"Cepat tutup pintu dan jendela, jangan sampai terbuka!"
Semua warga yang ada di desa Bondowoso tidak ada yang pernah berani keluar bila sudah Maghrib datang, mereka hanya berdiam diri dalam rumah sampai nanti pagi menyapa.
Dulu desa ini tidak seperti itu, namun sejak beberapa bulan terakhir maka mereka mendapat teror yang begitu mengerikan sekali, semua ini akibat kematian dari seorang gadis bernama Mirasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Arifin mengenali
Satu sosok tubuh seorang gadis tergantung begitu saja di atas pohon kapuk, bahkan baju yang sudah dia pakai sama sekali tidak bisa dikenali akibat darah yang terus keluar dari dalam tubuh dan juga tercabik-cabik oleh sesuatu, mereka semua yang ada di sana masih penasaran siapa yang telah meninggal dunia dengan cara seperti ini.
Sebab wajah gadis itu tertutup dan tidak bisa terlihat sama sekali bagaimana rupa serta dia ini siapa, namun yang jelas saat ini Narti begitu berdebar sekali karena dia merasa seperti ada sesuatu yang bersangkutan dengan gadis tersebut sehingga dia terduduk lemah tanpa berkedip menatap jasad itu.
Mau mengenali dari baju juga tidak mungkin karena baju itu telah robek di sana dan di sini belum lagi darah yang terus membasahi baju tersebut, jelas dia sama sekali tidak bisa menebak apakah ini Mirasih atau orang lain yang sudah meninggal dunia dengan cara sadis karena di bunuh oleh seseorang.
Namun yang jelas saat ini Narti merasa Dia memiliki hubungan dengan gadis yang meninggal dengan cara tergantung itu, kalau dia sudah menepis prasangka buruk tersebut namun tetap saja tidak bisa hilang dari dalam hati ini, mungkin itu yang di sebut sebagai firasat seorang Ibu ketika ada sesuatu yang tidak beres kepada sang anak.
Sebab Mirasih juga pergi sejak tadi malam dan sampai sekarang belum kembali sehingga wajar saja bila Narti berpikir demikian, meski batin dia terus aja menolak dan mengatakan bahwa itu bukan Mirasih tapi ada firasat lain yang mengatakan bahwa itu mungkin saja anak dia yang telah tidak pulang semalaman.
Ini para warga belum ada yang berani menyentuh tubuh gadis tergantung itu karena mereka sedang menunggu polisi yang akan menurunkan, jadi sekarang mereka hanya bisa berkumpul di bawah pohon sambil melihat dan sebagian orang juga malah mengambil foto untuk di sebarkan Karena sekarang begitu banyak media sosial menyebar berita bila ada sesuatu yang mengerikan seperti ini.
"Tapi warga kita sama sekali tidak ada yang kehilangan anak kan?" Pak RT menatap seluruh warga yang sudah berkumpul.
"Alhamdulilah tidak, Pak." jawab yang lain serentak.
"Maaf, tapi Mirasih malam ini dia tidak pulang Dan semoga saja ini bukan dia." Arifin menjawab di hadapan Pak RT.
"Hah ke mana Mirasih pergi dan Kenapa dia tidak pulang?!" Pak RT juga jadi kaget karena tadi dia sudah agak lega.
"Dia berpamitan ingin menonton organ tunggal tapi sampai sekarang memang belum kembali." jawab Arifin.
"Ya Allah tapi semoga ini bukan dia." harap Pak RT sambil menoleh kepada mayat tergantung itu.
"Lagian kok ya bisa nonton organ tunggal saja sampai tidak pulang semalaman." celetuk Ibu Ibu julid.
"Paling Mirasih pergi dengan Jarwo karena dia kan cinta berat dengan pria itu." sahut Fitri.
"Ya gimana tidak cinta berat orang jarwo itu orang kaya, jadi pasti Mirasih mau melakukan apa saja biar bisa menjadi menantu keluarga Pak Sarbeni." timpal Aulia.
"Tolong jangan berbicara seperti itu karena kondisi kita saat ini sedang tidak baik-baik saja, mohon untuk menjaga lisan dan tidak menyakiti orang lain." Pak RT berkata dengan sangat bijak.
"Jangan hanya bisa mengetahui orang karena kita juga bukan manusia yang sempurna." Arifin menatap Aulia dan juga Fitri dengan tatapan tajam.
"Loh kami kan berbicara fakta tentang Mirasih ini, dia tidak pulang semalam dan sudah pasti dia pergi bersama dengan Jarwo." Fitri menjelaskan tanpa ada rasa bersalah.
"Kan semua orang yang ada di desa ini juga tahu kalau Mirasih begitu mencintai Jarwo." sambung Aulia.
Arifin rasanya ingin berdebat lagi dengan mereka namun dia merasa percuma setelah menyadari bahwa rombongan para wanita ini tidak akan pernah bisa berhenti untuk mengatai Mirasih, jadi percuma saja dia berdebat dengan mereka semua dan itu hanya akan membuang tenaga serta emosi yang tidak akan bisa tersalur.
Ketika Pak RT akan berbicara lagi kepada mereka semua, saat itu mobil polisi datang dan mereka semua segera menyingkir karena polisi yang akan segera menurunkan mayat gadis ini, Narti yang ada di sana sudah tidak bisa berkata apa-apa karena dia pun sangat berdebar dan ingin melihat apa memang ini sang anak.
Rasa tubuh begitu lemah seolah tidak berdaya karena dia terus saja berdebat di dalam hati, perdebatan yang begitu ketara antara ini memang sang anak atau bukan tapi yang jelas di sisi lain dia merasa bahwa ini memang Mirasih yang telah mengalami nasib buruk ketika dia pergi tadi malam.
"Kamu jangan panik dulu seperti itu karena belum tentu itu Mirasih." Puspita mendekati Narti.
"Ta..tapi aku sangat takut bila ternyata memang itu adalah Mirasih." Narti berkata dengan suara gemetar.
"Tidak, itu pasti bukan dia karena tidak mungkin ada warga sini yang mau menyakiti Mirasih sampai seperti itu." Puspita berkata dengan sangat yakin.
Narti memang sudah sangat ketakutan dan bahkan sekarang seluruh tubuh terasa begitu dingin, walau Puspita mengatakan demikian namun tetap saja hati ini menolak untuk percaya Karena dia memang merasa bahwa sang anak telah mengalami nasib buruk dan sekarang tergantung di atas pohon kapuk dengan keadaan tubuh hancur lebur.
"Ya Allah tega sekali yang membunuh dengan cara seperti ini." Puspita menahan nafas ketika mayat gadis itu sudah mulai turun.
"Seluruh organ tubuh dia keluar semua, ini seperti dibelah dengan sesuatu ya." ujar Fitri yang sudah terlebih dahulu mendekati.
"Ayo lihat wajah dia apakah itu memang Mirasih atau orang lain." Aulia sudah tidak sabar.
"Ya mana boleh kita memegang karena sudah ada polisi." Fitri memberi kode kepada Aulia.
"Pak polisi cepat lihat wajah dia ini, kami ingin tahu siapa yang sudah meninggal dunia." Aulia dengan tidak tahu malu mendesak polisi tersebut.
"Tolong jangan mendekat seperti ini dan jangan sampai menyentuh mayat." polisi memberi peringatan kepada mereka berdua.
"Warga kami ada yang menghilang satu orang, Pak! tolong pastikan apa ini memang Mirasih atau orang lain yang tergantung di sini." Pak RT mewakili untuk berbicara.
"Kita harus membawa mayat ini terlebih dahulu agar bisa untuk diselidiki lebih lanjut." ujar polisi.
Namun Arifin sudah tidak sabar lagi dan kemudian dia menerobos rombongan para manusia yang berjejer rapat karena mereka semua penasaran dengan mayat itu, dia menyibak rambut yang menutupi wajah sang gadis dan seketika dia ambruk di tanah ketika sudah melihat sendiri bagaimana wajah gadis itu walau mengalami banyak luka namun tetap saja Arifin bisa mengenali.
Selamat pagi besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
anak nya slah masih ja di bela
kasihan bgt
nanti pas setan datang mau di ajak nya masak kali ya