Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
Malam ini harusnya romantis, sederhana dan hangat.
Ken sudah reservasi restoran rooftop favoritnya.
Bukan tempat mewah berlebihan.
Tapi tempat pertama kali ia dan Zara makan malam untuk menyatakan perasaannya masing-masing dan resmi menjadi pasangan sungguhan.
Zara bahkan sudah siap dari sore.
Gaun simpel warna soft blue.
Rambutnya dibiarkan terurai.
Ia tersenyum saat melihat Ken turun tangga dengan kemeja hitam rapi.
Ken tersenyum hangat pada Zara.
“So…Beautiful.”
Zara tersenyum malu.
“Kamu juga...ganteng banget.”
Atmosfernya ringan.
Hangat.
Hampir seperti sebelum semua ini rumit.
Tepat saat mereka hendak keluar.
Pintu rumah tamu terbuka.
Eve berjalan pelan.
Wajahnya pucat.
Tatapannya sedikit kosong.
“Kalian mau pergi?”
Ken berhenti.
“Iya...Kami mau dinner.”
“Oh…”
Ia menunduk.
“hanya berdua?”
Zara tetap tersenyum sopan.
“Iya, Eve. Sudah lama nggak quality time.”
Eve menggigit bibirnya pelan.
“Maaf… aku cuma…”
Ken langsung menoleh.
“Kamu kenapa?”
“Aku… nggak enak badan sedikit. Tiba-tiba pusing.”
Zara mengerutkan keningnya.
Satu minggu ini Eve sehat.
Stabil.
Aktif.
Tapi sekarang?
Eve memegang pelipisnya.
“Maaf… mungkin karena aku terlalu Lelah karena belum terbiasa bekerja…”
Kalimat itu sengaja pelan.
Seolah tidak ingin didengar.
Tapi cukup jelas.
Ken terlihat bimbang.
“Kalau kamu nggak enak badan.”
“Aku nggak apa-apa kok,” potong Eve cepat.
“Aku cuma… takut sendirian.”
Sunyi.
Zara melihat perubahan di wajah Ken.
Rasa tanggung jawab.
Rasa kasihan.
Dan itu cukup.
“Aku ikut saja ya?” lanjut Eve pelan.
“Biar nggak sendirian…”
Zara terdiam, menoleh pada Ken.
Ken tidak langsung menjawab, ia juga menoleh pada zara,
Tapi juga tidak menolak.
Akhirnya…
“Ikut aja kalau memang takut sendirian.”
Dan malam yang seharusnya berdua....menjadi bertiga.
Restoran itu tetap indah.
Lampu kota berkelip.
Musik lembut mengalun.
Tapi meja mereka terasa sempit.
Eve duduk di sisi Ken.
Zara di seberang.
Eve beberapa kali menyentuh lengan Ken.
“Ken, kamu masih ingat nggak kedai kopi pertama kita dulu, tempat kita menghabiskan malam demi bayar kuliahku?”
Ken tersenyum tipis.
“Ingat.”
“Kamu pernah bilang mau buka cabang lagi kan.”
Zara diam.
Ken tidak pernah cerita detail itu padanya.
Eve tertawa kecil.
“Kamu dulu keras kepala banget.”
Percakapan perlahan bergeser.
Dari masa kini.
Ke masa lalu.
Zara tersenyum.
Tapi kali ini.
Senyumnya tipis.
Saat makanan datang, Eve kembali memegang pelipisnya.
“Ken… aku agak pusing lagi.”
Ken langsung fokus.
“Kamu mau pulang?”
“Kalau nggak merepotkan…”
“Tapi kita makan dulu aja, makanannya sudah terlanjur datang.”
Zara menunduk.
Malam itu akhirnya berakhir lebih cepat.
Ken mengantar Eve dulu ke rumah tamu.
Zara menunggu di mobil.
Sendirian.
Dan untuk pertama kalinya.
Ia merasa seperti orang ketiga.
Di kantor, Eve mulai berubah strategi.
Ia tidak lagi hanya manis.
Ia mulai menunjukkan kemampuan.
Suatu pagi, klien besar datang mendadak.
Zara sedang menyusun presentasi.
Eve melihat sekilas.
Lalu berkata lembut,
“Kalau boleh saran…ini grafiknya terlalu sederhana zara.”
Zara menoleh.
“Ini sudah sesuai brief.”
Eve tersenyum.
“Tapi klien tipe ini biasanya suka angka yang lebih detail.”
Tanpa diminta, Eve mengambil alih sebentar.
Menambahkan data.
Menyusun ulang slide.
Saat presentasi berlangsung.
Klien tampak puas.
“Ini sangat komprehensif.”
Ken mengangguk.
“Good job.”
Ia menatap Zara dan Eve bergantian.
Tapi Eve berbicara lebih dulu.
“Semua sudah disiapkan Zara kok, aku cuma bantu sedikit.”
Nada rendah hati.
Tapi cukup untuk meninggalkan kesan bahwa ia lebih dari zara.
Beberapa hari berikutnya.
Eve mulai sering mendahului.
Menjawab sebelum Zara.
Mengoreksi dengan halus.
“Oh, sepertinya file itu belum lengkap ya.”
“Atau mungkin bisa lebih detail lagi.”
Semua dibungkus senyum.
Tanpa nada menyerang.
Tapi cukup membuat Zara terlihat… kurang.
Ken mulai memperhatikan.
“Good job eve.”
Kalimat sederhana.
Tapi bagi Eve.
Itu kemenangan kecil.
Malam itu di rumah tamu, Eve berdiri di depan cerminnya lagi.
“Aku nggak perlu menjatuhkan dia,” bisiknya.
“Aku cuma perlu jadi lebih baik.”
Karena pada akhirnya.
Ken selalu tertarik pada perempuan yang kuat.
Yang pintar.
Yang sejalan dengannya.
Dan Eve yakin.
Ia lebih mengenal Ken daripada siapa pun.
Zara mungkin tunangan.
Tapi Eve adalah sejarah.
Dan kadang,
Sejarah punya cara untuk mengulang dirinya sendiri.