Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Lampu-lampu kota Jakarta yang gemerlap tampak buram di mata Liana, terhalang oleh tirai air mata yang tak kunjung surut.
Dengan koper besar di tangan dan gaun biru yang masih lembap tertutup jaket seadanya, ia melangkah tertatih menembus peron Stasiun Gambir.
Suara pengumuman keberangkatan kereta api menuju Yogyakarta bergema di langit-langit stasiun yang tinggi, seolah mendesaknya untuk segera pergi dari kota yang baru saja mematahkan hatinya.
Liana duduk di kursi tunggu kayu yang dingin, memeluk tas kecilnya erat-erat.
Dadanya masih terasa sesak, seakan oksigen di sekitarnya telah habis. Ia tidak peduli lagi pada kontrak film, tidak peduli pada karier yang baru saja ia bangun.
Yang ia inginkan hanyalah pulang, kembali ke kesunyian rumahnya di Jogja, ke pelukan Mamanya, dan menjauh dari suara-suara bohong yang pernah dibisikkan Adrian.
Sementara itu, di apartemen mewah yang kini terasa sunyi dan dingin, Adrian melangkah masuk dengan tubuh lemas.
Rambutnya yang rapi kini berantakan, kemeja putihnya basah oleh keringat dan sisa hujan.
Ia langsung menuju kamar Liana, berharap wanita itu masih di sana.
Namun, yang ia temukan hanyalah keheningan. Lemari pakaian terbuka lebar, kosong melompong.
Adrian berjalan mendekati meja rias marmer. Di sana, di bawah cahaya lampu remang, sebuah benda kecil berkilau memantulkan kesedihan yang mendalam.
Cincin berlian itu tergeletak sendirian, ditinggalkan begitu saja seperti sampah yang tak berharga.
Adrian meraih cincin itu, menggenggamnya kuat-kuat hingga ujung berliannya menusuk telapak tangannya.
"Liana..." gumamnya lirih, nyaris berupa rintihan.
"Jadi, ini alasanmu mempermalukan aku di restoran tadi?" ucap Arum.
Suara tajam itu memecah kesunyian. Adrian berbalik dan menemukan Arum berdiri di ambang pintu kamar dengan tatapan berapi-api.
Arum melangkah masuk, matanya menyapu sekeliling kamar yang jelas-jelas baru saja ditinggalkan penghuninya.
"Ada apa sebenarnya, Adrian? Siapa wanita itu?" tanya Arum, suaranya naik satu oktav.
"Siapa wanita itu yang membuat calon suamiku lari seperti orang gila di tengah pesta ulang tahunnya sendiri?"
Adrian menarik napas panjang, ia sudah lelah bersandiwara.
"Namanya Liana. Dia penari utamaku."
Arum mendengus sinis, matanya tertuju pada cincin di tangan Adrian.
"Penari utama? Atau selingkuhanmu? Jawab jujur, Adrian, apakah kamu mencintainya?"
Adrian terdiam sejenak, menatap cincin di tangannya, lalu menatap Arum dengan sorot mata yang dingin namun pasti. Ia menganggukkan kepalanya pelan.
"Iya. Aku mencintainya."
Wajah Arum memucat, namun ia belum puas. "Berapa jauh kalian sudah melangkah? Apakah kamu juga sudah tidur dengannya?"
Adrian tidak memalingkan wajah. Dengan rahang yang mengeras, ia kembali menganggukkan kepalanya.
"Iya."
PLAKKK!!
Tamparan keras mendarat di pipi Adrian hingga wajahnya terlempar ke samping.
Bekas merah jari Arum tercetak jelas di kulitnya yang pucat.
Adrian tetap diam, tidak mencoba membalas ataupun membela diri.
Tiba-tiba, Arum tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya terdengar sumbang dan mengerikan di kamar yang sunyi itu.
Ia menunjuk ke arah pintu dengan telunjuknya yang gemetar.
"Luar biasa! Adrian yang agung, produser paling dipuja di negeri ini, ternyata lebih memilih wanita kumuh itu?"
Arum tertawa lagi, tawa yang penuh penghinaan dan luka yang mendalam.
"Kamu membela wanita kumuh yang tidak punya apa-apa itu daripada aku? Kamu gila, Adrian! Kamu benar-benar sudah gila!"
Adrian menatap Arum dengan datar. "Jangan panggil dia wanita kumuh. Dia mungkin tidak punya harta sepertimu, Arum. Tapi dia punya hati yang tidak pernah kamu miliki."
Arum berhenti tertawa, wajahnya kini penuh dengan amarah yang membara.
"Lihat saja, Adrian. Kamu akan menyesal karena telah menghancurkan hidupku demi wanita rendahan itu. Aku akan memastikan hidup kalian tidak akan pernah tenang!" ucap Arum yang kemudian pergi dari Apartemen Adrian.
Beberapa jam kemudian di suasana Stasiun Tugu yang riuh dengan logat Jawa yang kental menyambut kedatangan Liana di tanah kelahirannya. Namun, bagi Liana, kepulangannya kali ini tidak membawa kedamaian yang biasanya ia rasakan.
Dengan langkah gontai, ia menyeret kopernya keluar menuju pangkalan taksi, mencoba mengabaikan denyut nyeri di dadanya yang belum juga reda.
Sepanjang perjalanan menuju rumahnya di daerah pinggiran Yogyakarta, Liana terus menatap keluar jendela.
Sawah-sawah hijau yang mulai terlihat di sisi jalan biasanya menjadi pemandangan favoritnya, namun kini semuanya tampak buram.
"Nduk, sudah sampai," ucap sopir taksi dengan ramah, menyadarkan Liana dari lamunannya.
Liana menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kacau.
Ia membuka cermin kecil dari tasnya, menatap pantulan wajahnya yang pucat.
Matanya sembap, bekas tangisan semalam di kereta masih terlihat jelas.
"Ayo, Liana, kamu harus kuat. Jangan sampai Mama tahu," bisiknya pada diri sendiri.
Ia mengambil tisu, mengusap sisa-sisa maskara yang luntur, dan menepuk-nepuk pipinya agar terlihat sedikit lebih segar.
Ia memaksakan sebuah senyum di depan cermin—senyum yang terasa begitu palsu dan menyakitkan.
Ia bersumpah dalam hati, biarlah ia menanggung kehancuran ini sendirian.
Ia tidak akan membiarkan ibunya sakit hati atau jatuh sakit hanya karena tahu putrinya telah dipermainkan dan direndahkan oleh pria kota bernama Adrian.
Liana turun dari taksi dan menyeret kopernya masuk ke halaman rumah yang asri.
Aroma bunga sedap malam yang ditanam Mamanya tercium lembut.
"Assalamu’alaikum, Ma. Liana pulang," seru Liana dengan nada suara yang dibuat seceria mungkin, meski tenggorokannya terasa tercekat.
Pintu rumah kayu itu terbuka, dan sosok wanita paruh baya dengan kebaya sederhana muncul dengan wajah berseri-seri.
"Liana! Anakku sayang, kamu sudah sampai!"
Mama langsung menghambur memeluk Liana erat.
Liana memejamkan matanya, menghirup aroma khas sang ibu yang menenangkan.
Rasanya ingin sekali ia tumpah dan menangis di bahu itu, menceritakan betapa jahatnya Adrian, betapa hinanya ia dianggap oleh Arum. Namun, Liana menahannya sekuat tenaga. Ia menelan semua isak tangisnya bulat-bulat.
"Loh, kok matamu merah, Nduk? Kamu kurang tidur di kereta?" tanya Mama sambil memegangi wajah Liana dengan penuh kasih sayang.
"Iya, Ma. Tadi keretanya ramai, Liana tidak bisa tidur nyenyak. Malah jadi kelilipan debu juga tadi di stasiun," dusta Liana sambil tertawa kecil, berusaha menutupi getar di suaranya.
"Ya sudah, ayo masuk. Mama sudah masakkan soto kesukaanmu. Tadi Erwin juga baru saja mampir tanya kapan kamu sampai. Dia bilang mau ke sini nanti sore," ucap Mama sambil menarik tangan Liana masuk ke dalam.
Mendengar nama Erwin, Liana tertegun sejenak. Ia teringat tatapan posesif Adrian saat cemburu tempo hari—cemburu yang ternyata hanya bagian dari sandiwara egois pria itu.
"Iya, Ma. Liana mandi dulu ya," jawab Liana lirih.
Di bawah guyuran air kamar mandi yang dingin, barulah pertahanan Liana runtuh.
Ia menutup mulutnya dengan tangan agar isakannya tidak terdengar sampai ke dapur, membiarkan air mata itu mengalir bersama air mandi, membasahi luka yang mungkin tak akan pernah sembuh dalam waktu dekat.
Suasana di desa itu begitu tenang, hanya terdengar suara jangkrik yang mulai bersahutan di sela-sela pohon mangga.
Erwin, yang baru saja selesai membersihkan halaman rumahnya sendiri di seberang jalan, langsung menoleh saat mendengar suara taksi berhenti dan sayup-sayup suara Liana yang menyapa ibunya.
Tanpa membuang waktu, Erwin yang masih mengenakan kaos oblong santai segera melangkah menyeberang jalan.
Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang; sudah berbulan-bulan ia hanya bisa melihat wajah sahabat masa kecilnya itu melalui layar ponsel yang seringkali terkendala sinyal Puncak.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamu’alaikum, Bu. Liana sudah sampai?" tanya Erwin dengan nada suara yang penuh semangat saat pintu depan terbuka.
Mama Liana muncul dengan celemek yang masih terikat di pinggang, wajahnya berbinar melihat pemuda yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu.
"Wa’alaikumussalam, Erwin. Iya, baru saja sampai sekitar lima belas menit yang lalu."
Erwin melongokkan kepalanya ke arah ruang tamu yang sepi, matanya mencari sosok gadis yang selama ini menghiasi pikirannya di perantauan.
"Liana-nya mana, Bu? Saya bawakan gudeg kering titipan Ibu tadi pagi."
"Liana lagi mandi, Win. Katanya tadi badannya lengket semua habis naik kereta malam," jawab Mama sambil menerima bungkusan dari tangan Erwin.
"Duduk dulu saja di teras, nanti kalau sudah selesai pasti dia keluar. Ibu buatkan teh hangat dulu, ya?"
Erwin mengangguk sopan dan menarik kursi rotan di teras rumah Liana.
Ia duduk dengan gelisah, sesekali merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Ia membayangkan Liana akan keluar dengan senyum manisnya yang biasa, menceritakan kesuksesannya menjadi bintang film di Jakarta.
Namun, di balik pintu kayu yang tertutup itu, di dalam kamar mandi yang pengap, Liana masih mematung di bawah kucuran air.
Ia mendengar suara berat Erwin dari luar, suara yang mengingatkannya pada masa lalu yang jujur dan tanpa sandiwara.
Liana membasuh wajahnya berulang kali, mencoba menghilangkan jejak bengkak di matanya.
Ia tidak ingin Erwin—sahabat yang selalu menjaganya—melihat kehancuran yang ditinggalkan Adrian di dalam dirinya.
"Ayo, Liana, jangan menangis lagi. Erwin tidak boleh tahu," bisik Liana pada dirinya sendiri, suaranya tenggelam di antara bunyi air yang jatuh ke lantai semen.
ditunggu crazy upnya