Seorang anak lelaki, yang harus menyaksikan kematian ibunya di ulang tahunnya yang ke 9. Tumbuh dengan hati yang dingin, seolah tak tersentuh. Tetapi ia sudah terbiasa, dengan sahabatnya. Petualangan bersama para roh, kuy kita baca🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi ke Bangunan Terbengkalai
Om Gunawan segera masuk, ia berniat membuka laci atas. Namun gerakannya terhenti...
"Laci kedua, sebelah kanan." ucap Ghaffar, om Gunawan menurunkan tangannya. Dan membuka laci kedua, yang diminta Ghaffar. Ia mengerutkan dahinya, saat melihat barang tersebut.
'BONEKA?'
"Ya, benda itu adalah milik seorang anak kecil. Dia salah satu korban, kebakaran bangunan terbengkalai itu. Bangunan itu, merupakan sebuah rusun. Mengalami kebakaran hebat, 13 tahun yang lalu. Jiwanya terkunci, di dalam boneka tersebut. Putra om mengambil dan membawanya pulang, membuat arwah anak itu menghisap energi kehidupan putra om. Sedikit, demi sedikit." ucap Ghaffar, lagi-lagi membuat om Gunawan terkejut.
Di dalam laci itu ada boneka porselen, yang begitu cantik. Namun bila terus di perhatikan, akan terlihat menyeramkan. Anehnya adalah, dia terlihat utuh meski pernah berada di lautan api. Tak ada tanda-tanda terbakar sama sekali, bahkan rambut dan bajunya pun masih terlihat bagus.
"Om sekarang percaya padamu, apa yang akan kita lakukan dengan benda ini?" tanya om Gunawan, namun belum ia ambil boneka tersebut.
"Om atau tante, ikut kami ke bangunan itu. Bawa boneka nya, minta maaf pada pemiliknya. Terkadang, ada barang-barang tertentu yang tidak boleh kita sentuh. Sedangkan putra om, bukan hanya menyentuhnya saja. Tapi ia memiliki keberanian, untuk membawanya pulang ke rumah." jawab Ghaffar
Akbar menghembuskan nafas panjang, di saat seperti ini. Sahabatnya cerewet, mau membuka mulutnya dan bicara panjang lebar.
"Baiklah, ma... sebaiknya papa saja yang ikut mereka. Mama tunggu di rumah, berdoalah... semoga ada kabar baik." ucap om Guna, tante Tania mengangguk
"Hati-hati, nak Ghaffar... tante titip om Guna. Bantu putra tante, untuk kembali bangun." mohon tante Tania, Ghaffar mengangguk. Ia lalu berbalik, melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Akbar, Damar dan om Guna bergegas menyusul keluar.
.
.
Seperti yang di rasakan Damar, om Guna juga merasakan hal yang sama dengan Damar. Saat ia masuk ke dalam mobil, begitu menenangkan.
"Butuh waktu 1 1/2 jam, menuju bangunan tersebut. Bila kalian memang ingin tidur, tidurlah." ucap Akbar, kini ia duduk di kursi penumpang samping Ghaffar. Ghaffar memilih untuk mengemudikan mobilnya, membiarkan Akbar tidur..
Selama di perjalanan, Ghaffar hanya diam menatap jalanan. Sepi... banyak yang janggal, namun ia terus menjalankan mobilnya. Tak memperdulikan ganguan-gangguan, yang ada di luar. Padahal banyak yang mencoba masuk, tetapi semuanya gagal. Ghaffar menggelengkan kepala, saat melihat arwah penuh dendam di dekat jembatan.
Bagaimana Ghaffar bisa semakin kuat? Ustad Husein, ia membawanya bertemu dengan kiyai Ummar. Di tempat beliau, Ghaffar mendapatkan banyak ilmu. Kiyai Ummar mengetahui kelebihan Ghaffar, ia tak ingin Ghaffar menggunakan hal itu untuk hal-hal negatif. Karena itu, ia mengajarkan beberapa pelajaran spiritual pada Ghaffar.
Kiyai Ummar juga tau, bila Ghaffar memiliki dendam di dalam hatinya. Kiyai tak langsung memintanya untuk menghilangkan rasa itu, namun melalui pelatihan yang ia berikan. Lambat laun rasa itu berkurang, bukan hilang. Tapi kiyai Ummar tak memaksanya, karena Ghaffar yang menjalani hidup. Ia cukup memberikan, apa yang harus ia berikan.
.
Dalam waktu 1 jam, mereka tiba di bangunan tersebut. Akbar melakukan peregangan, begitu keluar dari mobil. Hanya saja itu tak berlangsung lama, udara yang begitu dingin menusuk kulitnya.
"Jadi kalian datang ke sini?" tanya om Guna
"Iya om, tadinya kami ingin melakukan uji nyali. Tidak tau bila akan berakhir seperti ini" jawab Damar
"Bisa-bisanya, om benar-benar tak habis pikir. Biar apa kalian melakukan ini? Jangan bilang hanya demi followers ga jelas itu.." Damar menunduk
"Maaf om" meski bukan Damar yang mengajak, namun ia merasa percuma bila mengatakannya. Padahal Damar sudah menolak ajakan Bayu, ia merasa firasatnya tidak enak. Tetapi Bayu terus memaksanya, mengatakan bila ini terakhir kalinya ke tempat angker. Damar yang merasa, sudah banyak di bantu oleh Bayu. Mau tak mau, ia mengiyakan ajakan Bayu.
"Ayo" Ghaffar melewati pos satpam, namun tak ada yang jaga. Lebih tepatnya, tak ada yang berani.
"Angker banget Ghaf" bisik Akbar
"Kalau kamu ga berani, diam saja di mobil." Akbar menggelengkan kepalanya, ia tak mau jauh dari Ghaffar.
WUSHHHH
Angin berhembus begitu kencangnya, begitu mereka sampai di depan pintu masuk. Ghaffar memejamkan kedua matanya, sekilas ia bisa melihat bayangan kejadian beberapa tahun yang lalu.
Orang-orang kalang kabut, menyelamatkan diri keluar dari bangunan tersebut. Bahkan ada yang terdorong keras sampai terjatuh, parahnya sampai terinjak-injak. Mereka melangkah masuk, dengan perasaan takut tentunya.
"Jangan ada yang melamun, sebisa mungkin membacakan surat-surat pendek. Agar pikiran kalian tak sampai kosong, bila itu terjadi. Aku tak menanggung, bila kalian hilang di bawa oleh salah satu penghuni bangunan ini." ucap Ghaffar
Ketiga orang itu pun menurut, tentu mereka tak ingin bila harus terjebak bukan..
Lift tidak jalan, membuat Ghaffar harus beralih ke tangga darurat. Tentu saja tak jalan, sudah bertahun-tahun di tinggalkan. Arwah yang mengikuti Damar dan Bayu, berada di lantai 8. Om Guna terlihat sangat kelelahan, tentu saja di usianya yang tak muda lagi. Menaiki anak tangga, sampai 8 lantai. Merupakan penyiksaan pelan-pelan padanya, ini.... sangat menyiksa..
Setelah cukup lama, akhirnya mereka pun tiba di lantai yang di maksud. Ghaffar bisa merasakannya, hawa panas dan penuh dendam di lantai ini. Kembali ia memejamkan kedua matanya, ia melihat kilasan-kilasan kejadian saat kebakaran.
Semua berasal dari sebuah kompor, yang belum di matikan. Yaitu kamar yang letaknya, bersebelahan dengan kamar tempat pemilik boneka itu. Anak yang masih berusia 5 tahun itu, tengah tertidur siang. Di tinggal kerja, oleh kedua orang tuanya. Di sisi lainnya kamar penyebab kebakaran, adalah kamar seorang perawan yang mengikuti Damar.
Ledakan tabung gas tak terelakan, saat api merambat ke semua ruangan. Berawal dari api, yang membumbung tinggi ke langit-langit ruangan. Menjalar dengan cepat, membakar atap yang terbuat dari triplek. Dalam waktu sebentar, kamar itu di penuhi oleh api. DAN...
BUMM
Semua orang panik, mereka berlarian keluar dari kamar mereka masing-masing. Tanpa tau, bila ada anak kecil, yang terjebak di kediamannya. Seorang gadis perawan, yang saat ledakan terjadi berada di kamar mandi. Terkejut bukan main, saat ia selesai mandi. Kamarnya juga sudah penuh dengan api, ia panik dan segera menggunakan baju yang ada. Ia mencoba keluar, saat sudah di luar dan akan berlari ke arah tangga darurat.
Samar-samar, ia mendengar suara tangisan seorang anak. Ia pun mengingat Sisil, anak berusia 5 tahun.
'SISIL' teriak gadis itu
'MBAK LUTSI, TOLOOONNNIN TSISIIL' terdengar teriakan dari dalam kamar, Lusi akhirnya memilih untuk menolong. Ia mendobrak pintu, dan...
WUSHHH
Api berhembus kencang dari dalam, Lusi segera mengangkat lengannya. Untuk menutupi wajahnya, setelah di rasa aman. Ia gegas masuk, terlihat Sisil yang duduk di sudut ruangan.
'Ayo, kita keluar. Peluk erat kakak ya...' Lusi mengangkat tubuh Sisil, anak itu langsung memeluk erat leher Lusi. Saat hampir mencapai pintu...
BRUGH
KYAAAAA
...***************...
Jadwal up Ghaffar jadi siang ya, yg malem buat Zandra🤗

Jangan lupa like, komen, gift dan vote nyaaaa.....🥰
☕️nya emak😘