Warning!!!!!!
Shenina Valerie Arous hanya menginginkan satu hal—cinta yang tulus.
Namun, pria yang ia cintai justru memberinya kasih sayang karena rasa kasihan.
Saat hatinya hancur, seorang pria berbahaya muncul dalam hidupnya.
Arsen Erzaquel Lergan—pewaris keluarga ternama yang terbiasa mendapatkan segalanya, termasuk dirinya.
Obsesi Arsen bukan cinta. Itu lebih seperti penjara yang tak terlihat.
Di saat yang sama, Andrew Kyle hadir sebagai satu-satunya pria yang tulus, rela melakukan apapun demi kebahagiaannya.
Di antara cinta, obsesi, dan pengkhianatan—
pilihan Shena akan menentukan apakah ia akan diselamatkan… atau justru hancur lebih dalam.
Dan ketika sebuah rahasia besar terungkap, segalanya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nupitautari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Mereka bercanda dan bermain-main di cafe sekitar satu jam lebih sampai hujan berhenti. Shena melihat ponselnya dan ada balasan pesan dari Ello. "Shena, aku tidak bisa datang. Ada urusan yang sangat mendesak". Wajah Shena cemberut mendengarnya. Ia berusaha untuk pengertian. "Iya, tidak apa. Aku akan pulang". Balasnya.
"Kenapa?" Tanya Arsen pada Shena yang cemberut.
"Ello tidak bisa datang, ia ada urusan mendesak" jawab Shena tak semangat.
"Abaikan dia hari ini, ayo kita pergi ke bioskop dan menonton film yang kau suka" ajak Drew pada Shena.
"Ayo" jawab Shena cepat.
.
.
.
Mereka sekarang ada di bioskop. Mereka menonton film romance. Shena dan Drew kadang tertawa dan menangis saat menonton sementara Arsen senyum-senyum sendiri memandang Shena dari samping.
.
.
.
"Ahhh... Senangnya hari ini bisa bersenang-senang dengan kalian" ucap Shena.
"Aku pandai bersenang-senang. Katakan padaku kapan kau ingin bermain lagi, my Hero " ucap Drew sombong.
Shena tertawa. Ia memeluk 7 boneka mini dari hasil Capitan Drew dan Arsen di Mall tadi.
Mereka berjalan-jalan di sekitar taman. Hati Shena cukup hangat dengan keberadaan Drew dan Arsen. Mereka bertiga sesekali bercanda di perjalanan.
Shena tiba-tiba berhenti berjalan. Boneka di pelukannya terjatuh. "Heii... Kenapa di jatuhkan?" Ucap Drew. Ia berjongkok untuk memunguti boneka itu.
Mata Shena terpaku ke bawah sana, dekat air mancur. Itu Ello dan Dian. Dian bergerak dan mencium bibir Ello. Arsen mengikuti arah pandang Shena. Ia cukup terkejut dan berusaha menutupi pandangan Shen. "Jangan di lihat. Ayo kita pergi" ucap Arsen pelan.
Mata Shena menunjukkan kemurkaan. Ia mendorong Arsen dan berlari menerjang. Drew menoleh. "My Hero, mau kemana?" Ia berdiri dan melihat adegan serupa. Drew dan Arsen berlari terbirit-birit mengejar Shena.
Shena mendorong Dian kala kaki Dian menapak sempurna di tanah. Dian terjatuh ke kolam air mancur. Ello kaget dan memarahi Shena. "Shena, apa yang kau lakukan???".
Arsen mendorong tubuh Ello menjauh dari Shena. Ia berdiri di depan Shena menjadi tameng. Shena mendorong tubuh Arsen ke samping. Ia marah. "Harusnya aku yang tanya, apa yang kau lakukan dengan dia??? Kalian berciuman? Kau mengabaikan ku di hari ulang tahunku dan pergi diam-diam bersama dia???" Air mata Shena jatuh.
Dian berdiri. Ia berusaha untuk menjelaskan. "Shena, ini salahku. Jangan marah pada Ello".
"Plakk..." Suara tamparan menggema di udara. Shena memandang Dian murka.
"Shena, hentikan" bentak Ello.
Drew marah dan memukul Ello. "Teganya kau melakukan ini pada Shena, hah..."
Shena menarik Drew ke belakangnya. "Kau punya hubungan dengan Dian?" Tanya Shena. Ia sudah terisak. "Kenapa kau lakukan ini padaku??? Aku selalu berusaha untuk mengerti mu, teganya kau...." Teriak Shena histeris.
Arsen memeluk Shena erat. "Shena, tenanglah. Jangan seperti ini". Ia menatap tajam ke arah Ello. "Sebaiknya kau pergi dari hadapanku sebelum aku memukulmu" ucap Arsen dingin.
Ello merasa bersalah melihat Shena histeris seperti ini. Ia ingin menjelaskan namun tak mungkin. Shena tak akan terima penjelasan apapun jika ia sedang marah seperti ini. "Shena, kita bicarakan ini besok. Kau tenangkan dirimu" ucap Ello pada akhirnya. Ia meraih tangan Dian dan pergi bersamanya.
"Aaakhh..... Bajingan..... Huaa......." Tangis Shena. Itu terdengar menyedihkan. Hati Arsen terasa terluka mendengarnya. Tak sadar air mata Arsen ikut jatuh.
Arsen menarik paha Shena dan menggendongnya seperti anak kecil. Shena menangis terisak di leher Arsen.
Shena masih menangis terisak bahkan ketika sudah sampai di apartemen. Drew dan Arsen berusaha menenangkannya. "Jangan menangis lagi, aku akan memberinya pelajaran untukmu, hah.." ucap Arsen lembut. Ia menepuk-nepuk bahu Shena.
"My Hero, katakan apa yang kau inginkan. Kami akan lakukan" ucap Drew putus asa.
Sudah sejam Shena menangis dan mereka tak berhasil menenangkannya. Arsen dan Drew putus asa. Mereka hanya mendengarkan makian dan Omelan Shena hingga Shena kelelahan dan terlelap dengan sendirinya.
Arsen menggendong Shena dari sofa dan membaringkan Shena di ranjangnya. Ia melepaskan sepatu Shena dan menyelimutinya. Arsen mencium kening Shena dengan mata terpejam penuh dendam. Drew merinding melihat tatapan membunuh Arsen. Ini baru pertama kalinya ia melihat tatapan seperti itu dari Arsen.
Arsen bangkit. "Jaga Shena, aku pergi dulu". Ucap Arsen pada Drew.
"Kau mau kemana?" Tanya Drew.
"Ada urusan" jawab Arsen.
"Jangan membuat masalah, Shena tidak akan menginginkannya" ucap Drew memperingatkan.
"Jangan khawatir, aku hanya akan memberinya sedikit pelajaran" jawab Arsen. Ia lalu pergi.
.
.
.
"Ding dong..."
Bel pintu Ello berbunyi. Ello berjalan ke pintu, ia melihat Arsen dari layar. Ello membuka pintunya.
Seketika saja, Arsen menerjang dan memukuli Ello. Tatapan Arsen dingin penuh dengan niat membunuh. Tatapan dingin yang hilang semenjak ia bertemu shena kini muncul kembali. Ia mengerahkan semua kekuatannya memukuli Ello. Ello juga tak diam saja, ia berusaha untuk melawan balik namun kewalahan. Arsen jauh lebih terampil darinya dalam urusan berkelahi.
Arsen memberikan pukulan terakhirnya pada Ello. Tubuhnya melemas dan berbaring telentang di samping Ello. Wajah Arsen babak belur namun luka Ello lebih parah.
"Shena milikku mulai sekarang" ucap Arsen terengah-engah.
"Aku tidak mengkhianati Shena. Itu semua salah paham" ucap Ello pelan.
"Aku tidak perduli dibalik ceritanya. Sekali kau menyakiti Shena maka akan ku ambil dia darimu" ucap Arsen dingin.
"Apa dia sangat terluka?" Tanya Ello pelan.
"Perlukah kau bertanya???" Sarkas Arsen.
"Aku dan Shena tumbuh bersama. Ini pertama kalinya aku membuat ia menangis" sesak Ello kala melihat Shena yang histeris karenanya.
"ini bukan pertama kalinya Shena menangis karena mu" ucap Arsen dingin.
Arsen berdiri dengan tertatih-tatih. Ia berjalan perlahan menuju pintu. Arsen berhenti sesaat setelah mencapai pintu. "Jika kau tak bisa menemaninya, jangan menyakitinya" ucap Arsen dingin. Ia lalu pergi.
.
.
.
Pagi datang. Shena menggerakkan kelopak matanya pelan dan perlahan membuka matanya. Ia berusaha mendudukkan tubuhnya. Tangan kirinya tak sengaja menyenggol kepala Drew. Drew terbangun. Ia bertanya dengan khawatir. "Kau sudah bangun? Bagaimana perasaan mu?" Cecar Drew pada Shena.
"Kenapa kau ada disini?" Tanya Shena pelan.
"Tentu saja menjaga mu. Aku khawatir" ucap Drew.
*Hi readers. Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian pada novel ini dengan cara berikan komentar terbaik kalian, kasih like dan vote novel ini ya. Dukungan kalian pada novel ini sangat berarti karena itu akan menjadi semangat buat author menyelesaikan cerita ini hingga akhir. Tetap pantau terus ga kelanjutan dari cerita ini. Akan ada banyak keseruan yang kalian dapatkan. Happy reading all 🙏