Dijodohkan dan bertunangan sejak putih abu membuat Naka dan Shanum menyembunyikan hubungan keduanya dari orang lain termasuk teman-temannya. Terlebih, baik Naka ataupun Shanum tak pernah ada di daftar putih masing-masing.
Tapi siapa menyangka, diantara usaha keduanya, perasaan cinta justru hadir mengisi setiap ruang hati satu sama lain. Siapakah yang akan duluan menyatakan cintanya?
Say, love you too....
Katakan, aku juga cinta kamu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Akal-akalan
Mainaka
Ia cukup sebal, moodnya sempat berantakan saat membaca seksama basa basi tak penting Arjuna pada Shanum, tidak ada yang berlebihan sebenarnya tapi ia merasa jika rumor ketua MPK itu menyukai Shanum bukanlah hisapan jempol belaka. Ia juga laki-laki, tentu saja ia tau.
Terlebih, kenyataan pertama yang ia dapati adalah nama cowok ketua MPK itu tersave dengan akrabnya, Juna. Seakrab itukah Shanum dan Arjuna? Sementara seingatnya....namanya justru begitu lengkap, terkesan formal, Mainaka, cihh!
Bukan...bukan sekedar loket drive thru yang ia tuju sekarang. Yang dilakukan Naka justru memarkirkan mobil di area parking sebuah resto ayam cepat saji dan menggiring Shanum untuk makan disana.
"Loh, Ka...kita jadinya makan di tempat?" tanyanya menatap area parkir di balik kaca mobil, mencerna kondisi setelah ia sadar dari fokusnya pada ponsel sejak tadi...sejak mereka memutuskan untuk sama-sama diam dari rumah Airani.
"Gue laper. Makan di mobil ngga enak, gue juga males cari tempat makan...makan disini ngga apa-apa kan, lo lagi ngga buru-buru?" kini tanyanya memandang mata bening Shanum di bawah siraman lampu mobil. Gadis itu mengangguk, "oh, oke."
Shanum, gadis itu memang tak banyak tingkah, tak banyak mendebat untuk keputusannya soal hubungan mereka juga untuk semua sikap semena-menanya, meski Naka berusaha untuk semenyebalkan mungkin, Shanum tetap mengikuti maunya meski disertai gerutuan, protes berujung mengajukan syarat. Dan itu yang Naka sukai...syarat yang berujung menahan Shanum tetap bersamanya.
Jika diingat-ingat Naka memang belum sempat makan hidangan utama di resto bersama orangtua tadi, jadinya----
"Lo mau makan ngga?" tawar Naka membuat Shanum berdiri kebingungan di depan meja kasir.
"Gue tuh sebenernya belum begitu laper, tapi kalo cuma nungguin lo makan takut gue ngiler terus ikutan laper juga." Ocehnya mencoba memilih menu di papan menu. Hingga akhirnya, "samain aja deh.."
/
Shanum melihat suapan Naka yang cukup lahap di depannya, sampai-sampai ia merasa dengan melihat Naka makan saja ia sudah cukup kenyang, "ngga dimakan?" tanya Naka pada Shanum.
"Ternyata masih kenyang gue-nya. Lo laper banget ya, Ka?" wajahnya mendengus geli sembari memberikan reaksi iba.
Sebenarnya tanpa perlu bertanya pun mereka sama-sama tau hal itu, cuma basa-basi aja tepatnya biar ngga senyap, "gue cuma males aja makan di depan orangtua. Ngga bisa khusyuk." Jawab Naka sekenanya kembali melahap dan mencolek ayamnya ke dalam saus keju, sementara Shanum justru anteng melihat ketos itu makan seraya makan puding pesanannya. Memang benar, makan di depan orangtua berasa makan sambil ujian.
"Ini gue take away aja ya, masih kenyang soalnya. Lagian tadi mana gue tau kalo Lo bakalan ngajakin makan berdua begini..." tunjuk Shanum ke arah porsi makannya. Naka mengangguk tanpa bicara.
Diantara pengunjung yang mulai berangsur meninggalkan tempat mereka berada sekarang, keduanya masih duduk berhadapan, layaknya pasangan remaja berpacaran dan makan berdua.
Naka melirik jam di tangannya, waktu masih menunjukan pukul setengah sembilan malam, "mau langsung gue anter pulang apa gimana? Ketauan kalo kita ngga nonton. Beneran nonton pun ntar yang ada balik lebih dari jam sebelas. Lagian gue mau ngerjain dulu laporan ini biar besok bisa dikasih ke pak Bowo."
Shanum melakukan apa yang Naka lakukan juga, melirik jam di tangannya, "kalo gue ikut ke apartemen Lo sebentar abis itu Lo anter gue balik gimana?" ia memberi option, yang itu artinya sesorean sampai malam ini mereka menghabiskan waktu bersama.
Naka mengiyakan berujung mereka kembali ke apartemen Naka malam itu.
Membawa sisa cemilan yang tadi dibeli, Shanum berencana melanjutkan tontonan drama cina yang tadi ditonton Vero dan Canza sembari nyemil, sementara Naka mengerjakan sebentar tugasnya.
Ia langsung melengos ke arah dapur terlebih dahulu, "Ka, Lo punya coklat seduh instan ngga?" gadis ini celingukan di depan lemari di atas meja kompor. Tangannya sudah membuka setiap pintu rak lemarinya.
"Ada, di rak kanan, Sha..." serunya yang tengah membawa laptop dan setumpuk proposal yang disusun rapi. Namun baru ia akan duduk, Shanum kembali menyeru, "dimana sih?!"
Naka menghela nafasnya dan menyusul ke dapur. Ia dapati gadis itu yang tengah mencari-cari, sambil berjinjit. Postur tubuh yang sedikit berbeda dimana Shanum sedikit lebih pendek membuatnya harus begitu saat ingin melihat rak atas di pantry apartemen Naka.
"Disini Sha..." gerakan Shanum terhenti seketika dan langsung membeku kala ia merasakan jika tepat di belakangnya Mainaka berdiri mengulurkan tangan melewati kepalanya demi membuka pintu lemari yang ada di depan Shanum dan mengambil bungkusan sachet minuman coklat instan yang dimaksud.
Sejenak mereka terdiam dalam posisi yang sama, ada deru nafas yang tak beraturan dari Shanum dan degupan jantung yang mendadak cepat kala itu. Si alnya, niat hati tak berjalan sesuai rencana....maksudnya ingin menyudahi perasaan canggung itu, tapi yang terjadi saat ia memutuskan untuk membalikan badannya justru langsung berada di posisi yang bikin rasa canggung itu semakin menyelimuti, sebab....hidungnya hampir menabrak dada bidang Naka, aroma maskulin cowok itu seketika menyeruak di penciumannya membuat hatinya semakin bergetar.
"Oh, ada disitu ternyata! Lo mau sekalian dibikinin?" tanya nya ingin lari dari suasana yang---engga banget itu.
Naka mengiyakan.
"Minggir." Dorong Shanum membuat Naka kembali ke tempatnya, "besok-besok gue siapin bangku kecil deh, khusus buat Lo." Cowok itu mengehkeh ringan dan renyah melihat kejadian barusan.
"Ngga usah ngeledek ya, Ka! Apartemen Lo nya aja yang dibangun ngga pake standar orang Indonesia."
Dan tawa Naka lebih kencang lagi sekarang, receh sekali humor yang bisa membuat Naka tertawa.
/
Dua gelas coklat hangat tersaji di meja menemani mereka malam ini, televisi yang sudah di stel pada chapter yang Shanum hafal sementara Naka duduk melantai di bawah kursi yang diduduki Shanum, tepatnya di karpet.
Shanum melirik ke arah Naka yang khusyuk bergantian pada pekerjaannya, ia akui anak-anak OSIS sangat rapi dalam bekerja, terutama di bawah pimpinan Mainaka Praveen Rajendra itu. Bahkan berkas dan proposal yang dibuat dan disusun begitu rapi membuatnya terkadang iri sendiri dan ingin meniru pekerjaan Airani serta kawan-kawan.
Mungkin, itu akan terjadi juga padanya dan anak MPK lain jika Arjuna memiliki sifat perfeksionis macam Naka. Yang kalo kerjaan mesti selesai saat itu juga, berantakan dikit aja anak-anak OSIS langsung kerja rodi.
"Emangnya kegiatan apa yang kalian ajuin di proposal buat acara sumpah pemuda?" tanya Shanum menggeser sedikit posisinya lebih mendekat, lalu mencondongkan wajahnya ke arah laptop Naka setelah sekian lama keduanya sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Emangnya lo ngga baca proposal dari OSIS?"
Shanum menatap Naka, "dikit, sekilas aja...seriusan mau colab terus undang sekolah lain?" tanya Shanum diangguki Naka.
"Jarang-jarang kita jalin kerja sama begini kan, anggap aja open house SMA Budi Pekerti X...dengan syarat dan ketentuan berlaku juga."
Naka kembali melanjutkan ucapannya, "ntar teknisnya di rapat bareng MPK lain."
.
.
.
.