Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan berdua
Jantung Febi berdebar cepat ketika dia berbalik setelah menutup pintu kamar. Jetro sedang berjalan ke arahnya.
Dia udah bangun?
"Mami sudah pergi?" tanya Jetro sambil mengambil alih kereta dorong itu. Agak berbasa basi karena dia sudah tau jawabannya.
"Sudah."
Jetro mendorong pelan hingga ke sisi sofa yang ada di dalam kamar.
"Kamu... ngga apa apa?" tanya Jetro ketika melihat Febi yang berjalan perlahan, tidak seperti biasa. Dia seperti menahan sakit.
Jetro memaki kekasarannya tadi malam. Walaupun dia sudah berusaha melakukannya dengan lembut, tapi saat mereka menyatu, dia sulit menahan h@sratnya.
Febi menggeleng malu, dia duduk perlahan di sofa di dekatnya. Masih terasa sedikit nyeri.
Ini, kan, gara gara kamu, desisnya dalam hati.
"Eng... Kamu mau aku panggilkan dokter? Mungkin kamu butuh obat penghilang rasa sakit atau salep?" tanya Jetro canggung. Dia teringat kata kata Abiyan, kalo setelah berhubungan, mungkin ada bagian yang terluka.
Febi tertegun dan dia ngga mungkin, kan, mengaku terus terang, Mereka belum seakrab itu.
Flashback
"Aku minta Luna meresepkan obat penghilang nyeri. Juga salep," ujar Abiyan saat mereka kumpul kumpul setelah resepsi usai.
"Kamu maennya ganas," cibir Baim.
"Heh, dogol, kalo kamu ketemu per@wan, pasti tetap lecetlah dianya," sergah Abiyan ngga terima. Karena menurutnya dia sudah sangat lembut, tapi istrinya tetap berteriak kesakitan.
"Tanya aja sama Hasan kalo ngga percaya. Dia pasti yang paling halus maennya dibanding kita," tantang Jayden.
Hasan yang hanya menyimak obrolan ngga bermanfaat para sepupu dan kerabat Luna, terkejut juga karena namanya dibawa bawa.
"Biasa aja, San," tawa Quin berderai melihat gestur kaget dan salah tingkah Hasan.
"Hasan ngga perlu jawab dengan kata kata, tuh," timpal Fadel.
"Tapi kalo hati hati banget ngga terlalu lecetlah," sambung Sean.
"Iya, Resh?" tanya Jetro meminta pendapat Naresh.
Naresh terpaksa mengulaskan senyumnya.
"Begitulah." Teringat dulu Nathalia sempat marah marah setelah mereka melakukannya.
Jetro terdiam. Dia bingung, bagaimana nanti memulai malam pert@manya dengan Febi. Memang dia sudah memberikan undangan terselubung, tapi dia masih bingung cara mempraktekkannya.
Memang kalo masalah teori, dia sudah cukup memadai. Waktu SMA dan kuliah Abiyan dan Jayden sering mengajaknya dan sepupu sepupu laki laki yang lain untuk nobar film biru.
Hanya saja ini benar benar pertama buatnya. Dia masih ragu juga, Febi mau atau tidak. Karena harga dirinya akan terluka kalo Febi menolak keinginannya. Sedangkan dia ngga mau memaksa.
"Ingat, Jet, istrimu polwan. Jangan sampai dia bawa pistol. Nanti kalo kamu lagi seru serunya dan dia sudah sangat kesakitan, kamu bakal di dor," timbrung Deva kemudian ngakak bersama Abiyan, Jayden, Sean dan Quin.
Yang lainnya hanya tersenyum miring menanggapi ucapan ngga bermanfaat Deva.
Jetro tersenyum miring.
Pasti sudah di amankan, lah, batinnya yang menyahut.
Endflashback
Jetro menatap Febi yang tampak resah.
"Kita makan dulu aja, ya. Aku sudah lapar," ucapnya sambil meraih piring yang berisi sate. Lengkap dengan lontong dan kuahnya.
Kalo Febi belum mau ketemu dokter, berarti lecetnya masih biasa saja, pikir Jetro tenang.
Febi reflek membantu menyajikannya buat Jetro, membuat laki laki itu tersenyum samar.
Dia jadi ingat maminya yang selalu begitu saat makan bersama papinya.
Jetro meletakkan tiga tusuk sate kambing di piring Febi yang memilih sarapan dengan bubur ayam.
Kemudian Jetro meletakkan sepotong pah@ ayam goreng.
"Sudah." Febi bermaksud menolak. Tapi Jetro malah menyuwir kasar daging pah@ itu.
"Kalo bubur gitu aja, ngga akan bikin kenyang dan nambah tenaga," sahut Jetro yang membuat Febi tidak melakukan protes lagi.
Sambil makan Jetro terus menatap Febi. Mereka belum lama kenal tapi setelah malam tadi Jetro merasa perasaannya kian dalam.
Febi yang tidak sadar kalo Jetro sedang menatapnya, tetap tenang menikmati makanannya dengan cukup lahap. Dalam hati mengakui kebenaran ucapan Jetro kalo hanya bubur saja, dia tidak akan merasa kenyang dan juga tidak akan bisa mengganti tenaganya yang hilang.
Tadi malam, tenaganya memang sudah terkuras abis. Ibarat kelapa parut, Jetro sudah memer@snya patinya sampai yang tertinggal hanya ampasnya saja.
Jetro juga selain menghabiskan tujuh tusuk sate yang potongan dagingnya cukup besar berikut lontong. Bahkan dia juga menambah porsi makannya dengan semangkuk bakso.
Baru kali ini Jetro merasa n@fsu makannya sebesar ini.
"Nanti kamu masih tetap bertugas dengan Cakra?" tanya Jetro setelah makanan yang mereka nikmati tinggal sedikit meninggalkan sisa.
Dia agak ngga rela kalo istrinya masih jadi bawahan Cakra.
"Iya. Dia, kan, bos."
Jetro menatap lekat manik mata Febi.
"Kamu ngga akan sungkan dengan dia? Kan, kalian hampir menikah."
Febi membalas menatap Jetro dengan acuh.
"Bukannya itu kamu yang harusnya sungkan, karena udah ngambil posisi dia?"
Jetro spontan tersenyum mendengar ucapan mengejek Febi.
"Iya, sih."
Udah tau nanya, sungut Febi dalam hati.
"Aku perlu sungkem dengan dia?"
"Harus, ya?" Febi balik bertanya. Kecurigaannya makin kental aja di dalam benaknya.
Jetro menampakkan senyunnya dengan lebih jelas. Senyum meremehkan.
"Kecuali kalo kamu memang ada andil bikin dia ngga bisa datang," todong Febi santai melanjutkan ucapannya tadi.
Kali ini senyum yang berusaha Jetro tahan berubah jadi lengkung yang sangat sempurna.
"Tapi kamu suka, kan?" sahut Jetro tanpa beban.
DEG
Febi akui, dia lebih suka dinikahi Jetro dan bersyukur karena laki laki itu sudah menyelamatkannya dari bos sakit jiwanya. Apalagi laki laki ini sampai melakukan perencanaan total atas tindakan nekatnya. Febi merasa sangat diusahakan. Padahal siapa, sih, dirinya? Hanya seorang pokwan, bukan anak presiden atau pejabat pemerintah.
Papanya juga belum masuk dalam jajaran konglomerat sekelas keluarga Jetro, walaupun kehidupannya sudah sangat berlebihan.
"Ngga ada buktinya, kan?" Agak khawatir juga kalo Cakra akan mempermasalahkannya nanti.
Lako laki sakit jiwa itu bisa melakukan apa saja, kan?
"Aman." Jetro mengunci tatap mata Febi. Kemudian dia meraih wajah itu dan mengec up bibirnya.
DEG
Febi kaget dengan serangan tiba tiba Jetro, hanya bisa memejamkan mata
"Kamu kebanykan makan sambal," bisik Jetro setelah menjauhkan wajah dan bibirnya.
Sebenaranya dia ingin melakukannya lagi, tapi melihat cara Febi melangkah tadi, Jetro tau kalo dia harus bersabar dulu. sekarang.
Tapi sekarang hatinya sudah bisa tersenyum, karena tidak sesulit yang dia pikir untuk melakukan physical touch dengan Febi. Gadis itu tak pernah menolaknya. Jetro yakin, dia ngga akan mungkin di dor.
Sementara Febi masih belum bisa mengsinkronkan logika dan perasaannya sekarang. Dia malah merasa kecewa karena ciu man yang dilakukan Jetro cukup singkat.
Salahkah kalo dia menginginkan lebih?
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,