NovelToon NovelToon
Rumah Yang Terbagi

Rumah Yang Terbagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."

Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.

Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.

Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.

Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: API DI DALAM DARAH

Lorong tangga darurat Rumah Sakit Polri Kramat Jati terasa sempit dan menyesakkan. Asap hitam mulai merayap masuk melalui celah pintu, membawa aroma plastik terbakar dan bahan kimia yang tajam. Di tengah keremangan lampu darurat yang berkedip merah, Sasmita berdiri tegak, menatap Aris yang kini tidak lagi mengenakan topeng keramahan.

"Saudari tiri?" Sasmita mengulangi kata-kata Aris dengan nada menghina. Suaranya bergema di dinding beton yang dingin. "Ternyata benar apa kata ibuku. Darah Waskita memang tidak pernah mengenal kesetiaan. Kamu adalah anak haram Agatha yang disusupkan seperti parasit ke dalam keluarga Janardana."

Aris tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar seperti gesekan logam. Ia memainkan detonator di tangannya seolah itu adalah tasbih. "Parasit? Tidak, Sasmita. Aku adalah obat pembersih. Keluarga Janardana adalah noda dalam sejarah bisnis ibuku. Dan kamu... kamu hanyalah sisa-sisa kesalahan Hendra yang seharusnya sudah dibuang sejak di rahim."

Aris mengangkat senjatanya, moncong hitam itu kini tepat mengarah ke dahi Sasmita. "Berikan dokumen yang ditandatangani Hendra tadi. Aku tahu kamu membawanya di balik seragam perawatmu yang konyol itu."

Sasmita merasakan jantungnya berdegup kencang, namun ia tidak mundur. Ia merasakan perih di bahunya yang terluka mulai berdenyut lagi, seolah mengingatkannya bahwa ia masih hidup dan memiliki alasan untuk bertarung. "Kamu ingin dokumen ini? Datang dan ambil sendiri, Aris. Tapi ingat, lantai ini sudah dipenuhi gas bocor dari sistem medis. Satu tembakan darimu, dan kita berdua akan menjadi abu di sini."

Aris menyipitkan mata. Ia melihat ke arah pipa-pipa oksigen yang melintang di langit-langit tangga. Benar, ada desisan halus yang menandakan kebocoran sistem akibat sabotase siber yang ia lakukan sendiri tadi. Ia ragu sejenak. Kesombongannya berbenturan dengan naluri bertahan hidupnya yang licik.

"Kamu gila, Sasmita," desis Aris.

"Aku belajar dari yang terbaik," balas Sasmita.

Tiba-tiba, sebuah ledakan keras mengguncang lantai bawah. BOOM!

Seluruh bangunan bergetar hebat. Langit-langit beton mulai retak, menjatuhkan debu putih yang menutupi pandangan mereka berdua. Sasmita memanfaatkan momen itu. Ia menerjang maju, bukan untuk merebut senjata Aris, melainkan untuk menendang kaki Aris yang sedang tidak stabil.

Aris terhuyung ke belakang, punggungnya menghantam pintu besi tangga darurat. Sasmita tidak berhenti di situ. Ia menyambar tabung pemadam api yang tergantung di dinding dan menghantamkannya ke tangan Aris yang memegang senjata.

Klang!

Senjata Aris terlempar ke lantai bawah, hilang ditelan asap yang semakin pekat. Sasmita segera berbalik dan berlari menaiki tangga menuju lantai atas, mencoba mencari jalan keluar lain karena lantai bawah sudah dikuasai oleh api.

"SASMITA! KAMU TIDAK AKAN BISA KELUAR!" teriak Aris dari bawah, suaranya penuh amarah yang meluap.

Sasmita terus berlari, mengabaikan rasa sakit yang kini terasa seperti sayatan pisau di bahunya. Ia sampai di lantai lima, ruang unit luka bakar yang sedang dievakuasi. Pasien-pasien berteriak histris, para perawat berlarian dengan wajah penuh ketakutan. Di tengah kekacauan itu, Sasmita melihat sesosok pria berpakaian hitam dengan masker gas sedang menodongkan senjata ke arah seorang suster.

Itu adalah salah satu anggota tim pembersih dari Singapura.

Sasmita tidak punya senjata api, tapi ia punya otak yang terlatih untuk bertahan hidup. Ia menyambar sebuah troli berisi tabung oksigen kecil dan mendorongnya dengan sekuat tenaga ke arah pria itu. Tabung-tabung itu meluncur cepat, menghantam kaki si penembak hingga ia terjatuh. Sasmita segera menyambar pistol yang terlepas dari tangan pria itu.

"Nona! Nona Sasmita! Anda di mana?!" suara Sakti terdengar melalui radio panggil yang ia rampas dari pengawal tadi.

"Sakti! Aku di lantai lima, sisi utara! Rumah sakit ini akan meledak sepenuhnya dalam hitungan menit! Aris memasang bom di tangki oksigen sentral!" teriak Sasmita sambil berlari menuju jendela kaca besar yang menghadap ke arah parkiran belakang.

"Nona, dengar saya! Jangan lewat tangga! Saya sudah berada di area parkir bawah jendela Anda! Lompat ke atas truk pengangkut kasur yang baru saja saya bajak!"

Sasmita melihat ke bawah. Di sana, di tengah kerumunan mobil polisi dan ambulans, sebuah truk terbuka yang dipenuhi dengan kasur-kasur bekas rumah sakit terparkir tepat di bawah jendelanya. Sakti berdiri di samping truk, memegang senjata dan membalas tembakan dari dua orang pria berpakaian hitam yang mencoba mendekatinya.

Sasmita mengambil kursi besi dan menghantamkannya ke kaca jendela. PRANKK!

Kaca setebal dua sentimeter itu hancur berkeping-keping. Angin malam yang dingin langsung menyerbu masuk, memberikan oksigen segar bagi paru-parunya yang sudah penuh asap. Namun, di belakangnya, pintu ruang unit luka bakar terbuka kasar. Aris muncul dengan wajah yang menghitam karena jelaga, matanya merah penuh dendam.

"Berikan dokumennya, Sasmita! Ini peringatan terakhir!" Aris menodongkan sebuah pisau lipat taktis.

Sasmita menoleh ke belakang, menatap Aris untuk terakhir kalinya. Ia mengeluarkan map plastik berisi wasiat dan tanda tangan Hendra, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. "Jika kamu ingin ini, kamu harus melompat bersamaku, Aris!"

Tanpa menunggu jawaban, Sasmita memejamkan mata dan melompat keluar dari jendela lantai lima.

Tubuhnya melayang di udara, sebuah sensasi jatuh yang seolah tidak pernah berakhir. Ia merasakan gravitasi menariknya dengan sangat kuat, sementara api dari dalam gedung mulai menyembur keluar dari jendela yang baru saja ia pecahkan.

BRUKKK!

Sasmita mendarat di atas tumpukan kasur yang empuk namun berdebu. Dampaknya membuat napasnya sesak seketika, dan bahunya yang terluka berteriak kesakitan hingga pandangannya menjadi putih sesaat.

"NONA!" Sakti segera menariknya turun dari truk, membawanya masuk ke dalam kabin kemudi.

"Jalan, Sakti! Jalan sekarang!" teriak Sasmita sambil terengah-engah.

Truk itu melesat maju, menabrak pagar pembatas rumah sakit tepat saat ledakan kedua yang lebih dahsyat menghancurkan sayap kiri bangunan tersebut. Kobaran api membumbung tinggi ke langit Jakarta, mengubah malam menjadi siang yang mengerikan. Sasmita menatap spion samping, ia melihat bayangan seseorang berdiri di jendela lantai lima yang terbakar. Aris masih di sana, menatap truk mereka yang menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan.

Di dalam kabin truk yang berbau apak, Sasmita jatuh terkulai. Ia meraba dadanya, memastikan map plastik itu masih ada. "Kita... kita berhasil, Sakti."

"Belum, Nona," suara Sakti terdengar berat. "Bramasta... dia tidak berhasil keluar dari pelabuhan tadi. Bong mengkhianati kita. Dia menyerahkan Bramasta pada Agatha sebagai jaminan keselamatan dirinya sendiri."

Sasmita mematung. Rasa menang yang baru saja ia rasakan seketika menguap, digantikan oleh rasa pahit yang lebih dingin dari es. Bramasta, kakaknya yang pengkhianat namun malang, kini berada di tangan Agatha Waskita.

"Agatha akan menyiksanya untuk mencari tahu di mana kita," bisik Sasmita.

"Bukan hanya itu, Nona. Lihat ke depan," Sakti menunjuk ke arah jalan raya.

Di depan mereka, tiga mobil SUV hitam milik Keluarga Waskita sudah memblokade jalur keluar. Lampu-lampu sorot mereka menyilaukan mata. Agatha tidak menunggu sampai besok pagi untuk menghabisi mereka. Ia telah memindahkan seluruh pasukannya ke jalanan Jakarta.

Sasmita mengepalkan tinjunya. Ia menatap dokumen di tangannya, lalu menatap pistol yang ia ambil dari rumah sakit.

"Sakti, jangan berhenti," perintah Sasmita. Suaranya kini terdengar sangat rendah, tenang, namun penuh dengan kebencian yang murni. "Garis merah ini sudah tidak ada gunanya lagi. Jika mereka ingin darah, berikan mereka darah. Kita akan menabrak blokade itu."

Sakti mengangguk. Ia mengganti gigi mobil, menginjak gas sedalam-dalamnya. Truk pengangkut kasur itu meraung, melaju kencang menuju barisan mobil mewah yang menghalangi jalan mereka.

Sasmita mengambil ponselnya yang layarnya retak. Ia mengetik sebuah pesan pendek dan mengirimkannya ke seluruh kontak media massa yang ada di daftar rahasia ibunya.

"Rumah yang Terbagi akan segera runtuh sepenuhnya. Malam ini, kebenaran tentang Waskita Group akan tumpah ke jalanan bersama darah para pewarisnya. Saksikanlah."

BRAKKKK!

Benturan hebat terjadi. Truk mereka menghantam salah satu mobil SUV hingga terpental ke pinggir jalan. Sasmita terlempar ke depan, dahinya menghantam dasbor, namun ia tetap sadar. Ia melihat Sakti mulai melepaskan tembakan dari jendela sopir, sementara musuh-musuh mereka keluar dari mobil dengan senjata otomatis.

1
Dania
semangat tor
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!