Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Hening yang mematikan kini menyelimuti kamar utama rumah Julian. Suara isak tangis Clara di pojok ruangan telah mereda, berganti dengan suara napas berat Julian yang seolah tersedak oleh udara yang ia hirup. Di tengah-tengah ketegangan itu, Kenzie berlutut di atas lantai kayu yang kini terasa sedingin es.
Wajah Kenzie sudah kehilangan rona kemanusiaannya. Kulitnya yang biasanya seputih porselen kini tampak transparan, hampir seperti kaca yang mudah pecah. Kenzie merasakan denyut di lengan bawahnya, luka sayatan akibat pagar besi festival tadi tidak kunjung mereda. Justru, rasa sakit itu menjalar hingga ke bahu, menarik paksa sisa-sisa energi yang ia miliki.
Darahnya terus menetes. Merah keemasan, kental dan berbau harum mawar yang magis. Kenzie memejamkan mata, memusatkan seluruh sisa kesadarannya untuk mengarahkan aliran darah itu ke bibir Elena yang membiru. Ia bisa merasakan setiap tetes yang keluar dari tubuhnya adalah detik-detik dari sisa kekuatannya sendiri.
Selama empat ratus tahun, Kenzie belum pernah membiarkan darahnya mengalir sebanyak ini di luar kendalinya. Di festival tadi, Lyana dan rencana liciknya telah memicu kebocoran energi yang fatal dan sekarang, tindakan medis supranatural yang ia lakukan pada Elena adalah sebuah bunuh diri perlahan.
"Kenzie... cukup." bisik Julian.
Julian menatap dengan mata yang melebar. Ia melihat bagaimana tangan Kenzie mulai gemetar hebat. Ia melihat bulir keringat dingin membanjiri dahi gadis itu. Namun yang paling mengerikan adalah ia melihat cahaya di mata Kenzie mulai meredup, seolah api abadi di dalamnya sedang kekurangan bahan bakar.
"Kubilang cukup!" Julian mencoba meraih lengan Kenzie, namun Kenzie menepisnya dengan sisa tenaga yang mengejutkan.
"Diam, Julian." suara Kenzie hampir tidak terdengar, hanya berupa desisan parau. "Jika aku berhenti sekarang, dia akan mati dalam hitungan menit. Darahku adalah obat, biarkan aku menyelesaikannya."
Julian terpaku, merasa seperti bajingan paling hina di alam semesta. Ia, seorang Aethern yang bersumpah untuk melindungi, kini justru membiarkan seorang gadis yang ia klaim ia cintai, sekarat demi menyelamatkan wanita yang telah menemaninya menua. Egoisme dan pengabdian bertarung di dalam dadanya, menciptakan badai emosi yang membuatnya lumpuh.
Tetesan terakhir jatuh. Kenzie menarik lengannya dengan gerakan kaku. Seketika itu juga, warna mulai kembali ke pipi Elena. Napasnya yang tadinya tersengal dan penuh dahak darah, kini perlahan menjadi tenang dan teratur. Denyut nadinya yang tadi sempat hilang, kini berdenyut kembali dengan ritme yang lebih kuat, didukung oleh vitalitas murni dari darah Kenzie.
Elena tidak terbangun, namun ia tampak seperti sedang tidur nyenyak, bukan lagi seperti mayat yang menunggu dikubur.
Julian segera memeriksa nadi Elena. Ia menghela napas panjang, sebuah kelegaan yang luar biasa menyapu dirinya hingga ia hampir jatuh terduduk. "Dia stabil Kenzie, dia stabil."
Julian menoleh ke arah Kenzie, hendak mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Namun, kalimat itu tersangkut di tenggorokannya.
Kenzie tidak bergerak. Ia masih dalam posisi berlutut, namun kepalanya tertunduk dalam. Lengannya yang terluka terkulai lemas di atas seprai tempat tidur Elena. Luka sayatan itu masih terbuka lebar, tidak menutup seperti layaknya luka pada makhluk abadi. Darah keemasan itu kini hanya merembes pelan, karena tubuh Kenzie sudah tidak punya cukup energi untuk memompa atau bahkan untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
"Kenzie?" Julian mendekat, menyentuh bahu Kenzie dengan lembut.
Tubuh Kenzie limbung. Ia jatuh ke arah samping, dan dengan sigap Julian menangkapnya sebelum kepalanya menghantam lantai. Tubuh Kenzie terasa sangat ringan, hampir seperti helaian daun kering, dan suhunya sangat dingin. Lebih dingin dari es yang pernah Julian rasakan di puncak pegunungan Alpen berabad-abad lalu.
"Kenzie! Buka matamu!" Julian menepuk pipi Kenzie dengan panik.
Tidak ada reaksi. Pupil mata Kenzie melebar, menatap kosong ke langit-langit sebelum akhirnya kelopak matanya tertutup rapat. Napasnya sangat tipis, hampir tidak terasa.
Julian menyadari kesalahannya. Kenzie telah memberikan darahnya terlalu banyak. Di festival tadi, ia kehilangan darah karena serangan terencana dan di sini, ia menguras inti energinya untuk Elena. Bagi seorang The Constant, energi adalah nyawa. Tanpa energi, kemampuan regenerasi mereka akan mati, membuat mereka rentan seperti manusia biasa atau bahkan lebih buruk, mereka bisa memudar menjadi abu.
"Ayah... apa yang terjadi padanya?" Clara mendekat, wajahnya sembab namun matanya penuh kekhawatiran pada Kenzie.
"Dia kelelahan, Clara. Dia memberikan hidupnya untuk Ibu." suara Julian bergetar. Ia mengangkat tubuh Kenzie dengan hati-hati, seolah-olah Kenzie terbuat dari kristal yang retak. "Bantu Ayah. Siapkan kamar tamu. Kita tidak bisa membawanya ke rumah sakit. Mereka tidak akan mengerti mengapa darahnya bercahaya."
Julian membawa Kenzie ke kamar sebelah. Ia membaringkan Kenzie di atas tempat tidur yang besar. Dengan tangan gemetar, Julian mencoba membersihkan luka di lengan Kenzie. Julian melihat sayatan itu dengan rasa sakit di hatinya. Biasanya, bagi mereka yang abadi, luka seperti ini akan menutup dalam hitungan detik. Namun sekarang, luka itu tetap menganga, merah dan pedih.
Sel-sel di tubuh Kenzie sedang berjuang. Karena energinya habis, proses penyembuhan otomatisnya berjalan sangat lambat. Julian bisa melihat bagaimana daging di sekitar luka itu mencoba menyatu, namun kembali terlepas karena tidak ada suplai kekuatan murni dari jantung Kenzie.
"Maafkan aku, Kenzie... maafkan aku." Julian berbisik berulang kali.
Julian menatap luka di lengan Kenzie yang masih berdenyut malas, mengeluarkan sisa-sisa pendaran emas yang kian meredup. Rasa bersalah yang menghimpit dadanya kini berubah menjadi keputusasaan yang dingin. Julian tahu, jika ia membiarkan Kenzie dalam kondisi kosong seperti ini, proses penyembuhan alami gadis itu bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bahkan tubuh abadi itu akan menyerah pada kekosongan energi dan hancur menjadi debu sebelum fajar menyingsing.
Julian terdiam sejenak, jemarinya yang gemetar menggantung di atas luka Kenzie. Ia sedang berperang dengan logika dan hukum yang mengikat kaumnya.
Sebagai seorang Aethern, Julian memiliki aturan yang tertanam kuat dalam instingnya. Secara kodrat, Aethern adalah penyalur energi kehidupan. Jika seorang Aethern menyembuhkan luka manusia, mereka bertindak sebagai jembatan antara alam semesta dan kefanaan. Sebagai imbalannya, mereka akan mendapatkan sisa energi magis yang meluap dan secara otomatis memperpanjang umur manusia tersebut selama lima tahun. Itu adalah hukum pertukaran yang adil.
Namun, Kenzie bukan manusia. Kenzie adalah The Constant, makhluk yang sudah berdiri di luar batas waktu.
Apa yang terjadi jika keabadian bertemu dengan pemberi kehidupan? pikir Julian ragu.
Pikirannya melayang pada peringatan-peringatan lama yang pernah ia dengar di masa mudanya di Prancis. Penyatuan energi antara dua makhluk abadi dari jenis yang berbeda adalah hal yang sangat jarang, bahkan dianggap tabu. Ada risiko resonansi energi yang bisa menghancurkan keduanya. Namun, saat ia melihat wajah Kenzie yang kian pucat, nyaris transparan seperti embun pagi, keraguan itu musnah.
"Persetan dengan aturan." desis Julian parau.
Julian tidak bisa kehilangan Kenzie. Tidak setelah ia menyadari bahwa gadis ini adalah satu-satunya alasan jiwanya masih terasa hidup di tengah keabadian yang menjemukan.
Julian menarik napas dalam, mencoba menenangkan badai di dalam dadanya. Ia memposisikan dirinya duduk di tepi tempat tidur, kemudian dengan lembut mengangkat lengan Kenzie yang terluka. Julian meletakkan telapak tangan kanannya tepat di atas luka sayatan yang menganga itu. Ia tidak menyentuhnya secara fisik, melainkan menyisakan jarak beberapa milimeter, membiarkan panas dari telapak tangannya memicu aliran energi awal.
Julian memejamkan mata. Ia mulai memanggil inti cahayanya. Perlahan, cahaya biru lembut khas energi Aethern mulai merembes keluar dari sela-sela jari Julian. Cahaya itu tidak terang menyilaukan, melainkan pudar dan bergetar, seolah ragu untuk menyentuh darah emas Kenzie.
...•••...