NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Kemalangan

Gadis Pembawa Kemalangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Kerajaan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.

Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita

Elenna memejamkan mata sebentar.

“Aku tidak akan,” katanya pelan, tetapi tegas.

Kael menatapnya beberapa detik. Ia mengenal nada itu. Nada ketika Elenna sudah membuat keputusan dan tidak akan mundur, sekeras apa pun dunia menekannya. Ada kekhawatiran yang ingin ia ucapkan, tetapi akhirnya hanya berubah menjadi helaan napas pendek.

“Kalau begitu,” gumamnya, “jangan lakukan sendirian.”

Elenna tidak menjawab. Hanya menatapnya dengan ketenangan yang aneh.

Kael berbalik menuju pintu. Gagangnya berderit pelan ketika diputar.

Pintu terbuka pelan, dan tepat di sana, tanpa suara langkah, tanpa bayangan mendahului, berdiri Lilith. Seolah ia memang sudah ada di sana sejak awal.

Gaunnya rapi, warna lembut yang membuatnya tampak tidak berbahaya. Rambutnya tersisir sempurna, tidak ada helaian yang keluar dari tempatnya. Senyum kecil terlukis di bibirnya, tipis dan manis.

“Tuan muda Kael,” sapanya lembut, seakan kebetulan bertemu. “Aku tidak tahu kau masih di sini.”

Kael menatapnya datar. Tidak ramah. Tidak pula kasar.

“Aku baru saja akan pergi.”

Mata Lilith bergerak perlahan, seperti tidak sengaja, melampaui bahu Kael, menyapu ruangan. Hanya sepersekian detik. Cukup untuk menangkap posisi Elenna di ranjang. Wajahnya yang masih pucat. Cara ia duduk yang terlalu tegak untuk seseorang yang belum sepenuhnya pulih. Perban samar di balik kain tipis gaunnya.

“Bagaimana kondisi Elenna?” tanyanya, nada suaranya hangat, bahkan terlalu hangat untuk didengar.

“Cukup baik,” jawab Kael singkat. Tidak memberi ruang untuk simpati tambahan.

Lilith mengangguk kecil, lalu melangkah ke samping, memberi jalan. Gerakannya anggun. Terlatih.

“Perjalanan yang aman,” katanya halus. “Wilayah pasti menunggumu. Terutama menjelang festival.”

Ada sesuatu dalam cara ia mengucapkan kata festival.

Ringan, tetapi terasai tajam.

Kael berhenti, dan hanya untuk sesaat, tatapan mereka bertemu. Terdiam, bukan diam kosong, melainkan diam yang penuh perhitungan.

“Festival akan ramai,” kata Kael pelan. “Pastikan semuanya berjalan sesuai rencana.”

Senyum Lilith melebar sedikit.

“Tentu saja,” balasnya. “Aku selalu memastikan segalanya berjalan… sebagaimana mestinya.”

Itu bukan janji, itu pernyataan.

Kael tidak menjawab lagi. Ia berjalan melewatinya tanpa menoleh. Namun, saat langkahnya menjauh, Lilith tetap berdiri di ambang pintu, tidak bergerak, seolah menunggu sesuatu.

Barulah ketika suara langkah itu benar-benar menghilang di koridor panjang, barulah Ia masuk.

Pintu tertutup perlahan di belakangnya. Tidak ada suara kunci. Tetapi tetap terasa seperti sesuatu telah dikunci.

Elenna sudah bersandar di ranjang, wajahnya tenang seperti danau yang tak mempunyai wadah.

“Kau tampak lebih segar,” kata Lilith sambil mendekat.

Ia tidak terdengar mengejek.

Justru terlalu lembut, tetapi rasanya ada yang mengganjal.

“Terima kasih sudah menjenguk,” jawab Elenna dengan nada yang sama halusnya.

Lilith duduk di kursi dekat ranjang. Tangannya terlipat rapi di pangkuan. Punggungnya tegak sempurna.

“Aku mendengar kau tetap akan menghadiri festival.”

“Ya.”

“Meski setelah kejadian kemarin?”

Elenna menatapnya lurus.

“Terutama setelah kejadian kemarin.”

Udara di antara mereka mengental.

Senyum Lilith tidak berubah. Namun, matanya meyiratkan bahwa Ia kehilangan kelembutan pura-pura itu.

“Keberanianmu mengagumkan,” katanya.

Kedengarannya seperti pujian. Namun, di baliknya tersembunyi pertanyaan "Seberapa jauh kau akan melangkah, Elenna?"

“Terima kasih,” jawab Elenna. “Aku tidak ingin mengecewakan keluarga.”

Kata keluarga terdengar berbeda di telinga mereka berdua.

Lilith berdiri perlahan. Rok gaunnya berdesir lembut. Ia berjalan menuju ambang pintu. Lalu berhenti sesaat, dan tanpa menoleh.

“Semoga kali ini,” ucapnya pelan, “tidak ada insiden tak terduga.”

Pintu tertutup, mansion kembali sunyi.

Namun, keheningan itu tidak lagi terasa kosong. Ia terasa seperti papan catur, dan bidak-bidak mulai digerakkan.

****

Esoknya, Kael dan Louis benar-benar pergi.

Bukan hanya langkah kaki mereka yang menghilang dari koridor, tetapi juga rasa aman yang diam-diam selalu mengiringi Elenna.

Ketika pintu utama tertutup, gema kayunya memantul di aula besar.

Seperti sesuatu yang diputus, mansion terasa lebih luas, tetapi terasa sepi. Lilith tidak keluar dari kamarnya, atau mungkin Ia keluar tanpa terlihat. Alberto sibuk mendampingi Putri Isabella; tawa mereka sesekali terdengar samar dari aula, tawa yang tidak pernah ada saat bersamanya, dan Marquess… seperti biasa. Tidak pernah benar-benar ada baginya.

Kesunyian itu akhirnya mendorong Elenna bangkit. Lukanya masih berdenyut ketika ia berdiri. Perban di balik gaunnya menekan kulit yang belum pulih sepenuhnya. Namun, Ia tetap berjalan dengan pelan, teratur.

Di sepanjang lorong, para pelayan menunduk saat melihatnya. Tidak ada yang menyapa, tidak ada yang menawarkan bantuan, tidak ada yang berani menatap terlalu lama, sikap hormat itu terasa lebih seperti jarak.

Langkahnya berhenti di depan pintu kayu tinggi yang telah Ia kenal sejak kecil. Perpustakaan keluarga.

Tempat dimana ia bersembunyi ketika Lilith merundungnya. Tempat ia melarikan diri ketika pelayan mencacinya. Tempat ia duduk berjam-jam saat keluarga yang seharusnya menjadi sandaran justru terasa seperti bayangan asing.

Ia mendorong pintu perlahan.

Aroma kertas tua dan kayu menyambutnya seperti pelukan yang tidak pernah bertanya.

Ia berjalan menyusuri rak tinggi. Jemarinya menyentuh punggung buku-buku yang telah ia baca berulang kali. Sejak kecil ia selalu percaya, bahwa: Dengan membaca buku, aku bisa melupakan segala yang terjadi di dunia nyata.

Tangannya berhenti pada sebuah novel bersampul lusuh. Kisah tentang seorang putri yang dibuang karena dianggap membawa aib bagi kerajaan. Putri itu hidup dalam keterasingan, direndahkan, hampir kehilangan segalanya. Namun, pada akhirnya menemukan keberanian dan kembali memperoleh kebahagiaannya.

Elenna duduk di dekat jendela tinggi.

Cahaya sore jatuh lembut di atas halaman-halaman terbuka. Ia membaca perlahan "Sang putri dalam cerita itu berani, Sang putri kuat, Sang putri tetap percaya bahwa ia layak dicintai"

Bibir Elenna melengkung tipis.

Pahit.

“Aku berharap juga dapat bahagia seperti sang putri,” gumamnya pelan. “Yang berani dan kuat… serta berhasil mendapat kasih sayang keluarganya.”

Angin tipis menggerakkan tirai, ia sampai di halaman terakhir, dan membaca kalimat penutup itu sekali lagi.

Memiliki darah yang sama bukan berarti keluarga. Terkadang orang lain lebih seperti keluarga ketimbang yang sedarah~

Tangannya berhenti, dan tiba-tiba bayangan jatuh di atas halaman buku. Elenna mengangkat wajahnya.

Tidak ada suara pintu dibuka. Tidak ada langkah kaki. Namun, di antara dua rak tinggi, berdiri bayangan Lilith. Seolah ia tumbuh dari bayangan itu sendiri.

“Kalimat yang indah,” katanya pelan.

Senyumnya tipis.

“Namun, terlalu naif untuk dunia nyata.”

Jantung Elenna berdetak lebih keras, halusinasinya terasa sangat nyata.

Lilith melangkah mendekat tanpa suara, jemarinya menyentuh punggung buku yang lain.

“Kau selalu berlindung di sini,” lanjutnya ringan. “Aku penasaran… apakah kali ini kau membaca untuk melarikan diri, atau untuk merencanakan sesuatu?”

Elenna menutup buku itu perlahan.

“Kau terlalu sering berasumsi tentangku.”

Lilith tersenyum.

“Dan kau terlalu sering meremehkanku.”

Hening.

Cahaya sore meredup perlahan.

Untuk pertama kalinya, Elenna tidak merasa kecil.

Ia berdiri dengan perlahan. Lukanya terasa berdenyut, akan tetapi Ia tidak goyah.

“Aku tidak lagi berharap diselamatkan,” katanya pelan.

Mata Lilith menyipit sedikit “Bagus,” balasnya lembut.

“Karena tidak ada yang akan menyelamatkanmu di masa depan nanti, tidak akan lagi."

Bayangan Lilith berbalik.

Dan seperti sebelumnya, ia menghilang ke balik rak-rak tinggi. Tanpa suara, tanpa jejak.

Perpustakaan kembali sunyi. Namun, kali ini, Elenna tidak membaca untuk melupakan. Ia membaca untuk memahami, dan mungkin... suatu saat nanti, ia akan menjadi karakter cerita yang ia dambakan.

1
Ran
up thorr
Ran
cie elena mulai suka 🤭
Ran
Lilith ini keknya punya gangguan jiwa atau kelainan berpikir ya/Speechless/, stress banget jadi orang
Ran
ayo berlayar kapal elena dan tuan pengawal
Anonymous
semangat thor
VanGenZ: Terima kasih atas dukungannya🙏
total 1 replies
Ran
Lilith play victim jir
Ran
up thorr
Ran
itu mah akal akalan Lilith aja
Ran
sakit banget jadi elena
Ran
Lilith sok gatel lagi sama Kael
Ran
yahh, ayang beb udah mau pergi
Ran
mampus dimarahin ga tuh
Ran
kill aja tuh count
Ran
curiga sama lilith
Ran
buat apa dikasih tau kalau sejak awal udh ditentuin perannya, dasar marquess ga punya hati
Ran
semua gada yang bisa dipercaya kecuali elenna sendiri jir
Ran
Lilith sok baik/Panic//Pooh-pooh/
Ran
lumayan sih. walaupun minim dialog, tetap berkarya thor
Ran: sama-sama thor
total 2 replies
Ran
pengen deh bejek2 Lilith manusia ular itu/Panic/
Ran
kasian banget jadi Elenna/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!