Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan Anggareksa dan Danu yang gagal
Anggareksa menatap wajah mantan bawahan yang sudah jadi sahabatnya dengan frustasi yang amat sangat.
Danu yang sudah mendengar curhatan tak terduga ini hanya bisa menarik nafas panjang berkali kali. Cerita Anggareksa sangat mengejutkannya.
Sekarang dia mengerti kenapa mantan bosnya tidak menceritakan bagian ini di depan istrinya.
"Cakra pasti sudah menduganya," tebak Danu karena mengingat penolakan putranya kemarin.
"Ya." Anggareksa. Kemarahan masih membara di dalam dadanya. Kata kata Fiola cukup menganggunya.
"Jadi kuta tidak bisa berbesanan, ya, Pak Angga."
Anggareksa menatap sahabatnya dengan sorot hampa.
"Maaf, ya. Aku tidak bisa menepati janjiku. Semoga Cakra mendapatkan yang lebih baik dari kedua putriku."
"Semoga, Pak. Kita tidak bisa memaksakan anak anak kita. Tapi kita tetap sahabat walaupun tidak menjadi besan," ucap Danu Sumirat bijak.
"Ya. Padahal aku sangat mengharap Cakra," ucapnya masih dengan nada penuh kekecewaan.
"Cakra pasti tidak keberatan dianggap anak olehmu."
Anggareksa tersenyum.
"Terimakasih."
*
*
*
Cakra masuk kerja seperti biasa, seolah apa yang terjadi bukan masalah besar buatnya.
"Bos, maaf." Wira dan Rino segera memasuki ruangan bosnya.
"Lupakan saja."
"Aku yakin kalo hanya minum dua gelas saja." Wira masih membela diri.
"Pasti ada sabotase. Aku yakin." Rino ikut menyahuti.
"Aku curiga, suami Febi yang melakukannya," tuduh Wira.
"Kerjaan mereka terlalu rapi. Aku sempat minta rekaman cctv, ternyata sudah rusak sejak seminggu yang lalu. Jadi kita tidak bisa melihat apa yang sudah terjadi," sambung Rino dengan nada kesal.
Cakra tersenyum, dia tetap tenang. Dalam hati kecurigaannya juga sama dengan dua pengawalnya.
Tapi setelah semuanya terjadi dia malah bersyukur karena tidak jadi menikah dengan Febi.
"Tidak apa apa. Memang laki laki itu harus berjuang keras kalo mau menikah dengan Febi."
Wira dan Rino saling tatap. Pernyataan Cakra tidak mereka duga karena mereka berpikir Cakra akan mengamuk pada mereka.
"Kalian juga sudah tau, kan, gosip hubungan Jetro dengan Febi "
Keduanya mengangguk. Mereka yang satu ruangan dengan Febi sudah lama tau.
"Kalian juga tau hubungan aku dan Fiola, kan?" tanya Cakra lagi.
Wira dan Rino mengangguk ragu.
"Santai saja. Aku tau pernikahanku dengan Febi pasti jadi bahan omongan." Cakra tertawa melihat wajah rikuh kedua bawahannya.
"Jadi tidak perlu kita selidiki lagi, pak bos?" tanya Wira.
"Buat apa. Sudah jelas, kan." Cakra masih tergelak.
Wira dan Rino saling tatap lagi. Bosnya tidak terlihat terpukul.
*
*
*
Gisela menatap heran temannya-Fiola, yang mengundangnya ke kamar hotelnya.
Dia ngga habis pikir karena Fiola tetap menolak Cakra dan berkeras menginginkan Jetro.
"Kamu sudah pikir matang matang?" Gisela ikut membaringkan tubuhnya di kasur empuk, di samping Fiola.
"Ya. Lagi pula umurku belum tiga puluh. Kamu juga belum nikah," kilah Fiola santai.
"Ya, terserah kamu ajalah." Gisela malas mau ikut campur urusan teman saru profesinya.
"Sel, kamu kenapa belum nikah?"
Gisela tersenyum.
"Emang harus, ya, nikah?"
Fiola menatap temannya serius. Dia baru sadar mereka ngga terlalu dekat dan dia ngga tau apa apa tentang Gisela.
Yang hanya Fiola tau, Gisela teman satu profesi yang bekerja di tempat yang sama dan sering mengajaknya bekerja di jet jet mewah pribadi.
Gisela juga tidak pernah menceritakan tentang keluarganya. Malah dia yang akhir akhir ini yang sangat terbuka tentang masalah yang dia hadapi dan juga keluarganya.
"Kamu ngga ada rencana mau nikah?" tanya Fiola. Gisela juga sangat cantik, dan Fiola yakin kalo temannya juga banyak yang suka menggodanya
Tapi sepertinya dia tidak tertarik dengan laki laki mana pun.
"Buat apa. Toh, aku bisa nyari uang sendiri. Aku bisa belanja yang aku mau, jalan jalan ke luar negeri. Kalo punya suami belum tentu aku bisa bebas pake uangnya." Gisela tertawa setelah penjelasan panjang lebarnya berakhir.
Fiola ikut tertawa mendengarnya.
"Jadi kamu ngga akan nikah nikah?" tanya Fiola setelah tawa mereka usai.
"May be. Kamu sendiri, tetap nunggu Jetro?"
"Ya," jawab Fiola mantap.
Gisela menggelengkan kepalanya.
"Terserah kamulah. Tapi menurut aku harusnya kamu sama Cakra aja. Dia secinta itu sama kamu."
Fiola menggeleng.
"Cakra ngga punya pesawat pribadi."
Gisela tertawa mendengarnya.
"Ya, ngga mungkinlah. Kecuali kalo Cakra koru-psi," timpal Gisela di sela tawanya.
*
*
*
Cica, Hana, Juwita dan Nashwa menatap laki laki muda yang cukup rutin mengunjungi seorang wanita paruh baya yang masih dalam proses hukum.
Kantor mereka berdekatan dengan rutan yang sedang dikunjungi laki laki muda itu.
"Sekarang penampilannya lebih sederhana, ya," cuit Hana.
"Iya, dulu banget pake jas mahal. Sekarang hanya kemeja biasa saja," komen Juwita.
"Ngga nyangka laki laki setampan itu anak ibu yang nyebelin," sarkas Cica.
Teringat betapa hebohnya ibu ibu yang mengaku sosialita itu ditangkap.
Ibu ibu yang bernama Latifa dan mengaku jadi istri seorang konglomerat itu selalu saja membuat kehebohan.
Apalagi setelah seorang gadis muda yang ditahan juga. Awalnya mereka berdua berada di dalam sel yang sama karena terlibat di kasus yang sama. Tapi karenaa sering bertengkar mulut dan berlanjut main tangan dan kaki, kedua wanita beda umur itu dipisahkan selnya.
Jangan tanyakan keributan yang terjadi di saat kedua wanita itu di waktu waktu tertentu berada di luar sel. Teman teman mereka selalu sibuk memisahkan pertengkaran mereka. Hanya saja wanita yang lebih tua itu lebih pintar sekarang. Dia suka menggunakan tahanan lain untuk mengasari wanita yang lebih muda.
Mungkin karena uangnya yang lebih banyak hingga bisa membayar tahanan tahanan yang lain untuk menghajar wanita muda yang bernama Nafa.
Sudah sering Nafa masuk ke klinik untuk mengobati luka luka akibat cengkeraman atau tamparan di wajah dan tangannya.
Cica dan teman temannya yakin, wanita paruh baya itu sangat dendam pada Nafa.
"Ngga naksir, Ca?" ledek Nashwa yang membuat teman temannya tertawa karena Cica mendelikkan matanya.
"Nggaklah. Ngeri punya mertua kayak gitu," cibir Cica.
"Hukumannya bakal lama, kok. Dia juga kayaknya ngga akan bisa keluar dari sel," imbuh Nashwa lagi.
"Kenapa ngga buat kamu aja," cibir Cica lagi.
"Iya, Nashwa. Buat kamu aja kalo Cica ngga mau?" ledek Hana.
"Nggaklah. Lebih baik buat Cica aja," tolak Nashwa.
Cica mendengus.
"Belum tentu juga mau sama kita."
"Kalo dia mau, kamu bakal mau, Ca?" Juwita ikut meledek.
Cica mendengus lagi.
maafkan jika ada kritik, saran/pun komen aq zg tanpa sengaja menyinggung kalian yaaaa.... 😊😊😊