Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.
Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.
Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Bau amis yang mengendap di setiap serapan udara rumah tidak pernah benar-benar hilang—tidak peduli berapa liter cairan pembersih yang Doni semprotkan ke setiap lekukan lantai, dan celah sudut. Bau itu selalu ada, menyelinap melalui celah-celah pintu, mengendap di balik tirai renda yang sudah mulai menguning, bahkan mengikat diri pada serat-serat bantal di ruang tamu yang jarang sekali digunakan untuk menerima tamu.
Axel menatap bayangannya yang terpantul di kaca cermin berdiri tinggi di sudut ruangan. Kulitnya tampak pucat, dan ketika ia mengangkat tangan untuk menyentuh dagunya, jemarinya sedikit bergetar halus yang hanya bisa dilihat oleh orang yang sudah terbiasa mengamati setiap detil tubuhnya sendiri. Ia tidak lagi mengenali sosok yang ada di cermin itu.
Dokter yang dulu dengan senang hati menghabiskan waktu berjam-jam merawat pasien di ruang rawat inap, yang terkadang bahkan menyisihkan gajinya untuk membantu mereka yang tidak mampu, sudah lenyap tanpa jejak. Yang tersisa hanyalah seorang penjaga yang menjaga rahasia yang mengandung darah dan penderitaan.
𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘪𝘱𝘪𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘨𝘦𝘳𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. Bisik suara batinnya.
Pintu ruang tamu terbuka perlahan. Doni masuk dengan langkah yang berat, setiap langkah seolah menghabiskan semua tenaga yang tersisa di dalam tubuhnya yang sudah menginjak usia enam puluhan.
“Kita tidak bisa terus begini, Axel. Ayah tidak bisa lagi membersihkan… kotoran dan noda-noda itu sendirian. Badan ini sudah tidak seperti dulu. Kadang-kadang aku merasa seperti akan roboh begitu saja di tengah menyeka lantai yang terus-menerus terlihat kotor meskipun sudah dibersihkan berkali-kali.”
Axel menoleh dari cermin, matanya bertemu dengan pandangan ayahnya dengan kesadaran yang menyakitkan. Ia tahu Doni benar. Mereka semua memiliki peran masing-masing yang tidak bisa ditinggalkan: Axel harus tetap bekerja di rumah sakit agar nama keluarga Bahng tetap terjaga dan agar mereka memiliki akses ke peralatan medis serta obat-obatan yang tidak bisa didapatkan dengan cara biasa.
Samuel, sahabatnya, harus berada di laboratorium pusat penelitian biomedis tempat ia bekerja agar bisa terus mengawasi perkembangan teknologi yang mungkin bisa membantu mereka, sekaligus menyembunyikan jejak-jejak eksperimen yang mereka lakukan di bawah tanah rumah. Dan Lusy… Lusy membutuhkan perawatan yang lebih telaten dari biasanya, terutama ketika ia dalam kondisi sadar—saat naluri yang tak terkendali mulai muncul dan tubuhnya melakukan hal-hal yang membuat hati mereka semua berdenyut kencang dengan rasa takut dan kesedihan.
𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘢𝘯. 𝘛𝘦𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘩𝘢𝘴𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘪𝘯. 𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘦𝘣𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘶𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵. Pikir Axel.
***
Ana adalah perawat di unit gawat darurat Rumah Sakit Umum Seoul Selatan—nama lengkapnya Yoo Ana, seorang wanita berusia tiga puluh satu tahun yang sering muncul dalam daftar teguran dari manajemen rumah sakit.
Namun, masalahnya bukan karena kemampuan medisnya yang buruk; sebaliknya, rekan-rekannya sering mengatakan bahwa Ana adalah salah satu perawat paling terampil di bagiannya, yang bisa tetap tenang bahkan dalam kondisi darurat paling ekstrem. Masalahnya terletak pada disiplin yang kurang dan kebiasaan meminta uang muka gaji jauh sebelum waktunya. Beberapa kali ia bahkan mengajukan permohonan cuti tanpa gaji yang tidak masuk akal hanya untuk mendapatkan uang tunai segera.
Melalui penyelidikan singkat yang dilakukan Samuel, yang memiliki keahlian khusus dalam mencari informasi tersembunyi di dalam jaringan komputer, terungkap bahwa Ana sedang terlilit utang judi yang ditinggalkan oleh suaminya yang sudah meninggal dua tahun lalu.
Suaminya, seorang pegawai negeri sipil yang dulunya dikenal sebagai orang jujur dan pekerja keras, ternyata telah menyembunyikan kecanduan judi selama bertahun-tahun, berutang kepada sekelompok lintah darat yang terkenal dengan cara kerja mereka yang keji dan tak kenal ampun.
Mereka sudah beberapa kali mengganggu Ana di rumah dan tempat kerjanya, mengancam akan mengambil apa saja yang ia miliki jika utang tidak segera dilunasi—termasuk ginjalnya yang masih sehat, karena salah satu dari mereka membutuhkan donor organ untuk anaknya yang sakit parah.
Pertemuan itu dijadwalkan pada hari Sabtu malam di sebuah kafe kecil bernama Night Blue yang terletak di pinggiran kota Seoul, tepat di perbatasan dengan daerah yang lebih kumuh dan penuh dengan aktivitas malam yang tidak selalu terpuji. Kafe itu memiliki pencahayaan redup dan remang-remang, dengan lampu-lampu gantung berbentuk bola yang ditutupi kain sutra merah muda membuat suasana terasa seperti berada di dalam kubah yang terisolasi dari dunia luar.
Ana datang tepat waktu. Ia mengenakan baju kerja rumah sakit. Wajahnya tampak lelah sekali. Ia melihat sekeliling ruangan dengan tatapan waspada sebelum mendekati meja di sudut paling dalam yang sudah ditempati Axel, dan ketika ia duduk di depan nya, jemarinya terus-menerus meremas tali tasnya yang sudah mengelupas di bagian tepinya. Tas itu tampak sangat tua, mungkin merupakan satu-satunya kenang-kenangan dari masa sebelum hidupnya terbalik menjadi seperti sekarang.
“Dokter Bahng. Anda mengirim pesan bahwa Anda memiliki tawaran untuk saya. Maaf... Saya… saya tidak punya banyak waktu. Jika ini hanya tentang kesalahan saya di rumah sakit—”
“Satu miliar won.” Ucap Axel tanpa basa-basi, dan tegas. Ia meraih sebuah map hitam yang terletak di sebelah cangkir kopinya dan meletakkannya di atas meja dengan suara dentuman yang tidak terlalu keras tapi cukup untuk membuat Ana terkejut dan mengangkat wajahnya.
“Utangmu akan dilunasi seluruhnya malam ini—semua tagihan yang ada di tangan lintah darat itu akan dibayar dengan uang tunai yang tidak bisa dilacak. Dan sisanya, sekitar tiga ratus juta won, akan masuk ke rekeningmu setelah pekerjaan yang akan kamu lakukan selesai.”
Ana terkesiap, matanya yang tadinya tampak redup dan lesu seketika membelalak lebar. Bibirnya terbuka tapi tidak mengeluarkan suara sama sekali selama beberapa detik, ia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya. Kemudian ia menutup mulutnya dengan tangan kanannya yang gemetar.
“Satu… satu miliar?” Bisiknya akhirnya.
“Pekerjaan apa yang bisa bernilai mahal seperti itu, Dokter Bahng? Apa… apa Anda menyuruh saya membunuh seseorang? Karena saya tidak bisa melakukan itu—meskipun saya sangat membutuhkan uang, saya tidak bisa membunuh orang lain dengan tangan saya sendiri.”
Axel menggelengkan kepalanya perlahan, wajahnya tetap tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia mengambil gelas air mineral dan menenggaknya sedikit, merasakan kesegaran air dingin yang mengalir ke tenggorokannya yang kering.
“Lebih sulit dari itu. Aku tidak akan menyuruhmu membunuh seseorang. Aku akan menyuruhmu merawat seseorang yang tidak boleh diketahui oleh dunia luar bahwa dia masih hidup. Kamu akan tinggal di rumahku selama masa pekerjaan—tidak ada izin untuk keluar tanpa izinku, kamu tidak akan boleh berkomunikasi dengan dunia luar dengan cara apa pun, baik melalui telepon seluler, media sosial, maupun surat. Dan selama bekerja di sana, kamu akan melihat hal-hal yang mungkin akan membuatmu meragukan keberadaan Tuhan sendiri.”
Ana menelan ludah. Ia bisa merasakan rasa takut yang mendalam akan apa yang mungkin akan ia hadapi, dan rasa rakus yang tidak bisa dihindari akan uang yang bisa menyelamatkan hidupnya dari jeratan utang yang semakin mengerut. Bayangan wajah pemimpin lintah darat itu yang selalu menyeringai dengan cara yang menjijikkan selalu muncul jelas di benaknya, bersama dengan ancaman yang pernah ia ucapkan beberapa hari yang lalu.
“𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘳 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘱𝘦𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘬𝘪𝘵𝘢. 𝘋𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘮𝘪𝘯, 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨.”
Keputusan itu tidak sulit dibuat. Bahkan jika pekerjaannya itu seperti neraka yang nyata, apa mungkin bisa lebih buruk dari ancaman kehilangan organ tubuhnya dan hidup yang terus-menerus di bawah ketakutan?
“Aku setuju.” Ia melihat mata Axel dengan tatapan penuh tekad. “Saya akan melakukan apa saja yang Anda minta, Dokter Bahng. Cukup pastikan bahwa utang saya benar-benar hilang dan mereka tidak akan pernah mengganggu saya lagi.”
Axel menganggukkan kepalanya dengan puas. Ia menarik map hitam menuju dirinya dan membukanya, menunjukkan tumpukan amplop putih yang sudah dikemas rapi di dalamnya. Di sebelah amplop itu ada sebuah dokumen kecil yang berisi data rekening bank dan nama-nama orang yang harus dikunjungi untuk melunasi utangnya.
“Semua sudah diatur.” Katanya.
“Samuel akan mengantarkanmu ke tempat-tempat yang perlu kamu kunjungi setelah kita selesai berbicara di sini. Setelah itu, kamu akan langsung pergi dengan saya ke rumah saya. Tidak ada waktu untuk kembali ke tempat tinggalmu—semua barang yang kamu butuhkan akan kami sediakan di sana. Kamu tidak akan punya kesempatan untuk membawa sesuatu dari masa lalumu lagi.”
Malam itu juga, setelah seluruh utang Ana dilunasi dan ia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa para lintah darat itu menerima uang dengan senyum puas dan menyerahkan semua bukti utangnya yang kemudian langsung dibakar di depan matanya, Axel membawa ia ke kediaman Keluarga Bahng yang terletak di daerah pinggiran Seoul yang lebih tenang dan eksklusif.
Rumah itu adalah sebuah bangunan bergaya klasik Eropa dengan taman yang luas dan pagar tinggi yang menjaga privasi penghuninya dari pandangan orang luar. Cahaya lampu taman yang tersebar di sekitar pekarangan memberikan iluminasi yang cukup untuk melihat taman yang indah tapi terasa sangat sunyi dan tidak ramah, seperti museum yang dibiarkan kosong untuk waktu yang lama.
Di ruang tengah yang luas, Doni sudah menunggu dengan wajah penuh keraguan. Matanya melihat Ana dari atas ke bawah dengan tatapan yang menyelidiki, mencoba membaca setiap rahasia yang tersembunyi di dalam diri wanita muda itu.
“Apakah kamu yakin dengan pilihan ini, Axel? Kita tidak bisa mengambil risiko jika dia ternyata tidak bisa dipercaya. Semua yang kita kerjakan selama ini akan hancur berkeping-keping jika rahasia itu bocor.”
“Dia tidak akan membocorkan apa-apa, Ayah,” jawab Axel dengan yakin. “Dia tidak punya pilihan lain, dan dia tahu apa yang akan terjadi jika dia mencoba melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.”
Setelah itu, Axel membentangkan sebuah dokumen yang cukup tebal di atas meja besar yang terletak di tengah ruangan. Kontrak itu ditulis dengan bahasa hukum yang sangat ketat dan bahkan bisa disebut kejam—setiap kalimatnya dirancang untuk memberikan tekanan yang maksimal kepada pihak yang menandatanganinya, menjanjikan kehancuran total baik secara finansial, hukum, maupun pribadi jika ia membocorkan satu kata pun tentang apa yang ada di balik pintu-pintu rumah itu, terutama yang ada di bawah tanah. Dokumen itu juga menyatakan bahwa Ana akan berada di bawah pengawasan penuh keluarga Bahng selama masa kontrak berlangsung, dan setiap upaya untuk menghubungi dunia luar tanpa izin akan dianggap sebagai pelanggaran serius yang akan dikenai sanksi berat.
“Tanda tangan di sini.” Perintah Axel, menyerahkan sebuah pulpen kepada Ana. Ia menunjuk ke bagian akhir dokumen di mana ruang untuk tanda tangan telah disediakan, matanya tetap menatap Ana dengan tatapan yang tidak bisa ditawar.
“Dan ingat satu hal. Di rumah ini, kamu tidak dibayar untuk bertanya tentang hal-hal yang tidak kamu mengerti. Kamu dibayar untuk menutup telingamu dari hal-hal yang tidak seharusnya kamu dengar, menutup mulutmu dari hal-hal yang tidak seharusnya kamu katakan, dan membersihkan noda-noda yang tidak bisa dilihat oleh mata dunia luar.”
Ana meraih pulpen dengan tangan bergetar. Ia melihat kontrak yang panjang dan penuh dengan kata-kata yang membuatnya merasa seperti sedang terjebak dalam jerat yang tidak bisa dilarikan. Namun, ketika ia memikirkan uang yang sudah masuk ke rekeningnya dan wajah para lintah darat yang tidak akan pernah lagi mengganggunya, ia tahu bahwa tidak ada jalan kembali lagi.
Dengan napas dalam-dalam, ia membubuhkan tanda tangannya pada bagian yang ditunjuk Axel, merasakan beratnya setiap gerakan jempol dan jari telunjuknya yang menandatangani perjanjian yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya.
Setelah pena itu diletakkan kembali di atas meja, Axel berdiri dan menuntunnya menuju sebuah lemari kayu besar yang terletak di salah satu sudut ruangan.
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ