NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dan ternyata!

“Aku tidak pernah belajar bagaimana berbicara dengan perempuan tanpa merasa kaku.” ucapnya

Aku mengingat kembali masa lima bulan kedekatan kami.

Ia memang tidak pernah flirt.

Tidak pernah menggoda.

Tidak pernah berkata manis.

Ia selalu formal. Terlalu formal

Sopan.

Jarak dan susunan katanya terukur.

“Kenapa kamu menikahiku kalau kamu sendiri belum yakin bisa menjadi suami yang baik?” tanyaku, kali ini tanpa nada menuduh.

“Karena aku tidak pernah meragukan perasaanku padamu.”

Kalimat itu membuat napasku tertahan.

“Kamu… punya perasaan?”

Ia menatapku dengan cara yang berbeda.

“Aku hanya tidak tahu cara mengungkapkannya, bahkan untuk mengatakannya aku masih belum berani.”

Dadaku terasa hangat sekaligus perih.

“Lima bulan aku mengenalmu, Mala. Dan setiap hari aku merasa lebih tenang ketika berbicara denganmu. Aku tidak pernah merasa terintimidasi seperti ketika berbicara dengan perempuan lain.”

“Terintimidasi?”

“Aku selalu takut salah bicara. Takut dianggap aneh. Tapi denganmu… semuanya terasa sederhana.”

Ia menelan ludah.

“Justru karena itu aku takut kehilanganmu.”

Aku menunduk.

“Jadi kamu memilih untuk… tidak menyentuhku?”

“Aku memilih untuk memastikan kamu tidak merasa terpaksa.”

“Aku merasa tidak diinginkan, Ashar.”

Kalimat itu akhirnya terucap juga tanpa bisa aku tahan.

Ia membeku.

“Aku pikir kamu tidak tertarik padaku,” lanjutku dengan suara bergetar. “Aku pikir mungkin… kamu lebih nyaman dengan laki-laki.”

Wajahnya langsung berubah.

“Mala.”

Nada suaranya tegas.

“Aku tidak menyukai laki-laki.”

Pernyataannya jelas. Tanpa keraguan.

“Raka sahabatku. Dia tahu aku selalu canggung soal perempuan. Dia yang menyuruhku jangan memaksakan diri jika aku belum siap secara mental.”

“Siap secara mental untuk apa?”

“Untuk menjadi suami sepenuhnya.”

Kami saling menatap.

“Menjadi suami bukan hanya soal menyentuh tubuhmu. Itu soal tanggung jawab. Soal kesiapan membuatmu merasa aman.”

Aku perlahan menyadari sesuatu.

Selama ini aku mengartikan jaraknya sebagai penolakan.

Padahal mungkin itu ketakutannya sendiri.

“Kenapa kamu tidak bilang dari awal?” tanyaku.

“Aku malu.”

“Ashar…”

“Aku pria, Mala. Seharusnya aku yang tahu duluan. Seharusnya aku yang memimpin. Tapi kenyataannya aku justru bingung.”

Ia tertawa kecil, pahit.

“Aku bahkan mencari artikel di internet tentang ‘cara menjadi suami yang baik’.”

Aku membeku.

Laptop itu.

Folder “Private – Jangan Dibuka”.

Ia menangkap ekspresiku.

“Itu bukan hal aneh. Isinya cuma catatan dan hal-hal yang kucari supaya aku tidak mempermalukan diriku sendiri.”

Perlahan, kepingan-kepingan yang selama ini kususun menjadi prasangka mulai runtuh satu per satu.

“Aku takut jika aku terlalu bernafsu, kamu akan melihatku seperti pria tak tahu diri. Tapi jika aku terlalu menahan diri, kamu merasa tidak diinginkan.”

Ia menatapku lekat-lekat.

“Aku salah dalam dua-duanya.”

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

“Kamu tidak pernah memberiku kesempatan untuk menjawab ketakutanmu,” kataku lirih.

Ia terdiam.

“Aku juga takut, Ashar. Aku juga gugup. Tapi bukan berarti aku tidak ingin.”

Suasana berubah.

Tidak lagi tegang.

Lebih… rapuh.

“Aku tidak tahu harus mulai dari mana,” akunya.

Aku menarik napas dalam.

“Kita mulai dari jujur.”

Ia mengangguk pelan.

“Aku menyukaimu, Mala. Sejak lama.”

Bukan “aku cinta kamu”.

Tapi untuk lelaki seperti dia, itu sudah lebih dari cukup.

“Dan aku tidak pernah tertarik pada laki-laki.”

Nada suaranya kali ini mantap.

“Kedekatanku dengan Raka hanya karena dia sahabat lama yang tahu semua kecanggunganku, tidak ada yang spesial dan lebih dari itu.”

Aku mengangguk pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!