Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18- Setelah itu
Malam itu, Alea tidak benar-benar tidur. Dia menghabiskan waktu dengan meringkuk di atas karpet tipis di samping kasurnya, menjauh dari jendela sesuai instruksi Aksa. Setiap suara gesekan dahan pohon yang kena angin atau deru motor yang lewat di depan kost-an bikin jantungnya hampir copot. Baru sekitar jam empat subuh, matanya terpejam karena kelelahan mental, itu pun cuma sebentar sampai alarm ponselnya menjerit nyaring.
Pagi itu, Alea bangun dengan kepala berat dan mata yang terasa sangat perih. Dia berjalan ke jendela, memberanikan diri sedikit menyibak gorden. Jalanan sudah terang. Pohon beringin di seberang sana kosong. Mobil Aksa juga sudah nggak ada. Tapi rasa mencekamnya masih nempel di kulit, seolah-olah lambaian tangan orang semalam masih membekas di udara.
Tepat jam 07.50, sebuah pesan singkat masuk.
“Aku di depan. Keluar sekarang.”
Alea menarik napas panjang, merapikan tasnya, dan turun ke bawah dengan langkah gontai. Begitu dia buka gerbang, sedan hitam itu sudah nangkring manis di sana. Aksa berdiri di samping pintu mobil, kali ini pakai kemeja biru navy yang sangat rapi. Dia nggak kelihatan kayak orang yang habis begadang jagain kost-an orang.
“Masuk,” ucap Aksa pendek begitu melihat Alea.
Alea masuk ke dalam mobil. Aroma maskulin yang mahal langsung menyambutnya, kontras banget sama bau keringat dingin yang dia rasakan semalaman. Begitu mobil melaju, suasana di dalam hening.
“Kamu beneran di sana semalaman?” tanya Alea pelan, memecah keheningan.
Aksa tetap fokus ke jalanan di depan. “Sampai dia pergi jam tiga subuh.”
Alea menoleh kaget. “Jam tiga subuh? Orang itu diam di sana sampai jam tiga?”
“Dia sempat mutar-mutar blok kost-anmu dua kali sebelum akhirnya benar-benar hilang ke arah jalan raya utama,” sahut Aksa santai.
“Dia tahu aku jagain kamu. Dia sengaja mau lihat seberapa lama aku sanggup bertahan. Dia cuma lagi ngetes mental.”
“Ini gila, Aksa,” gumam Alea sambil memijat keningnya.
“Kenapa harus aku? Aku ini cuma penjaga toko buku. Aku nggak punya musuh, aku nggak punya hutang. Kenapa ada orang seniat itu nungguin aku di bawah pohon?”
“Kadang orang nggak butuh alasan logis buat jadi jahat, Alea. Ada tipe orang yang cuma suka melihat targetnya ketakutan. Dan kamu? Kamu target yang gampang banget dibaca. Kamu kelihatan rapuh.”
Alea mendengus hambar. “Makasih ya buat pujiannya. Jadi menurutmu aku ini selemah itu?”
Aksa melirik Alea sekilas dari balik kacamatanya. “Bukan lemah. Kamu cuma nggak punya benteng. Dan kalau kamu nggak punya benteng, jangan heran kalau orang asing kayak aku atau orang gila di motor itu bisa masuk sesuka hati ke hidupmu.”
“Termasuk kamu?” tanya Alea berani.
Aksa terdiam sebentar. Mobil berhenti di lampu merah. Dia mengetuk-ngetuk setir pelan. “Bedanya, aku lebih suka menjaga benteng itu daripada meruntuhkannya. Aku butuh kamu aman supaya tokomu tetap buka. Kamu lupa?”
“Iya, alasan toko buku itu lagi,” sahut Alea pelan. ”Tapi, Aksa, gimana kamu bisa dapet nomor ponselku? Aku nggak pernah kasih.”
“Daftar pelanggan di tokomu. Kamu pernah tulis nomor ponselmu di sana pas aku pesan buku edisi khusus bulan lalu. Ingat?”
Alea mengerutkan kening. “Oh. Yang itu. Aku pikir itu buat arsip internal saja.”
“Bagi orang yang butuh informasi, nggak ada yang namanya arsip internal, Alea. Semuanya bisa diakses kalau kamu tahu caranya.”
Alea menghela napas, menyandarkan kepalanya ke kaca mobil. “Kamu menakutkan dengan caramu sendiri, tahu nggak? Kadang aku bingung mana yang lebih ngeri, orang di motor itu atau kamu yang tahu segalanya sebelum aku sempat mikir.”
Aksa terkekeh rendah. “Setidaknya aku nggak melambai ke jendelamu jam dua subuh, kan? Jadi, anggap saja aku ini ancaman yang lebih sopan.”
“Jangan diingetin!” Alea merinding lagi. “Lambaian itu beneran bikin aku mau pingsan. Dia tahu aku lagi ngintip. Dia tahu.”
“Makanya jangan pernah ngintip kalau ada ancaman di luar. Itu kesalahan fatal,” potong Aksa telak. “Lain kali kalau aku bilang jangan dekat jendela, ya jangan dekat jendela. Fokus saja ke keselamatanmu, bukan ke rasa penasaranmu yang nggak berguna itu.”
“Iya, Pak Bos. Maaf,” jawab Alea agak sarkastik.
Mobil terus melaju tenang. Alea mulai merasa aneh. Biasanya, setelah kejadian traumatis kayak semalam, dia bakal butuh waktu berhari-hari buat merasa tenang. Tapi di dalam mobil ini, meskipun Aksa menyebalkan, Alea merasa aman.
“Kenapa diam?” tanya Aksa.
“Lagi mikir aja. Kenapa kamu mau repot-repot begini? Kamu harusnya kerja, rapat, cari uang. Tapi kamu malah begadang di depan kost-an orang.”
Aksa mengangkat bahunya sedikit. “Anggap saja ini hobi baru. Daripada aku stres mikirin grafik penjualan yang nggak naik-naik, lebih baik aku mastiin penjaga toko buku favoritku nggak hilang diculik orang.”
“Kita sudah sampai,” ucap Aksa sambil membelokkan mobilnya tepat di depan toko buku.
Alea turun setelah janji akan dijemput lagi jam enam sore. Begitu dia menutup pintu kaca toko, dia melihat mobil Aksa masih diam di sana beberapa saat, memastikan Alea beneran sudah masuk ke dalam, baru kemudian melaju pergi.
Di dalam mobil, suasana hangat tadi mendadak hilang. Ekspresi wajah Aksa berubah total. Nggak ada lagi sisa-sisa senyum tipis atau nada bicara yang santai. Tatapannya menjadi setajam silet saat dia melirik ke kaca spion tengah. Jauh di belakangnya, sebuah motor tanpa pelat nomor baru saja muncul dari tikungan, mengikuti arah kantornya dengan jarak yang cukup berani.
Aksa mendengus, lalu menyentuh tombol di handsfree mobilnya. Dia menekan sebuah nomor yang tidak ada di daftar kontak.
Panggilan itu diangkat pada nada kedua.
“Cari tahu siapa pemilik motor ninja hitam tanpa pelat nomor yang sering mangkal di sekitar jalan toko buku tua itu. Sekarang!” ucap Aksa. Suaranya dingin, berat, dan penuh ancaman. Nggak ada lagi jejak keramahan yang dia tunjukkan pada Alea tadi.
“Baik, Pak. Tapi kalau motornya bodong, mungkin butuh waktu.” Suara di seberang mencoba menjelaskan.
“Saya nggak butuh alasan, saya butuh nama,” potong Aksa tanpa emosi. “Gunakan rekaman CCTV di sekitar perempatan dekat taman semalam jam enam sore. Saya mau datanya di meja saya sebelum jam makan siang. Paham?”
“Paham, Pak.”
“Satu lagi,” tambah Aksa. “Kirim dua orang untuk pantau toko buku Alea dari jarak jauh. Pastikan orang di motor itu nggak bisa mendekat dalam radius seratus meter. Kalau dia nekat mendekat...” Aksa terdiam sejenak, matanya menatap motor yang masih mengikutinya di spion. “Beri dia sedikit pelajaran supaya dia tahu siapa yang dia ganggu. Tapi jangan sampai Alea tahu. Mengerti?”
“Mengerti, Pak. Akan segera diproses.”
Aksa mematikan sambungan telepon. Dia menginjak gas lebih dalam, membuat sedan hitam itu melesat membelah kemacetan pagi kota. Aksa melirik spion sekali lagi. Motor itu mulai tertinggal jauh.
“Kamu salah pilih mainan, Brengsek,” bisik Aksa pelan dengan suara yang nyaris seperti desisan.
Aksa kemudian mengambil ponselnya lagi, tapi kali ini dia membuka galeri foto. Di sana, ada sebuah foto yang dia ambil secara diam-diam beberapa hari lalu. Foto Alea yang sedang duduk melamun di balik meja kasir toko bukunya yang sunyi.
Dia menatap foto itu cukup lama. Ada dorongan aneh di dadanya, sesuatu yang dia sendiri nggak tahu namanya. Rasa ingin melindungi yang tadinya dia pikir cuma karena toko buku, kini mulai terasa lebih personal. Lebih dalam. Dan mungkin, lebih berbahaya bagi dirinya sendiri.
Dia mematikan layar ponselnya tepat saat dia memasuki gerbang kantornya yang megah. Pagi itu, di balik kedok pengusaha yang sukses dan tenang, Aksa Pratama baru saja memulai sebuah perang yang tidak akan dia biarkan berakhir dengan kekalahan.