NovelToon NovelToon
Kupilih Dirimu

Kupilih Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 22 – DIINJAK SAAT JATUH

Pagi itu panasnya menyengat.

Kontrakan kecil itu terasa makin sempit.

Pipit baru saja menjemur pakaian ketika suara motor berhenti tepat di depan pagar besi berkarat.

Brak.

Pintu diketuk keras.

Bukan ketukan.

Lebih mirip dobrakan.

Pipit menoleh.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

Ia membuka pintu perlahan.

Di depan berdiri Bu Marni, pemilik kontrakan. Tubuhnya besar, rambut disanggul tinggi, bibirnya tipis seperti garis yang siap mencabik.

“Mana suamimu?” tanyanya tanpa salam.

“Masih kerja, Bu.”

Bu Marni melirik ke dalam rumah seperti sedang menilai kandang ayam.

“Sudah tanggal dua puluh dua. Kamu tahu kan tanggal bayar itu tanggal lima belas?”

Pipit menunduk sedikit.

“Iya, Bu. Kami minta waktu sampai akhir bulan. Gaji suami saya ditunda.”

Bu Marni mendengus keras.

“Ditunda? Itu alasan orang nggak punya duit. Saya juga punya cicilan! Kamu pikir saya ngontrakin gratis? Ini bukan panti sosial!”

Kata-katanya mulai naik nada.

Tetangga sebelah mulai melirik.

Dan Bu Marni seperti menikmati penonton.

“Kalau nggak sanggup bayar, jangan gaya pindah dari rumah besar! Sok mandiri! Sok cinta-cintaan! Sekarang apa? Minta kasihan orang?”

Pipit berdiri diam.

Ia tidak membela diri.

Ia tahu kalau membalas, api akan makin besar.

Tapi Bu Marni belum selesai.

“Perempuan itu kalau nggak bisa bantu suami ya jangan jadi beban! Kamu kerja apa? Cuma duduk di rumah nunggu nasi jatuh dari langit?”

Kalimat itu menyentak.

Pipit mengangkat wajah.

“Saya sedang cari kerja, Bu.”

“Sedang cari? Cari itu pakai kaki, bukan pakai mimpi! Kamu tahu nggak, perempuan miskin itu kalau nggak punya skill ya minimal tahu diri! Jangan bawa suami jatuh ke jurang!”

Tetangga mulai berbisik.

Tatapan iba.

Tatapan sinis.

Tatapan penasaran.

Semua bercampur.

Dan Pipit berdiri sendirian di tengahnya.

“Bu, kami pasti bayar,” katanya pelan.

Bu Marni tertawa pendek.

“Pasti? Orang miskin paling gampang ngomong pasti. Pasti bayar, pasti lunas, pasti sukses. Tapi ujung-ujungnya? Kabur!”

Ia melangkah lebih dekat.

“Kalau sampai akhir bulan nggak bayar, saya lempar barang kalian keluar. Saya nggak peduli hujan atau panas. Paham?”

Pipit mengangguk.

Tidak ada pilihan lain.

Bu Marni pergi sambil terus mengomel panjang.

“Heran saya, orang sekarang nikah pakai modal cinta doang. Otaknya di mana? Perut diisi apa? Harga diri digoreng bisa nggak?!”

Suara motornya menjauh.

Tapi omelannya masih seperti gema.

Pipit menutup pintu.

Tangannya gemetar.

Ia terduduk di lantai.

Air mata jatuh tanpa suara.

Bukan karena dimaki.

Tapi karena dipermalukan.

Di depan orang.

Tanpa bisa melawan.

Sore hari, Bagas pulang dengan wajah yang lebih kusut dari biasanya.

Pipit sudah berusaha terlihat biasa.

Tapi mata sembab tidak bisa bohong.

“Ada apa?” tanya Bagas.

Pipit menggeleng kecil.

“Bu Marni datang.”

Bagas langsung mengerti.

“Dia marah?”

Pipit tersenyum pahit.

“Marah itu ringan. Dia hampir bikin aku jadi tontonan.”

Bagas mengepalkan tangan.

Rahangnya mengeras.

“Kurang ajar.”

“Dia cuma menagih haknya,” Pipit menenangkan.

“Tapi caranya?”

Bagas berdiri.

“Aku nggak bisa lihat kamu dihina lagi.”

Belum sempat emosi itu reda, ponsel Bagas berdering.

Nomor tak dikenal.

Ia angkat.

“Gas, ini Riko.”

Bagas terdiam.

Riko.

Teman lamanya.

Dulu sering main proyek bareng.

“Ada apa?”

Riko tertawa kecil.

“Dengar-dengar lagi seret, ya?”

Bagas terdiam.

Informasi itu cepat sekali menyebar.

“Kebetulan ada kerjaan. Gampang. Duitnya lumayan. Tapi…”

“Tapi apa?”

“Ya… kamu cuma perlu pasang nama di beberapa dokumen. Formalitas doang. Proyeknya agak… abu-abu.”

Bagas mengerti.

“Abu-abu” artinya tidak bersih.

“Legal?”

Riko tertawa.

“Kalau legal, saya nggak telepon kamu. Gas, ini kesempatan. Kamu cuma tanda tangan. Nggak perlu turun lapangan. Duit cair cepat.”

Bagas menelan ludah.

Kontrakan.

Tagihan.

Gas.

Beras.

Semua berputar di kepalanya.

“Kalau ada apa-apa?”

“Tenang aja. Paling kamu yang kena.”

Kalimat itu seperti pisau dingin.

Riko tertawa lagi.

“Laki-laki kalau nggak berani ambil risiko, selamanya cuma jadi pecundang. Pilih mana? Ideal atau isi perut?”

Telepon ditutup.

Bagas berdiri mematung.

Ideal atau isi perut.

Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada omelan Bu Marni.

Pipit mendekat.

“Siapa?”

“Kerja,” jawab Bagas pendek.

“Bagus dong.”

“Kerja kotor.”

Sunyi.

Pipit menatap suaminya lama.

“Kamu mau?”

Bagas tertawa hambar.

“Aku capek dihina miskin.”

“Lalu kamu mau dihina penipu?”

Bagas terdiam.

Pipit mendekat, suaranya lembut tapi tegas.

“Kita miskin bisa bangkit. Tapi kalau kamu jatuh karena kotor, kita nggak cuma miskin… kita hilang.”

Kalimat itu menghentikan semuanya.

Bagas menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku muak merasa nggak berguna.”

“Kamu bukan nggak berguna. Kamu cuma lagi diuji.”

Air mata Bagas jatuh lagi.

Dan kali ini… ia benar-benar di titik paling rapuh.

Di sisi lain kota, Bu Rahayu duduk di ruang tamunya.

Di depannya, Tante Siska dan dua ibu-ibu arisan.

Topik mereka satu.

Bagas.

“Katanya sampai ditagih kontrakan lho,” bisik Tante Siska dengan nada seolah prihatin, padahal matanya berbinar.

Bu Rahayu menghela napas berat.

“Ya begitulah kalau anak keras kepala.”

Salah satu ibu lain menimpali.

“Perempuan itu memang kelihatannya lembut, tapi kalau sudah pegang suami, bisa dibawa ke jurang. Anak laki-laki kalau nggak dididik keras ya jadi lembek.”

Bu Rahayu terdiam.

Lalu berkata pelan.

“Dia selalu membela istrinya. Seolah-olah ibunya musuh.”

Tante Siska langsung menyambar.

“Ya karena istrinya pintar main drama! Perempuan model begitu biasanya pakai air mata buat ikat laki-laki. Habis itu harta dikuras, keluarga ditinggal!”

Bu Rahayu tidak menyanggah.

Ia membiarkan kalimat itu berputar.

Masuk.

Mengendap.

Dan menjadi racun yang makin pekat.

“Kalau saya jadi kamu,” lanjut Tante Siska panjang tanpa rem, “saya datangi itu perempuan. Saya kasih tahu batasnya! Jangan kira sudah nikah bisa seenaknya memisahkan anak dari ibunya! Dia itu datang tanpa apa-apa, sekarang mau jadi ratu? Hei, sadar diri dong! Kalau nggak ada nama keluarga kamu, dia itu siapa? Debu! Bahkan debu masih bisa dibersihkan!”

Tawa kecil terdengar.

Bu Rahayu tersenyum tipis.

Egonya dibelai.

Dan benih niat mulai tumbuh.

“Baiklah,” katanya pelan. “Kalau mereka nggak bisa datang, mungkin saya yang harus lihat keadaan mereka.”

Malam turun.

Kontrakan itu gelap.

Lampu redup.

Tagihan belum terbayar.

Kerja kotor belum dijawab.

Dan tanpa mereka tahu…

Seseorang sedang merencanakan kedatangan.

Bukan untuk membantu.

Tapi untuk memastikan luka itu makin dalam.

Pipit berbaring menatap langit-langit.

“Bagas.”

“Hm?”

“Kalau besok ibumu datang dan melihat keadaan kita… kamu malu?”

Bagas terdiam lama.

“Dulu mungkin iya. Sekarang… aku cuma takut kamu yang terluka lagi.”

Pipit tersenyum kecil.

“Luka itu sudah biasa. Yang penting jangan sampai kamu kehilangan dirimu sendiri.”

Bagas menggenggam tangannya erat.

Dan di luar sana…

Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya.

Karena badai berikutnya bukan cuma soal uang.

Tapi soal harga diri yang akan diinjak langsung di depan mata.

Dan kali ini…

Omongan mak-mak tidak akan berhenti hanya di telepon.

Ia akan datang.

Berdiri.

Melihat.

Dan mungkin… menghancurkan lebih dalam.

1
Mas Bagus
tenang kak, hidup adalah perjuangan.. tetep semangat...
partini
buset dah ini di gempur dari samping atas bawah macam udah jatuh tertimpa tangga plus pohonnya
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid
partini
berjuang bersama istri dari O,kamu sekolah kan udah pernah pegang kendali biar pun gagal so jadi kan itu pelajaran yg akan menuju kesuksesan buktikan kamu mampu ,ada istri yg full support tapi nanti udah sukses mendua cari lobang lain is no good maaf bacanya loncat thor
Mas Bagus: siap...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!