“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”
Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.
Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.
Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu 1
“Woy … betino, jangan lari kamu!” Teriak beberapa laki-laki berbadan kekar.
“Sial bener!” Umpat Nadya.
Gadis berambut pendek itu terus menghindar, menyusup di antara kendaraan yang mengantri di lampu merah. Sesekali tubuh mungilnya terjingkat saat bunyi klakson pengendara yang seperti umpatan ketidaksabaran memekik di telinganya.
Tanpa memperhatikan sekitar Nadya terus berjalan—setengah berlari, memasuki area parkir sebuah minimarket hingga akhirnya tubuh kecilnya menabrak seseorang.
Bruk!
Dengan wajah panik dan napas tersengal, Nadya duduk berjongkok saat melihat preman berbadan kekar itu masih mengejarnya. Ia lalu meremas ujung jaket orang yang ditabraknya sambil bergumam.
“Tolong bantu saya sembunyi.”
Rizal—laki-laki yang tak sengaja tertabrak tertegun sejenak, sorot matanya memicing antara terkejut dan tak mengerti ucapan gadis di bawahnya. Ia kemudian mendongak perlahan, tatapannya menyapu sekitar hingga ia menyadari, ada tiga orang berbadan kekar celingukan seolah sedang mencari hewan buruan.
“Kemana perginya betina itu?! Cari sampai dapat, kalau tidak, bisa dihajar si bos kita!” teriak satu pria dengan tato di lengan kiri.
Satu pria berjalan ke parkiran, menatap penuh selidik tiap sela mobil yang tersusun rapat.
“Woy, Lae. Lihat betino lari dekat sini ndak?” tanya pria itu saat mendapati Rizal yang berdiri mematung dengan raut tak terbaca.
Rizal menengok ke kanan dan kiri, dahinya mengernyit dalam saat merasakan tangan gadis di bawahnya meremas pahanya kuat.
“Hah!” jawab Rizal tak mengerti dengan maksud si preman.
Pria bertubuh kekar itu memicingkan mata—curiga. “Kau lagi apo merem melek di tempat gelap itu?”
Rizal yang baru menyadari situasinya setelah merasakan pahanya kembali di remas dengan kuat, akhirnya memilih berpura-pura sedang melakukan kegiatan ekstrim. Raut wajahnya dibuat meringis keenakan, satu tangannya sengaja menekan kepala gadis yang menunduk di bawahnya.
“Kenceng sedikit sayang,” gumamnya, namun masih bisa tertangkap gendang telinga si pria kekar.
“Dasar bujang nggak tau diri! Nggak punya duit apa kau ngelaku cabul di parkiran!” umpat pria bertubuh kekar itu. “Cepet pergi. Kalau ndak ku arak kau keliling kota!” (dasar laki tidak tau diri, tidak punya duit kamu, berbuat cabul di parkiran. Cepat pindah, atau ku arak kau keliling kota)
“Ma-maaf, Bang, sudah nggak tahan,” kilah Rizal sambil melepas jaketnya lalu menyelimutkan ke kepala gadis di bawahnya.
Sambil setengah memeluk gadis yang belum dikenalnya, Rizal kembali membuka pintu mobil, lalu menyuruh Nadya cepat-cepat masuk, sementara dia dengan setengah berlari memutar menuju pintu kursi kemudi. Samar telinganya mendengar preman itu mengumpat kasar.
“Sial! Licin bener betino itu, sudah satu minggu lolos terus. Cari sampai dapat, kita harus bawa dia malam ini. Kalo ndak, bisa hancur bener muka kita.”
Mobil mulai melaju pelan, meninggalkan para preman yang masih celingukan.
Mata sendu laki-laki berwajah tampan itu melirik sedikit, sudut bibirnya terangkat tipis saat melihat gadis yang baru diselamatkannya masih menunduk dengan napas yang terengah-engah di bawah jaket kulitnya.
“Kita sudah keluar dari parkiran,” ucap Rizal kemudian seraya menyibak jaket yang menutupi gadis itu.
Bugh!
Satu tinjuan mendarat di lengan kiri laki-laki bertubuh lumayan kekar itu disusul tatapan bak anak panah yang menghunus tajam.
“Apa maksud omongan kamu tadi?!” hardik Nadya begitu jaket terbuka.
Rizal mengedikkan bahunya, bibirnya mencebik kecil. “Kepepet, mau bagaimana lagi?”
Gadis manis itu mendengus kasar, raut wajahnya masih menyiratkan murka. “Dasar otak mesum.”
Rizal mendelik seketika, bibirnya bergumam pelan. “Dasar tidak tau terimakasih, sudah bagus saya selamatkan.”
Nadya berdecih pelan, tatapannya menyapu laki-laki di sampingnya itu. “Cih, nggak ikhlas bener jadi orang,” sindirnya kemudian.
Rizal tak menoleh, hanya sudut bibirnya yang terangkat tipis. Ia terus melajukan mobilnya hingga gadis di sampingnya kembali membuka suara.
“Turunkan saya di depan caffee itu.”
Tanpa bertanya lebih lanjut Rizal menepikan mobilnya di depan caffee yang ditunjuk oleh Nadya, menarik rem tangannya lalu melirik sekilas sebelum kembali fokus pada jalanan di depannya.
Kepala gadis berambut pendek itu celingukan sebelum membuka pintu mobil, bibir mungilnya sontak mengumpat tajam saat melihat sekumpulan orang yang berkeliaran di parkiran caffee tempatnya bekerja.
“Sial orang tua itu, benar-benar ndak kasih ampun malam ini. Jalankan mobilnya cepat!” titahnya kemudian, membuat Rizal tersentak dan kembali menginjak pedal gasnya.
Laki-laki itu menengok sekilas, matanya seketika terbelalak seraya meneguk ludah pelan, saat melihat pemandangan di depan matanya.
“Itu …,” ucapnya terputus.
“Apa?” sahut Nadya di tengah kepanikan.
“Dada kamu basah,” sahut Rizal lalu kembali fokus pada kemudinya.
“Ai sial betul wah malam ini. Haist … tetek ini ndak lihat situasi dan kondisi pula,” oceh Nadya, bibir mungilnya terus-terusan mendengus kesal, sambil mengibas-ngibaskan kaos abu-abu yang melekat di badannya.
Rizal tersenyum samar, sebelah tangannya mengusap wajahnya pelan. Ia kemudian berdehem kecil sebelum memberanikan diri bertanya pada gadis yang belum diketahui namanya.
“Kalau boleh tau, apa kamu habis melahirkan atau—”
“Ini kelainan hormon,” sahut Nadya cepat, sorot matanya menajam, raut wajahnya menunjukkan ketidak ramahan.
Rizal mengulum bibirnya, pandangannya fokus pada jalanan, namun pikirannya tertuju pada dada Nadya. “Maaf, jika pertanyaan saya lancang. Apa yang keluar itu asi?”
Nadya memutar bola matanya malas, pertanyaan polos dari laki-laki yang baru ditemuinya itu membuatnya sedikit muak. “Ya asi. Namanya keluar dari tetek, kalo keluar dari batang kamu itu kencing.”
Tawa kecil meluncur dari bibir tipis Rizal saat menyadari kebodohannya sendiri. Ia kemudian memberanikan diri bertanya perihal preman yang mengejar gadis itu.
“Lalu, kenapa orang-orang tadi mengejarmu?”
“Ndak usah sok akrab, kita laju baru ketemu, buat apa pula kamu tanya-tanya hal itu.” sungut Nadya, seraya memalingkan muka.
Rizal melirik sekilas, ekor matanya menangkap jelas raut panik di wajah manis gadis yang baru saja ia selamatkan. Pria berwajah tampan itu kemudian berujar pelan, “siapa tau saya bisa membantu.”
Nadya menoleh cepat, bibir mungilnya menyeringai tipis. “Masalah duit, bisa bantu?!” sahutnya kemudian seraya menatap kosong jalanan yang masih dipadati kendaraan.
“Bisa, asal kamu juga bersedia membantu saya,” sahut Rizal datar.
Nadya berdecak kecil, seringai di bibirnya berubah kekehan pelan. “Bantu apa? Ngamar? Gadis baik-baik pula saya ini.”
Rizal menunduk sejenak, air mukanya berubah sendu. “Saya baru saja kehilangan istri saya, dia meninggal saat melahirkan putra kami—”
“Laju kamu mau saya jadi istri baru kamu! Laki nggak tau diri, baru juga ditinggal mati udah sibuk cari betina,” sergah Nadya.
Laki-laki beralis tebal itu menggeleng singkat, bibirnya mengulum senyum getir. “Bukan, jangan salah paham. Saya sedang mencari wanita yang bersedia jadi pendonor asi untuk anak saya.”
Nadya mengernyitkan alisnya, bibirnya bergumam pelan. “Pendonor asi?”
Tarikan napas berat berhembus dari hidung mancung Rizal, sorot matanya menyiratkan kesedihan mendalam.
“Anak kami lahir prematur dan alergi protein susu sapi, ditambah … dia kurang bisa menghisap dari botol, jadi, kami memerlukan donor asi yang langsung dari tempatnya.”
Nadya terperangah, alisnya menukik tajam—bingung bercampur heran. “Maksud kamu, kamu mau minta saya netekin anak kamu?”
Rizal mengangguk mantap, raut wajahnya penuh harap. “Hanya enam bulan sampai anakku bisa menghisap dengan baik dan pencernaanya siap menerima susu formula.”
Bugh!
“Kamu pikir saya ini perempuan apaan?!” hardik Nadya.
Rizal meringis pelan. Ia kemudian membuka ponselnya dan menunjukkan photo putranya yang berada di inkubator dengan beberapa selang kecil menempel di badannya.
“Saya sudah mencari informasi ke beberapa rumah sakit, tapi hasilnya nihil. Kalau kamu setuju saya akan memberikan bayaran yang sepadan, dan membereskan urusanmu dengan preman-preman itu.”
Nadya terkekeh kecil, tatapannya masih waspada. “Kamu pikir saya percaya?”
Tanpa pikir panjang, Rizal memutar kemudinya, berbalik arah menuju rumah sakit tempat putranya sedang di rawat.
Nadya yang menyadari arah kemudi Rizal, mengumpat tajam. “Setan! Nikeu haga ngedok nyak ke preman sai tadi?!” (kamu mau membawa saya ke preman yang tadi)
Melihat kepanikan di wajah Nadya, seringai licik terbit di bibir Rizal, niatnya hanya ingin membawa Nadya melihat langsung kondisi putranya, namun kepanikan gadis itu ia manfaatkan sebagai ancaman demi menyelamatkan nyawa sang putra.
tatapan sendu pria itu berubah datar, ia lalu kembali berujar dengan suara dingin. “Saya masih banyak urusan, tidak ada waktu untuk mengantarmu keliling tanpa tujuan.”
“Sial!” umpat Nadya.
“Kalau kamu setuju, saya akan menjamin hidupmu di luar kontrak perjanjian kita. Termasuk urusan preman itu tadi.” tawar laki-laki itu masih dengan raut datar.
“Saya korban dua tetek perawan, wah, cuma buat jaminan hidup sama terbebas dari preman gila itu? Sanak lawang.” (orang gila)
“Kamu bisa mengajukan nominal berapapun!” pungkas Rizal, akhirnya.
Nadya berpikir sejenak, bersamaan dengan itu ponsel digenggamannya menunjukkan sebuah notifikasi pesan masuk. Gadis dengan tato semicolon di pergelangan kiri itu menghela napas dalam sesaat setelah membaca pesan di ponselnya, dengan suara mantap ia kemudian menerima tawaran dari Rizal.
“Dua ratus juta untuk dua tetek ini.”
“Deal.”
Bersambung.
Semangat 🔥