Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Jangan Mati, Bangke!
Malam itu, sementara para maid dengan wajah pucat dan tangan gemetar menyiapkan makan malam di bawah pengawasan Lina yang dingin, dan sementara Eveline berdiri di sudut kamarku dengan 'proses belajar' barunya, aku duduk di dekat jendela, memandang bulan purnama yang mulai terbit di atas tembok istana.
Pertempuran baru sudah dimulai. Bukan pertempuran sihir atau pedang, tapi pertempuran saraf, ketakutan, dan kebencian. Dan di tengah semua itu, dua revenant-ku justru mulai menunjukkan tanda-tanda... perkembangan. Lina dengan pelukannya yang berdasarkan data. Eveline dengan pertanyaannya.
Aku menarik napas dalam. Dunia ini semakin rumit. Tapi setidaknya, aku tidak sendirian. Aku punya Eveline yang mulai bertanya. Aku punya Lina yang mencoba menghibur dengan caranya sendiri. Dan aku punya para maid yang kini terjebak antara kebencian dan ketakutan—umpan sempurna untuk memancing pembunuh yang masih berkeliaran.
Besok akan membawa tantangan baru. Tapi untuk malam ini, dengan bulan sebagai saksi, aku akan beristirahat. Dan berharap mimpi buruk tentang potongan-potongan tubuh kecil tak akan menghantuiku lagi.
Beberapa minggu berlalu di Menara Utara, dan rasa jenuh itu mulai menggerogoti seperti karat di besi tua. Aku sudah menjelajahi setiap sudut taman tertutup itu sampai hafal jumlah batu kerikil di jalan setapak. Sudah mencoba membaca setiap buku yang disediakan—kebanyakan sejarah membosankan Kekaisaran Aethelgard dan risalah sihir dasar yang tak kumengerti. Sudah mencoba bercakap dengan Eveline dan Lina, tapi percakapan dengan revenant yang logis dan datar itu lebih mirip ngobrol dengan asisten virtual yang error.
Yang paling parah: ini membosankan. Parah. Di Jakarta dulu, saat gabut, setidaknya aku bisa scroll TikTok, main game online, atau sekadar keliling naik motor sambil lihat suasana kota. Di sini? Hanya ada batu, kayu, dan langit yang sama setiap hari. Bahkan para maid yang wajahnya selalu menjijikkan itu jadi satu-satunya 'hiburan' yang bisa memancing emosi.
Suatu sore, saat rasa jenuh mencapai puncaknya, aku memanggil para maid ke ruang penerimaan. Mereka berempat datang dengan langkah berat, wajah mereka—Astrid, Elara, Freya, Giselle—masih dipoles dengan ekspresi jijik dan ketidaksukaan yang sempurna. Aku mengabaikannya. Sudah biasa.
"Aku butuh sesuatu," ucapku tanpa basa-basi, duduk di kursi sambil menatap mereka yang berdiri berjejer seperti sedang menghadap algojo. "Aku bosan. Sangat bosan. Aku ingin keluar dari area menara ini. Keluar pagar. Lihat sesuatu yang lain selain batu-batu ini."
Astrid, si pemimpin, langsung menyeringai. "Keluar? Kau pikir ini apa? Liburan? Kau tahanan—eh, 'Subyek Pengamatan Khusus'. Kau tak boleh keluar dari area yang ditentukan."
"Tahu," balasku datar. "Tapi aku jenuh. Bahkan kalau disuruh ngeseks sama kalian yang cantik-cantik sekalipun, itu juga bakal bosen akhirnya. Aku butuh perubahan pemandangan."
Kata-kata itu membuat mereka tersentak. Elara memerah padam, campur malu dan marah. "Kau... kau tak tahu malu! Bicaranya sembarangan!"
"Realistis saja," aku mengangkat bahu. "Tapi itu bukan intinya. Intinya, aku mau keluar. Dan kalian akan menemaniku."
Freya tertawa pendek, sinis. "Dan kenapa kami harus melakukannya? Perintah hanya menyuruh kami melayanimu di dalam menara. Bukan jadi pemandu wisata."
Nah, ini dia. Waktunya memainkan peran.
Aku berdiri perlahan, membuat mereka sedikit mundur. Aku sengaja membuat ekspresiku datar, suara rendah namun jelas.
"Kalian ingat ancamanku, kan? Tentang pelayanan yang tak memuaskan?" Aku menatap mereka satu per satu. "Selama ini, kalian melakukan minimum. Makanan diantarkan, kamar dibersihkan. Tapi wajah kalian... masih sama. Masih penuh kebencian. Itu tidak memuaskan."
Aku berjalan mendekat, dan mereka seperti anak ayam yang digiring, mundur serempak.
"Jadi, ini pilihannya. Satu dari kalian—hanya satu—akan menemaniku keluar hari ini. Hanya berjalan-jalan di sekitar area luar pagar, masih dalam pengawasan penjaga istana tentunya. Yang lain tetap di sini, dijaga Lina." Aku jeda, biarkan ancaman itu meresap. "Kalau kalian menolak... besok aku akan mengirim permintaan resmi ke Maharani. Laporan bahwa pelayanan dari maid Menara Utara tidak memuaskan, penuh sikap tidak sopan, dan bahwa aku meminta mereka diganti dengan... staf yang lebih kooperatif. Tentu dengan potongan gaji untuk ketidakmampuan kalian."
Astrid menggigit bibir, matanya berapi-api. "Kau... kau hanya mengancam! Gaji kami dari istana—"
"—bisa dipotong jika kinerja buruk," potongku cepat. "Atau kalian bisa dipecat. Dan ingat, siapa yang akan mempekerjakan mantan maid yang dipecat karena tak bisa melayani 'tamu istimewa' dengan baik? Reputasi kalian hancur."
Itu pukulan rendah. Aku tahu dari obrolan diam-diam Lina (yang sering mendengarkan mereka saat tak sadar) bahwa mereka dari keluarga sederhana, butuh gaji istana untuk menghidupi adik atau orang tua. Ancaman finansial adalah bahasa universal.
Giselle, yang biasanya paling pendiam, kali ini malah bersuara, suaranya bergetar tapi penuh kebencian. "Kau memang monster sejati. Bukan cuma jijik, tapi juga keji. Memanipulasi kebutuhan orang."
Aku tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke mata. "Panggil aku apa saja. Yang penting, satu dari kalian ikut. Sekarang, pilih. Atau aku yang pilih."
Keempat maid itu saling pandang, pertarungan batin terlihat jelas di wajah mereka. Kebencian vs kebutuhan. Harga diri vs bayaran.
Akhirnya, Astrid menghela napas berat, kekalahannya terasa pahit di udara. "Aku yang akan pergi. Yang lain tetap di sini."
Elara memprotes, "Astrid, kau tidak harus—"
"Diam, Elara," potong Astrid, suaranya lelah. "Lebih baik satu yang menderita daripada kita semua kehilangan pekerjaan."
Aku mengangguk, puas. "Bagus. Astrid, bersiaplah. Kita berangkat sebentar. Eveline akan ikut." Aku menoleh ke Lina yang berdiam di dekat tangga. "Lina, kau jaga yang tiga ini di sini. Pastikan mereka... tetap di area menara."
"Dipahami, Tuanku," jawab Lina datar.
Para maid lainnya memandang Astrid dengan campuran simpati dan kelegaan bahwa bukan mereka yang terpilih. Tatapan mereka padaku masih penuh kebencian, tapi kini ada sedikit rasa takut yang berbeda—takut pada keacuhan dan manipulasi dinginku.
Saat Astrid dan aku (dengan Eveline membuntuti) berjalan menuju pintu pagar taman, dia berbisik, suara penuh getir, "Kau bahagia sekarang? Memaksa orang dengan ancaman?"
Aku tidak langsung menjawab. Hanya saat penjaga di pagar membuka kunci gerbang kecil—dengan tatapan waspada dan izin khusus yang sudah kudapatkan dari pengawal pribadi Maharani sebelumnya—aku baru berkata, suara rendah agar hanya dia yang dengar.
"Kau pikir aku menikmati ini? Memerankan monster? Mengancam orang?" Aku menghela napas. "Aku jenuh, Astrid. Benar-benar jenuh. Dan kadang, satu-satunya cara membuat orang di dunia aneh ini bergerak adalah dengan menjadi lebih aneh dan lebih menakutkan daripada mereka."
Astrid menatapku, bingung. "Apa maksudmu? Kau memang monster. Kau ubah Lina kecil jadi... itu."
Aku tak menjawab. Biarlah dia berpikir begitu. Lebih aman.
Kami melangkah keluar dari pagar. Untuk pertama kalinya dalam minggu-minggu, aku melihat pemandangan yang berbeda: jalan setapak batu yang mengelilingi kompleks menara, pepohonan tinggi yang membatasi area istana bagian dalam, dan di kejauhan, atap-atap bangunan lain yang megah.
Udara terasa berbeda. Bebas. Meski hanya beberapa langkah dari sangkar.
Astrid berjalan di sampingku dengan jarak aman, tubuhnya kaku. Eveline mengikuti dari belakang, matanya terus mengawasi sekeliling.
Dan untuk beberapa saat, dalam keheningan yang canggung itu, dengan langkah kaki di atas batu dan desir gaun Astrid, rasa jenuh itu sedikit terobati. Karena setidaknya, ada pemandangan baru. Dan siapa tahu, mungkin dalam perjalanan singkat ini, ada sesuatu—atau seseorang—yang akan memberitahuku kebenaran tentang siapa yang membunuh Lina kecil.
Atau setidaknya, memberikanku sedikit kedamaian sebelum aku harus kembali berakting sebagai monster di menara tinggi itu.
Setelah keluar dari pagar, aku menghirup udara 'bebas' dalam-dalam. Tapi rasa bosan itu masih menempel seperti kabut tebal. Ya, pemandangan berubah—dari batu taman ke batu jalan setapak, dari pagar tinggi menara ke pohon-pohon tinggi perimeter istana. Wow. Perubahan yang menggemparkan.
Astrid berjalan di sampingku dengan jarak dua langkah, tubuhnya kaku seperti patung. Gaun maid hitamnya berdesir pelan setiap kali dia melangkah, tapi selain itu, sunyi. Dia tidak bicara. Tidak menatapku. Hanya berjalan seperti robot yang diprogram untuk menemani.
Aku tahu kenapa. Dia membenciku. Kalau dia suka—atau setidaknya, tidak benci—mungkin dia akan bertanya ingin kemana, atau menceritakan sedikit tentang area istana, atau bahkan sekadar basa-basi cuaca. Tapi tidak. Hanya diam. Dingin.
Aku tidak terlalu ambil pusing. Fokusku cuma pada langkah kaki, pada suara burung di pepohonan, pada angin yang menyentuh kulit—hal-hal kecil yang coba kuhargai agar otakku tidak benar-benar mati karena kebosanan.
Setelah berputar-putar hampir satu jam, rasa jenuh mulai menyerang lagi. Pemandangan yang 'baru' tadi ternyata juga cepat menjadi monoton. Aku berhenti, menatap Astrid yang ikut berhenti dengan gerakan kaku.
"Kenapa dari tadi diam banget?" tanyaku, suara datar. "Gak ada yang mau ditanyain? Atau cerita? Atau minimal ngomel tentang cuaca?"
Astrid hanya menatap lurus ke depan, bibirnya terkunci rapat. Tatapannya kosong, sengaja menghindari kontak mata. Tidak ada jawaban. Hanya kebencian yang disimpan rapat-rapat.
Aku menghela napas, putus asa. "Yaudah. Pulang aja. Sama aja bosannya."
Kami berbalik arah, mulai berjalan kembali ke arah menara. Jarak sekitar dua ratus meter lagi. Suasana semakin sunyi. Bahkan burung-burung sepertinya berhenti berkicau.
Lalu, sesuatu mendesing di udara.
Thu-thuck!
Suara tumpul yang mengerikan.
Astrid terhentak ke depan, terhuyung. Dari punggungnya, tepat di bawah bahu kiri, sebuah anak panah pendek dengan bulu berwarna gelap menancap dalam. Darah segera merembes, membasahi gaun hitamnya menjadi lebih gelap.
"NGHH—!" erangnya, suara tercekik rasa sakit dan keterkejutan.
Refleksku bekerja sebelum pikiranku. Aku melihat siluet samar di balik pepohonan di sisi lain jalan—sebuah busur yang lagi ditarik.
"Awas!" teriakku, mendorong Astrid dengan kasar ke samping.
Swoosh!
Anak panah kedua melesat tepat di tempat dia berdiri tadi, menancap di tanah dengan getaran keras.
"EVELINE! SIAGA PENUH! BURU!" teriakku, suara pecah oleh adrenalin.
Dari sampingku, Eveline seperti meledak. Tubuhnya yang anggun tiba-tiba menjadi blur. Sorot mata birunya berubah menjadi merah darah dalam sekejap. Dia melesat ke arah sumber panah dengan kecepatan yang tak manusiawi, meninggalkan jejak angin yang membuat daun-daun beterbangan.
Astrid menjerit—jeritan sakit yang melengking, penuh ketakutan. Dia jatuh berlutut, tangan mencoba meraih anak panah di punggungnya tapi tidak berani menyentuh. "Sakit... oh Langit, SAKIT!"
Aku berlutut di sampingnya, mata masih awas ke sekeliling. "Jangan dicabut! Nanti darah makin deras—"
THWIP!
Rasa panas yang tajam dan mendadak menembus perutku, di sisi kanan, tepat di bawah tulang rusuk. Aku terhenyak, napas tersedak. Melihat ke bawah, sebuah anak panah identik dengan yang menancap di Astrid kini mencuat dari perutku. Sakitnya... seperti ditusuk besi panas. Tapi yang lebih menakutkan adalah sensasi basah yang langsung menyebar—darahku sendiri.
"Sialan," geramku, suara serak. "Eveline! SERBU! TEMUKAN DAN MATIKAN DIA! SEKARANG!"
Tidak ada jawaban dari Eveline, tapi dari arah pepohonan terdengar suara benturan, dedahan, dan satu jeritan pendek yang terputus tiba-tiba. Lalu... sunyi.
Astrid menatapku dengan mata membelalak, wajahnya pucat bukan hanya karena sakit, tapi juga karena melihat panah di perutku. "Kau... kau juga..."
"Gak usah banyak omong," potongku, sambil berdiri dengan sempoyongan. Rasa pusing mulai menyerang. Darah mengalir deras, membuat celana panjangku basah dan hangat. Tapi Astrid kondisinya lebih kritis—panahnya dekat paru-paru, mungkin sudah menusuk sesuatu yang vital.
Aku membungkuk, meraihnya. Dia lebih ringan dari yang kuduga.
"Jangan... tinggalkan saja aku..." rintihnya, suara lemah. "Lari... selamatkan dirimu..."
"BACOOT!" hardikku, suara ketus tapi tanpa amarah asli. "Gue bawa lo karena lo gak bisa jalan sendiri, bangke! Sekarang diam!"
Aku mengangkatnya dengan susah payah—sakit di perutku seperti dibakar—lalu mulai berlari tertatih-tatih ke arah menara. Setiap langkah membuat panah di perutku bergoyang, memicu gelombang sakit baru. Napasku tersengal.
Astrid merintih di gendonganku. "Kau... kau gila... kita berdua akan mati..."
"LO JANGAN MATI YAH!" teriakku, lebih keras dari yang dimaksud, sambil terus berlari sempoyongan. "GUE MALES NGEBANGKITIN LU! BANGKE!"
Dia terdiam sebentar, mungkin syok mendengar omelanku. Lalu, dengan suara lemah yang nyaris tak terdengar, "Kau... kau memang aneh..."
"LO KIRA GUE KESENANGAN?!" erangku, menahan sakit yang semakin jadi. "KAGAK! GUE JUGA SAKIT, NJIR! TAPI GUE GAK MAU NGEBIARIN ORANG MATI GITU AJA, APALAGI KALO MASIH BISA DISELAMETIN!"
Lari-lari kecil yang menyiksa itu terasa seperti marathon. Pandanganku mulai berkunang-kunang. Tapi akhirnya, pagar menara terlihat. Gerbang kecil masih terbuka.
Aku terhuyung masuk, lalu berhenti sejenak, napas ngos-ngosan. Dan di sanalah pemandangan lain menyambut.
Di halaman dalam menara, tepat di depan pintu masuk, terbaring tiga mayat pria berseragam gelap—bukan seragam penjaga istana. Mereka tewas dengan cara yang brutal: leher terpuntir, dada bolong, kepala hampir terlepas. Dan berdiri di tengah-tengah mereka, dengan gaun maid yang sedikit robek dan tangan berlumuran darah, adalah Lina. Dia berdiri tenang, matanya kosong, seperti baru saja menyelesaikan tugas berkebun.
Astrid di gendonganku menjerit lemah melihat pemandangan itu. "Demi Langit..."
Aku menggeleng-geleng kepala, rasa pusing dan sakit bercampur dengan kegeraman. "Ternyata... ada musuh di dalam juga. Emang bener maharani gak gini... pasti bawahannya yang ambil inisiatif."
Tapi yang lebih mengkhawatirkan: janji Ratri. Jika aku terluka parah, atau mati... dia akan menghancurkan kekaisaran. Dan saat ini, ada panah menancap di perutku dan darah yang terus mengucur.
"Astrid, denger," ucapku, suara mulai melemah. "Kita masuk. Sekarang. Lina! Bantu!"
Lina segera mendekat, mengambil Astrid dari gendonganku dengan mudah. Aku terhuyung masuk ke ruang penerimaan, lalu roboh di lantai. Elara, Freya, dan Giselle yang sedang bersembunyi di balik meja muncul dengan wajah pucat dan terhoror.
"Kalian... gak ada yang bisa pertolongan pertama? Ilmu medis?" tanyaku, suara terengah.
Mereka menggeleng, wajah kosong ketakutan. Giselle berbisik, "Kami cuma maid... kami diajari bersih-bersih dan masak, bukan..."
"Bangsat," sumpahku pelan. "Oke... dengar. Elara, ambil kain bersih—banyak. Freya, air mendidih dan alkohol kalau ada. Giselle, cari gunting kecil yang tajam dan benang kuat. CEPAT!"
Mereka terpana sejenak, lalu berlari saat aku menjerit, "SEKARANG!"
Sementara menunggu, aku melihat Astrid yang dibaringkan Lina di atas meja panjang. Dia masih sadar, tapi napasnya pendek dan berbunyi desis—pertanda buruk. Panahnya harus dicabut, tapi aku tidak berani sembarangan. Untukku sendiri... rasa sakitnya sudah mulai berubah menjadi mati rasa yang berbahaya. Aku tahu ini shock.
Elara kembali dengan tumpukan kain bersih. Freya membawa baskom air panas dan sebotol minuman keras berwarna bening—mirip vodka. Giselle membawa gunting jahit dan gulungan benang tebal.
"Oke," ucapku, mencoba tetap tenang meski dunia berputar. "Astrid dulu. Dia lebih kritis." Aku merangkak mendekati meja. "Lina, pegang dia kuat-kuat. Dia bakal jerit."
Lina mengangguk, meletakkan tangan di bahu dan pinggul Astrid dengan tekanan yang pasti.
"Astrid, denger," aku menatap matanya yang dipenuhi rasa sakit dan ketakutan. "Gue harus cabut panahnya. Ini bakal sakit banget. Tapi kalo nggak, lo mati. Nahan, ya?"
Dia mengangguk, gemetar, gigi mengatup.
Aku merendam kain dalam alkohol, membersihkan area sekitar luka sebisaku. Lalu, tangan kananku menggenggam gagang panah. "Satu... dua..."
Pada hitungan ketiga, aku menarik dengan cepat dan tegas.
SCHLUCK!
Suara mengerikan. Astrid menjerit keras, tubuhnya melengkung, tapi ditahan kuat oleh Lina. Darah segar memancur dari lukanya. Aku langsung menekan dengan kain bersih yang sudah dilipat tebal, menekan kuat-kuat.
"Tekan di sini, jangan lepas!" perintaku pada Elara yang wajahnya pucat hijau. Dia mengangguk gemetar, mengambil alih tekanan.
Sekarang giliranku. Aku duduk bersandar di kaki meja, melihat panah di perutku sendiri. Ini lebih sulit. Tapi tidak ada pilihan.
"Freya, bersihin area sekitar luka gue pake alkohol. Giselle, siapin benang dan jarum. Lina, kalo gue pingsan, lo yang lanjutin."
Lina mengangguk. "Dipahami, Tuanku."
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menggenggam gagang panah di perutku sendiri. Rasa sakit yang tajam membuatku bergidik. "Satu... dua..."
SCHLUCK!
Kali ini, jeritan itu keluarku sendiri. Dunia putih sejenak. Rasa sakitnya begitu dalam, menusuk sampai ke tulang belakang. Darah mengucur deras. Aku segera menekan dengan kain lain, tangan gemetaran.
"Freya... bersihin... Giselle... jahit..." ucapku, suara sudah seperti desis.
Freya dengan tangan gemetar membersihkan lukaku dengan alkohol—rasanya seperti disetrika api. Giselle, dengan wajah berkeringat dan mata berkaca-kaca, mulai menusukkan jarum ke kulitku. Jahitannya berantakan dan tidak rapi, tapi itu menutup luka.
Prosesnya primitif, menyakitkan, dan berantakan. Tapi saat jahitan terakhir diikat, tekanan kain berhasil memperlambat pendarahan. Aku masih kehilangan banyak darah, tapi mungkin... mungkin tidak langsung mati.