NovelToon NovelToon
Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

​“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
​Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
​Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
​Tetap jadi musuh di kantor.
​Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
​Dilarang jatuh cinta!
​Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
​"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CINCIN YANG TERTINGGAL

Lobi gedung kantor yang megah itu terasa mendadak menyempit bagi Jingga. Di depannya, Luna berdiri dengan tatapan yang menuntut jawaban, sementara di belakangnya, Sinta mungkin masih membereskan meja dengan perasaan was-was. Pertanyaan Luna tentang mengapa Jingga masih berada di kubikel Sinta terasa seperti ujung pisau yang dingin di lehernya.

"Aku cuma mau mastiin draf Lumiere sudah aman di tangan Sinta sebelum aku balik, Lun," jawab Jingga, berusaha menjaga nada suaranya agar tidak terdengar defensif. "Kamu tahu kan Pak Adrian kalau sudah soal deadline? Dia bisa neror lewat email jam dua pagi kalau ada detail yang kurang. Aku cuma nggak mau kita semua kena semprot besok pagi."

Luna terdiam sejenak, matanya mencari kebohongan di balik pupil mata Jingga. Namun, pria itu sudah terlatih menghadapi klien-klien sulit; dia membalas tatapan Luna dengan senyum tipis yang tampak tulus.

"Kamu terlalu berdedikasi, Jingga," ucap Luna akhirnya, meski nada suaranya masih menyimpan sedikit sisa kecurigaan. "Atau mungkin Sinta yang terlalu bergantung sama kamu? Aku lihat dia akhir-akhir ini sering banget nanya-nanya hal sepele ke kamu."

"Namanya juga kerja tim, Sayang. Ayo, aku antar ke parkiran. Udah malem, nggak enak kalau kamu pulang sendirian dari lobi," Jingga segera merangkul bahu Luna, mengarahkannya keluar gedung sebelum Sinta sempat turun dan merusak segalanya.

Malam itu, di apartemen, suasana antara Jingga dan Sinta kembali ke setelan pabrik: perang dingin. Sinta sibuk dengan masker wajahnya, sementara Jingga mondar-mandir di ruang tamu dengan gelisah.

"Gara-gara kopi hazelnut lu itu, Luna hampir aja meledak di lobi tadi," gerutu Jingga.

Sinta melepaskan maskernya dengan kasar. "Gue kan udah bilang, jangan pernah sok tahu soal selera gue di depan dia! Lu pikir itu romantis? Itu horor, Jing!"

"Gue refleks, Sinting! Refleks!"

"Refleks lu itu bakal bikin warisan kita jadi abu kalau lu nggak bisa ngerem insting 'suami teladan' lu di kantor," balas Sinta pedas sebelum masuk ke kamarnya dan membanting pintu.

Keesokan harinya, Selasa pagi, cuaca Jakarta tampak mendung, seolah mendukung suasana hati Sinta yang kacau. Dia bangun terlambat karena memikirkan ancaman Luna semalam. Dalam keterburu-buruan itu, Sinta melakukan kesalahan fatal yang paling dia hindari selama tiga bulan ini.

Dia lupa melepas cincin pernikahannya.

Sinta baru menyadarinya saat dia sudah duduk di kubikelnya dan sedang mengetik laporan. Kilauan emas putih di jari manis kiri itu seolah-olah berteriak memanggil perhatian seluruh ruangan. Sinta tersentak, jantungnya berdegup kencang. Dia segera menarik tangannya ke bawah meja.

Mampus. Kenapa gue bisa sebego ini? batinnya panik.

Dia tidak mungkin melepasnya sekarang dan memasukkannya ke dalam tas, karena Luna sedang duduk tepat di seberangnya dan bisa melihat setiap gerakannya. Sinta melirik ke arah Jingga yang baru saja duduk di mejanya, sekitar tiga meter darinya.

Sinta mengambil selembar memo, menulis sesuatu dengan cepat, lalu melipatnya kecil-kecil. Dia berpura-pura berjalan menuju dispenser, dan saat melewati meja Jingga, dia menjatuhkan memo itu tepat di atas mousepad pria itu.

Jingga mengernyit, membuka lipatan kertas itu: "Cincin gue masih di jari. Tolongin gue, Anjing!"

Jingga hampir saja tersedak air mineralnya. Dia melirik Sinta yang sedang berdiri kaku di depan dispenser. Jingga segera berpikir cepat. Dia tahu dia tidak bisa membiarkan Sinta melepas cincin itu di mejanya sendiri karena Luna pasti akan curiga melihat gerakan mencurigakan di jari Sinta.

Jingga berdiri, berjalan menghampiri Sinta di dispenser. "Sinta, Pak Adrian minta revisi desain yang kemarin di laci meja gue. Tapi kuncinya macet. Lu punya minyak pelumas atau apa gitu? Sini ikut gue bentar, bantuin buka."

Sinta langsung menangkap umpan itu. "Oh, iya. Gue ada minyak kayu putih, biasanya ampuh buat kunci macet. Bentar ya, Lun, gue bantuin Jingga dulu," ucap Sinta pada Luna yang hanya mengangguk tanpa curiga.

Begitu mereka sampai di meja Jingga yang posisinya agak membelakangi Luna, Jingga berdiri menghalangi pandangan rekan-rekan mereka dengan punggungnya yang lebar.

"Cepet lepas," bisik Jingga tajam.

Sinta segera menarik cincin itu dari jarinya. Namun, masalah baru muncul. Sinta tidak membawa tasnya ke meja Jingga, dan saku kemejanya terlalu dangkal. Jika dia menggenggamnya, dia tidak akan bisa bekerja dengan normal.

"Taruh di laci lu dulu, Jing. Nanti jam istirahat gue ambil pas kantor sepi," pinta Sinta dengan nada memohon.

Jingga mendengus, tapi dia membuka laci meja paling atas. Di sana ada tumpukan stapler, pulpen, dan memo. Sinta meletakkan cincin itu di pojok laci, tersembunyi di balik kotak staples.

"Inget ya, jangan sampai lu buka laci ini di depan siapa pun," ancam Sinta sebelum kembali ke mejanya dengan perasaan sedikit lega.

Namun, hukum Murphy berlaku: apa pun yang bisa salah, akan salah.

Satu jam kemudian, Pak Adrian keluar dari ruangannya dengan terburu-buru. "Tim, kita ada rapat mendadak dengan vendor Lumiere di ruang konferensi sekarang. Bawa semua dokumen draf desain dan anggaran!"

Jingga dan Sinta terpaksa meninggalkan meja mereka dengan cepat. Jingga tidak sempat mengunci lacinya karena Adrian sudah memanggil namanya berulang kali.

Rapat itu berlangsung sangat alot. Tiga jam penuh dengan perdebatan soal biaya produksi. Sinta terus melirik jam dinding, sementara Jingga tampak gelisah di kursinya. Pikiran mereka berdua tertuju pada satu hal: benda kecil di laci meja nomor 14.

Begitu rapat dinyatakan selesai, Sinta segera melesat keluar. Namun, saat dia sampai di area kerja mereka, pemandangan di depannya membuat jantungnya hampir copot.

Luna sedang berdiri di depan meja Jingga. Dan tangannya sudah memegang gagang laci atas.

"Luna! Lagi ngapain?" teriak Sinta, suaranya terdengar melengking di ruangan yang sunyi.

Luna tersentak, menoleh dengan wajah bingung. "Eh, Sinta. Ini, aku mau cari staples. Staples di mejaku abis, tadi pas kamu lagi rapat, aku mau pinjam tapi kamu nggak ada. Terus aku ingat Jingga pernah bilang kalau aku boleh ambil peralatan di mejanya kalau darurat. Dia bilang staplesnya ada di laci atas."

Sinta merasakan lututnya lemas. "Eh, jangan! Maksud gue... staples Jingga itu macet banget, Lun! Gue punya staples cadangan di laci gue, lebih baru, lebih tajam!"

Sinta berlari menghampiri Luna, mencoba menahan tangan Luna yang hendak menarik laci itu lebih lebar.

"Macet? Tadi pagi aku lihat Jingga pakai lancar-lancar aja kok," Luna mengerutkan dahi, matanya menatap Sinta dengan penuh selidik. "Kenapa sih kamu jadi panik banget cuma gara-gara staples, Sin? Kamu aneh banget dari kemarin."

"Gue nggak panik! Gue cuma... perhatian sama kenyamanan lu!" Sinta mencoba tertawa, namun suaranya lebih mirip rintihan kesakitan.

Tepat saat Luna hendak menarik laci itu sampai habis, Jingga muncul dari arah belakang. Dia melihat posisi tangan Luna dan wajah Sinta yang sudah sepucat mayat.

"Sayang, kamu cari apa?" tanya Jingga, suaranya tenang meski di dalam hati dia sedang merapal doa. Dia segera merangkul bahu Luna, sedikit menariknya menjauh dari laci.

"Mau pinjam staples, Jingga. Tapi Sinta ngotot bilang punya kamu macet," jawab Luna, menatap Jingga dengan tatapan yang menuntut penjelasan atas keanehan Sinta.

Jingga melirik Sinta. Sinta memberikan kode mata yang sangat liar—melirik ke laci, lalu ke jarinya sendiri. Jingga seketika paham. Jika Luna membuka laci itu, dia akan menemukan cincin emas putih dengan ukiran inisial yang sangat jelas di bagian dalamnya. Tamatlah riwayat mereka.

"Oh, staples?" Jingga tertawa kecil, berusaha terlihat sangat santai. "Bener kata Sinta, Lun. Itu staples lama, sering nyangkut. Lagian, di laci atas itu isinya dokumen pribadi aku. Ada foto-foto lama kita yang mau aku buatkan album kejutan buat kamu, jadi jangan dibuka dulu ya, biar suasananya nggak rusak."

Wajah Luna mendadak melembut. "Oh ya? Kamu lagi nyiapin album buat kita?"

"Iya, makanya laci itu terlarang buat kamu sekarang," Jingga mengecup kening Luna, sebuah tindakan yang membuat Sinta ingin muntah sekaligus bersyukur atas kemampuan akting pria itu. "Pakai punya Sinta aja dulu ya, Sayang?"

Luna akhirnya tersenyum dan berjalan menuju meja Sinta. Begitu Luna membalikkan badan, Jingga segera duduk di kursinya dan menggunakan tubuhnya untuk menutupi akses laci dari pandangan Luna.

"Lu bener-bener mau bikin gue mati muda, ya?" desis Jingga pada Sinta yang berpura-pura membungkuk di samping mejanya untuk mengambil staples.

"Gue panik! Cepet kasih ke gue!" bisik Sinta tajam.

Jingga membuka laci itu perlahan, merogoh ke pojok di belakang kotak staples, dan menyambar cincin itu. Dia menjatuhkan cincin itu ke telapak tangan Sinta yang sudah menunggu di bawah meja. Sentuhan tangan mereka yang terburu-buru itu terasa panas dan penuh ketegangan. Sinta segera memasukkannya ke dalam saku roknya yang dalam.

"Lain kali kalau lu bawa cincin ini lagi ke kantor, gue bakal telan benda itu biar ilang sekalian!" ancam Jingga dengan suara yang sangat rendah.

"Iya, iya! Berisik lu, Jing!"

Namun, keberuntungan mereka sepertinya sudah habis untuk hari itu. Sinta tidak menyadari bahwa saat dia mengambil cincin itu dari tangan Jingga, sebuah kertas kecil yang terselip di dalam laci ikut terjatuh ke lantai. Kertas itu adalah nota pembersihan perhiasan dari toko emas langganan kakek Jingga, yang mencantumkan nama: "Pesanan: Cincin Kawin - Ny. Sinta & Tuan Jingga".

Kertas itu tergeletak tepat di jalur jalan Luna yang baru saja selesai mengambil staples dan hendak kembali ke mejanya.

Sinta melihat kertas itu. Matanya membelalak. Dia tidak bisa bergerak karena Adrian tiba-tiba memanggilnya dari kejauhan. Jingga juga melihat kertas itu, tapi Luna sudah berada dua langkah dari sana.

Luna membungkuk. Tangannya menjangkau kertas kecil itu.

"Eh, ini apa?" gumam Luna.

Jingga tidak punya waktu untuk berpikir. Dia menjatuhkan seluruh tumpukan berkas di mejanya ke arah kaki Luna. BRAK!

"Aduh! Sori, Lun! Licin banget ini kertasnya!" teriak Jingga sambil segera berhamburan ke lantai untuk memungut berkas-berkasnya.

Dalam kekacauan kertas yang berantakan itu, Jingga dengan gerakan tangan yang sangat gesit—hasil dari bertahun-tahun main sulap saat kecil—menyambar nota perhiasan tersebut dan meremasnya di dalam genggaman tangannya bersamaan dengan draf desain.

"Sini biar aku aja yang ambil semuanya, kamu jangan repot-repot," ucap Jingga pada Luna yang tampak kaget.

Luna berdiri, menatap Jingga dengan tatapan yang sangat skeptis. "Kamu hari ini... bener-bener berantakan, Jingga. Dari pagi kayak orang kebakaran jenggot. Apa hubungannya draf desain sama staples sampai kamu segugup ini?"

"Cuma kurang tidur, Lun. Sumpah," jawab Jingga, keringat dingin benar-benar menetes dari pelipisnya.

Luna tidak menjawab. Dia hanya menatap Jingga lama, lalu beralih menatap Sinta yang masih berdiri mematung di kejauhan. Ada sesuatu yang berubah dalam sorot mata Luna. Itu bukan lagi sekadar kecurigaan biasa; itu adalah kesadaran bahwa ada sebuah benang merah yang sedang coba disembunyikan darinya.

Setelah Luna kembali ke mejanya, Jingga berjalan menghampiri Sinta. Dia melemparkan remasan nota itu ke atas meja Sinta dengan wajah yang sangat tegang.

"Simpen ini. Dan dengerin gue baik-baik, Sinting," bisik Jingga, matanya menatap tajam ke dalam mata Sinta. "Luna nggak bego. Dia tadi liat kertas ini meskipun dia nggak sempet baca. Kita dalam masalah besar."

Sinta mengambil nota itu, membacanya, dan merasa dunianya seolah runtuh. "Gue... gue bener-bener minta maaf, Jing. Gue nggak tahu nota ini ada di laci lu."

"Udah telat buat minta maaf. Kita harus lebih rapi dari ini, atau sandiwara kita bakal berakhir sebelum warisan itu turun sepeser pun," Jingga berbalik dan kembali ke mejanya tanpa menoleh lagi.

Sinta menunduk, meremas nota itu di tangannya. Dia menyadari satu hal: di kantor ini, setiap detik adalah bom waktu. Dan meskipun mereka saling mengejek "Anjing" dan "Sinting", kenyataannya adalah mereka sekarang sedang berada di satu perahu yang sama-sama bocor, mencoba menahan air agar tidak tenggelam dalam amarah Luna dan kecurigaan Adrian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!