Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.
Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?
Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!
“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 - Mantan
“Ziya!” Lagi-lagi Siti muncul di waktu yang tidak tepat.
Dia menyipitkan matanya, kemudian berjalan untuk melihat hal apa yang Ziya hindari seperti sebelumnya, namun kali ini matanya membulat sempurna.
“Asih! Ngapain dia nemuin Kang Asep?”
Ziya menetap ke arah Siti, “Siapa itu Asih?”
“Mantannya Kang Asep, kamu pasti gak tahu kan?” ujarnya.
“Mantan? Asep punya mantan?” Ziya ikut mengintip di samping Siti.
“Iya, namanya Asih, mereka pacaran dua tahun lalu, mereka berpisah saat Asih pergi merantau ke Jakarta, tapi yang saya denger mereka tuh gak pernah putus cuma gak pernah komunikasi aja,” jelasnya pandangannya tetap mengawasi dua orang yang tengah bercengkrama, namun entah pembahasan apa yang tengah mereka bicarakan karena terlalu jauh.
“Mereka lagi ngomongin apa ya, kayanya serius banget?” ucap Ziya.
“Menurut kamu? Apa yang biasa di bahas orang kalau ketemu mantan?”
“Kalau udah jadi mantan sih biasanya jarang ketemu ya, seringnya malah saling benci kan.”
“Berarti hanya ada satu kemungkinan. Asih masih punya perasaan sama Kang Asep,” pekik Siti.
“Hah? Te-terus gimana dong?” Ziya tiba-tiba merasa cemas, takut jika sampai Asep kembali pada mantannya yang bernama Asih itu.
“Ayo kita labrak mereka!”
“Eh, enggak-enggak aku gak berani,” tolak Ziya sembari mundur, “lagi pula kita gak tahu apa yang mereka bahas, kita gak bisa main labrak gitu aja.”
Siti melihat sekeliling, “Ayo ikut saya,” ajaknya sambil berjalan ke belakang rumahnya.
“Mau kemana?”
“Nguping, hehe.”
“Apa?” walaupun enggan Ziya tetap ikut bersama Siti, penasaran juga apa yang tengah Asep dan mantannya bicarakan.
Memikirkan kata mantan membuat hati Ziya berubah kesal.
“Salereusna Abdi ge alim Kang di jodoken kie teh, tapi Pun Bapak sareng Emak Keukeh Abdi kedah nikah sareng eta jalmi, komo ngadangu Akang tos nikah,” (Sebenarnya saya gak mau di jodohkan seperti ini, tapi Bapak sama Ibu yang maksa saya nikah sama orang itu, apa lagi pas denger Akang udah nikah.) Ungkap gadis itu yang terdengar oleh Siti dan Ziya.
Saat ini mereka tengah sembunyi di balik tanaman hias yang ada di samping rumah tetangganya Siti.
“Apa yang mereka bilang Ti, Saya gak ngerti,” keluh Ziya dengan nada pelan.
“Katanya si Asih di jodohin tapi dia gak mau,” jawab Siti sambil berbisik di telinga Ziya.
“Hah, Kenapa gak mau?” pekik Ziya.
“Shut. Jangan keras-keras atuh, nanti mereka dengar,” kesal Siti.
“Terima aja atuh Neng, mungkin dia memang jodohnya Neng,” sahut Asep justru menggunakan bahasa Indonesia campuran seperti saat dia sedang bicara dengan Ziya.
“Sebetulnya saya masih berharap sama Akang,” Asih pun mengikuti dengan bahasa yang sama.
“Jangan atuh Neng tidak baik, lagi pula saya sudah menikah atuh. Neng kan juga mau nikah, itu cuma godaan sebelum pernikahan Neng fokus aja sama satu hal, pernikahan jangan banyak pikiran. Terimakasih undangannya saya usahakan nanti datang,” ucap Asep.
“Undangan, Si Asih mau nikah!” pekik Ziya penuh semangat walaupun hanya Siti yang bisa mendengarnya.
“Iya, maaf ya saya udah ganggu waktunya Akang, ngomong-ngomong Istri Akang yang mana saya belum pernah ketemu,” ucap Asih.
“Ada di rumah, kapan-kapan saya kenalin,” tanggap Asep.
“Kalau gitu saya permisi dulu atuh Kang, Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Setelah itu Asih pun pergi, namun Asep masih berdiri diam disana.
Tiba-tiba saja, ada kecoak yang merayap ke kakinya, membuat Ziya menjerit seketika.
Argh... “kecoak, kecoak! Siti, tolongin gue... Gue takut kecoak...!” pekiknya sembari bangkit dengan tubuh gemetar.
“Astaga, kamu teh bikin saya kaget aja, ini teh cuma cucunguk atuh mani jiga anu ningali jurig kamu mah,” keluh Siti, sembari menepis makhluk itu dari kaki Ziya.
Ziya bernapas lega, dia menoleh ke samping barulah saat itu dia menyadari Asep sedang menatap kearahnya sambil melipat tangan di dada.
Siti ikut bangkit, “Tadi teh saya disuruh Emak nyari sapunya yang hilang, tapi kayanya disini pun gak ada,” racaunya mencari alasan.
“Neng mau sampai kapan berdiri disitu, disitu banyak kecoak, tikus, kelabang, ulat, Neng gak takut?”
Ziya merinding mendengar ucapan Asep, lalu dia pun keluar dari sana diikuti Siti dibelakangnya.
“M-maaf,” lirih Ziya.
“Maaf untuk apa?”
“U-untuk semuanya, untuk yang kemarin dan yang barusan juga, gue nguping pembicaraan lu sama mantan lu.”
“Mantan,” Asep melirik kearah Siti, sedang wanita itu mengalihkan pandangannya berusaha menghindari tatapan Asep.
“Aku gak nyangka ternyata kamu punya mantan juga,” ucap Ziya kikuk.
“Iya, dia datang kesini cuma mau ngasih undangan pernikahannya,” jelas Asep.
“Kenapa harus dia sendiri yang datang, kenapa gak nyuruh orang aja,” keluh Ziya dengan nada suara sedikit meningkat, namun seketika dia tersadar dan kembali memasang ekspresi wajah seperti biasa, takut Asep menyadari jika dia cemburu.
“Mungkin untuk menghargai karena dulu kita pernah dekat,” tanggapnya.
“Untuk menghargai, atau memang masih berharap,” ucap Ziya.
“Neng bawa apa itu?” Asep mengalihkan pembicaraan sekaligus pandangannya kearah Rantang susun yang dibawa Ziya.
“Bukan apa-apa, ini dari Siti tadi,” tuding Ziya.
“Saya?” Siti tampak bingung, dia melirik kearah Ziya, namun sialnya dia tidak mengerti kode yang diberikan Ziya.
Membuat Ziya mendelik kerahnya, “iya gue akui, gue masakin ini buat lu, nih,” Ucapnya sambil menyodorkan Rantang itu kearah Asep.
“Hah buat saya?” dia tampak senang.
“Hem. Selama ini kan selalu elu yang masak buat gue, anggap aja itu balasan atas kebaikan lu,” Ucapnya dengan nada judes seperti sebelumnya.
“Makasih banyak Neng, lain kali gak usah repot-repot masakin buat saya atuh,” ucap Asep sambil menyambut baik pemberian Ziya.
“Porsinya lumayan banyak lu bisa berbagi sama Kang Udin dan yang lain.”
“Iya Neng.”
“Ayo Ti,” Ziya menarik tangan Siti dan membawanya berlalu bersamanya.
“Saya heran kamu kalau ngomong sama Kang Asep kaya lagi ngomong sama temen bukannya suami,” ungkap Siti.
“Alah abaikan saja, itu udah kebiasaan. Lagian dia juga gak masalah kan sama ucapan aku,” ucap Ziya.
“Iya sih, tapi kalau disini itu gak sopan. Sama suami itu harus panggil Akang atau AA.”
“Udah aku bilang kan itu kebiasaan, di Jakarta Istri tuh bebas mau panggil apa aja ama suami, mau panggil Mas ke, Akang ke, atau nama sekali pun gak masalah, lagian aku belum bener-bener faham budaya disini,” dusta Ziya.
Siti menganggukkan kepalanya, sepertinya dia percaya pada ucapan Ziya karena dia tak lagi bertanya.
“Ti, lama-lama kita jadi temen kalau sering ketemu kaya gini,” kekeh Ziya.
“Temen, kita? No way, saya gak mau temenan sama kamu, kamu lupa kamu tuh saingan saya dalam hal cinta,” ujarnya.
“Saingan apa lagi sih, katanya udah ngalah buat dapetin Asep,” keluh Ziya.
“Mengalah untuk sementara, sambil melihat arah Angin.”
“Hah?”
“Kamu tahu, sejujurnya saya curiga sama hubungan pernikahan kamu sama Kang Asep, beneran atau cuma pura-pura?” Ucapnya sambil melempar tatapan menyelidik.
Biar si benalu cari duit sendiri
❤❤😍😍💪💪
klao Asep gk cinta ma kmu ziyaa..
🤣🤣😄❤❤❤😍💪💪💪
ziya auto njerittt..
aaaaa..
🤣🤣😄😄😍😍😍❤💪💪💪
jangan samlai pak raden manfaatin ziya yaaa😍❤❤❤❤💪💪💪
jgn sampai siti curiga..
klao perlu ziya cium asep di depan siti..
🤣🤣😄😍❤❤❤❤
😍💪😍😍💪💪❤❤❤
aseppp..
siap2 aja macn netinamu ngamuk3..
🤣❤❤💪😍😄
bakal ada salah paham ini..
moga gak panjang salah pahamnya..
❤💪💪💪😍😍😄😄😄