𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 1 - AWAL YANG DI SEMBUNYIKAN
Awal yang Disembunyikan
Hujan turun perlahan di kota modern itu, membasahi aspal, atap gedung, dan jendela-jendela sekolah yang masih menyala sejak pagi. Kota fiksi ini hidup dalam ritme teratur—lalu lintas bergerak, pejalan kaki berlalu-lalang, dan suara klakson bercampur dengan gemericik hujan yang jatuh tanpa tergesa.
Di sisi barat kota, berdiri sebuah apartemen sederhana yang dari luar tampak seperti hunian biasa. Tak ada penjagaan berlebihan, tak ada tanda kekuasaan atau kemewahan yang mencolok. Dari salah satu unitnya, seorang remaja laki-laki bersiap berangkat ke sekolah.
Namanya Rizuki.
Bagi dunia luar, ia hanyalah seorang siswa kelas tiga sekolah menengah atas. Pendiam, jarang tersenyum, tidak banyak bicara, dan nyaris tak pernah ikut percakapan yang tidak perlu. Namun di balik seragam sekolahnya yang rapi dan tas hitam polos di punggungnya, tersembunyi identitas yang tak seorang pun ketahui.
Rizuki adalah seorang CEO.
Bukan pewaris manja. Bukan simbol kosong. Ia seorang jenius yang membangun kekuasaannya dengan perhitungan dingin, kecerdasan tajam, dan disiplin yang nyaris kejam terhadap dirinya sendiri. Namun semua itu terkunci rapat di balik peran yang ia mainkan dengan sempurna: seorang pelajar biasa.
Rambut hitamnya dipotong wolfcut, dengan poni samping yang jatuh natural menutupi sebagian dahi. Bola matanya berwarna biru—dingin, tenang, dan selalu mengamati. Tubuhnya atletis, hasil dari rutinitas latihan yang tak pernah ia tinggalkan meski jadwalnya padat. Dengan tinggi 170 sentimeter, posturnya tegap, mencerminkan ketegasan yang tak perlu diumumkan.
Rizuki mengancingkan kemeja sekolahnya perlahan, memastikan semua rapi dan nampak di cermin, ia menatap pantulan dirinya sendiri. “Peran yang lain,” gumamnya pelan.
Ia mengambil jaket sekolah, memasukkannya ke dalam tas, lalu melangkah keluar apartemen. Hujan menyambutnya dengan udara dingin yang menenangkan. Rizuki berjalan menuju halte dengan langkah stabil, seperti seseorang yang selalu tahu ke mana ia akan pergi—dan apa yang harus ia sembunyikan.
Di sisi selatan kota, suasananya jauh berbeda. Sebuah rumah keluarga dengan halaman kecil dan pagar putih tampak hidup sejak pagi. Dari dalamnya terdengar suara langkah tergesa, tawa ringan, dan denting sendok mengenai piring.
Di sanalah Vhiena tinggal. Vhiena adalah kebalikan dari keheningan Rizuki.
Ia ceria, ramah, dan mudah berbaur. Senyumnya hadir tanpa diminta, membuat orang di sekitarnya merasa nyaman tanpa sadar. Ia cerdas dan rajin—bukan tipe yang menonjol dengan pamer, tetapi selalu konsisten dalam usahanya.
Rambutnya panjang dengan potongan layer, jatuh lembut mengikuti gerak tubuhnya. Curtains bang membingkai wajahnya, menonjolkan mata coklat yang hangat dan penuh rasa ingin tahu. Dengan tinggi badan 155 sentimeter, Vhiena tampak mungil, namun energinya selalu terasa besar.
“Vhin, kamu bakal telat!” seru Ayu dari ruang makan.
“Iya, iya!” jawab Vhiena sambil menyambar tasnya.
Lala, yang sedang mengikat rambutnya di depan cermin, menoleh. “Kelas dua tapi sibuknya kayak kelas tiga.”
Vhiena terkekeh. “Aku nggak mau nyesel nanti.”
Ia mengambil payung, lalu berdiri sejenak di depan pintu, menatap hujan. “Aku suka hari hujan,” katanya tiba-tiba.
Ayu mengangkat alis. “Kenapa?”
“Rasanya kayak… dunia mulai ulang,” jawab Vhiena ringan.
Ia melangkah keluar, menutup pintu dengan hati-hati, lalu berjalan menuju halte bus yang akan membawanya ke sekolah di timur kota.
Sekolah Rizuki berada di pusat kota. Gedungnya besar, modern, dan dikenal keras dalam aturan maupun prestasi. Di sana, setiap siswa dituntut menjadi yang terbaik—atau tersingkir tanpa suara.
Rizuki duduk di bangkunya, dekat jendela. Hujan mengalir di kaca, membentuk pola acak yang ia amati sambil membuka buku pelajaran.
“Kamu nggak capek kelihatan serius terus?” tanya seorang siswa di sebelahnya.
Rizuki menoleh sekilas. “Belajar itu bukan hiburan.” Jawaban singkat. Datar. Temannya terdiam, lalu tertawa kecil, menganggapnya sebagai keanehan yang sudah biasa.
Bagi Rizuki, sekolah hanyalah satu panggung kecil dalam hidupnya. Namun panggung ini penting—karena di sinilah ia belajar tentang manusia tanpa topeng kekuasaan.
Sekolah Vhiena berada di timur kota, Lingkungannya lebih hangat, penuh aktivitas ekstrakurikuler dan suara tawa yang bersahutan di koridor.
“Vhin! Nanti ikut latihan, kan?” tanya seorang teman sekelasnya.
“Ikut,” jawab Vhiena mantap. “Habis jam pelajaran terakhir.”
Ia duduk di bangkunya, membuka buku catatan dengan rapi, matanya berbinar saat guru mulai menjelaskan. Bagi Vhiena, sekolah adalah tempat ia bertumbuh—tempat mimpi-mimpi kecilnya perlahan mengambil bentuk.
Di kota yang sama, di bawah hujan yang sama, dua kehidupan berjalan tanpa saling bersinggungan.
Seorang CEO yang menyamar sebagai siswa kelas tiga dan Seorang siswi kelas dua yang penuh semangat. Mereka sibuk dengan dunia masing-masing. Belum saling mengenal, Belum saling melihat, Namun kota ini menyimpan terlalu banyak kebetulan untuk membiarkan jarak bertahan selamanya. Dan hujan—selalu tahu kapan harus mempertemukan rahasia dengan kenangan.
Bersambung.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/