Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Goresan ketenangan.
Aska berdiri di tengah ruang tamu apartemen Nana yang berantakan dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya datar, namun matanya yang tajam tidak bisa menyembunyikan rasa jijik pada debu yang menebal di permukaan meja. Di belakangnya, dua orang petugas kebersihan profesional yang ia sewa segera bergerak cepat dengan vakum dan cairan pembersih.
"Kau," Aska menoleh ke arah Nana yang masih duduk mematung di sofa yang baru saja dibersihkan sedikit oleh salah satu petugas.
"Mandilah. Pakai air hangat. Aku tidak mau melihat orang yang penampilannya lebih buruk dari gembel jalanan."
Nana mendongak pelan. Matanya yang sembab menatap Aska tanpa gairah. Ia tidak membantah, ia tidak punya energi untuk itu. "Aku tidak bau, Bang," bisik Nana pelan, membela diri dengan suara serak.
"Untungnya begitu. Kalau kau bau, aku sudah menyuruh petugas itu menyemprotmu dengan cairan disinfektan," sahut Aska kejam. Ia mengibaskan tangannya, mengusir Nana menuju kamar mandi. "Cepat. Sebelum aku berubah pikiran dan membiarkanmu membusuk di sini."
Nana bangkit dengan langkah gontai. Di bawah kucuran air hangat, ia membiarkan semua rasa sakit itu mengalir bersama air. Satu bulan. Satu bulan ia membiarkan dirinya mati sebelum benar-benar dikubur. Saat ia keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya dan pakaian yang lebih bersih, ia melihat seorang wanita muda yang modis sedang duduk di sofa, berbincang dengan Aska.
"Ah, itu dia! Nana, ya?" Wanita itu berdiri dengan senyum lebar yang sangat kontras dengan suasana apartemen yang kelabu.
"Nana, ini Ria. Sepupuku," kata Aska sambil merapikan jam tangannya. "Dia akan tinggal bersamamu selama beberapa hari. Aku punya kasus di luar kota yang tidak bisa ditinggal."
Nana tertegun. "Bang, aku bisa sendiri..."
"Tidak, kau tidak bisa," potong Aska tajam. Ia menatap Ria seolah memberi instruksi tanpa kata, lalu kembali menatap Nana. "Ria akan memastikan kau makan makanan manusia, bukan biskuit kadaluwarsa. Dan jangan coba-coba mematikan ponselmu lagi, atau aku akan menyuruh polisi mendobrak pintumu setiap dua belas jam."
Tanpa menunggu jawaban, Aska melenggang pergi. Pintu apartemen tertutup, meninggalkan Nana bersama orang asing yang memiliki energi seperti matahari di tengah badai.
Ria tidak seperti Aska. Jika Aska adalah pedang yang tajam, Ria adalah selimut yang hangat. Wanita itu tidak langsung menghakimi atau bertanya tentang "kebodohan" Nana seperti yang sering dilakukan Aska.
"Wah, Aska benar, kau memang manis ya meskipun sedikit pucat," ujar Ria sambil membongkar kantong belanjaan yang ia bawa.
"Dia bilang kau sedang sakit, jadi aku bawakan sup ayam dan... hei, apa ini?"
Ria berjalan menuju meja pojok yang tertutup kain. Ia menyikapnya dan menemukan sebuah tablet grafis yang sudah berdebu dan tumpukan kertas sketsa yang ujungnya mulai menguning.
"Kau bisa menggambar?" tanya Ria, matanya berbinar tulus.
Nana mendekat dengan ragu, menyentuh permukaan tablet grafisnya. "Dulu iya. Tapi sudah lama aku tidak menyentuhnya. Tris tidak suka kalau aku terlalu sibuk menggambar, katanya itu membuang waktu."
Ria mendengus keras, tangannya memegang pinggang. "Tris? Duh, Nana, jangan dengarkan laki-laki yang selera aksesori wanitanya saja payah. Gambarmu ini luar biasa."
Ria mengambil salah satu kertas yang memperlihatkan sketsa seorang gadis dengan gaun megah di tengah hutan. Garis-garisnya tegas namun memiliki sentuhan emosional yang kuat.
"Aku punya teman yang bekerja di Stellar Komik Studio. Mereka selalu butuh orang yang punya feel seperti ini," lanjut Ria sambil menatap Nana.
"Nana, dengar ya. Kau tidak bisa terus-menerus meratapi kalung yang pecah. Tapi kau bisa menggambar kalung baru yang jauh lebih indah di komikmu sendiri."
Nana terdiam. Kata-kata Ria meresap perlahan. Selama satu bulan ia merasa dunianya berakhir karena Tris menghancurkan kenangan ibunya. Namun, melihat alat gambarnya kembali, Nana teringat bahwa sebelum ada Tris, ia punya dunianya sendiri yang ia bangun dengan garis dan warna.
"Aku ... aku tidak tahu apa aku masih bisa," cicit Nana.
Ria tersenyum, lalu menarik kursi untuk Nana. "Tentu saja bisa. Malam ini, kau makan sup ayam dariku, lalu kau coba gambar satu saja sketsa. Kalau hasilnya bagus, aku akan bicara pada temanku di studio itu. Bagaimana?"
Melihat ketulusan di mata Ria, benteng pertahanan Nana yang dingin perlahan retak. Bukan oleh cinta, melainkan oleh sebuah kesempatan untuk bernapas kembali. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Nana tidak memikirkan apakah Tris akan menelepon atau tidak. Ia justru menatap ujung pena digitalnya yang sudah lama ia lupakan.
"Akan kucoba," jawab Nana pelan, sebuah keputusan kecil yang tanpa ia sadari akan mengubah seluruh alur hidupnya.
Lampu meja belajar itu adalah satu-satunya sumber cahaya di sudut ruangan, menyinari tangan Nana yang bergerak lincah di atas permukaan tablet grafis. Suara gesekan pen stylus dengan layar terdengar ritmis, seolah menjadi satu-satunya melodi di apartemen itu.
Ria duduk tidak jauh dari sana, menyesap teh hangatnya sambil memperhatikan Nana dalam diam. Sebagai seorang dokter psikologi, Ria tahu persis apa yang sedang terjadi. Ia tidak hanya melihat seorang gadis yang sedang menggambar; ia sedang melihat seorang pasien yang sedang melakukan self-healing.
"Garis itu berani sekali, Nana," puji Ria dengan nada lembut saat melihat Nana menarik garis tegas untuk membentuk rahang sebuah karakter.
Nana sempat terhenti, jemarinya sedikit kaku.
"Benarkah? Aku merasa goresanku sedikit kasar."
"Justru itu yang membuatnya hidup," sahut Ria lagi. "Kekasaran itu menunjukkan emosi. Karakter ini... dia terlihat seperti sedang menyimpan rahasia besar, ya?"
Nana menatap layar monitornya. Karakter yang ia gambar adalah seorang wanita dengan mata yang tajam namun penuh luka, sangat berbeda dengan karakter imut dan ceria yang biasa ia gambar dulu saat masih berusaha menyenangkan hati Tris. Tanpa sadar, Nana memasukkan setiap jengkal rasa sakitnya ke dalam goresan pensil digital itu.
"Mungkin," jawab Nana pendek. Ia kembali tenggelam dalam dunianya.
Setiap kali Nana berhasil menyelesaikan satu detail, bayangan pada rambut atau kilau di mata karakter, Ria akan memberikan komentar positif yang tulus. Pujian-pujian kecil itu seperti tetesan air di tanah yang kering. Nana yang selama tiga tahun hanya mendengar kritikan dan keluhan dari Tris.
Ria tersenyum tipis. Dalam catatan medis tak tertulisnya, ia menandai kemajuan besar. Fokus Nana telah berpindah. Objek obsesinya bukan lagi ponsel yang menunggu pesan dari Tris, melainkan detail-detail anatomi dan komposisi warna.
"Kau tahu, Nana?" Ria meletakkan cangkirnya. "Menggambar bukan hanya soal bakat. Itu adalah caramu bicara saat mulutmu terlalu lelah untuk bersuara. Dan sepertinya, kau punya banyak hal untuk diceritakan pada dunia."
Nana berhenti menggambar, ia menatap tangannya yang sedikit bergetar. "Selama ini aku berpikir hobiku ini kekanak-kanakan. Tris selalu bilang aku lebih baik belajar memasak daripada membuang waktu di depan komputer."
Ria mendengus pelan, namun tetap menjaga suaranya tetap tenang. "Memasak adalah keterampilan, tapi menggambar adalah jiwa. Jangan biarkan orang yang tidak punya seni di hatinya mendikte apa yang berharga bagimu."
Nana menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya dalam satu bulan, ia merasa lapar, bukan hanya lapar akan makanan, tapi lapar akan pencapaian.
"Ria," panggil Nana tanpa menoleh dari layar. "Temanmu di Stellar Komik Studio itu ... apakah mereka menerima orang yang bahkan belum punya portofolio profesional?"
Ria hampir saja memekik kegirangan, tapi ia menahan diri agar tidak menakuti Nana. "Mereka mencari bakat, Nana. Bukan sekadar tumpukan sertifikat. Dan dari apa yang kulihat malam ini, kau punya lebih dari sekadar bakat. Kau punya 'nyawa' di setiap garisnya."
Malam itu, apartemen Nana tidak lagi terasa seperti makam. Suara tawa kecil Ria dan gumaman diskusi mereka tentang desain karakter mengisi udara, mengubur sisa-sisa bayangan Tris di sudut ruangan. Nana belum sepenuhnya sembuh, tapi malam ini, ia telah menemukan kembali senjatanya yang hilang.
***
Nana bangun lebih pagi. Meskipun matanya masih terlihat sedikit sayu, ia sudah membersihkan wajahnya tanpa perlu diperintah. Ia melihat Ria sedang menelepon seseorang di balkon.
"Ya, dia punya gaya yang unik ... sangat sinematik. Aku akan mengirimkan beberapa sketsanya padamu siang ini," ucap Ria di telepon.
Nana terdiam di ambang pintu. Ia merasa gugup, tapi ada rasa hangat yang asing di perutnya. Harapan. Sesuatu yang ia pikir sudah mati bersama hancurnya kalung ruby itu.
Saat Ria berbalik dan melihat Nana, ia langsung menutup teleponnya. "Siap untuk membuat portofolio pertamamu, Artis Nana?"
Nana mengangguk mantap. "Siap."
Bersambung....