengan teman masa SMA- ya yang sudah memiliki dua Putri. Amanda justru mendapatkan kasih sayang dari ibu tirinya.
Tetapi siapa sangka Amanda menyadari semua itu hanyalah sandiwara ketika dia sudah dewasa. Tubuhnya yang gendut dengan wajah yang jelek, cupu membuat keluarganya jijik kepadanya, kematian ayahnya membuat penderitaan hidupnya semakin bertambah.
Pria yang dia nikahi baru 1 bulan ternyata memiliki hubungan dengan saudara tirinya, dikhianati oleh keluarganya sendiri membuat Amanda nyaris ingin mengakhiri hidup.
Tetapi semangatnya kembali dalam bentuk pembalasan ketika semua berlalu dia datang dengan penampilan yang sempurna bahkan nyaris Tidak dikenali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonecis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 Indonesia
Bandara
Meski berat untuk melepaskan Amanda, tetapi Devano tetap mengantarkan Amanda ke Bandara. Pria tampan itu berdiri di hadapannya dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, menatap Amanda begitu dalam yang membuat Amanda memeluk Devano.
"Pasti aku akan sangat merindukan Dokter," ucap Amanda terdengar begitu sangat lirih memeluk erat tanpa dibalas oleh Devano.
"Jangan pernah melupakan saya Dokter, ingatlah saya sebagai pasien yang sangat merepotkan, selalu malas untuk berolahraga dan selalu saja diam-diam melanggar semua aturan yang telah Dokter perintahkan," ucap Amanda melonggarkan pelukan itu melihat ekspresi dingin dan datar dari Devano.
"Dokter Devano marah kepada saya karena saya benar-benar akan pergi?" tanya Amanda memastikan dari raut wajah Dokter tampan tersebut memang terlihat tidak menyukai apa yang di lakukan Amanda.
"Bagaimana saya tidak marah kepada kamu Amanda, saya marah tapi saya juga tidak punya kuasa untuk mengungkapkan kemarahan saya, ini adalah pilihan kamu dan tidak ada kuasa untuk saya menahan kamu," jawab Devano.
"Maafkan saya Dokter," lirih Amanda merasa bersalah.
Devano menarik nafas dan membuang perlahan ke depan dengan memegang pucuk kepala Amanda.
"Kamu jaga diri baik-baik, ingat untuk mencintai diri kamu sendiri jangan pernah korbankan diri kamu hanya untuk mengikuti amarah yang kamu tanamkan selama ini di hati kamu," ucap Devano membuat Amanda mengganggukan kepala.
"Terima kasih Dokter Devano selama ini sudah menjadi orang yang paling berharga bagi saya, orang yang tulus yang selalu membantu saudara, menyadarkan saya akan beberapa hal, memberikan saya harapan hidup, membuat saya berharga, saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Dokter dan akan membalasnya suatu saat nanti," ucap Amanda.
"Saya melakukan semua itu kepada kamu bukan untuk mengharapkan balasan dari kamu, jika kamu bahagia dengan apa yang kamu lakukan dan maka saya akan terus memberi dukungan kepada kamu," ucap Devano.
"Baiklah Dokter, kalau begitu saya pergi dulu. Dokter jaga kesehatan dan juga jaga makanannya," ucap Amanda membuatnya melepaskan pelukan tersebut dengan melambaikan tangannya.
Amanda tidak mengatakan apapun lagi dan kemudian langsung membalikkan tubuhnya dengan meninggalkan tempat tersebut tanpa mengatakan apa-apa.
Devano terus memperhatikan bagaimana Amanda yang akhirnya meninggalkan Bandara. Devano memperhatikan wanita tersebut yang semakin lama semakin jauh sampai sudah tidak terlihat lagi.
"Tetap kembali kepada saya Amanda, jika kamu sudah tidak memiliki tempat lagi, saya akan tetap menjadi rumah untuk kamu," batin Devano dengan wajahnya yang tampak sedih.
****
Bandara.
Amanda duduk di salah satu bangku pesawat, telinganya menggunakan earphone dengan melihat ke arah luar jendela.
Mata Amanda melihat ponselnya, di layar ponsel tersebut tampak foto keluarganya, keluarga dari istri ayahnya yang memiliki anak bernama Maudy dan juga Sisil, bahkan difoto tersebut juga terlihat Reno pria yang sempat menikah dengannya.
Foto tersebut tampak biasa saja dan tidak ada yang salah, terlihat keluarga bahagia dan saling tulus satu sama lain, tetapi sangka dirinya dikhianati, dihancurkan habis-habisan tanpa ampunan, seluruh miliknya telah diambil paksa dan bahkan Amanda hampir melakukan percobaan bunuh diri karena sudah tidak tahan dengan semua tekanan yang dia dapatkan.
Tubuhnya yang jelek menjadi alasan orang-orang merasa jijik dan menganggap dirinya tidak pantas untuk dihargai, tidak pantas untuk dicintai.
"Apa yang akan terjadi jika aku kembali untuk membalaskan dendam kepada mereka yang tidak pernah menghargaiku? Apa salah aku harus membalas dendam kepada orang-orang yang tidak tahu berterima kasih seperti mereka?"
"Mereka selalu menertawakan fisik, dan sekarang aku kembali dengan fisik yang mungkin mereka tidak akan bisa mengejekku lagi,"
"Amanda, kamu tidak salah melakukannya, kamu tidak perlu khawatir Amanda, apa yang kamu lakukan memang seharusnya yang kamu lakukan. Kamu akan kembali untuk mengambil semua hak kamu yang telah mereka rebut secara paksa," batin Amanda dengan tersenyum dan terlihat penuh arti.
Amanda menghela nafas, kemudian menoleh ke sebelahnya, tanpa dia sadari ada seorang pria yang duduk di sebelahnya, pria itu menggunakan kacamata tersebut tampak fokus pada buku yang dia baca membuat Amanda mengerutkan dahi.
"Sejak kapan dia berada di tempat ini? Huhhhhh kenapa juga aku tidak diberikan tiket class bisnis agar tidak bersebelahan dengan patung seperti ini. Dokter Devano sepertinya marah kepadaku dan memberikanku tiket pesawat kelas ekonomi," batin Amanda menghela nafas.
Pria dengan karismatik yang tampan itu menyadari bahwa setiap tadi ada sepasang mata yang memperhatikannya membuat pria tersebut melihat Amanda. Amanda kaget mendapat tatapan tersebut dan membalas dengan senyuman getir.
1 alis pria tersebut terangkat, tidak mengerti apa maksud dari wanita yang saat ini tersenyum kepadanya.
"Hay!" sapanya berusaha untuk ramah.
Pria itu tempat cuek dan bahkan kembali fokus pada bukunya, tidak peduli dengan wanita yang di sebelahnya yang cukup mengganggunya.
"Astaga, apa sekarang dia mengabaikanku, huhhhh, padahal aku sudah menyapanya, apa dia tidak memiliki ketertarikan dengan wanita cantik sepertiku," Amanda terus aja mengoceh dengan kesal di dalam hatinya karena merasa diabaikan.
"Menyesal aku menyapanya," batin Amanda.
******
Bandara Internasional Soekarno Hatta dipenuhi hiruk-pikuk khas kedatangan sore hari. Langkah kaki tergesa menggema di lantai mengilap, berpadu dengan suara roda koper yang saling beradu dan pengumuman penerbangan yang terdengar samar dari pengeras suara.
Aroma kopi dari kafe bandara bercampur dengan udara dingin pendingin ruangan, menciptakan suasana sibuk sekaligus melelahkan bagi para penumpang yang baru tiba.
Amanda melangkah keluar dari lorong kedatangan internasional dengan wajah sedikit lelah setelah penerbangan panjang dari Australia.
Meski begitu, penampilannya tetap rapi mantel tipis warna beige membalut tubuhnya, kacamata hitam bertengger di kepala, dan tas kecil tersampir elegan di bahunya.
Satu tangannya menggenggam ponsel, sementara tangan lain menarik koper berwarna hitam. Kepalanya hanya dipenuhi satu keinginan cepat pulang.
Namun suasana Bandara yang padat membuat langkahnya beberapa kali terhambat. Orang-orang berlalu lalang tanpa arah jelas, sebagian sibuk memeluk keluarga, sebagian lagi terburu-buru mengejar jadwal berikutnya.
Di tengah keramaian itu, Amanda mempercepat langkah sambil sesekali melihat layar ponselnya.
Dan
Bruk.
Tubuhnya membentur sesuatu yang keras.
Atau seseorang yang cukup kokoh. Bahunya sedikit terdorong ke belakang hingga hampir kehilangan keseimbangan. Ponsel di tangannya nyaris terjatuh.
"Ya ampun,"
Amanda mendongak dengan kesal.
Dan langsung menyesal karena mengenali wajah itu.
Pria berjas hitam.
Pria dingin di pesawat.
Pria yang sejak awal membuat suasana penerbangan terasa seperti duduk di sebelah patung mahal tanpa emosi. Bagaimana tidak Amanda bahkan diabaikan oleh pria itu dan padahal sudah berusaha untuk bersikap ramah agar tidak di pikir sombong.
Bersambung.....