NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Adaptasi Dua Zaman

Penyatuan dua lini masa di dalam satu raga ternyata melahirkan komedi sunyi yang melelahkan bagi Nyai Kencana. Meskipun memori milik Citra asli telah mengendap di kepalanya bagai lembaran kitab kuno yang bisa dibaca kapan saja, mempraktikkannya secara langsung di belantara beton abad ke-21 adalah urusan lain.

Di dalam kamar kos petaknya yang sempit, Citra duduk bersila di atas kasur busa tanpa ranjang. Matanya yang bulat menatap lurus, tajam, dan penuh kewaspadaan pada seonggok benda persegi panjang tipis yang tergeletak di atas selimut. Benda itu berkilau, memancarkan cahaya biru keputihan, dan sesekali bergetar memunculkan gambar animasi beruang yang menari.

Smartphone. Sebuah kotak ajaib berlampu yang menurut memori modern berfungsi sebagai alat komunikasi jembatan jagat raya.

"Tekan bagian berlambang gagang hijau jika ingin berbicara, ketuk gambar burung jika ingin mengirim surat elektronik..." bisik Citra pada dirinya sendiri, merapalkan ingatan Citra asli bagai mantra kanuragan.

Ia menjulurkan jari telunjuk kanannya dengan sangat hati-hati, menekan layar kaca itu dengan kekuatan selembut mungkin, takut jika tenaga dalamnya yang belum stabil akan meretakkan benda ringkih tersebut. Ketika layar berganti menampilkan aplikasi bertuliskan Gojek, kening Citra bertaut erat. Memesan sebuah kereta besi beroda dua yang dikemudikan oleh orang asing berjaket hijau hanya dengan mengetuk gambar? Di abad ke-14, jika seseorang ingin bepergian, mereka harus memasang pelana pada kuda atau berjalan kaki melintasi hutan perawan.

Kecanggungan itu kian memuncak saat Citra terpaksa keluar dari wilayah kosnya untuk berangkat kuliah. Berdiri di tepi jalan raya Jakarta yang bising, batin Nyai Kencana bergejolak antara ngeri dan takjub. Kereta-kereta besi raksasa yang disebut "bus" dan "angkot" melesat cepat, memuntahkan asap hitam pekat dengan raungan mesin yang memekakkan telinga.

"Citra! Astaga, lo ngapain berdiri kaku kayak patung pancoran begitu, sih?"

Sebuah tepukan mendarat di bahu Citra, membuatnya secara naluriah menggeser kaki kiri ke belakang dan memasang kuda-kuda rendah, siap memiting tangan sang penyerang. Beruntung, memori modernnya bergerak lebih cepat dari refleks tempurnya. Orang yang menepuknya adalah Kirana.

Kirana adalah sahabat karib Citra di kampus. Gadis itu bertubuh agak sintal, berambut pendek sebahu yang dicat kecoklatan, dan memiliki kepribadian yang laksana petasan korek: ceria, setia kawan, agak ceplas-ceplos, dan tidak bisa diam.

"Eh? Lo kenapa, Cit? Mau ngajak gue berantem?" Kirana mengerutkan dahi, menatap bingung pada posisi kaki Citra yang melebar kokoh di atas trotoar.

Citra segera menegakkan kembali tubuhnya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya, lalu mengangguk kecil dengan sangat sopan. "Maafkan saya, Kirana. Pikiran saya sedang sedikit... terdistraksi oleh riuhnya kereta besi di hadapan kita."

Kirana mengerjap-ngerjapkan matanya. "Kereta besi? Angkot maksud lo? Dan... sejak kapan lo manggil gue pakai gaya bahasa baku formal begini? Biasanya juga manggil 'Kir' doang, terus agak gagap kalau ngomong."

Saat angkot carteran mereka datang dan mereka masuk ke dalam kabin yang sempit, keheranan Kirana makin menjadi-jadi. Citra tidak duduk bersandar santai. Ia duduk di pojok dekat pintu dengan punggung tegak lurus laksana kesatria yang siap menghalau anak panah, matanya bergerak dinamis mengawasi setiap penumpang yang naik dan turun, seolah-olah seluruh orang di dalam angkot tersebut adalah mata-mata musuh yang menyamar.

"Cit, sumpah, lo aneh banget hari ini," bisik Kirana sembari menyenggol lengan Citra. "Tapi... keren sih. Bahu lo tegap banget, gak bungkuk kuyu kayak kemarin-kemarin. Lo habis ikut kelas meditasi rahasia, ya?"

Citra hanya tersenyum tipis, sangat anggun. "Saya hanya sedang belajar untuk tidak lagi menundukkan kepala di hadapan dunia fana ini, Sahabatku."

Siang harinya, atmosfer kampus Universitas Dirgantara kembali menghangat. Di kantin terbuka Gedung Alpha, Citra dan Kirana sedang menikmati makan siang mereka, sepiring nasi rames sederhana yang kontras dengan steak dan pasta di meja-meja sebelah. Citra makan dengan sangat rapi, mengunyah perlahan tanpa menimbulkan suara, sebuah tata krama keputren yang tak sengaja terbawa.

"Permisi, para bidadari kampus yang cantiknya murni tanpa zat adiktif. Boleh abang yang tampan ini duduk di sini?"

Sebuah suara medok khas Jawa Timuran memecah obrolan mereka. Surya sudah berdiri di samping meja mereka, membawa nampan berisi es teh manis dan sepiring siomay. Pemuda asal Malang itu tersenyum lebar hingga matanya menyipit, menyisir rambutnya ke belakang dengan jari tangan kiri, sebuah jurus tebar pesona yang menurutnya sangat maut.

Sebenarnya, Surya datang ke meja itu bukan tanpa misi. Di sudut kantin yang agak tersembunyi, Elang Dirgantara sedang duduk pura-pura membaca buku, namun matanya sesekali melirik tajam ke arah mereka. Elang yang gengsinya setinggi langit itu menyuruh Surya memata-matai Citra, penasaran mengapa gadis beasiswa itu bisa berubah drastis sejak kemarin. Namun, dasar Surya, alih-alih memata-matai, dia malah sibuk mencari celah untuk mendekati Kirana.

"Waduh, ada angin apa nih temannya si pangeran sombong nyasar ke meja rakyat jelata?" cibir Kirana langsung, memasang wajah sarkastik yang siap perang.

Surya duduk tanpa permisi, menggeser posisinya agar lebih dekat dengan Kirana. "Lho, Mbak Kirana ini kok suudzon terus toh sama saya. Anginnya angin rindu ini, Mbak. Lagian Elang itu cuma casing-nya saja yang agak karatan, aslinya yo... tetep karatan sih," seloroh Surya yang langsung membuat Kirana mendengus menahan tawa.

Surya kemudian menoleh ke arah Citra, memberikan cengiran ramah. "Mbak Citra, salam kenal secara resmi ya. Kemarin kan belum sempat kenalan gara-gara ada singa ngamuk. Saya Surya, panggil saja 'Mas Surya', atau 'Sayang' juga gak apa-apa kalau Mbak Kirana gak cemburu."

"Heh, tembakau Malang! Gak usah sok tahu dan tebar pesona ya lo di sini!" potong Kirana ketus, menyumpal mulut Surya dengan sebutir tahu siomay dari piring cowok itu sendiri. "Citra gak bakal membalas rayuan gombal kelas teri lo itu."

Surya mengunyah tahu itu dengan ekspresi dramatis, pura-pura terharu. "Masya Allah... disuapi sama calon masa depan. Rasanya jadi kayak siomay surga, Rek."

Kirana memutar bola matanya malas. "Jurus gombal lo itu absurd banget, tahu gak? Gak mempan di sini!"

Citra yang sedari tadi diam menyaksikan interaksi kedua manusia modern itu, mendadak menyunggingkan senyum tipis yang sangat tulus di sudut bibirnya. Di masa lalu, interaksi pria dan wanita selalu dibatasi oleh sekat-sekat kasta dan aturan istana yang kaku. Melihat dinamika yang bebas, penuh humor segar, dan blak-blakan antara Surya dan Kirana membuat batin purbanya merasa hangat. Manusia modern mungkin aneh dengan teknologi mereka, namun mereka memiliki kebebasan jiwa yang tidak pernah dinikmati oleh orang-orang di abad ke-14.

"Mas Surya," ucap Citra akhirnya, membuat Surya dan Kirana seketika menoleh karena intonasi suaranya yang begitu jernih dan berwibawa. "Sampaikan pada kawan Anda yang sedang bersembunyi di balik buku di sudut sana... jika dia memiliki urusan dengan saya, datanglah dengan kepala tegak. Mengutus orang lain untuk mengintai bukanlah watak dari seorang kesatria."

Surya tersedak es teh manisnya. Ia melirik ke arah Elang yang mendadak pura-pura batuk dan memalingkan muka karena ketahuan. Surya menatap Citra dengan pandangan kagum bercampur ngeri. Gila, cewek ini punya mata di belakang kepala apa ya? Kok bisa tahu? Batin Surya membatin takjub.

*

Ketika malam akhirnya melingkupi kota Jakarta, riuh rendah komedi di kampus menguap, digantikan oleh kesunyian yang pekat. Jam digital di ponsel Citra menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit malam.

Citra menyelinap keluar dari kamar kosnya, bergerak seringan kapas melewati lorong kos yang remang-remang tanpa menimbulkan bunyi derit lantai sedikit pun. Tujuan langkahnya adalah sebuah lahan kosong berumput yang terletak di balik tembok ruko mati di ujung gang kosannya. Tempat itu sepi, dikelilingi oleh pepohonan liar dan luput dari sorotan lampu jalan, menjadikannya sanggar pertapaan yang sempurna di tengah kota yang tak pernah tidur.

Citra berdiri di tengah lapangan berumput yang basah oleh embun malam. Ia mengenakan kaos hitam longgar dan celana olahraga panjang murahan. Ia mengembuskan napas perlahan, merasakan pasokan udara malam yang tipis merasuk ke dalam dadanya.

"Raga ini... teramat rapuh," bisik Citra sembari meraba lengan atasnya.

Melalui penyatuan jiwa kemarin, ia menyadari bahwa tubuh Citra asli sangat kekurangan asupan gizi yang baik, kurang berolahraga, dan tidak memiliki kepadatan massa otot yang dibutuhkan untuk menampung seluruh visualisasi jurus kanuragan miliknya. Jika ia dipaksa bertarung dalam durasi lama dengan kondisi fisik seperti ini, sendi-sendinya bisa copot sebelum musuh berhasil menyentuhnya. Ia harus menempa wadah baru ini agar sekuat dan selaras dengan jiwanya di masa lalu.

Citra membuka kedua kakinya selebar bahu, menurunkan poros tubuhnya hingga membentuk kuda-kuda pancer yang kokoh. Kedua tangannya diangkat di depan dada, jemarinya mengepal perlahan.

Wusss.

Citra mulai menggerakkan tubuhnya. Ia melancarkan pukulan lurus ke depan dengan kecepatan tinggi, memotong aliran udara malam hingga menimbulkan suara desingan halus. Gerakannya tidak lagi kaku seperti saat naik angkot; di tengah kesunyian ini, seluruh estetika beladiri Sunda kuno mengalir dari setiap lekuk tubuhnya dengan sangat indah namun sarat akan tenaga yang mematikan.

Ia berputar, melayangkan sapuan kaki melingkar rendah yang merontokkan dedaunan kering di atas rumput, lalu melompat mundur dengan kelenturan yang menakjubkan, mendarat dengan satu kaki tanpa menimbulkan getaran pada tanah. Setiap gerakan dipadukan dengan teknik pengaturan napas spiritual Pajajaran, menarik hawa dingin malam, memutarnya di dalam rongga perut untuk diubah menjadi energi kinetik, lalu mengembuskannya kembali sebagai dorongan tenaga dalam yang menstabilkan struktur tulangnya yang baru saja sembuh.

Keringat mulai bercucuran, membasahi kening dan lehernya yang jenjang, membuat kaos hitamnya menempel ketat di kulit. Namun, sorot mata Citra justru kian berkilat tajam di bawah siraman cahaya bulan sabit yang temaram. Di setiap pukulan yang ia layangkan ke udara kosong, ia membayangkan dinding pertahanan yang takkan pernah runtuh lagi. Ia tidak sedang berlatih untuk sekadar membela diri dari preman sekelas suruhan Natasha; ia sedang mempersiapkan dirinya untuk sebuah takdir besar yang ia rasakan sedang bergerak mendekat di dalam pusaran waktu.

Setelah hampir satu jam menempa raga tanpa jeda, Citra mengakhiri latihannya dengan posisi berdiri tegak, menarik kedua tangannya ke samping pinggang sembari mengembuskan napas panjang yang hangat ke udara malam.

Ia menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu mendongak menatap langit Jakarta yang hitam kelabu tanpa bintang, terhalang oleh pendaran lampu kota. Sebuah senyuman penuh tekad bulat terukir di wajahnya yang jelita. Wadah modern ini perlahan mulai patuh pada kehendak sang pengawal kuno. Apapun intrik, bahaya, atau pengkhianatan yang sedang dipersiapkan oleh dunia modern ini di esok hari, Nyai Kencana memastikan dirinya telah siap untuk menyambutnya dengan mata yang takkan pernah lengah lagi.

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!