Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
"Eh, jarum akupuntur ini menjadi nyata… benar-benar ada di tanganku.”kata Abram mengangkat kotak kayu berukuran kecil yang diberikan Kakek Zeno di dalam mimpinya.
Saat ia membuka kotak tersebut, Abram tersenyum campur kagum melihat jarum yang tipis bersinar lembut di bawah cahaya kamar kecil di lantai bawah rumah sakit.
"Itu artinya aku sekarang bisa mengobati orang sakit?”kata Abram dengan senang.
Tanpa sengaja ia memejamkan mata, dan seketika saja kepalanya terasa penuh dengan gambar-gambar dan pengetahuan yang seolah sudah belajar sejak lama.
Garis-garis meridian tubuh manusia, titik-titik akupuntur yang menjadi kunci penyembuhan, cara memasukkan jarum dengan kekuatan tepat agar tidak menyakitkan namun efektif, semua ilmu pengobatan mengalir di kepalanya.
Ia bahkan bisa merasakan bagaimana energi hidup mengalir dalam setiap makhluk, bagaimana gangguan pada aliran energi itu menyebabkan penyakit.
Seolah ia telah menghabiskan puluhan tahun mempelajari ilmu pengobatan kuno tersebut, ini adalah ilmu yang di wariskan kakek Zeno.
Setelah beberapa saat semua pengetahuan yang muncul tiba-tiba, Abram perlahan membuka matanya. Ia merasa badan lebih ringan dari biasanya, seolah beban berat yang selama ini telah hilang.
Ia berdiri perlahan dari brankar besi yang menjadi tempat tidurnya karena ia menginap disini semalam karena ia tak punya tempat tinggal lagi.
Abram mendekati jendela dan membuka tirai jendela. Cahaya pagi yang terik masuk kamar kecil itu, menandakan jika sudah pagi.
"Ah… perasaan aku hanya tidur sebentar setelah Kakek Zeno memberiku kotak itu, kok tiba-tiba sudah pagi aja?" Ucapnya pelan sambil menggosok wajahnya yang masih sedikit mengantuk.
Ia melihat ke arah meja sisi tempat tidur, di mana ada amplop coklat yang diberikan oleh seorang pengusaha kaya kemaren
Di dalam amplop itu ada uang yang cukup untuk menyewa kosan kecil di selama setahun, plus biaya makan dan kebutuhan dasar lainnya.
Abram segera bersiap-siap. Ia telah menginap di rumah sakit ini secara gratis karena tidak punya tempat tinggal setelah rumah satu-satunya yang dimilikinya terbakar dan ia diusir dari kampung halamannya, ia hampir mati kelaparan dan sakit sebelum bertemu Kakek Zeno yang menemukan dia pingsan di depan gerbang rumah sakit.
Kakek Zeno yang bekerja sebagai petugas kebersihan di rumah sakit itu tidak hanya menyelamatkan nyawanya, tetapi juga mengajarinya cara bertahan hidup dan memberikan banyak ilmu.
Setelah merapikan tempat tidur, Abram keluar dari kamarnya dan melangkah untuk bertemu dengan dokter Rahmat untuk berpamitan.
Namun ketika memasuki lorong menuju lobi, ia mendengar suara hiruk pikuk yang semakin menggelegar. Suara teriakan kesakitan dan desahan tak tertahankan mengisi ruang yang biasanya sunyi di pagi hari.
Karena penasaran, Abram mempercepat langkahnya.
Saat sampai di lobi, pandangannya langsung terpaku pada sekelompok orang yang berkumpul di tenga ruangan, beberapa di antaranya duduk di lantai sambil terus menggaruk bagian tubuh yang terkena penyakit kulit.
Abram mengerutkan kening, penampilan mereka sangat mirip dengan dirinya beberapa bulan yang lalu, kulit kemerahan penuh dengan lepuhan berisi nanah, bagian tubuh yang digaruk bahkan mulai mengeluarkan darah dan cairan lengket. Namun yang membuat hatinya terasa sesak adalah wajah-wajah yang dikenalnya dengan jelas.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
di tunggu kelanjutannya