NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Makanan Surga

Tepung kanji beterbangan ringan di udara dapur rumah bata, dan menempel di ujung hidung Sukma.

Tangannya lincah memukul-mukul adonan pentol bakso di dalam baskom seng. Di sebelahnya, gilingan daging sapi mentah yang sudah disiram kaldu tulang sumsum dan taburan bawang putih goreng menebarkan aroma wangi yang bikin cacing di perut meronta-ronta.

Sukma mendengus pelan, menepis sisa tepung dari tangannya. Di kehidupan lamanya sebagai budak korporat yang terjebak tenggat waktu, merebus mi instan saja ia malas.

Kini, demi melunakkan hati empat anak singa di rumah ini, ia rela repot meracik pentol kuah kaldu yang resepnya mendadak muncul dari ingatan masa depannya.

Keempat anak itu berbaris rapi di ambang pintu dapur. Mata mereka terpaku pada ulekan daging, jakun mereka naik turun menelan ludah berulang kali.

"Bu," Syaiful menarik ujung daster Sukma ragu-ragu. Mata bulatnya menatap polos.

"Lek Pon boleh dikasih pentolnya ndak? Dulu Lek Pon sering ngasih aku singkong rebus diam-diam waktu Nenek marah."

Sinta buru-buru menarik lengan adiknya mundur. Wajah gadis kecil itu pias, ketakutan ibunya akan mengamuk gara-gara permintaan tak tahu diri itu.

"Sst! Kalau pentolnya wes matang, Ibu makan duluan. Ibu kan masih sakit," tegur Sinta berbisik ngeri.

Sukma tersenyum tipis mendengarnya. Sinta... anak perempuan ini benar-benar mesin penenang di tengah tegangnya dinamika keluarga ini.

"Ndak apa-apa," sahut Sukma santai, tangannya mulai membulatkan adonan daging.

"Syaiful anak baik, ingat budi Lek Pon. Nanti Ibu rebuskan sepanci khusus. Tapi ingat, pentol buat kita ini full daging sapi murni.

Nah, buat dibagikan ke Mak Karman, Lek Pon, sama Mbah Darmi, Ibu campur adonannya pakai banyak tepung gaplek biar warnanya agak butek kecokelatan."

Sigit yang sejak tadi bersandar di kusen pintu langsung mengerutkan dahi. Insting curiganya kumat.

"Kenapa dibedain, Bu? Kalau mau ngasih orang, ya sekalian yang enak. Kenapa malah dikasih yang jelek?"

Sukma menghentikan gilasannya sejenak. Ia menatap lekat anak sulungnya itu.

Otak jalanan Sigit memang selalu mencari celah niat buruk di setiap tindakannya.

"Dengar ya, Sigit." Nada bicara Sukma mendadak serius, tak ada intonasi membentak, tapi menuntut perhatian penuh.

"Mak Karman, Lek Pon, Mbah Darmi... mereka itu orang miskin yang kelewat baik. Rela nahan lapar demi ngasih kalian makan saat nenek kalian sendiri ngunci lumbung gabah. Kalau Ibu kasih mereka pentol full daging sapi yang mulus... menurutmu mereka bakal berani makan?"

Sigit terdiam. Otaknya berputar cepat mencerna logika itu.

"Mereka pasti bakal mikir keras dari mana Ibu dapat barang semahal ini," lanjut Sukma pelan, tangannya kembali mencetak bulatan bakso.

"Mereka bakal nolak karena merasa ndak pantes. Atau malah jadi takut Ibu punya niat jahat. Tapi kalau warnanya agak cokelat karena tepung gaplek, mereka bakal mikir ini cuma pentol kanji murah sing biasa didol keliling. Intinya, kaldu daging di dalamnya tetap sama enaknya. Paham?"

Sigit menelan ludah. Ia tak bisa membantah. Alasan ibunya terlalu masuk akal, bahkan terlalu bijak untuk ukuran perempuan yang biasanya hanya tahu marah dan ngamuk.

"Iya, paham," guman Sigit pelan, memalingkan wajahnya yang sedikit memerah karena salah sangka.

"Bagus." Sukma mengangguk puas.

"Gito, siapkan panci. Air kaldunya wes mendidih."

Gito yang sejak tadi sudah tak sabar, langsung melompat girang dan memasukkan kayu bakar tambahan ke dalam tungku.

Asap mengepul tebal, tapi tak mampu mengalahkan aroma kaldu tulang sapi yang mendidih meletup-letup.

Pentol-pentol bakso montok itu mengapung di atas air kaldu. Sukma meniriskannya ke dalam mangkuk-mangkuk seng besar. Taburan daun seledri dan bawang goreng menyempurnakan tampilannya.

Empat mangkuk pertama ia serahkan pada anak-anaknya.

"Makan selagi panas."

Tanpa aba-aba kedua, Syaiful langsung menusuk satu pentol utuh dengan garpu bambu, meniupnya asal-asalan, lalu melahapnya rakus.

"Panas! Tapi uenak tenan, Bu!" seru balita itu sambil mengunyah dengan mulut penuh. Tekstur kenyal berpadu dengan gurihnya sari daging sapi murni langsung memanjakan lidahnya.

Sinta memakan bagiannya perlahan, air mata haru kembali menetes di pipinya. "Ibu ndak makan?"

"Ibu nyusul. Ibu mau rebus gelombang kedua buat tetangga," jawab Sukma, tangannya kembali sibuk memasukkan pentol berkulit agak kecokelatan ke dalam kuah kaldu.

Gito menghabiskan semangkuk penuh dalam rekor kurang dari dua menit. Kuah kaldunya diseruput sampai tandas. Ia mengusap perut buncitnya dengan senyum lebar.

"Bu, Gito yang antar ke rumah Mak Karman ya!"

"Boleh. Bawa rantang susun itu. Tutup yang rapat biar tetangga ndak kecium baunya di jalan."

Sementara Gito dan Syaiful asyik menyusun rantang, Sigit diam-diam mengambil mangkuknya sendiri. Ia mengisinya dengan lima butir pentol daging murni kualitas premium, menyiramnya dengan kuah bening, lalu membungkusnya rapat menggunakan daun pisang dan kertas minyak.

"Aku mau ke rumah Mantri Haris bentar," pamit Sigit singkat. Anak itu setengah berlari keluar pekarangan sebelum ibunya sempat bertanya lebih jauh.

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat saat Mantri Haris baru saja memarkir sepeda kumbangnya di depan klinik kecil desa.

Pria paruh baya itu tampak lelah setelah seharian keliling memeriksa balita kurang gizi.

Baru saja tangannya meraih palang pintu kayu klinik, sebuah suara memanggil.

"Pak Mantri!"

Mantri Haris menoleh. Sigit berdiri di sana, napasnya sedikit ngos-ngosan. Bocah kurus itu menyodorkan bungkusan daun pisang yang masih mengepulkan hawa hangat.

"Loh, Sigit? Ada apa maghrib-maghrib ke mari? Ibumu kumat sakit kepalanya?" tanya Haris panik, membayangkan repotnya jika istri prajurit itu bermasalah lagi.

"Mboten, Pak." Sigit menggeleng cepat. Ia memaksakan seulas senyum kaku. Sebuah ekspresi yang jarang sekali hinggap di wajahnya yang terlalu dewasa sebelum waktunya itu.

"Ibu bikin pentol kuah kaldu sapi. Ini disuruh ngantar buat Pak Mantri. Dimakan ya, Pak."

Mantri Haris melongo menatap bungkusan daun di tangannya. Aroma gurih kaldu sapi menguar kuat, meninju dinding hidungnya yang kebetulan sedang lapar berat.

"Ibumu... Sukma... bikin ini?" Haris tak bisa menyembunyikan nada tak percayanya.

"Dia yang nyuruh kamu ke sini?"

Sigit mengangguk mantap. Ia tak mau menjelaskan bahwa ini inisiatifnya sendiri karena ia ingat Mantri Haris-lah yang mati-matian merawat ibunya saat sekarat dihantam sapi Kades kemarin, sementara Nenek Lasmi malah sibuk mengamankan uang wesel bapaknya.

"Iya, Pak. Ibu sekarang wes waras. Katanya mau buka warung makan juga bulan depan. Makasih ya, Pak Mantri, wes ngobati Ibu. Kulo pamit."

Tanpa menunggu balasan, Sigit berbalik dan berlari secepat kilat menembus kegelapan malam. Ia meninggalkan Mantri Haris yang masih mematung memeluk bungkusan pentol hangat itu di depan pintu klinik.

Di dalam klinik, Haris membuka bungkusan itu. Matanya membelalak melihat pentol bakso berwarna keabuan khas daging sapi murni tanpa campuran terigu murahan.

Helaan napas lega meluncur dari bibir pria tua itu. Ia menyuapkan satu pentol ke mulutnya. Teksturnya membal, kuahnya gurih gila.

"Syukurlah... Sutrisno, istrimu ternyata beneran wes waras otaknya." Haris tersenyum tipis.

Selama ini, sebagai sahabat lama Sutrisno, ia tahu persis penderitaan keluarga kecil itu. Kini, setidaknya ia bisa mengirim kabar baik ke Koramil.

Di waktu yang sama, di ruang tamu beralas tikar pandan rumah Mak Karman.

Tiga anak laki-laki, Karman, Kardi, dan Yanto, duduk melingkar dengan mata melotot sebesar bola kasti. Di tengah mereka, Gito baru saja membuka tutup rantang susun seng. Asap mengepul tebal, membawa aroma kemewahan yang tak pernah mampir ke rumah berdinding gedek ini.

"Gusti... iki opo, To?!" Karman, bocah kelas tiga SD itu menelan ludah kasar.

"Koyo pentol kanji keliling tapi baune wangi daging tenan?!"

"Pentol kuah kaldu sapi!" Gito membusungkan dada bangga.

"Ibuku sing bikin! Iki khusus buat kalian semua. Habisno saiki!"

Yanto, anak semata wayang Lek Pon yang biasanya anteng, langsung nyomot satu pentol agak kecokelatan itu dengan tangan kosong saking laparnya. Kepanasan, ia mengoper pentol itu dari tangan kiri ke kanan sebelum mengunyahnya.

"Uenak tenan, To! Kenyal tapi daginge kerasa pol!" pekik Yanto.

"Sstt! Pelan-pelan makannya, ojo rakus!" Karman memperingatkan adik-adiknya, meski tangannya sendiri tak henti menyendok kuah kaldu yang gurih.

Ia menatap Gito dengan tatapan penuh selidik. Insting anak desa yang miskin selalu dibayangi rasa curiga jika menerima sesuatu yang terlalu bagus.

"To, jujur ae. Ibumu dapet duit dari mana buat beli daging sapi? Biyen ibumu nemu telek lencung ae dipulung bawa mulih gae rabuk (pupuk). Saiki kok ngasih makan mewah ngene? Kowe ndak disuruh nyuri to?"

Wajah Gito langsung merah padam. Rasa bangganya tersinggung berat. Tuduhan itu menancap tajam di dadanya.

"Cangkemmu sembarangan nek ngomong!" Gito menggebrak tikar pandan sampai rantang susun seng itu bergoyang. Kuah kaldunya nyaris tumpah.

"Ibuku dudu maling! Ibu sekarang wes kerja keras jualan! Ibuku wes berubah! Nek kowe ndak percaya, balikin kene pentole! Biar tak makan dewe kabeh!"

Gito berniat merampas rantang itu kembali. Tangannya sudah mencengkeram gagang rantang bersiap angkat kaki.

Karman buru-buru menerjang, memeluk lengan Gito erat-erat dengan mulut masih asyik mengunyah pentol kenyal.

"Eh, ojo ngamuk to, To! Aku kan cuma nanya. Maaf, maaf! Ibuku emang kadang mulutnya ember, aku jadi ikutan mikir aneh-aneh."

Karman meringis minta maaf, tak rela kehilangan makanan surga yang entah kapan akan turun lagi ini.

1
Dewiendahsetiowati
mantab hajar aja keluarga benalu
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
SENJA
kok jadi mak karman? ibue sukma kan namanya marni lho thor🤭
SENJA
cuok drama cuok 😤
SENJA
kenapa ga berani?!? 😄🤣
SENJA
laki laki apa ini 😤
SENJA
ini lagi hadeeeh benalu 😤
SENJA
jamilah mulutnya comberen banget😤
gina altira
jgn kasih ampun Ningsih
Enah Siti
🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍😍👍👍👍smngat thor maksih
Dewiendahsetiowati
bisa gak si Jamilah dibikin stroke gitu heran bikin emosi terus
SENJA
bener kata sukma do
SENJA
cangkem mu lho 😤
SENJA
hajar terus hajar 😤😤😤 asssuuu emang dia
SENJA
lu ga tau malu banget jadi perempuan 😤
Enah Siti
🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍👍👍👍 ljut thor mksih byak byak
Enah Siti
💪💪💪💪💪😍😍😍😍 nuhun thor
Enah Siti
💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍👍👍👍👍👍ljut thor
SENJA
hadeeeeh 😤
SENJA
yaaah kebetulan banget ini weeeh 🤭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!