Adam Al-Fatih (40) adalah potret kesempurnaan: CEO miliarder yang gagah, karismatik, dan taat beribadah. Di Jakarta, ia memiliki Khadijah, istri saleha yang menjadi pilar kekuatannya sejak masa sulit. Namun, takdir membawa langkah Adam melintasi benua, dari romantisme Paris, kemegahan Istanbul, hingga hiruk-pikuk New York. Di setiap kota tersebut, Adam bertemu dengan wanita-wanita luar biasa yang tengah terhimpit badai kehidupan.
Demi sebuah wasiat rahasia sang kakek dan misi kemanusiaan yang mendalam, Adam akhirnya menikahi Isabelle, Aisha, dan Sarah. Publik mencibirnya sebagai lelaki yang mabuk poligami di puncak dunia. Namun, sebuah rahasia medis yang pedih tersimpan rapat di balik pintu kamarnya: Adam menderita impotensi akibat kecelakaan masa lalu.
Ketiga pernikahan di luar negeri itu hanyalah "sajadah perlindungan". Adam mengorbankan reputasi dan perasaannya demi menyelamatkan sesuatu yang lebih berharga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Riak di Telaga Bening
Di tengah dentuman badai konspirasi yang digerakkan oleh Sirius Jhon dan bayang-bayang Sophia Vance dari New York, sebuah retakan justru muncul dari dalam benteng paling pribadi milik Adam Al-Fatih. Rumah Aman yang seharusnya menjadi tempat perlindungan bagi Khadijah, kini menjadi saksi bisu dari ketegangan yang lebih halus, namun tak kalah tajam dari desingan peluru: ego dan rasa sayang seorang ibu yang merasa martabat putrinya terancam.
Ibu Kartini, ibu kandung Khadijah, adalah seorang wanita ningrat yang menjunjung tinggi hirarki dan kehormatan keluarga. Sejak awal, ia memang telah merestui poligami Adam demi alasan kesehatan dan wasiat Khadijah. Namun, melihat Isabelle yang kini nampak begitu dominan di sisi Adam—menjadi perisai hukum, jenderal strategi, sekaligus pendamping fisik saat Adam harus terjun ke lapangan—hati Kartini mulai panas.
Ia melihat Isabelle sebagai sosok yang terlalu "bersinar" di saat putrinya, Khadijah, meredup di atas ranjang pesakitan. Baginya, Isabelle bukan lagi sekadar asisten kehidupan, melainkan ancaman yang pelan-pelan menghapus jejak peran Khadijah dalam kekaisaran Al-Fatih.
Sore itu, di paviliun Rumah Aman yang sunyi, Kartini duduk dengan anggun namun matanya menyipit saat melihat Isabelle masuk ke kamar Khadijah dengan membawa nampan berisi ramuan herbal yang dikirim khusus oleh Syeikh Mansyur. Isabelle nampak cekatan, lembut, dan sangat menguasai situasi.
"Madame Khadijah, mari minum ini perlahan. Mas Adam tadi berpesan agar saya memastikan Anda beristirahat total sebelum fajar," ujar Isabelle dengan suara lembut, sambil membantu menyeka kening Khadijah yang berkeringat.
Kartini, yang sejak tadi mengawasi dari kursi kayu di sudut ruangan, tiba-tiba berdehem keras. Suaranya memecah keheningan dengan nada yang dingin. "Sejak kapan, Isabelle, seorang istri kedua mengatur jadwal tidur istri pertama seolah-olah dia adalah kepala rumah tangga di sini?"
Isabelle tersentak. Ia menoleh perlahan, menatap Ibu Kartini dengan rasa hormat namun juga kebingungan. "Maaf, Ibu. Saya tidak bermaksud mengatur. Saya hanya menjalankan pesan Mas Adam demi kebaikan Madame Khadijah."
"Mas Adam, Mas Adam," Kartini berdiri, langkahnya pelan namun mengintimidasi. "Kau menyebutnya begitu akrab, seolah-olah kau sudah lupa bahwa tanpa kemurahan hati putriku, kau mungkin masih menjadi buronan di jalanan Paris. Kau harus tahu diri, Isabelle. Kau ada di sini untuk menjadi pembantu bagi beban putriku, bukan untuk menjadi ratu baru di hati Adam."
Khadijah, yang sedang terbaring lemah, mencoba mengangkat tangannya. "Ibu... jangan begitu. Isabelle sudah sangat banyak membantu..."
"Diamlah, Dijah!" potong Kartini dengan nada tegas. "Kau terlalu suci hingga tidak melihat bagaimana wanita ini pelan-pelan mengambil alih posisimu. Lihatlah dia, dengan kecantikan Barat-nya, dengan kecerdasannya, dia berdiri di samping Adam saat suamimu itu nampak paling gagah. Dia menikmati kemenangan di lapangan sementara kau hanya mendapatkan sisa lelahnya di malam hari."
Isabelle tertunduk dalam. Dadanya sesak. Segala ketulusan yang ia berikan seolah-olah dianggap sebagai strategi perebutan kekuasaan. "Ibu Kartini, saya mencintai Madame Khadijah seperti kakak saya sendiri. Saya tidak pernah berniat menggantikan posisinya."
"Cinta?" Kartini tertawa sinis. "Di dunia kami, cinta adalah kesetiaan pada akar. Kau tidak punya akar di sini. Kau hanyalah pendatang. Jika kau benar-benar tahu diri, kau akan membatasi dirimu. Jangan tampil di depan publik bersama Adam sebagai istrinya. Jangan ikut campur dalam urusan besar perusahaan yang dulu dibangun Adam bersama uang keluarga kami. Kau hanya 'cadangan', Isabelle. Dan cadangan seharusnya tetap berada di tempatnya."
Adam, yang baru saja selesai melakukan koordinasi keamanan dengan Reza di luar, mendengar perdebatan itu. Ia masuk ke ruangan dengan langkah berat. Postur tubuhnya yang atletis dan wajahnya yang keras nampak dipenuhi beban pikiran. Ia melihat Isabelle yang meneteskan air mata dan ibu mertuanya yang berdiri dengan angkuh.
"Ibu," suara Adam berat, menggema di ruangan itu. "Ada apa ini?"
"Adam, bagus kau datang," Kartini menatap menantunya. "Aku ingin kau memperjelas batasan di rumah ini. Aku tidak suka melihat Isabelle terlalu menonjol. Dia harus tahu posisinya. Khadijah adalah pemilik sah rumah ini, hati ini, dan perusahaan ini. Jangan biarkan wanita asing ini merasa dia setara dengan putriku."
Adam menarik napas panjang. Ia melirik Khadijah yang nampak sedih, lalu menatap Isabelle yang gemetar. Adam menyadari bahwa di saat ia harus menghadapi Sirius Jhon dan Sophia Vance, ia juga harus memadamkan api di dalam rumahnya sendiri.
"Ibu mertua yang saya muliakan," Adam mendekati Kartini, menatapnya dengan rasa hormat namun penuh ketegasan yang tak bisa dibantah. "Isabelle adalah istri sah saya. Dia adalah bagian dari hidup saya sekarang, bukan karena nafsu, tapi karena amanah. Dia mempertaruhkan nyawanya di Paris dan di dermaga kemarin untuk melindungi saya dan Khadijah. Tanpa kecerdasannya, mungkin kita semua sudah hancur oleh konspirasi Sirius."
Adam menggenggam tangan Khadijah dengan satu tangan, dan menarik Isabelle mendekat dengan tangan lainnya. "Khadijah tidak akan pernah terganti. Dia adalah akar dari pohon ini. Tapi Isabelle adalah dahan yang membantu pohon ini tetap berdiri tegak saat badai datang. Menyakiti Isabelle sama saja dengan menyakiti saya, dan itu berarti menyakiti Khadijah juga, karena Khadijah-lah yang menginginkan pernikahan ini."
Kartini terdiam, wajahnya memerah karena malu dan marah yang tertahan. Ia tidak menyangka Adam akan membela Isabelle di depan matanya sendiri.
"Jika Ibu merasa peran Khadijah terganti, itu salah," lanjut Adam. "Khadijah adalah ratu di hati saya. Tapi Isabelle adalah mitra perjuangan saya. Di masa krisis seperti ini, saya butuh pendamping yang bisa berlari bersama saya di lapangan. Saya mohon, jangan tambahkan beban di pundak kami dengan kecurigaan yang tidak mendasar."
Isabelle menatap Adam dengan rasa syukur yang luar biasa. Ia menyadari bahwa Adam bukan hanya pria yang perkasa secara fisik, tapi juga adil secara jiwa. Namun, Isabelle tahu bahwa selama ia tidak memberikan kontribusi yang nyata untuk membahagiakan Ibu Kartini dan Khadijah secara khusus, riak ini akan tetap ada.
Malam harinya, di bawah langit Jakarta yang mendung, Isabelle menemui Ibu Kartini secara pribadi di beranda. Ia membawa sebuah dokumen kecil.
"Ibu Kartini," bisik Isabelle. "Ini adalah sertifikat kepemilikan saham yayasan di Paris yang telah saya balik nama sepenuhnya atas nama Madame Khadijah. Saya juga telah mengalokasikan sebagian besar keuntungan bisnis keluarga saya di Prancis untuk membiayai pengobatan Madame Khadijah di Jerman bulan depan."
Kartini tertegun, melihat dokumen itu.
"Saya tidak ingin harta, Ibu. Saya tidak ingin posisi," lanjut Isabelle dengan air mata yang kembali mengalir. "Saya hanya ingin menjadi pelayan bagi keluarga ini. Saya tahu saya tidak akan pernah bisa menjadi seperti Khadijah di mata Ibu, tapi izinkan saya menjadi tangan yang membantunya sembuh. Saya mencintai pria yang sama dengan putri Ibu, dan itu membuat kita berada di pihak yang sama, bukan lawan."
Melihat ketulusan yang begitu nyata dari wanita Prancis itu, benteng keangkuhan Kartini mulai retak. Ia menyadari bahwa Isabelle tidak datang untuk merampas, melainkan untuk memberi di saat mereka semua kekurangan kekuatan.
"Maafkan aku, Isabelle," ujar Kartini pelan, suaranya parau. "Aku hanya seorang ibu yang ketakutan melihat putrinya tak berdaya."
Pertikaian itu berakhir dengan pelukan yang mengharukan. Adam, yang memperhatikan dari balik pintu, merasakan kelegaan yang luar biasa. Stamina mentalnya kembali pulih. Dengan harmoni di dalam rumah yang kembali terjaga, Adam kini merasa lebih kuat dari sebelumnya. Ia siap untuk konfrontasi terakhir dengan Sirius Jhon.
Adam Al-Fatih tahu, seorang pejuang tidak akan pernah menang di medan perang jika rumahnya masih terbakar. Kini, dengan Khadijah yang merestui, Isabelle yang berkorban, dan Ibu mertua yang mulai memahami, sang raksasa baja itu siap menghancurkan kegelapan Sirius Jhon dengan cahaya keadilan yang utuh.