NovelToon NovelToon
Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.



Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Dara menelisik kamar sang suami yang untuk pertama kalinya dia masuki. Kamar yang tentunya lebih luas dari kamar miliknya.

Kamar luas dengan nuansa warna abu muda yang lebih mendominasi. Mencerminkan pribadi Rafa yang sederhana namun terkesan berkelas. Mencerminkan pula pribadi Rafa yang matang dan bertanggung jawab.

Dara ingat cerita Oma Atira yang mengatakan kalau sampai sekarang Rafa masih selalu memberikan sejumlah uang kepada keluarga Khaylila. Menganggap itu sebagai ganti uang yang selalu Khaylila berikan setiap bulannya saat wanita itu masih hidup.

"Duduk dulu, saya ambil dulu barangnya," ujar Rafa.

Meski canggung, Dara pun mengangguk dan duduk di tepi ranjang.

Jantungnya berdebar kencang, mengingat kini dia sedang berada di kamar seorang pria. Terlebih pria itu suaminya sendiri.

"Jangan gugup, jangan gugup." Dara memantrai dirinya sendiri. Mengusir rasa gugup yang kian menguasai diri.

Tidak berselang lama, Rafa duduk di samping Dara, dia memperlihatkan sebuah gelang perak dengan bandul bintang pada istrinya.

Kening Dara mengkerut melihat gelang tersebut. Dia langsung mengambilnya dan menelisik gelang yang entah mengapa bisa ada pada Rafa.

"Punya kamu, 'kan?" tanya Rafa.

Dara mengangguk. "T-tapi.. Kenapa bisa ada sama Mas Rafa?" tanyanya.

"Jatuh waktu kamu gak sengaja nabrak saya di depan ruang komputer waktu itu," jawab Rafa.

Dara terdiam, dia sedang mengingat-ingat kejadian yang Rafa sebutkan. Dara membulatkan mulutnya saat sudah ingat kejadian itu.

Rafa menelisik ekspresi Dara yang sepertinya terlihat biasa-biasa saja. Rafa pikir, Dara akan terlihat antusias dan senang saat gelang yang sudah lama hilang itu ditemukan.

Rafa pikir, Dara mungkin selama ini mencari gelang tersebut.

"Apa gelang ini gak begitu penting buat kamu?" tanya Rafa.

Dara menggeleng. "Dulu mungkin iya. Tapi sekarang enggak lagi. Tapi makasih ya," jawabnya.

Rafa malah makin kepo.

"Memangnya itu gelang dari siapa?"

Dara berpikir dulu, kalau jujur dan bilang itu gelang pemberian dari Braden, reaksi Rafa akan seperti apa?

"Ini dari temen."

"Temen? Cowok?" tanya Rafa makin kepo.

"Duh, dia kenapa sih? Kok malah makin kepo," batin Dara.

Dara mengangguk sebagai jawaban.

Rafa membulatkan mulutnya. Meski Dara mengatakan kalau itu dari teman, tapi kalau seorang pria dan Dara juga bilang kalau dulu gelang itu penting tapi sekarang tidak, Rafa yakin itu dari mantan pacarnya Dara.

Rafa kok jadi kesal, tahu begitu dia langsung buang aja gelang itu. Sekarang, kalau gelang itu bakal masih disimpan oleh Dara, apa mungkin istrinya itu bakal jadi inget kenangan dengan mantan kekasihnya?

"Kamu.. Bakal nyimpen gelang itu?" tanya Rafa.

"Tadinya kalau pun ilang gak apa-apa lho. Aku malah gak inget sama sekali gelang ini gak ada. Kalau udah ketemu gini ya mungkin disimpan aja," jawab Dara.

Wajah Rafa makin masam. Dia kira Dara akan membuang gelang itu.

"Dari pacar kamu ya?" tanya Rafa, nadanya berubah ketus.

"Hah? Emm... Mungkin kalau sekarang lebih tepatnya mantan pacar," jawab Dara, makin heran dengan Rafa yang malah semakin kepo.

"Siapa? Si Braden anak kelas IPA 1?" tebak Rafa, saat ingat dia pernah tidak sengaja menguping pembicaraan Dara dan sahabatnya di taman sekolah.

"Kok tau?" tanya Dara kaget.

Rafa berdecak malas karena tebakannya benar. "Nebak aja," kilahnya. Gak mungkin juga Rafa ngaku kalau dia nguping waktu itu.

"Buang! Nanti saya belikan yang lebih bagus dari itu!" ucap Rafa.

Dara mengerjapkan matanya dan mengulum senyum.

"Emangnya Mas Rafa gak pernah punya mantan? Emangnya Mas Rafa gak pernah nyimpen barang pemberian mantan?" goda Dara.

Tapi sepertinya candaan dari Dara langsung ngena ke hati Rafa. Dia sudah menyuruh Dara untuk membuang barang pemberian mantan kekasih istrinya itu, sedangkan dia? Semua kenangan dengan Khaylila malah ada sampai sekarang, lengkap dan semuanya tersimpan rapi di sebuah kotak besar.

Tapi kalau harus membuangnya? Rafa juga tidak ingin.

Sadar kalau sepertinya dia sudah salah bicara, Dara kini bingung sendiri. Tapi, dia tidak salah, 'kan? Dia hanya ingin Rafa tidak terus larut dalam masa lalunya yang sudah tiada. Di saat Rafa pun mulai sering menyatakan rasa suka padanya.

Egoiskah dia kalau ingin hanya dia saja yang ada di hati Rafa? Di saat dia sendiri pun sedang mulai mencoba membuka hati dan percaya pada pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.

"Tidak usah dijawab kalau emang gak mau," ucap Dara merasa miris dengan dirinya sendiri.

"Maafkan saya," sahut Rafa.

Kini keduanya malah jadi merasa canggung sendiri. Hingga suara bel berbunyi, Dara pun langsung beranjak untuk melihat siapa yang datang. Meninggalkan Rafa yang masih termenung dengan berbagai pikiran di kepalanya.

 

"Ayah?" gumam Dara saat melihat siapa yang datang.

Ayah Aldi tersenyum hangat, kedua matanya mengembun melihat putri semata wayang yang sudah dia korbankan masa remaja dan masa depannya untuk menikah demi membayar semua hutang yang dia punya.

"Apa kabar kamu, Nak?" tanya Ayah Aldi.

"Baik, kabar Dara baik, kok."

"Kamu sendirian di rumah? Boleh Ayah masuk?"

Dara dengan cepat mengangguk dan mempersilahkan sang ayah untuk masuk lalu duduk di sofa ruang tamu.

"Aku sama Mas Rafa di rumah. Ayah mau minum apa?" tanya Dara.

Ayah Aldi menggelengkan kepalanya pelan. "Gak usah, Ayah udah minum barusan di mobil. Ibu kamu 'kan suka bekalin Ayah botol minum," dusta Aldi. Padahal sejak pertengkaran kemarin, Erina masih mendiaminya. Untuk makan pun, dia harus masak sendiri.

Aldi tidak marah, dia menganggap wajar kemarahan Erina. Karena dia memang sudah keterlaluan.

Dara tersenyum tipis dan menunduk. Ibunya memang selalu membawakan bekal air minum untuk sang ayah. Katanya karena Ayah jarang minum air putih, takut ginjal Ayah bermasalah.

Seperhatian itu memang ibunya pada sang ayah.

Dara menahan rasa sesak di dada yang tiba-tiba muncul. "Tapi kenapa Ayah tega khianatin ibu?" gumam hatinya penuh tanya.

"Ayah, apa kabar?" Rafa muncul dan langsung menyapa ayah mertuanya tersebut. Rafa mencium punggung tangan ayah Aldi dan duduk di samping Dara.

"Baik, Nak. Nak Rafa apa kabar?"

"Alhamdulillah, baik, Yah."

Melihat Dara yang terus menunduk dan Ayah Aldi yang memang sepertinya ingin menyampaikan banyak hal pada Dara, Rafa pun pamit dengan alasan ada keperluan di luar.

 

Di rumah besar itu, kini hanya ada Dara dan sang ayah. Hening, hanya terdengar suara jam dinding yang terus berdetak.

Ayah Aldi duduk di sofa dengan wajah penuh penyesalan, menatap Dara yang duduk di seberangnya.

Wajah Dara menunjukkan luka yang dalam, meski dia mencoba menyembunyikannya dengan senyuman tipis.

"Dara, Ayah tahu ini sangat berat untuk kamu dengar. Ayah ingin minta maaf dari lubuk hati yang paling dalam. Ayah menyesal dan kamu berhak marah pada ayah," ucap Aldi.

"Kenapa ayah minta maaf sama aku? Yang Ayah sakiti hati dan perasaannya tuh ibu!"

Ayah Aldi menggelengkan kepalanya. "Kamu pun sama. Ayah secara tidak langsung juga sudah menyakiti hati dan perasaan kamu."

"Lalu kenapa Ayah ngelakuin hal itu? Apa kurangnya Ibu? Apa kurang juga Ayah hanya mempunyai aku dan Ibu? Apa aku dan Ibu udah gak penting lagi buat Ayah?" tanya Dara dengan air mata yang mengalir di pipinya, sorot matanya sungguh menunjukkan hati yang sedang rapuh.

Ayah Aldi langsung duduk bersimpuh di depan Dara, dia menggenggam tangan putrinya itu dengan erat. Hatinya amat sakit melihat Dara yang menangis dan itu karena dirinya. Sungguh, Ayah Aldi merasa jadi sosok orang tua yang gagal saat ini.

"Gak begitu, Sayang. Kamu dan Ibu sangat penting di hidup Ayah. Hanya saja Ayah yang salah dan tidak tahu diri sudah berbuat kesalahan besar dengan selingkuh dari ibumu. Ayah tahu Ayah tidak bisa menghapus apa yang sudah terjadi, tapi Ayah ingin kamu tahu bahwa Ayah sangat menyesal."

"Ayah tau? Ayah bukan hanya menyakiti hati kami. Tapi Ayah juga sudah mengorbankan aku karena kelakuan Ayah itu!" ujar Dara marah.

"Ayah udah bikin aku harus terpaksa menjalani hidup yang seharusnya belum harus aku jalani!" imbuhnya.

Ayah Aldi menunduk dalam-dalam, rasa penyesalan kian menyelimuti dirinya. Bola matanya merah sembab tak mampu menahan air mata yang mengalir deras.

Katanya seorang ayah adalah cinta pertama putrinya, tapi kini apa yang terjadi? Kepahitan menyengat jantungnya saat ia menyadari telah menyakiti hati seorang gadis yang tak lain adalah darah dagingnya sendiri.

"Ayah tahu, Nak. Ayah tahu Ayah sudah menghancurkan masa depanmu. Semua hutang itu... sebagian besar Ayah gunakan untuk perempuan itu. Ayah menyesal, sungguh menyesal."

Dara memejamkan matanya dalam, mencoba meredam rasa sakit yang terus menghujam.

"Ayah belum jawab pertanyaanku. Kenapa Ayah ngelakuin hal itu? Kenapa, Yah?"

"Ayah tidak tahu apa yang merasuki Ayah waktu itu. Ayah hanya ingin mencari kebahagiaan sesaat tanpa memikirkan konsekuensinya. Ayah benar-benar menyesal telah melukai kamu dan ibumu."

"Tapi kamu tenang saja, Ayah sudah memutuskan wanita itu. Ayah bahkan sudah memblokir semua akses dengannya. Ayah janji ini yang terakhir," lanjutnya berusaha meyakinkan Dara.

Dara menghela napas panjang, mencoba mencari ketenangan di tengah perasaan yang berkecamuk.

"Sekarang semuanya sudah terjadi. Aku hanya bisa berharap Ayah belajar dari kesalahan ini. Jangan biarkan hal ini terulang kembali, Ayah."

Ayah Aldi mengangguk cepat. Dia tentu tidak ingin hal ini terulang kembali. Sudah cukup dia menyakiti hati istri dan putrinya hanya karena keinginan dan nafsu sesaatnya.

"Ayah berjanji, Nak. Ayah akan memperbaiki semuanya. Ayah juga tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."

Dara mengangguk, meski hatinya masih penuh luka. Ia tahu bahwa perjalanan untuk memaafkan Ayahnya tidak akan mudah, tapi ia juga tahu bahwa memaafkan adalah langkah awal untuk menyembuhkan diri.

"Buktikan dengan tindakan, Yah. Bukan dengan kata-kata saja," ucap Dara.

"Aku tidak ingin Ayah sampai menyakiti hati Ibu lagi. Ayah tentunya masih inget, 'kan apa impian yang aku ucapkan saat pentas di taman kanak-kanak dulu? Aku hanya ingin mempunyai keluarga yang terus harmonis dan bahagia. Sebelum mengetahui kelakuan Ayah yang ternyata selingkuh dari Ibu, aku sempat menjadikan Ayah sebagai panutan aku dalam mencari pendamping hidup nanti. Kalau Ayah aja kayak gitu, lalu aku harus bagaimana? Aku hanya berharap kalau Mas Rafa tidak pernah melakukan hal yang sama dengan yang Ayah lakukan pada Ibu meski kami menikah karena terpaksa."

 

Rafa mengemudikan mobilnya tanpa tujuan yang jelas. Sejak tadi dia hanya mengikuti jalan dengan pikiran yang terus tertuju pada Dara.

Dara yang terlihat kecewa saat dia tidak bisa menjawab pertanyaannya. Dia yang sudah terang-terangan menyatakan rasa suka tapi ternyata belum bisa melupakan bahkan melepaskan masa lalunya.

"Aku harus bagaimana? Apa aku terlalu cepat menyatakan rasa suka padanya?" gumam Rafa bertanya-tanya.

Dia terus melamun sampai hampir saja menabrak pejalan kaki di depannya.

Rafa mengerem mobilnya secara mendadak, dia shock dan langsung melepas sabuk pengaman lalu keluar dari mobil untuk melihat keadaan seseorang yang hampir dia tabrak itu.

"Tante..." gumam Rafa kaget karena yang hampir dia tabrak adalah Sari, ibu kandungnya Khaylila.

"Kau mau membu-nuhku? Sama seperti kau sudah membu-nuh putriku?!" hardik Sari dengan wajah marah.

"T-tidak seperti itu, Tante. Aku sungguh tidak sengaja. Mari aku bantu." Rafa hendak membantu Sari untuk bangun namun tangannya langsung ditepis secara kasar oleh wanita paruh baya tersebut.

"Gak usah pura-pura baik kamu!" sentak Sari, menepuk-nepuk pakaian yang terkena debu aspal jalanan saat dia jatuh tadi.

"Bagaimana hidupmu sekarang? Apa kamu masih terpuruk karena rasa bersalahmu atau kamu sudah bahagia meski Khaylila sudah tidak ada?" tanya Sari.

Rafa diam, dan diamnya Rafa malah membuat Sari tertawa.

"Hebat ya kamu. Baru minggu kemarin kamu datang menemui saya. Mengatakan kalau kamu bersumpah tidak akan pernah merasa bahagia karena sudah menjadi penyebab Khaylila meninggal. Tapi apa sekarang? Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, kamu ketawa dengan seorang gadis yang pasti usianya berada jauh di bawah kamu," ucap Sari.

Rafa langsung paham kalau yang dimaksud oleh Sari adalah Dara.

"Kamu pembohong! Saya tidak rela kamu hidup bahagia sedangkan saya dan suami saya belum bisa melupakan kejadian itu! Kamu bahagia di saat saya dan suami saya kini harus kesepian karena kehilangan putri satu-satunya dan itu karena kamu!" amuk Sari, semakin menarik perhatian orang-orang yang kebetulan lewat di sana.

"Andai kamu tidak membiarkan Khaylila mengendarai sepeda motor disaat hujan tengah turun waktu itu, dia pasti masih ada! Khaylila ku masih ada!"

Rafa membiarkan Sari menumpahkan semua emosi dan amarah padanya. Rafa bahkan membiarkan Sari terus memukulinya. Tidak mungkin dia melawan wanita paruh baya yang dulu juga sangat menyayanginya, seperti pada anak sendiri.

 

Rafa pulang saat matahari sudah terbenam. Dia pulang dengan wajah kusut dan Dara yang kala itu sedang menata makanan di meja makan langsung menghampiri suaminya.

"Mas, kamu dari mana aja? Dan... dan kamu kenapa?" tanya Dara tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.

Rafa terduduk lemas di sofa ruang tengah. Dia mengusap wajahnya kasar dan menggelengkan kepalanya.

"Ayah udah pulang?" tanya Rafa.

Masih dengan wajah bingungnya, Dara mengangguk. "Udah, tadi sore juga Ayah udah pulang. Kamu dari mana?"

"Hanya berkunjung ke rumah teman," jawab Rafa bohong.

Dara mengangguk, meski dia tahu kalau Rafa sepertinya berbohong padanya. "Ya udah, Mas mandi dulu udah itu kita makan malam."

Namun saat Dara hendak berdiri, Rafa menahan pergelangan tangannya dengan lembut, bahkan sedikit menariknya hingga akhirnya tubuh mereka saling menempel. Ekspresi wajah Rafa terlihat memelas, seolah mengatakan ada sesuatu yang disembunyikannya.

"A-ada apa?" tanya Dara gugup. Jujur saja, dia belum terbiasa dekat seperti ini dengan Rafa.

"Tidak apa-apa." Rafa mencium puncak kepala Dara dan itu membuat detak jantung Dara langsung menyepat seketika.

Dara sedikit mengangkat wajahnya. Dia memandang Rafa yang juga sedang menatapnya. Ingin bertanya tapi ragu, Rafa juga sepertinya belum mau bercerita padanya.

"Ya sudah, saya mandi dulu," ucap Rafa kemudian berjalan menuju tangga dan menaiki undakan tangga itu hingga perlahan tubuh tegap itu menghilang dari pandangan Dara yang sejak tadi memperhatikan.

"Ada apa dengannya? Apa ada sesuatu yang terjadi di luar tadi?" gumam Dara bertanya-tanya.

.

Dara kini sedang belajar di kamarnya. Meski besok dan minggu libur, dia tidak ingin menunda-nunda sebuah tugas.

Namun, tiba-tiba lampu mati saat ada suara petir yang menggelegar.

"Aaaa!" Dara menjerit karena kaget. Dia meraba-raba ponselnya yang tadi dia simpan di atas meja samping ranjang karena sedang di-charge.

Sedangkan Rafa yang sedang berdiri menghadap balkon sambil melihat langit malam yang tidak berbintang pun kaget karena suara petir juga karena suara teriakan Dara.

Gegas dia berlari keluar kamar menuju kamar istrinya.

"Dara! Kamu baik-baik saja?" panggil Rafa setelah mengetuk pintu kamar Dara.

Pintu kamar terbuka dan Rafa sempat kaget melihat wajah Dara yang tersorot lampu flash ponsel milik gadis itu.

"Aku gak apa-apa. Cuman kaget tadi," jawab Dara.

"Turunin cahaya lampu ponsel kamu. Saya jauh lebih kaget saat liat wajah kamu barusan," sahut Rafa.

.

Kini keduanya sedang duduk di sofa dekat kamar Rafa. Terhitung sudah dua jam dan listrik belum juga menyala. Sepertinya ada tiang listrik yang terkena petir tadi, karena hujan pun tidak ada turun sampai sekarang.

Rafa bingung mengutarakan pertanyaan yang akan dia katakan.

"Emm... Kamu berani tidur sendiri?" tanya Rafa.

Dara menoleh sebentar kemudian menunduk. Jujur saja, dia takut kalau harus tidur sendiri dalam keadaan gelap begini.

Bukan takut karena gelapnya sih sebenarnya, tapi takut ada kejadian seperti di film yang pernah dia tonton.

Dulu, kalau mati lampu begini pas waktunya tidur, dia selalu tidur bersama kedua orang tuanya. Atau mengajak sang ibu untuk tidur bersama.

Tapi sekarang, masa iya dia harus mengajak Rafa untuk tidur dengannya?

"Jangan gila, Dara!" batinnya.

"A-aku berani kok," jawab Dara ragu.

"Sungguh? Kalau begitu.. Tidurlah. Ini sudah larut," sahut Rafa.

"Hah? I-iya." Ragu Dara berdiri dan menyoroti lorong menuju kamarnya yang tiba-tiba terasa menyeramkan.

Dara meneguk ludahnya susah payah, langkahnya bahkan terasa berat hingga dia merasa harus menyeret kakinya itu. Dia menoleh ke belakang di mana Rafa berdiri.

"Selamat malam," ucap Dara kemudian masuk ke kamarnya.

Melihat pintu kamar istrinya yang sudah tertutup, Rafa kok malah merasa canggung sendiri. Dia menggaruk kepala bagian belakang dan berbalik untuk masuk ke kamarnya sendiri.

Baru saja dia membuka pintu kamarnya, tiba-tiba terdengar suara teriakan Dara yang disusul dengan gadis itu keluar dari kamar sambil berlari cepat dan panik lalu masuk ke kamarnya Rafa.

Dara langsung naik ke atas ranjang Rafa, dengan napas terengah-engah dan wajah yang penuh ketakutan.

"Aku mau tidur di sini aja. Di sana tadi ada kecoa terbang!" ucapnya.

1
falea sezi
enak bgt si aldi najis pas sakit ke istri pas seneng2 ke. selingkuh an jangan. bego erina np erina di buat bloon sih
falea sezi
erina mending cerai duda tua banyak ngapain suami mu bekas. jalang lu mau
Ikky
dipersilahkan
Ikky
3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!