Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.
Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.
Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.
"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"
Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.
Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"
Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.
"Kamu bangun..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Ayo Putus
Suara dering telepon di ruang kerja Ayah Bai terdengar tajam di tengah kesunyian. Dia segera mengambil panggilan dengan senyum ramah—dia kira ini adalah panggilan terkait proyek kerja sama baru dengan keluarga Hu.
"Tuan Hu, apa kabarmu?" ucapnya dengan nada ramah.
Namun suara dari ujung lain telepon jauh lebih serius dari yang dia harapkan. Ayah Hu menyampaikan keputusan pembatalan pertunangan antara Bai Xuning dan Hu Lian dengan jelas dan tegas, serta sedikit menyebutkan alasan di balik keputusan itu.
Setelah beberapa saat mendengarnya, wajah Ayah Bai menjadi pucat. Bibirnya bergetar dan dia hampir tidak bisa berkata apa-apa.
Sebagai rekan bisnis, dia tahu betapa pentingnya kerja sama dengan keluarga Hu—dukungan mereka telah membawa banyak keuntungan bagi perusahaan Bai selama bertahun-tahun.
Dia bahkan berharap hubungan bisnis itu bisa lebih erat dengan menjadi keluarga melalui pernikahan anak-anak mereka.
"Tapi Tuan Hu... apakah ini bisa kita bahas lagi? Mungkin ada kesalahpahaman di antara mereka berdua. Xuning mungkin bisa berubah pikiran..." ucap Ayah Bai dengan suara yang sedikit gemetar, berusaha untuk mempertahankan hubungan itu.
"Tidak ada yang perlu dibahas lagi, Tuan Bai,"jawab Ayah Hu dengan nada yang mantap.".......Kita tidak akan memaksakan putri kita pada seseorang yang tidak menghargainya. Semua kesepakatan bisnis antara kita akan tetap berjalan seperti biasa, namun hubungan keluarga yang kita rencanakan harus kita batalkan."
Setelah telepon terputus, Ayah Bai menjatuhkan tangan yang memegang telepon ke atas meja.
Dia menghela napas dalam-dalam, merasa sangat terkejut dan sedikit khawatir tentang dampaknya. Meskipun kerja sama bisnis akan tetap berjalan, dia tahu bahwa kehilangan kesempatan untuk menjadi keluarga dengan keluarga Hu adalah kerugian besar bagi keluarga Bai.
Tanpa berlama-lama, dia berdiri dan pergi mencari Bai Xuning di ruang kerja putranya.
Dia harus memberitahu anaknya tentang keputusan ini dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Xuning dan Hu Lian hingga membuat keluarga Hu mengambil langkah seperti ini.
"Dibatalkan?" suara Bai Xuning terdengar kaget, bahkan lebih terkejut dari ayahnya.
Matanya melebar dan wajahnya semakin pucat.Melihat ekspresi putranya yang jelas tidak tahu apa-apa, Ayah Bai merasa ada sesuatu yang salah.
"Kamu tidak tahu hal ini? Hu Lian bilang dia yang memintanya...." ucapnya dengan tatapan yang penuh pertanyaan dan sedikit kemarahan.
"Aku tidak tau.... Jika dia serius...." jawab Bai Xuning sambil menyentuh pelipisnya yang terasa sakit kepala.
Tanpa berpikir panjang, dia segera mengambil ponsel dari atas meja dan dengan cepat mencari nomor Hu Lian di daftar kontaknya.Jari-jarinya sedikit gemetar saat dia menekan tombol panggilan.
Telpon berdering cukup lama—sampai Bai Xuning hampir berpikir untuk mengakhiri panggilan—sebelum akhirnya suara gadis itu terdengar dari ujung lain.
"Halo?" Suara Hu Lian terdengar santai, bahkan bisa dibilang rileks, seolah sedang melakukan hal yang tidak penting.
Bai Xuning terdiam sejenak, tidak tahu harus mulai dari mana. Setelah beberapa detik, suaranya keluar dengan nada yang sedikit goyah. "Hu Lian... aku baru saja tahu dari ayahku bahwa kamu meminta untuk membatalkan pertunangan kita... apakah ini benar-benar keputusanmu yang terakhir?"
Di ujung lain, Hu Lian terdengar sedikit tersenyum. "Ya, Tuan Bai. Itu adalah keputusan yang sudah aku pikirkan dengan matang. Seperti yang aku katakan, aku tidak ingin ada hubungan apapun lagi denganmu."
Bai Xuning menggenggam ponselnya lebih erat. "Tapi mengapa begitu cepat? Bukankah kamu bilang kamu tidak ingat banyak halApakah ada sesuatu yang aku lakukan salah?"
"Tidak ada yang salah denganmu, Tuan Bai. Hanya saja aku merasa ini adalah pilihan terbaik untuk kita berdua..." Suaranya tetap tenang dan mantap."....Semua urusan akan diurus oleh orang tua kita, jadi kamu tidak perlu khawatir tentang hal lain."
Bai Xuning mencengkram erat ponselnya, ujung jarinya hampir memerah karena kekuatan menggenggamnya. Nafasnya terasa berat dan sedikit terengah-engah.
"Lian... jangan seperti ini...."panggilnya dengan nada penuh rasa tertekan, bahkan terdengar sedikit mergeluh.
"....."Hu Lian menjauhkan ponsel dari telinganya sejenak, alisnya sedikit terkunci.
Kenapa pria ini harus bicara dengan nada seperti itu? Bukankah dia seharusnya bahagia karena akhirnya bisa bebas dari pertunangan yang dia tidak inginkan? pikirnya dengan sedikit kebingungan.
Dia menatap ke arah jendela kamar yang menghadap taman, lalu membawa kembali ponsel ke telinganya.
"Tuan Bai, saya tidak mengerti mengapa Anda bereaksi seperti ini. Bukankah kamu tidak pernah menyukai ku, bukan?" ucapnya dengan nada yang tetap tenang.
Bai Xuning terdiam sejenak di ujung lain telepon. Suaranya terdengar lebih lembut saat dia kembali berbicara. "Aku tahu aku pernah tidak menyakitimu dengan baik... tapi melihatmu benar-benar pergi dan tidak ingin ada hubungan apapun denganku... rasanya berbeda dari yang aku bayangkan."
Hu Lian menghela napas pelan. "Itu mungkin karena Anda terbiasa dengan perhatianku dulu, Tuan Bai. Tapi sekarang saya sudah tidak bisa seperti dulu lagi. Saya ingin hidup saya sendiri tanpa harus menyia-nyiakan perhatian pada orang yang tidak menghargainya."
Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Semoga Anda bisa menemukan orang yang Anda cintai dan benar-benar mencintai Anda kembali. Selamat tinggal, Tuan Bai."
Sebelum Bai Xuning bisa berkata apa-apa lagi, Hu Lian sudah mengakhiri panggilan dengan tegas.
Dia meletakkan ponsel di atas meja, lalu menarik nafas lega. Akhirnya, semua urusan dengan Bai Xuning bisa usai dan dia bisa fokus pada hal-hal yang lebih penting.
Bai Xuning meletakkan ponselnya perlahan di atas meja, matanya kemerahan dengan pandangan yang semakin gelap. Rahangnya mengeras secara tidak sadar, seperti sedang menahan emosi yang membara di dalam dirinya.
Melihat kondisi putranya yang seperti ini, Ayah Bai menghela napas panjang. Dia berjalan mendekat dan menepuk pundak Bai Xuning dengan lembut.
"Aku tahu kamu sedang mengalami kesulitan menerima ini, Nak," ucapnya dengan nada yang lebih hangat dari biasanya. "Kita semua tahu betapa pentingnya kerja sama bisnis dengan keluarga Hu, tapi kehidupan masa depanmu jauh lebih berharga."
Dia mengangguk perlahan sebelum melanjutkan, "Jika kamu benar-benar tidak ingin kehilangannya, kamu bisa pergi membujuk Hu Lian dengan usaha sendiri. Aku dan ibumu tidak akan ikut campur lagi dalam hal ini. Keputusan akhir ada di tanganmu."
Bai Xuning tetap terdiam sejenak, matanya masih menatap ke arah layar ponsel yang sudah gelap.
Kata-kata ayahnya membuatnya merenung—apakah dia benar-benar ingin membujuk Hu Lian untuk kembali?
Ataukah dia hanya tidak terbiasa dengan kehilangan seseorang yang dulu begitu mencintainya?
Setelah beberapa saat, dia perlahan berdiri. Tubuhnya masih terasa sedikit goyah, namun ekspresi wajahnya mulai menunjukkan ketegasan yang baru.
Tanpa berkata apa-apa, dia mengambil jasnya yang ada di sandaran kursi dan berjalan menuju pintu ruang kerja.
Ayah Bai hanya menatap belakang putranya dengan senyum tak berdaya. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Bai Xuning, namun dia berharap putranya bisa menemukan jawaban yang benar untuk dirinya sendiri.
Saat Bai Xuning keluar dari rumah dan memasuki mobilnya, tangannya menggenggam setir dengan erat.
Pikirannya kini penuh dengan wajah Hu Lian—baik wajah gadis itu yang dulu selalu melihatnya dengan cinta, maupun wajah Hu Lian yang baru saja berkata tidak akan pernah menyukainya lagi.
Bai Xuning baru saja ingin menyalakan mesin mobil ketika ponselnya kembali berbunyi.Layarnya menunjukkan nama Zhao Lili—cinta pertamanya yang muncul kembali beberapa waktu lalu di pantai.
"Lili? Ada apa?" tanya Bai Xuning saat menerima panggilan.
"Xuning, bisakah kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan," suara Zhao Lili terdengar lembut namun penuh kekhawatiran dari ujung telepon.
Dengan pikiran yang masih bingung dan bercampur aduk, Bai Xuning mengiyakan. Mereka sepakat untuk bertemu di restoran mewah yang dulunya sering mereka kunjungi sebelum Zhao Lili menghilang tiga tahun lalu.
Ketika Bai Xuning tiba di restoran, dia melihat Zhao Lili sudah menunggu di meja sudut yang tenang. Wanita berusia 24 tahun itu mengenakan gaun kerja hitam yang elegan, rambut panjangnya ditata rapi di belakang kepala.
Tampilannya terlihat dewasa dan profesional—sangat berbeda dengan Hu Lian yang selalu terlihat muda dan memiliki aura yang lebih ceria.
Zhao Lili segera berdiri dengan senyum lembut ketika melihatnya mendekat. "Maaf kalau mengganggumu, Xuning. Aku tahu kamu sedang sibuk dengan urusanmu," ucapnya saat mereka saling bersalaman.
Bai Xuning duduk di hadapannya dengan wajah yang masih serius. "Tidak apa-apa. Kamu bilang ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan?"
Wanita itu menghela napas pelan sebelum mulai berbicara. "Aku kembali ke kota ini bukan hanya karena kebetulan bertemu denganmu di pantai, Xuning. Aku ingin memberitahumu bahwa aku sudah menikah dan punya anak sekarang."
Ekspresi wajah Bai Xuning sedikit berubah kaget. "Kamu sudah menikah?"
"Ya," jawab Zhao Lili dengan senyum yang penuh kedamaian. "Aku pergi dulu karena keluarga ku memaksa aku menikahi orang lain, tapi akhirnya aku menemukan kebahagiaan sendiri. Aku bertemu denganmu di pantai itu karena aku ingin mengatakan maaf dan memberitahumu bahwa aku sudah berdamai dengan masa lalu kita."
Dia melihat Bai Xuning dengan tatapan yang penuh perhatian. "Aku juga mendengar tentang Hu Lian dan kecelakaannya? Bagaimana keadaannya?lalu hubungan kalian...."
Bai Xuning menurunkan matanya, jari-jarinya menggesek permukaan gelas kopi yang sudah dingin.
" Dia mengalami amnesia, kondisinya baik-baik saja...hanga Aku sendiri belum yakin soal perasaanku pada Hu Lian," ucapnya pelan pada Zhao Lili.
Wanita itu tertegun, sebelum Keduanya berbincang sebentar lagi tentang masa lalu dan kehidupan masing-masing sekarang.
Setelah Zhao Lili pergi meninggalkan restoran, Bai Xuning tetap duduk di sana cukup lama, mata menatap jauh ke luar jendela sambil merenungkan setiap kata yang telah disampaikan wanita itu.
Akhirnya, dia memutuskan untuk pergi ke perusahaan terlebih dahulu—dia perlu waktu untuk memikirkan segala sesuatu dengan tenang sebelum benar-benar menghadapi Hu Lian.