NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Gelisah di Tengah Malam

BAB 24: Gelisah di Tengah Malam

​Malam merayap semakin pekat, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke dalam ruang kerja megah di lantai tiga puluh gedung Devano Group. Di balik meja jati besarnya, Devano masih duduk bersandar. Di hadapannya menumpuk berkas-berkas audit penting perusahaan yang harus ditandatangani, namun fokus pria bertubuh tegap itu telah menguap entah ke mana.

​Sepasang mata elang Devano yang kelam menatap kosong ke arah segelas wiski di tangan kanannya. Pikirannya benar-benar kacau. Bayangan wajah pucat Luna Maharani saat merebut kertas memo robek tadi siang terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Sentuhan kulit leher Luna yang panas membara saat pingsan di pelukannya pun seolah masih menyisakan rasa hangat yang membakar telapak tangannya.

​Devano meneguk wiskinya hingga tandas, berusaha mengusir rasa gelisah yang aneh di dalam dadanya. Egonya yang setinggi langit terusik oleh untaian kalimat dalam memo tangan almarhum ayah Luna: "carilah keluarga Devano. Sebenarnya merekalah yang..."

​"Kenapa pria penipu itu menulis pesan seperti itu?" bisik Devano pada kesunyian malam, rahang perseginya mengetat.

​Selama dua tahun ini, dia meyakini cerita Siska bahwa Mahardika Maharani adalah penjudi yang menghancurkan keluarga. Namun, reaksi histeris Luna yang mendekap kertas robek itu seolah-olah benda itu adalah kesucian keduanya, mulai menumbuhkan benih keraguan kecil di sudut hati Devano.

​Karena rasa penasarannya mulai mengalahkan rasa dendamnya, Devano meraih ponsel pribadinya. Di tengah malam buta itu, dia menghubungi Hadi, kepala keamanan sekaligus detektif kepercayaannya yang dulu mengurus kasus perceraiannya dengan Siska.

​"Hadi, ini aku," ujar Devano saat sambungan telepon terhubung, suaranya baritonnya terdengar berat dan penuh penekanan. "Buka kembali berkas kasus kebangkrutan Mahardika Maharani dua tahun lalu. Periksa ulang semua aliran dana dan nomor rekening judinya. Lakukan dengan senyap, jangan sampai ada satu orang pun di kantor yang tahu."

​Setelah menutup telepon, Devano mengembuskan napas panjang. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa besok pagi jam tujuh tepat, dia akan memaksa Luna memberikan sisa robekan kertas itu.

​Sementara itu, di tempat lain, malam itu menjadi neraka jahanam bagi Luna. Dia pulang ke rumah dalam kondisi tubuh yang menggigil hebat dan kesadaran yang timbul tenggelam. Bukannya dirawat, Luna justru langsung disidang di ruang tamu oleh Bu Rahma dan Siska yang meradang karena Luna pulang dengan tangan kosong tanpa membawa cek dari Devano.

​Tas kain Luna direbut dan diringkus kasar oleh Siska. "Mana uangnya, Luna?! Kamu sengaja ya tidak meminta uang muka pada Mas Devano?! Kamu mau melihat Ibu mati, hah?!" bentak Siska berapi-api.

​"Luna... Luna sakit, Kak... Luna tidak kuat..." rintih Luna, air matanya menetes di sela kesadarannya yang kian menipis.

​"Halah, alasan! Dasar anak tiri tidak tahu untung!" Bu Rahma mendorong tubuh lemas Luna hingga terjerembap di lantai kamar bawah, lalu mengunci pintunya dari luar. Mereka membiarkan Luna terkurung di dalam kamar yang gelap dan dingin tanpa diberi makan malam ataupun obat penurun panas.

​Subuh-subuh sekali, petaka itu memuncak. Suhu tubuh Luna meroket menyentuh angka 40°C. Tubuh ringkihnya mulai kejang-kejang di atas kasur tipisnya. Beruntung, seorang tetangga dekat yang mendengar rintihan pilu Luna dari luar jendela segera panik dan menghubungi nomor Dika—satu-satunya kontak yang pernah ditinggalkan Dika saat mengantar Luna kemarin.

​Dika yang mendapat telepon subuh itu langsung memacu mobilnya bagai kesurupan. Tiba di sana, rumah sudah sepi karena Bu Rahma dan Siska ternyata sudah kabur sejak subuh membawa barang-barang berharga karena ketakutan dikejar penagih utang yang mendatangi rumah mereka semalam.

​Melihat pintu terkunci dan mendengar suara rintihan di dalam, Dika tanpa pikir panjang langsung mendobrak pintu kamar. Jantung Dika mencos melihat Luna yang sudah setengah koma dengan bibir membiru. Tanpa memedulikan hal lain, Dika menggendong tubuh lemas Luna masuk ke dalam mobilnya dan melarikannya ke Rumah Sakit Pusat Kota untuk langsung dimasukkan ke ruang perawatan intensif.

​Keesokan paginya, tepat pukul 06.55.

​Devano sudah duduk rapi di kursi kerjanya dengan setelan jas abu-abu gelap yang elegan. Matanya sesekali melirik jam dinding, sengaja menunggu kedatangan Luna yang kemarin dia perintahkan untuk datang tepat pukul jam tujuh pagi.

​Jarum jam bergerak, tepat menunjukkan pukul 07.00. Pintu ruang kerja CEO tiba-tiba diketuk dengan terburu-buru. Namun, bukannya sosok Luna Maharani yang masuk, melainkan Rania dengan langkah kaki yang dihentak-hentak dan wajah yang dipasang sepanik mungkin. Di tangannya, Rania memegang sebuah map dokumen.

​"Tuan Devano! Gawat, Tuan!" seru Rania dengan suara yang dibuat-buat cemas, padahal di dalam hatinya dia sedang bersorak gembira.

​Devano mengernyitkan dahi, aura dingin langsung menguar dari tubuhnya. "Di mana Asisten Luna? Kenapa kamu yang masuk?"

​Rania memasang wajah sesal yang palsu. "Itu dia, Tuan! Pagi-pagi sekali, staf bawah melihat Pak Dika membersihkan seluruh meja kerjanya di divisi keuangan. Dia membawa semua barang-barangnya keluar dari kantor. Dan yang lebih mengejutkan... saya baru saja mendapat laporan dari orang suruhan saya, kalau subuh tadi Pak Dika datang ke rumah Luna, lalu mereka berdua pergi bersama membawa barang-barang Luna!"

​Brak!

​Devano seketika berdiri dari kursi kebesarannya dengan sentakan yang begitu kasar hingga kursi roda di belakangnya bergeser jauh. Wajah tampan sang CEO seketika menggelap, matanya menyala merah karena disulut oleh kobaran api cemburu dan murka yang luar biasa.

​Rania yang melihat kemarahan Devano langsung tersenyum licik di dalam hati. Skenario kesalahpahaman ini memang sengaja dia tiupkan agar Devano membenci Luna setengah mati. Nyatanya, Dika tidak resign, melainkan hanya mengambil cuti darurat untuk mengurus Luna di rumah sakit, namun Rania memutarbalikkan fakta itu seolah-olah mereka kabur bersama.

​Ternyata, selama ini Rania adalah mata-mata yang dibayar mahal oleh Siska! Setiap pergerakan Luna dan Devano di kantor selalu dilaporkan Rania kepada Siska lewat pesan singkat. Rania benci Luna karena Luna mendapatkan posisi asisten pribadi yang dia incar, dan Siska benci Luna karena takut posisinya di hati Devano digantikan.

​"Jadi... mereka benar-benar kabur bersama?" desis Devano dengan suara bariton yang teramat rendah namun bergetar menahan badai amarah.

​Cangkir kopi porselen di tangan kiri Devano diremas begitu kuat hingga cairannya yang panas tumpah membasahi meja kaca, namun dia sama sekali tidak merasakan sakitnya. Di dalam benak Devano, cap "perempuan murahan" untuk Luna kini meledak menjadi dendam baru. Dia merasa dikhianati dan dipermainkan oleh wanita yang telah dia renggut kesuciannya itu.

​"Cari mereka, Rania!" bentak Devano dengan suara menggelegar yang sanggup meruntuhkan nyali siapa pun di ruangan itu. "Kerahkan seluruh keamanan! Saya tidak peduli di mana Dika menyembunyikan perempuan jalang itu! Temukan mereka dan seret Luna ke hadapan saya sekarang juga!"

1
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!