Menumpang di rumah kakaknya sendiri seharusnya terasa aman.
Namun justru di sanalah semuanya berubah.
Di balik rumah tangga yang terlihat tenang, ternyata tersimpan jarak, kesunyian, dan luka yang tak pernah terlihat orang lain. Ia hanya berniat tinggal sementara… tapi semakin lama, ia mulai melihat sisi lain dari pria yang seharusnya tak boleh ia perhatikan.
Tatapan yang terlalu lama.
Perhatian yang terasa berbeda.
Dan debar yang muncul di waktu yang salah.
Ia tahu batasnya.
Ia tahu itu salah.
Tapi bagaimana jika hati justru tertarik pada seseorang yang tak pernah dimiliki siapa pun bahkan oleh istrinya sendiri?
Dan ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap…
hubungan terlarang itu perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syizha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan tidak terduga
"Iya, Mas," lirihnya.
"Yuk!" Aku berdiri.
"Yuk, kemana?" Wajah Alana mendongak ke arahku.
"Kita pergi dari sini. Abis itu kita belanja."
"Hah! Belanja apa?"
"Katanya kamu pengen beli baju-baju bagus, tas-tas bermerek, sepatu. Atau barang-barang yang lainnya. Mas akan beliin buat kamu."
"Hah!" Alana terkejut.
"Nggak usah, Mas." Dia menolak.
"Nggak pa-pa. Dari pada kamu harus bekerja kayak gini."
Aku memaksa. Bahkan aku sampai menggeret tangan Alana agar ia ikut beranjak berdiri sepertiku. Dan akhirnya, ia pun patuh. Kami berdua segera meninggalkan kamar hotel.
Pergi menuju ke mal yang terdekat dari keberdaan kami saat ini.
***
"Kamu pilih yang kamu suka," ucapku ke arah Alana.
Kini kami berada di sebuah toko pakaian ternama.
"Aku nggak enak, Mas." Alana masih berusaha menolak.
"Kenapa nggak enak, aku kan Mas kamu. Jadi kamu santai aja."
Alana terdiam sesaat. Ia masih begitu bimbang menerima kebaikanku.
"Yaudah deh, kalau Mas Juna maksa. Tapi jangan salahin aku lho, kalau ntar uangnya Mas Juna habis gara-gara aku."
"Nggak akan. Uang Mas
banyak."
"Dih, sombong." Kami pun sama-sama tertawa.
Alana mulai memilih-milih baju yang menurutnya bagus. Sedang aku hanya terus menemaninya. Kadang dimintai pendapat. Dan aku pun menjawab apa adanya ketika pilihannya tak bagus menurutku.
Kebersamaan kami menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sini. Entahlah, mungkin sosok Alana sangat kentara kalau masih terlalu muda. Sedang aku, laki-laki matang akhir dua puluhan.
Mungkin perbedaan usia kami yang membuat aneh di mata mereka.
"Mas Juna nggak nyaman ya?" Tiba-tiba Alana bertanya seperti itu. Ia sambil memilah-milah baju yang menggantung di hadapannya.
"Nggak nyaman kenapa?" Aku kebingungan.
"Di tatap sama orang-orang."
Aja." "Oh itu. Mas hanya malu
"Malu kenapa?"
"Mas kayak berasa Om-om yang lagi jalan sama ABG."
"Dih, kata siapa Om-om. Mas Juna masih keliatan muda banget, kok. Ganteng lagi. Aku malah bangga bisa pergi sama Mas Juna kayak gini.
"Lagian, orang-orang yang lagi ngeliat kita tuh bukan mikir kayak gitu."
"Terus mikirnya apa?"
"Mereka lagi iri sama aku."
"Maksudnya?" Aku kebingungan.
"Pasti mereka ngira Mas Juna tuh pacar aku. Dan Mas Juna tuh terlalu sempurna buat aku. Makanya mereka iri."
Aku tertawa kecil menanggapi ucapannya.
"Ternyata kamu pinter juga ya ngegombal," celetukku.
"Aku tuh nggak lagi ngegombal, Mas. Aku tuh ngomong apa adanya."
Aku kembali tertawa. Tapi kali ini sambil merasakan wajahku yang terasa memanas. Dan mungkin terlihat merah.
"Oh ya, Mas Juna nggak mau belanja juga?" tanya Alana.
"Enggak. Mas lagi nggak pengen beli aра-ара."
"Yang ini kayaknya bagus kalau dipakai Mas Juna." Tiba-tiba Alana memilihkan sesuatu untukku. Sebuah kemeja bewarna abu-abu yang juga menurutku lumayan bagus.
"Mas Juna beli ini ya!" pinta Alana.
ini?" "Kamu pengen Mas pakai
"Hu'um."
"Yaudah kalau gitu." Aku menuruti keinginan Alana. Aku membeli kemeja tersebut.
"Kamu mau beli apa lagi?" tanyaku saat Alana sudah terlihat kecapekan memilih-milih baju dan membeli beberapa.
"Kayaknya udah aja deh, Mas."
"Beli lagi nggak pa-pa. Ini masih dikit kan." Aku menuding baju-baju yang sudah dipilih Alana.
"Kalau beli baju tidur boleh nggak?" tanyanya.
"Boleh."
Alana langsung menggeretku. Mengajakku ke bagian baju-baju tidur. Kemudian kami berhenti di depan beberapa lingeryn yang harusnya dikenakan wanita dewasa.
"Mas Juna bantu pilihin aku dong!" pinta Alana.
"Menurut Mas Juna dari beberapa lingeri ini mana yang paling bagus."
"Jadi kamu mau beli baju kayak gini?" Aku terkejut.
"Iya," jawabnya santai.
"Tapi ini kan untuk wanita yang biasanya udah menikah.
Dipakai kalau lagi mau___" Aku tak meneruskan kata-kataku.
Aku sedikit malu menjabarkannya.
"Emang kenapa? Kan nggak dilarang siapapun pakai kayak gini."
"Iya, sih. Tapi___" Lagi-lagi ucapanku terhenti. Aku malah menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal.
"Buruan, Mas. Pilihin! Mana yang menurut Mas Juna yang paling bagus," paksa Alana. Akhirnya aku pun menurutinya. Aku melihat dengan saksama empat baju lingerie di hadapanku. Aku paling tertarik dengan baju yang pertama. Sangat terbuka, tapi begitu menarik dan seksi. Namun, mana mungkin aku memilihkan Alana yang itu. Rasanya kurang pantas.
"Yang ini." Akhirnya aku menunjuk lingeri yang paling sopan di antara yang lainnya. Bukan yang menurutku bagus tadi.
"Mas Juna tuh nggak boleh bohong." Alana malah berkata seperti itu.
"Bohong gimana?"
"Sebenarnya yang Mas Juna pilih yang ini kan?" Alana menunjuk lingerie yang sesungguhnya aku sukai.
"Enggak, kok." Aku mengelak.
"Dih! Bohong mulu. Jelas-jelas dari tadi Mas Juna ngeliatin yang ini. Malah Mas Juna sambil menelan ludah. Pasti Mas Juna lagi ngebayangin aku pakai lingerie ini. Iya, kan?"
"Hah. Enggak! Aku sama sekali nggak kayak gitu. Aku dari tadi"
"Fix, aku beli yang ini."
Alana memotong ucapanku. Ia bergegas mengambil lingerie yang paling terbuka tersebut. Ia membawanya ke kasir. Ia benar-benar membelinya.
Aku tak bisa melarangnya.
Aku segera membayar apapun yang dia ambil. Setelah itu kami keluar dari toko baju.
"Kamu mau beli tas juga kan?" tanyaku di antara langkah kaki kami.
"Nggak usah, Mas. Beli baju ini aja aku udah seneng banget, kok. Lagian, aku masih punya tas."
"Nggak pa-pa, beli lagi. Cewek kan biasanya koleksi tas."
"Dih! Dasar tukang maksa!" rutuknya tapi sambil tertawa.
Settttt....
Tiba-tiba Alana menggandeng tanganku. Melingkarkan tangannya di lenganku. Aku pun terkejut.
"Kamu ngapain?" Aku spontan bertanya.
"Aku gandeng Mas Juna biar orang semakin ngiranya kalau kita sepasang kekasih," tuturnya.
"Kenapa harus kayak gitu?"
"Ya nggak pa-pa. Buat seru-seruan."
"Tapi Mas malu."
"Malu kenapa? Malu karena aku?"
"Bukan. Kamu kan adik Mas. Masak kayak gini."
"Justru karena aku adiknya Mas, jadi nggak pa-pa kalau kita kayak gini."
Kali ini aku tak bisa menimpali ucapannya. Karena kalimatnya ada benarnya juga. Maka aku pun membiarkan perbuatan Alana. Meski aku sangat kentara canggung.
Kami terus melangkah sambil Alana yang begitu santai menggandeng tanganku. Berjalan di kawasan mal.
Mencari toko tas yang menurut kami bagus. Tapi ketika langkah kami melewati sebuah cafe, aku tertegun. Aku melihat Liliana.
Dia sedang keluar dari cafe tersebut. Dia sedang bersama seorang pria. Dan begitu tatapan kami bertemu, langkah Liliana terhenti. Begitu pun dengan langkahku. Kami saling bertemu pandang untuk beberapa saat, tanpa kata-kata.
"Kamu kenal dia?" Laki-laki yang ada di samping Liliana, bertanya. Mungkin dia heran dengan gelagat kami. Dan melihat apa yang kami lakukan. Melihat tatapan kami yang bertemu.
"Enggak," jawabnya. Setelah itu Liliana meneruskan langkahnya. Melenggang begitu saja bersama laki-laki tersebut.
Sedang aku, tengah syok. Tercekat dengan jawaban Liliana yang baru saja, mengenaiku.