Melvin Blastorios, merupakan seorang ahli waris dari keluarga bangsawan Blastorios, yang terkenal akan kehebatan dan kejeniusannya. Selain itu, Melvin juga merupakan pemimpin dari sebuah organisasi rahasia di Inggris yaitu Dragon Knight of Archangel.
Arabella Winston, seorang gadis muda, cantik, bijak dan cukup terkenal di kalangan para bangsawan, yang sedang mencari seorang suamin. Walaupun begitu, Bella dikenal sebagai salah seorang gadis bangsawan yang selalu menolak banyak lamaran dari para pemuda bangsawan lain.
Ini hanyalah sebuah kisah cinta romantis antara seorang pemuda dari organisasi rahasia dengan seorang gadis muda penolak lamaran.
.
.
.
.
terinspirasi dari seri pertama novel club Inferno...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
.
.
.
Pagi datang dengan cahaya pucat yang menembus tirai kamar Bella.
Langit tampak cerah, tapi entah kenapa… rasanya tidak benar-benar hangat.
Bella sudah terjaga sejak lama.
Ia duduk di tepi tempat tidur, rambutnya masih sedikit berantakan, tangannya menggenggam cangkir teh yang mulai mendingin.
Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia benar-benar meminumnya.
Pikirannya masih tertinggal pada kejadian kemarin.
Tatapan dingin itu.
Nada suara yang begitu tenang… ketika ia memutuskan nasib seseorang.
Cara pria itu memohon… dan Melvin sama sekali tidak berubah ekspresi.
Bella menghela napas pelan.
“Pria ini… berbahaya.”
Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya.
Dan yang paling mengganggu—
Ia tidak bisa menyangkal bahwa perasaan takut itu bercampur dengan sesuatu yang lain.
Sesuatu yang… tidak seharusnya ada.
Ia menutup mata sejenak.
Mencoba mengingat kembali setiap percakapan mereka sebelumnya.
Setiap senyum kecilnya.
Setiap nada suara yang terasa tenang.
Setiap kalimat yang terdengar seperti teka-teki.
Melvin Blastorios.
Duke yang dijuluki banyak orang sebagai Demon Duke.
Bella membuka mata perlahan.
Jika semua rumor itu benar…
Kenapa pria itu tidak pernah memperlakukannya dengan kejam?
Kenapa sikapnya… justru terasa lebih jujur dibanding banyak orang lain di sekitarnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat pikirannya semakin penuh.
Dan untuk pertama kalinya—
Bella menyadari bahwa ia tidak bisa hanya menunggu.
Ia ingin tahu.
Ia harus tahu.
Rumah Winston pagi itu terasa lebih sepi dari biasanya.
Ibunya sedang pergi menghadiri jamuan sosial.
Ayahnya masih berada di ruang kerja sejak subuh.
Dan Bella—
Memilih pergi keluar lebih cepat dari biasanya.
Ia hanya mengatakan kepada pelayan bahwa ia ingin mencari udara segar.
Tidak sepenuhnya bohong.
Ia memang ingin… berpikir lebih jernih.
Kereta membawanya menuju pusat kota.
Tempat di mana kabar beredar lebih cepat daripada angin.
Jika ada seseorang yang tahu sesuatu tentang Melvin—
Maka jawabannya pasti ada di sini.
Kedai teh tempat ia berhenti bukanlah tempat asing.
Tempat itu sering menjadi lokasi pertemuan para wanita bangsawan untuk berbincang ringan.
Atau… tidak terlalu ringan.
Hari ini pun sama.
Beberapa wanita terlihat duduk berkelompok, berbicara pelan namun penuh arti.
Bella bisa merasakan beberapa tatapan mengarah padanya saat ia masuk.
Tatapan yang cepat dialihkan.
Tatapan yang pura-pura tidak peduli.
Ia sudah terbiasa.
Atau… setidaknya mencoba terbiasa.
“Bella!”
Suara ceria itu membuatnya menoleh.
Clara melambaikan tangan dari meja dekat jendela.
Senyumnya hangat seperti biasa.
Bella tersenyum kecil dan berjalan mendekat.
“Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu sepagi ini,” kata Clara ringan.
“Aku juga tidak menyangka,” jawab Bella.
Dan itu benar.
Ia tidak benar-benar merencanakan bertemu siapa pun.
Tapi mungkin…
Ini justru kesempatan.
“Kau terlihat lelah,” kata Clara, memperhatikan wajahnya.
“Aku hanya kurang tidur.”
Clara memiringkan kepala sedikit.
“Kau memikirkan sesuatu.”
Bella tertawa kecil.
“Kau selalu bisa menebaknya.”
Clara tersenyum bangga.
“Jadi… apa kali ini?”
Bella ragu sejenak.
Ia tidak tahu bagaimana harus memulai.
Tapi pada akhirnya—
Ia tetap bertanya.
“Kau pernah mendengar tentang Duke Blastorios?”
Clara terdiam.
Ekspresinya berubah.
Tidak terlalu jelas.
Tapi cukup untuk membuat Bella menyadarinya.
“Kenapa kau menanyakan tentang dia?” tanya Clara pelan.
Bella mengangkat bahu santai.
“Hanya penasaran.”
Clara tidak langsung menjawab.
Ia menatap Bella beberapa detik lebih lama.
Seolah mencoba memastikan sesuatu.
“Penasaran… atau tertarik?”
Bella hampir tersedak tehnya.
“Apa?”
Clara tertawa kecil.
“Bella… seluruh kota sedang membicarakanmu akhir-akhir ini.”
Bella menghela napas pelan.
Tentu saja.
Ia seharusnya sudah menduga.
“Jadi… apa yang mereka katakan?” tanyanya.
Clara menatap sekeliling sebentar, memastikan tidak ada yang terlalu dekat.
Lalu ia sedikit mendekat.
“Beberapa orang bilang… dia bukan pria yang bisa didekati dengan mudah.”
Bella terdiam.
“Beberapa bilang dia kejam.”
Kalimat itu diucapkan dengan sangat pelan.
Hampir seperti bisikan.
“Kejam?” Bella mengulang.
Clara mengangguk kecil.
“Ada cerita tentang bagaimana ia menjatuhkan keluarga yang mencoba menipunya.”
Bella mengernyit.
“Menjatuhkan… bagaimana?”
Clara terlihat ragu.
“Tiba-tiba saja… bisnis mereka runtuh.”
“Dalam waktu singkat.”
“Tanpa peringatan.”
Bella tidak langsung menjawab.
Ia mencoba mencerna.
“Itu bisa saja kebetulan,” katanya pelan.
Clara mengangkat bahu.
“Mungkin.”
“Tapi cerita seperti itu terlalu banyak untuk disebut kebetulan.”
Bella menatap cangkir tehnya.
Permukaannya bergetar sedikit saat ia menggerakkannya.
“Cerita lain bilang… dia tidak pernah benar-benar memaafkan kesalahan.”
Clara melanjutkan.
“Sekali seseorang mengkhianatinya… tidak ada jalan kembali.”
Bella menelan ludah pelan.
Kalimat itu…
Terdengar familiar.
Ia teringat kejadian kemarin.
Cara Melvin berkata—
Sudah terlambat untuk meminta maaf.
“Beberapa bahkan bilang… dia lebih mirip penguasa bayangan daripada seorang bangsawan.”
Bella mengangkat pandangannya.
“Penguasa bayangan?”
Clara mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat.
“Ada rumor tentang organisasi yang bergerak di bawah perintahnya.”
“Organisasi?”
Clara mengangguk kecil.
“Tapi tidak ada yang benar-benar tahu.”
“Semua hanya bisikan.”
Bella terdiam.
Dragon Knight.
Darkangel.
Nama-nama itu kembali terlintas di pikirannya.
Ia bahkan tidak yakin dari mana ia pernah mendengarnya.
Tapi sekarang—
Semuanya terasa… saling terhubung.
“Tapi…” Clara berhenti sejenak.
Nada suaranya berubah sedikit lebih lembut.
“Tidak semua cerita buruk.”
Bella menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Clara tersenyum kecil.
“Ada juga yang bilang… dia selalu menepati janjinya.”
Bella terdiam.
“Dan meskipun dia terlihat dingin… dia tidak pernah mengganggu orang yang tidak mengganggunya lebih dulu.”
Kalimat itu—
Entah kenapa—
Membuat hati Bella sedikit lebih ringan.
“Itu terdengar… cukup adil,” katanya pelan.
Clara tertawa kecil.
“Adil… mungkin bukan kata yang biasa dipakai untuk menggambarkannya.”
Bella tersenyum tipis.
“Lalu… kenapa orang menjulukinya Demon Duke?”
Clara mengangkat bahu pelan.
“Mungkin karena tidak ada yang benar-benar mengenalnya.”
“Atau mungkin… karena mereka takut.”
Bella menatap keluar jendela.
Langit sudah berubah lebih cerah.
Orang-orang berlalu lalang seperti biasa.
Dunia tetap berjalan.
Tanpa peduli seberapa banyak rahasia yang tersembunyi di dalamnya.
“Menurutmu… semua cerita itu benar?” tanya Bella pelan.
Clara tidak langsung menjawab.
“Cerita selalu berubah… tergantung siapa yang menceritakannya.”
Bella tersenyum kecil.
Jawaban yang sangat diplomatis.
“Kau sendiri pernah bertemu dengannya?” tanya Clara tiba-tiba.
Bella terdiam sejenak.
“Beberapa kali.”
Clara menaikkan alisnya.
“Dan?”
Bella memikirkan jawabannya.
Ia teringat senyum kecil itu.
Nada suara tenang itu.
Tatapan yang sulit dibaca itu.
Dan juga—
Sisi dingin yang ia lihat kemarin.
“Dia…” Bella berhenti sejenak.
Mencari kata yang tepat.
“Tidak seperti yang mereka katakan.”
Clara terlihat penasaran.
“Lebih buruk?”
Bella tertawa pelan.
“Lebih… rumit.”
Clara tersenyum.
“Itu terdengar lebih berbahaya.”
Bella tidak menyangkal.
Karena mungkin—
Itu benar.
Percakapan mereka berlanjut ke topik lain.
Tapi pikiran Bella tetap kembali ke satu nama.
Melvin Blastorios.
Semakin banyak ia mendengar—
Semakin banyak pertanyaan yang muncul.
Dan semakin ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia harus menjauh—
Semakin sulit rasanya untuk benar-benar melakukannya.
Karena jauh di dalam hatinya—
Ia tahu.
Rasa penasarannya belum terjawab.
Belum sepenuhnya.
Dan mungkin…
Ia sudah terlalu jauh untuk berpura-pura tidak peduli.