Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Dan, ketika kegelapan itu datang...
Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JUJUR YANG MENYAYAT KESETIAAN
Arya menghentikan mobilnya dengan kasar di depan teras. Perasaannya tidak keruan. Sepanjang jalan dari rumah sakit, dadanya bergemuruh oleh firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan secara medis. Ada sesuatu yang menariknya pulang, semacam alarm batin yang terus berteriak bahwa Yasmin sedang tidak baik-baik saja.
Langkah kakinya yang tegas berdentum di atas tangga marmer. Begitu sampai di depan pintu kamar, ia tidak mengetuk. Ia langsung memutar kenop pintu dan masuk dengan napas yang memburu.
"Yasmin?"
Pemandangan di depannya membuat Arya terpaku. Kamar itu tampak sunyi, namun ada aura kekacauan yang tertinggal. Bau sabun yang menyengat bercampur dengan aroma parfum yang sangat ia kenali—tapi itu bukan aroma parfum miliknya. Itu aroma maskulin yang lebih tajam, lebih dominan, dan selalu membuatnya merasa terancam.
Parfum laki-laki.
Mata tajam Arya menyisir ruangan, mencari sosok istrinya yang biasanya menyambutnya dengan senyum canggung atau tundukan kepala. Namun, Yasmin tidak ada di sana.
"Yasmin?" panggil Arya, suaranya berat dan bergema di dinding kamar yang luas.
Tidak ada jawaban. Hanya suara samar gemericik air yang terdengar dari balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Langkah kaki Arya terasa berat saat ia mendekati pintu kayu jati yang tertutup rapat itu. Suara gemericik air dari pancuran di dalam sana pun terdengar monoton, seolah mencoba meredam suara lain yang lebih menyakitkan.
"Yasmin?" Panggil Arya mengetuk pintu kamar mandi. "Yasmin, kamu di dalam?"
Hening.
Arya mengetuk pintu kamar mandinya lagi. "Yasmin tolong jawab? Kamu marah sama aku? Maafin aku, Yasmin..."
Kata-katanya terputus di tenggorokan. Matanya yang tajam menangkap kilatan logam di atas karpet, tepat di sisi ranjang yang sudah tak berseprai itu. Arya membungkuk dengan gerakan kaku, memungut benda itu.
Sebilah pisau kecil.
Jantung Arya seolah berhenti berdetak. Pikirannya langsung melayang pada kemungkinan terburuk. Kamar yang berantakan, seprai yang hilang, bau parfum maskulin yang menyengat, dan sekarang... sebilah pisau di lantai sementara istrinya mengunci diri di kamar mandi tanpa suara.
"Yasmin?! Yasmin, jawab aku!" teriak Arya, kini suaranya meninggi penuh kecemasan yang murni. "Jangan lakukan hal bodoh! Yasmin!"
Ia tidak lagi mengetuk dengan jemarinya.
Arya mulai menghantamkan bahu dan seluruh berat tubuhnya ke pintu kayu yang kokoh itu.
BRAK! BRAK!
"Yasmin! Buka pintunya! Aku mohon, jangan buat aku takut!"
Pikiran Arya kalap.
"Yasmin?!"
BRAAAKKK!
Dengan satu hantaman terakhir yang sangat keras, gerendel pintu kamar mandi itu akhirnya menyerah dan jebol. Pintu terbuka lebar, menabrak dinding dengan suara keras.
Arya terpaku di ambang pintu. Matanya membelalak melihat pemandangan di depannya. Di bawah guyuran air dingin yang masih menyala, Yasmin duduk bersimpuh di lantai marmer, memeluk lututnya sendiri dengan tubuh yang menggigil hebat. Gamisnya basah kuyup menempel di kulit, dan wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya yang berantakan.
"Yasmin..." bisik Arya, suaranya tercekat. Ia segera menjatuhkan pisau itu ke lantai dan menghambur ke arah istrinya, mengabaikan tubuhnya sendiri yang kini ikut basah terkena air. "Ya Tuhan, kamu kenapa, Yasmin? Kenapa seperti ini?"
Yasmin hanya diam, bahunya berguncang karena isak tangis yang tak bersuara. Ia tidak berani menatap mata suaminya, merasa bahwa sisa-sisa kesuciannya telah hanyut bersama air dingin yang mengguyur tubuhnya. Di kepalanya, suara Tama masih terngiang.
Dia akan membuangmu seperti sampah.
"Yasmin, jawab aku?!" desak Arya, suaranya naik satu oktav, serak oleh perpaduan antara kecemasan dan kecurigaan yang membakar.
Mata tajam sang dokter mulai menelusuri tubuh basah istrinya. Di bawah guyuran air, pakaian tipis yang dikenakan Yasmin melekat erat di kulitnya, menonjolkan lekuk tubuh yang seharusnya hanya menjadi hak istimewa Arya. Hati Arya mencelos. Ini bukan pakaian santai yang biasa istrinya kenakan di siang hari.
"Kenapa kamu pakai pakaian ini?" tanya Arya lagi, suaranya kini merendah, nyaris seperti bisikan yang menyayat. "Ini baju yang... yang seharusnya kamu simpan untuk malam kita, Yasmin. Kenapa kamu memakainya sekarang? Dan kenapa basah kuyup seperti ini?"
Arya mendekatkan wajahnya, bermaksud menghapus air dari pipi istrinya, namun indra penciumannya justru menangkap kembali sesuatu yang kini menghujam jantungnya lebih dalam. Di sela aroma sabun yang menyengat, masih ada sisa-isanya—aroma maskulin yang berat, kayu cendana dan musk yang tajam itu.
Jelas. Itu bukan aromanya. Itu aroma yang selalu ia benci karena melambangkan dominasi dan keangkuhan.
"Dan, bau ini..." Arya terdiam sejenak, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang. "Kenapa ada bau parfum pria di kamar kita? Dan, ini bukan parfum milikku."
Cengkeraman Arya di bahu Yasmin menguat tanpa ia sadari. Matanya kini berkilat penuh luka. "Jawab aku! Apa yang telah kamu lakukan?!"
Yasmin hanya bisa terisak, tubuhnya menggigil hebat bukan hanya karena air dingin, tapi karena rasa hina yang menguliti jiwanya.
"JAWAAAAAB?!" bentak Arya. Guncangan tangannya di bahu Yasmin membuat tubuh wanita itu terombang-ambing. "Apa... yang telah kamu lakukan di kamar ini?!"
Yasmin mengangkat wajahnya yang sembab, matanya yang merah menatap Arya dengan tatapan kosong yang menyayat hati. "Ketakutan terbesarku... hal yang selama ini aku rahasiakan darimu dengan nyawaku... adalah dia. Tama," Ucapnya dingin. Matanya kosong, nyaris tak berkedip. "Dia sudah mengancamku sejak awal kita menikah. Setiap kali kamu menyentuhku, setiap kali kamu ingin mendekatiku, bayangan ancamannya selalu muncul seperti iblis. Dia bilang... dia akan menghancurkan aku jika aku tak bisa membayarnya."
Rahang Arya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang, menahan gejolak amarah yang nyaris meledakkan dadanya. Namun, begitu mendengar pengakuan Yasmin yang gemetar—pengakuan tentang ketakutan, ancaman, dan pengorbanan yang selama ini dipikul istrinya sendirian—cengkeraman tangannya di bahu Yasmin perlahan melonggar.
Kemarahan yang tadinya ditujukan pada Yasmin seketika berbelok arah, menghantam sosok kakaknya sendiri, Tama.
"Jadi..." Getir Tama, mendesis pahit. "Kenapa kamu gak bilang dari awal?!"
Arya beranjak. Ia menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangan, seolah ingin mencabut rasa sakit yang menghujam otaknya. "Kenapa, Yasmin?!" Lirihnya, suaranya nyaris bergetar. "KENAPAAAAA?!"
BRAAAK!
Suara dentuman keras menggema di dalam kamar mandi yang sempit itu. Arya, dengan napas yang memburu dan dada yang naik-turun menahan sesak, melayangkan tendangan keras ke arah pintu kaca pembatas shower.
Arya lalu berdiri mematung, dadanya yang naik-turun perlahan mulai stabil, namun aura di sekitarnya berubah menjadi dingin yang membekukan. Matanya yang merah menatap Yasmin dengan sorot gelap yang tak tertembus—sebuah ketenangan predator yang baru saja menemukan titik lemah mangsanya.
Ia pun membungkuk perlahan, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Yasmin yang basah kuyup. Mata mereka beradu, namun tak ada lagi kehangatan di sana.
"Kenapa baru sekarang, Yasmin?" desis Arya, suaranya rendah dan tajam seperti sembilu. "Kenapa selama ini kamu diam? Kenapa kamu biarkan aku terlihat seperti orang bodoh yang mencintai bayangan? Dan sekarang... setelah semuanya terjadi, setelah dia merenggut hakku, kamu baru punya keberanian untuk bicara?"
Yasmin menggeleng lemah, bibirnya yang membiru tak mampu menyusun kata. Namun, kalimat Arya berikutnya menghantamnya lebih keras daripada tamparan fisik mana pun.
"Atau jangan-jangan..." Arya menjeda, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum pahit yang mengerikan. "Kamu sebenarnya menikmatinya juga? Apa sentuhan kakakku jauh lebih menggairahkan daripada suamimu yang membosankan ini?"
Mata Yasmin membelalak, dadanya terasa sesak seolah oksigen di ruangan itu telah lenyap. "Enggak, Mas! Demi Tuhan, enggak! Dia memaksaku!" teriak Yasmin di sela isak tangisnya yang pecah. "Dia..."
"MUNAFIK!"
Teriakan Arya menggelegar, memantul di dinding porselen hingga telinga Yasmin berdenging. Arya berdiri tegak dengan kasar, menatap jijik ke arah istrinya yang bersimpuh di lantai.
"Mas, tolong percaya sama aku... Mas!" Geleng Yasmin dengan tatapan penuh permohonan.
Arya berbalik dengan gerakan kalap, menendang keranjang cucian hingga isinya berhamburan—termasuk seprai yang coba disembunyikan Yasmin. Melihat kain putih yang ternoda itu, amarah Arya mencapai puncaknya. Ia tidak lagi melihat Yasmin sebagai korban, melainkan sebagai bagian dari pengkhianatan besar yang direncanakan Tama.
****