Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 - ALIANSI DI BALIK SELOKAN
Kaelan meninggalkan Markas Cabang Selatan yang telah menjadi monumen es abadi. Di bawah jubahnya yang compang-camping, aura "Pedang Slasher" masih berdenyut, seolah-olah senjata purba itu belum puas meminum sisa-sisa energi dari para prajurit Aliansi. Saat ia menyusuri gang-gang sempit untuk menghindari patroli udara yang mulai menggila, sebuah getaran aneh muncul di Domain Kesunyian milik Kaelan.
Bukan getaran mesin, bukan pula getaran pembunuh. Itu adalah kode morse yang diketukkan pada pipa-pipa uap di bawah jalanan. *Tit-tit-tat-tit.*
Tiba-tiba, sebuah jeruji besi di saluran drainase bergeser tanpa suara. Sebuah tangan kurus dengan tato simbol rembulan yang terbelah muncul, memberi isyarat agar Kaelan mendekat.
"Jika kau ingin memenggal kepala Aristhos tanpa harus membantai seluruh kota, ikutlah kami, Sang Eksekutor," sebuah suara parau membisik dari kegelapan selokan.
Kaelan tidak ragu. Dengan kekuatannya sekarang, ia bisa menghancurkan siapa pun di balik lubang itu jika itu adalah jebakan. Ia melompat turun, mendarat dengan anggun di dalam terowongan bawah tanah yang luas namun tersembunyi di balik sistem drainase kuno kota.
Di sana, ia menemukan sebuah pangkalan rahasia. Puluhan orang—pria, wanita, bahkan anak-anak—hidup di antara mesin-mesin uap dan tumpukan senjata rampasan. Mereka mengenakan zirah yang dibuat dari sisa-sisa logam Aliansi yang ditempa ulang. Pemimpin mereka adalah seorang wanita jangkung dengan luka parut besar di wajahnya, memegang kapak mekanis raksasa.
"Namaku Jora," ucap wanita itu, menatap rambut putih Kaelan dengan rasa hormat yang mendalam. "Kami adalah 'Penyalib Rembulan'. Sebagian besar dari kami adalah mantan pelayan, buruh, dan tentara tingkat rendah Aliansi yang dibuang ke jurang karena dianggap gagal. Kami telah menunggu puluhan tahun untuk seseorang yang bisa meruntuhkan Istana Rembulan dari akarnya."
Kaelan menyandarkan punggungnya pada pilar besi. "Aku tidak butuh pasukan. Mereka hanya akan menghalangi jalanku."
"Kau memang kuat, Kaelan," Jora mendekat, matanya berkilat tajam. "Tapi Aristhos telah mengaktifkan 'Sistem Jantung Bumi'. Jika kau menyerang Istana secara frontal sekarang, dia akan meledakkan tangki gas saraf di bawah pemukiman warga. Dia akan membunuh ribuan orang hanya untuk menghentikanmu. Kau butuh kami untuk menyabotase pipa-pipa itu sementara kau mengincar kepalanya."
Jora menunjukkan peta rahasia struktur bawah tanah kota. Ternyata, selama tujuh hari Kaelan berada di jurang, para pemberontak ini telah memasang peledak di titik-titik krusial aliran energi Aliansi. Mereka hanya butuh satu pemicu: serangan dari atas yang cukup besar untuk mengalihkan perhatian pasukan elit 'Sayap Hitam'.
"Kami tahu di mana ibumu disembunyikan sekarang," tambah Jora, yang membuat Kaelan seketika berdiri tegak. "Setelah ledakan di Nadi Bumi, Aristhos memindahkannya ke 'Menara Pengamatan Bintang', titik tertinggi di kota ini. Dia menggunakannya sebagai penangkal petir energi untuk menyerap kekuatan dari badai es yang kau ciptakan."
Kaelan mengepalkan tangannya. Es hitam mulai merayap di dinding selokan di sekitarnya. Aristhos benar-benar tidak berhenti memanfaatkan ibunya sebagai alat.
"Berapa banyak waktu yang kalian butuhkan untuk memutus pipa gas itu?" tanya Kaelan.
"Tiga puluh menit sejak kau mulai menyerang gerbang utara," jawab Jora dengan senyum seringai yang haus darah. "Kami akan menyelinap melalui jalur pipa sementara kau menciptakan neraka di permukaan."
Kaelan menarik Slasher sedikit dari sarungnya, cahaya hitam pedang itu menerangi wajah para pemberontak yang penuh harapan. "Tiga puluh menit. Jika kalian terlambat satu detik saja, aku akan membekukan kalian bersama dengan musuh-musuh kita."
"Kesepakatan yang adil bagi Sang Pencabut Nyawa," Jora menghantamkan kapaknya ke lantai sebagai tanda aliansi.
Malam itu, di bawah tanah Kota Takhta Langit, sebuah rencana pemberontakan terbesar dalam sejarah dimulai. Kaelan tidak lagi bergerak sendirian sebagai pembunuh bayangan; ia kini menjadi ujung tombak dari sebuah revolusi yang akan menghapus jejak Aliansi Langit Merah dari muka bumi.