Bagaimana jadinya, jika seorang gadis terjebak dengan masalalu yang sudah lama ia kubur. Ya kisah ini dialami oleh Andini seorang gadis dewasa yang sehari-harinya sebagai penjaga kantin sekolah.
Andini memutuskan untuk tidak menikah karena dulu sempat gagal menjalin hubungan dengan seorang pria.
pada suatu ketika Andini dipertemukan dengan bocah kecil yang cukup aktif dan bisa dibilang nakal, semua guru yang ada sudah kawalahan, anehnya si bocah itu justru nurut dengan Andini?
Penasaran dengan kisah berikutnya. jangan lupa tetap pantengin terus hanya di Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Di dalam kamar rumah sakit yang cukup sunyi itu, Nathan tidak bisa menenangkan perasaannya. Sejak membaca pesan dari Mark, pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan.
Akhirnya ia berdiri dari kursinya.
“Mi, aku keluar sebentar. Ada urusan kerja,” ucap Nathan pelan sambil meraih kunci mobilnya. “Titip Darrel, ya.”
Vivian yang sedang duduk di dekat ranjang cucunya langsung menoleh.
“Loh, kok mendadak sekali, Nath? Apa tidak bisa diwakilkan saja?” tanyanya heran.
Nathan menggeleng pelan. “Tidak bisa, Mi. Ini urgen.”
Vivian terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan.”
Nathan hanya mengangguk singkat. Ia kemudian mendekat ke arah ranjang Darrel dan mencium kening anaknya dengan lembut.
“Daddy pergi sebentar, ya.”
Darrel yang masih terlihat lemah hanya mengangguk kecil. “Tapi Daddy cepat pulang, ya… dan bawa Mbak Andin,” pinta anak itu dengan polos.
Nathan sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Iya,” jawabnya singkat.
Setelah itu Nathan melangkah keluar dari kamar rumah sakit. Langkahnya terlihat sedikit terburu-buru. Ada sesuatu yang terus mendorongnya untuk segera mengetahui kebenaran yang selama ini terkubur.
Beberapa menit kemudian mobil Nathan sudah melaju membelah jalanan kota. Matanya sesekali melirik layar ponsel yang terpasang di dashboard, mengikuti alamat yang baru saja dikirimkan oleh Mark.
Nathan menggenggam setir mobilnya lebih erat. Pikirannya kembali melayang pada wajah Andin. Tatapan perempuan itu tadi… tidak terlihat seperti orang yang menyimpan kesalahan.
“Kalau memang kamu tidak bersalah…” gumam Nathan pelan. Kalimat itu menggantung di udara, seolah ada penyesalan besar yang tak bisa dijelaskan.
Tak lama kemudian mobil Nathan berhenti di depan sebuah kafe kecil yang terlihat cukup sepi.
Di salah satu meja luar, Mark sudah duduk sambil memainkan gelas kopinya. Begitu melihat Nathan datang, pria itu langsung menyeringai tipis.
“Wah, cepat juga kamu datang,” katanya santai.
Nathan tidak membalas candaan itu. Ia langsung duduk di kursi di depan Mark.
“Apa yang kamu temukan?” tanyanya tanpa basa-basi.
Mark mengangkat alisnya. “Langsung serius begitu? Aku bahkan belum sempat menyapamu.”
“Nanti saja bercandanya,” potong Nathan dingin. “Katakan saja.”
Melihat ekspresi Nathan yang tegang, Mark akhirnya ikut menegakkan tubuhnya. “Baiklah,” ucapnya.
Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto kepada Nathan.
“Ini hotel tempat kejadian dua belas tahun lalu.”
Nathan menatap layar ponsel itu dengan serius. Mark melanjutkan dengan nada lebih rendah.
“Aku sudah bertemu dengan salah satu pegawai lama di sana.”
Nathan mengangkat pandangannya.
“Dan?”
Mark menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Dia ingat kejadian malam itu,” katanya pelan.
Nathan langsung menegang.
“Seorang gadis dibawa ke hotel dalam keadaan tidak sadar.”
Jantung Nathan seolah berhenti berdetak sesaat. “Andin…” gumamnya.
Mark mengangguk perlahan.
“Tapi itu belum semuanya.”
Tatapan Nathan langsung menajam. “Apa lagi?”
Mark mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Gadis itu tidak datang sendiri.”
Nathan terdiam. Mark menatapnya serius.
“Dia dibawa oleh dua pria.”
Nathan langsung mengepalkan tangannya di atas meja. “Siapa mereka?”
Mark menarik napas dalam. “Sayangnya pegawai itu tidak tahu persis siapa mereka,” katanya. “Tapi dia ingat satu hal.”
Nathan mendesaknya. “Apa?”
Mark menatap lurus ke mata Nathan sebelum akhirnya berkata pelan.
“Salah satu dari pria itu… datang dengan mobil yang sangat mewah. Dan katanya, dia seperti orang yang bekerja untuk keluarga kaya.”
Nathan membeku di tempatnya. Sebuah kemungkinan mulai muncul di kepalanya. Dan entah kenapa… bayangan wajah ibunya tiba-tiba melintas di benaknya.
Nathan langsung menepis pikiran itu.
“Tidak mungkin…” gumamnya pelan.
Namun di dalam hatinya, begitu kuat menjurus ke arah seseorang yang selama ini begitu ia sayangi dan hormati.
☘️☘️☘️☘️☘️
Nathan terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan Mark.
Pikirannya terasa penuh. Semua potongan kejadian dari masa lalu seperti mulai bergerak kembali di dalam kepalanya.
“Masih ada yang aneh,” lanjut Mark sambil menatap sahabatnya itu.
Nathan mengangkat pandangannya. “Aneh bagaimana?”
Mark menautkan kedua tangannya di atas meja. “Kata pegawai tadi, kedua orang yang membawa gadis itu terlihat begitu panik, kalah memang mereka suka sama suka gak mungkin dong panik?"
Nathan mengernyit. “Panik?”
“Iya,” jawab Mark. “Seperti orang yang tidak tahu harus berbuat apa.”
Nathan terdiam. Kalimat itu terasa menancap di kepalanya.
“Dan satu hal lagi,” lanjut Mark. “Setelah beberapa saat, datang seorang wanita ke hotel itu.”
Nathan langsung menegakkan tubuhnya. “Wanita?”
Mark mengangguk. “Wanita itu tidak masuk ke kamar. Dia hanya berbicara sebentar dengan pria-pria tadi di lobi.”
Nathan mulai merasa dadanya sesak.
“Pegawai itu tidak mendengar percakapannya dengan jelas. Tapi dia ingat satu kalimat.”
Nathan menatap Mark tanpa berkedip.
“Apa?”
Mark menarik napas pelan sebelum akhirnya berkata, “Wanita itu bilang… 'Pastikan semuanya terlihat seperti kesalahan mereka sendiri.'”
Nathan langsung membeku. Tangannya mengepal begitu kuat sampai buku-buku jarinya memucat. Ia tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati Andin pada waktu itu.
Mark menatap sahabatnya dengan serius.
“Aku tidak tahu siapa wanita itu,” lanjutnya. “Tapi dari ceritanya, dia terlihat seperti orang yang punya kendali.”
Nathan menundukkan kepalanya, justru semakin yakin pikiran pria itu menjurus ke siapa, tapi ia tidak mau gegabah dalam mengambil keputusan.
“Teruskan penyelidikan,” ucap Nathan dengan suara rendah namun tegas. “Cari tahu siapa dua pria itu.”
Mark mengangguk. “Tenang saja. Kalau ini memang jebakan, cepat atau lambat kita akan menemukan siapa yang bermain di balik semuanya.”
Nathan berdiri dari kursinya. Tatapan pria itu berubah jauh lebih tajam dari sebelumnya.
Selama dua belas tahun… ia hidup dengan keyakinan bahwa Andin telah menghancurkan segalanya. Namun sekarang, keyakinan itu mulai retak.
☘️☘️☘️
Sementara itu di rumah sakit, Vivian baru saja kembali masuk ke dalam kamar Darrel. Wanita paruh baya itu berhenti sejenak saat melihat cucunya yang sedang memainkan selimut dengan wajah murung.
“Ada apa, Sayang?” tanya Vivian lembut.
Darrel mengangkat wajahnya. “Daddy lama sekali,” gumamnya.
Vivian tersenyum tipis. “Daddy hanya pergi sebentar.”
Namun anak itu justru menggeleng kecil. “Daddy pasti mencari Mbak Andin.”
Kalimat polos itu membuat wajah Vivian menegang sesaat. “Kenapa kamu selalu menyebut perempuan itu?” tanyanya sambil menahan nada kesalnya.
Darrel menatap neneknya dengan polos. “Karena Mbak Andin baik.”
Vivian terdiam.
Anak itu melanjutkan dengan suara pelan,
“Kalau Mbak Andin ada di sini… Darrel tidak takut.”
Ucapan itu terasa seperti tamparan bagi Vivian. Perempuan itu segera memalingkan wajahnya.Tangannya refleks menggenggam ponselnya lebih erat.
Pikirannya kembali pada pesan yang tadi ia kirim. “Tidak…” gumamnya lirih.
“Aku tidak boleh membiarkan semuanya hancur sekarang.”
Matanya menatap kosong ke arah jendela rumah sakit. Karena tanpa disadari oleh siapa pun, orang yang ia hubungi tadi sudah mulai bergerak. Dan targetnya hanya satu.
Andin.
Bersambung