NovelToon NovelToon
Lini Masa Dibalik Lensa

Lini Masa Dibalik Lensa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Anak Genius / Konflik etika / Murid Genius
Popularitas:435
Nilai: 5
Nama Author: Donny Kusuma Jaya

Arlan adalah seorang remaja SMA kelas 2 yang lebih suka mengamati dunia dari balik lensa kamera analognya daripada berinteraksi langsung. Baginya, cinta adalah konsep abstrak yang sulit difokuskan, sampai ia menemukan sebuah gulungan film tua di laboratorium sekolah yang tertukar dengan miliknya. Pencarian pemilik film itu membawanya pada perjalanan yang tidak hanya mengenalkannya pada cinta, tetapi juga pada keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donny Kusuma Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sketsa dari Masa Lalu

Hujan di Depok pagi itu turun dengan ritme yang monoton, menciptakan suasana yang lebih mirip dengan filter melankolis pada foto analog yang gagal. Arlan duduk di sudut kantin kampus, memandangi rintik air yang membasahi jendela kaca yang buram. Di depannya, segelas kopi hitam yang sudah dingin diabaikan begitu saja. Pikirannya masih tertahan pada percakapan singkat dengan Maya semalam. I miss you. Kata-kata itu terus berputar, menciptakan distorsi pada fokus kuliahnya hari ini.

Tiba-tiba, seorang petugas jasa pengiriman masuk ke area kantin, mencari-cari seseorang sambil memegang sebuah map besar berwarna cokelat kaku.

"Mas Arlan Rayyan?" tanya petugas itu.

Arlan mengangguk ragu. Setelah menandatangani resi, ia menerima map tersebut. Di pojok kiri atas, tertera alamat pengirim: Yogyakarta. Nama pengirimnya tertulis jelas: Maya Kalila.

Jantung Arlan berdegup kencang. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. Ia segera membuka map itu dengan hati-hati, berharap menemukan lukisan cat air terbaru atau mungkin surat panjang yang menceritakan betapa membosankannya dosen seni di Jogja. Namun, saat isi map itu meluncur keluar, senyum Arlan perlahan memudar.

Di dalamnya terdapat tiga lembar sketsa pensil. Sketsa-sketsa itu menggambarkan Arlan.

Lembar pertama: Arlan yang sedang duduk di kursi kereta, tertidur dengan kamera di pangkuannya.

Lembar kedua: Arlan yang sedang berjalan di trotoar Jakarta, tampak kecil di antara gedung-gedung tinggi.

Lembar ketiga: Arlan yang sedang berdiri di jembatan penyeberangan semalam—persis saat ia merasa sedang diawasi.

Arlan meraba permukaan kertas itu. Tekstur arsirannya kasar, penuh tekanan, dan sangat mendetail. Namun, ada yang aneh. Arlan sangat mengenal gaya goresan tangan Maya. Maya selalu menggunakan garis-garis yang luwes, ekspresif, dan cenderung abstrak. Goresan di kertas ini terlalu... teknis. Terlalu presisi, seolah-olah sang pelukis ingin meniru gaya "kejujuran" Arlan namun dengan cara yang dingin dan mengancam.

Dan yang paling membuat Arlan merinding adalah perspektifnya. Sketsa ini bukan digambar dari ingatan. Sketsa ini digambar dari foto-foto pengintaian.

"Ini bukan karya lo, May," bisik Arlan lirih.

Ia membalikkan kertas terakhir. Di sana, tertulis sebuah kalimat dengan tinta hitam yang tajam:

"Jarak tidak membuatmu tak terlihat, Arlan. Lensa yang terbuka hanyalah sasaran yang lebih mudah untuk dibidik. Sampai jumpa di pameran berikutnya."

Arlan meremas pinggiran kertas itu. Rasa mual yang ia rasakan semalam kembali menerjang. Ia segera menyambar ponselnya dan menelepon Maya. Panggilannya diangkat pada nada ketiga.

"Hai, Lan! Udah terima paketnya?" suara Maya terdengar riang, namun ada nada kebingungan di sana. "Gue baru mau tanya, apa lo suka sketsa bunga matahari yang gue kirim lewat pos kemarin?"

Arlan terdiam sejenak. "Bunga matahari?"

"Iya, Lan. Gue kirim sketsa bunga matahari di depan studio gue. Kenapa? Paketnya belum sampai ya?"

Darah Arlan serasa berhenti mengalir. "May, lo nggak kirim sketsa... gue?"

"Sketsa lo? Nggak, Lan. Gue belum sempet nyelesaiin lukisan potret lo yang baru. Kenapa emangnya?"

Arlan memejamkan mata erat-erat. Ia menyadari satu hal yang mengerikan. Seseorang telah mencegat paket asli dari Maya atau sengaja mengirimkan paket palsu atas nama Maya untuk menerornya. Sang "Pencuri Momen" itu tidak hanya berada di Jakarta; dia tahu persis hubungan Arlan dan Maya, bahkan hingga ke detail pengiriman barang di antara mereka.

"Lan? Kok diem? Ada apa sih?" suara Maya mulai terdengar cemas.

"Nggak apa-apa, May. Mungkin paketnya nyasar ke alamat kos yang lama. Gue cek lagi nanti ya," Arlan berbohong. Ia tidak ingin membuat Maya panik di Jogja. Ia tidak ingin warna-warna Maya kembali pudar karena ketakutan yang ia bawa dari Jakarta.

"Beneran ya? Jangan bikin gue kepikiran, Si Jaket Denim," balas Maya lembut.

"Iya, May. Gue tutup dulu ya. Ada kelas."

Arlan memutus sambungan telepon. Ia menatap tiga lembar sketsa itu dengan pandangan nanar. Siapa pun orang ini, dia sangat ahli. Dia tahu kapan Arlan merasa aman dan kapan Arlan merasa kesepian. Arlan meraba jaket denim hijaunya, mencari noda kimia di kerah dalamnya—sumber keberaniannya.

Ia memasukkan kembali sketsa-sketsa itu ke dalam map, namun jarinya menyentuh sesuatu yang tertinggal di dasar map. Sebuah benda kecil. Arlan mengeluarkannya.

Itu adalah sebuah potongan negatif film yang sudah dicuci.

Arlan mengangkat potongan film itu ke arah cahaya lampu kantin. Di sana, terlihat sebuah gambar yang sangat buram. Gambar seorang pria paruh baya yang sedang memegang kamera di sebuah medan konflik. Arlan tersentak. Itu adalah foto kakeknya—foto yang belum pernah Arlan lihat sebelumnya. Foto yang seharusnya tersimpan rapat di dalam album keluarga yang terkunci di rumah ibunya.

"Dia punya akses ke masa lalu gue," gumam Arlan, tangannya mulai gemetar.

Arlan menyadari bahwa musuh yang ia hadapi di Season 2 ini jauh lebih berbahaya daripada sekadar pengintai SMA yang iseng. Ini adalah seseorang yang memiliki dendam pribadi yang mendalam, seseorang yang ingin menghancurkan Arlan dengan menggunakan semua hal yang Arlan cintai: fotografi, kakeknya, dan Maya.

Ia berdiri, menyampirkan tas kameranya dengan kasar. Ia tidak akan pergi ke kelas. Ia harus mencari tahu siapa yang mengirim paket ini. Ia berjalan menuju kantor ekspedisi di dekat kampus, berharap masih ada rekaman CCTV atau identitas pengirim asli yang bisa ia lacak.

Langkahnya cepat, membelah hujan yang semakin deras. Tudung jaket denimnya kini ia naikkan kembali. Bukan untuk bersembunyi dari dunia, tapi untuk melindungi fokusnya dari serangan yang tidak terlihat.

Di tengah perjalanan, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.

"Jangan cari saya di kantor pos, Arlan. Carilah di dalam ruang gelapmu sendiri. Karena di sanalah bayanganmu sebenarnya tinggal."

Arlan berhenti di tengah trotoar. Ia menoleh ke sekeliling, namun hanya ada payung-payung yang berdesakan dan cipratan air dari mobil yang lewat. Ia merasa seperti sedang berada di dalam sebuah foto dengan depth of field yang sangat sempit—segalanya di sekitarnya kabur, dan ia adalah satu-satunya titik tajam yang sedang dibidik oleh pemburu yang tak terlihat.

Arlan menyadari bahwa Season 2 ini adalah sebuah "Eksposur yang Berbeda". Jika dulu ia takut dilihat oleh orang banyak, kini ia harus takut pada satu orang yang melihatnya terlalu dekat.

Ia merogoh saku jaketnya, menggenggam tutup lensa "A.R." miliknya erat-eratus. Ia harus tetap terbuka, namun ia juga harus waspada. Karena kali ini, yang terancam bukan hanya karyanya, tapi juga keselamatan jiwanya—dan jiwa Maya yang berada jauh di sana.

"Gue bakal nemuin lo, siapa pun lo," bisik Arlan pada hujan.

Arlan melanjutkan langkahnya, menuju laboratorium foto kampus yang kini terasa seperti jebakan daripada tempat berlindung. Lini masa Arlan kini dipenuhi oleh garis-garis hitam misterius, dan ia harus menemukan cara untuk mencuci bayangan ini menjadi sebuah kebenaran yang jernih sebelum semuanya menjadi gelap total.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!