NovelToon NovelToon
The Harmony Of Us

The Harmony Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

---

Sinopsis Utama

Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."

Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.

Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Us

---

Tiga hari setelah kelahiran, akhirnya tiba waktunya Hannah pulang ke rumah.

Jane sudah tidak sabar. Meski ruang rawatnya nyaman dan perawatnya baik, tidak ada yang bisa mengalahkan rasa ingin segera berada di rumah sendiri, di tempat di mana ia akan membesarkan putri mungilnya.

Mario sibuk membereskan barang-barang, sambil sesekali menatap Hannah yang tidur pulas di boks kecil di samping tempat tidur Jane.

"Sayang, semua udah?" tanya Jane.

"Bentar, aku cek lagi. Jangan sampe ada yang ketinggalan."

Jane tersenyum. Suaminya ini, sejak Hannah lahir, berubah menjadi pribadi yang super teliti. Semua harus double check, triple check. Tas popok diperiksa berulang-ulang, baju ganti dihitung, bahkan dot disterilkan dua kali.

"Mas, santai. Nggak usah terlalu panik."

Mario berhenti, menarik napas panjang. "Iya, iya. Aku usahain."

Dokter masuk untuk pemeriksaan terakhir. "Bu Jane, semuanya baik. Ibu sehat, bayi sehat. Boleh pulang hari ini."

Jane bersyukur. "Makasih, Dok."

"Selamat menjadi orang tua baru. Nikmati setiap momennya, karena mereka cepat besar."

---

Pukul 10.00, mobil Elgi sudah siap di depan rumah sakit. Elgi sendiri yang menawarkan diri menjemput, dengan alasan mobilnya paling besar dan nyaman.

"Gue anter, Bro. Biar lo nggak repot naik taksi," katanya kemarin di grup.

Mario menerima tawaran itu dengan senang hati.

Saat mereka keluar dari ruang rawat, Elgi sudah menunggu di lobi. Ia tersenyum lebar melihat Hannah yang digendong Jane.

"Wah, selamat datang, Hannah!" sapa Elgi pelan, takut membangunkan bayi yang tertidur.

"Ini Elgi, Hannah. Om yang baik hati." Jane memperkenalkan.

"Om Elgi siap jadi supir pribadi Hannah hari ini."

Mereka tertawa pelan. Perjalanan pulang terasa hangat. Elgi menyetir dengan hati-hati, lebih lambat dari biasanya, sesekali melihat ke spion untuk memastikan Jane dan Hannah nyaman di belakang.

"Jan, nyaman?" tanyanya.

"Iya, Gi. Makasih."

"Sama-sama. Ini aja aku seneng bisa bantu."

---

Pukul 11.00, mobil memasuki Griya Asri.

Jane terbelalak melihat pemandangan di depannya. Taman kompleks dihiasi balon-balon merah muda dan putih. Spanduk besar bertuliskan "SELAMAT DATANG, HANNAH!" digantung di pohon besar. Beberapa tetangga sudah berkumpul, melambai-lambaikan tangan.

"Mario... ini..." Jane menoleh ke suaminya.

Mario juga kaget. "Aku nggak tahu, Sayang. Ini pasti kerjaan mereka."

Mobil berhenti di depan rumah nomor 7. Begitu pintu terbuka, sambutan meriah langsung terdengar.

"Selamat datang, Hannah!" teriak Irene paling keras.

"Wah, cantiknya!" Soo Young mendekat, mengintip wajah Hannah.

"Amo mau lihat! Amo mau lihat!" Amora berjingkat-jingkat, tak sabar.

Jisoo menahan Amora. "Sabar, Sayang. Nanti lihat."

Endy dan Leon ikut mendekat. Leon dengan kameranya siap mengabadikan momen bersejarah ini. Bahkan Pak RT ikut hadir, membawa kado resmi dari warga kompleks.

"Selamat, Pak Mario, Bu Jane. Selamat atas kelahiran putri pertama." Pak RT menyerahkan kado.

Mario menerima dengan haru. "Wah, Pak RT, repot-repot."

"Ini sudah menjadi tradisi kita. Setiap warga baru, kita sambut dengan suka cita."

---

Mereka masuk ke rumah nomor 7. Rumah itu sudah dihias luar biasa. Balon di mana-mana, bunga-bunga segar, dan yang paling mengejutkan: meja makan penuh dengan makanan.

"Ini semua?" Jane takjub.

"Kami masak bergotong royong," jelas Irene bangga. "Aku bikin nasi kuning. Soo Young bikin kue Korea. Jisoo bikin sate. Chaeyoung bikin salad."

Leon mengangkat jempol. "And I made Australian-style meat pie!"

Mereka tertawa. Leon memang selalu punya cara untuk terlibat.

Jane menggendong Hannah, memperkenalkannya satu per satu.

"Ini Tante Irene, yang baik banget, selalu kirim cemilan waktu Bunda hamil."

"Ini Tante Soo Young, yang rajutin baju-baju lucu buat kamu."

"Ini Tante Jisoo, kakaknya Bunda, yang udah jadi ibu hebat buat Kak Amora."

"Ini Tante Chaeyoung, yang paling ceria, dan Om Leon yang suka motoin kita semua."

"Ini Om Endy, yang bijaksana, dan Om Elgi, yang anterin Bunda ke rumah sakit."

"Ini Kak Amora, yang udah nggak sabar jadi kakak sepupu."

Amora mendekat, mengintip Hannah dengan mata berbinar. "Adek... cilik... imut..." bisiknya pelan.

Semua tersenyum melihat tingkah Amora.

Setelah perkenalan selesai, Jane duduk di sofa dengan Hannah di gendongan. Yang lain duduk melingkar, menikmati makanan sambil mengobrol.

---

Leon, sebagai dokumentator resmi, sibuk mengambil foto dari berbagai sudut. "This is historic! First day of Hannah in her new home!"

Chaeyoung membantu Leon mengatur pose. "Leon, ambil dari sini. Biar backgroundnya bagus."

Mereka berfoto bersama: Jane dan Mario dengan Hannah di tengah, dikelilingi oleh semua warga Griya Asri. Amora dan Rafa duduk di depan, tersenyum lebar.

"Ini foto keluarga terbesar kita," ucap Endy.

"Iya, keluarga besar Griya Asri." Soo Young tersenyum.

Keluarga. Kata itu terasa pas. Bukan keluarga darah, tapi keluarga pilihan. Yang saling peduli, saling bantu, saling menyayangi.

---

Saat semua asyik mengobrol, Hannah tiba-tiba terbangun dan menangis.

Semua panik.

"Kenapa? Kenapa?" Mario berlari mendekat.

"Mungkin lapar," kata Jane. "Atau pipis."

"Atau kedinginan?" saran Soo Young.

"Atau kepanasan?" Irene menimpali.

"Atau kaget?" Chaeyoung ikut panik.

Leon bingung. "What's happening? Why is everyone panicking?"

Jisoo, sebagai yang paling berpengalaman, tertawa. "Tenang... tenang... ini normal. Bayi nangis itu biasa."

Ia mendekat, memeriksa Hannah dengan tenang. "Coba cek popoknya."

Mario membuka popok Hannah. "Basah. Harus ganti."

Jisoo mengangguk. "Nah, itu penyebabnya. Ganti aja, nanti dia tenang."

Mario mengambil popok baru, lalu—dengan disaksikan semua orang—mengganti popok Hannah untuk pertama kalinya di rumah. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia berhasil.

Hannah berhenti menangis. Matanya terbuka, menatap sekeliling dengan rasa ingin tahu.

"Wah, dia lihat-lihat," kata Irene.

"Iya, lagi observasi lingkungan barunya." Elgi bercanda.

Semua tertawa. Hannah, dengan polosnya, terus menatap orang-orang di sekelilingnya, seolah berkata, "Banyak sekali orang-orang baik di sini."

---

Sore harinya, satu per satu tamu mulai pulang. Mereka pamit dengan janji akan sering main ke rumah nomor 7.

"Inget, kalau butuh apa-apa, tinggal teriak," pesan Irene.

"Jangan sungkan minta tolong," tambah Soo Young.

"Amora besok main lagi, ya?" Amora bertanya pada Jane.

"Boleh, Sayang. Besok main."

Setelah semua pulang, rumah nomor 7 kembali sunyi. Tapi sunyi yang berbeda. Kini ada kehangatan baru di rumah itu.

Jane menidurkan Hannah di boks bayi yang sudah disiapkan. Mario duduk di sampingnya, menatap putri mereka dengan takjub.

"Sayang, kita beneran punya anak."

"Iya, Mas. Beneran."

"Ini masih kayak mimpi."

"Iya, sama."

Mereka berpelukan, menikmati keheningan sore. Di boks bayi, Hannah tidur pulas dengan kedua tangan mungil di samping kepala. Napasnya teratur, wajahnya damai.

"Mas, kita harus jadi orang tua yang baik."

"Iya, Sayang. Kita belajar bareng."

"Nggak usah jadi sempurna. Yang penting, dia tahu kita sayang."

"Setuju."

---

Malam harinya, setelah Hannah tidur, Jane membuka ponselnya. Ada puluhan pesan di grup "Griya Asri". Semua foto dari acara tadi.

Irene: Fotonya bagus-bagus! Makasih Leon!

Leon: You're welcome! I love taking photos of our family.

Soo Young: Hannah cantik banget.

Jisoo: Mirip Jane pas bayi.

Chaeyoung: Besok kita main lagi, ya!

Endy: Selamat malam, Hannah. Mimpi indah.

Elgi: Besok gue siap jagain kalau lo butuh.

Jane membaca semua pesan itu dengan senyum. Matanya berkaca-kaca.

"Mereka luar biasa, Mas."

"Iya, Sayang. Kita beruntung."

Malam itu, di rumah nomor 7, keluarga kecil itu beristirahat dengan tenang. Hannah tidur nyenyak di boksnya, Jane dan Mario tidur di kamar dengan pintu terbuka agar bisa mendengar jika Hannah menangis.

Di luar, lampu-lampu Griya Asri mulai meredup. Tapi di setiap rumah, ada hati yang hangat, bersyukur atas anggota baru dalam keluarga besar mereka.

Selamat datang, Hannah. Selamat datang di rumahmu. Selamat datang di keluarga yang akan selalu menyayangimu.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!