Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.
Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.
Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.
Thx udah mampir🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Pagi setelah malam
Pagi setelah malam itu datang terlalu cepat.
Cahaya matahari menyelinap lewat celah gorden, memaksa mataku terbuka. Beberapa detik aku hanya menatap langit-langit, mencoba mengingat kenapa dadaku terasa ringan—lalu senyum kecil muncul begitu ingatan semalam kembali.
Aku bangun, bersiap ke kampus seperti biasa. Tidak ada pesan. Tidak ada catatan di meja. Haruka sudah pergi lebih dulu.
Dan entah kenapa… itu membuatku sedikit kesal.
Di perjalanan, pikiranku sibuk dengan hal-hal kecil: caranya mematikan lampu pelan, napasnya yang tertahan sebelum keluar kamar, ciuman singkat yang masih terasa seperti janji diam-diam. Aku tersenyum sendiri—lalu segera menghapusnya saat gerbang kampus terlihat.
Di sini, kami bukan apa-apa.
Koridor ramai. Suara langkah, tawa, dan salam bersahut-sahutan. Aku melangkah ke kelas dengan tas disampirkan di bahu, berusaha terlihat biasa. Lalu aku melihatnya.
Haruka berjalan dari arah berlawanan, jas rapi, ekspresi dingin yang kukenal—versi kampusnya. Ia berhenti sejenak berbicara dengan seorang dosen lain. Tertawa singkat. Profesional. Jauh.
Aku menunggu. Satu detik. Dua.
Tidak ada tatapan. Tidak ada anggukan kecil. Tidak ada tanda pengenal yang hanya kami berdua pahami.
Ia lewat begitu saja.
Seolah kami tak pernah duduk berdampingan di sofa.
Seolah aku tak pernah tertidur di dadanya.
Seolah semalam hanyalah jeda yang tidak pernah ada.
Dadaku mengeras.
Di kelas, aku sulit fokus. Pulpenku mengetuk meja, ritmenya makin cepat. Saat namanya disebut sebagai pengampu mata kuliah berikutnya, jengkelnya naik satu tingkat.
Ketika akhirnya ia masuk ke ruang kelas, semuanya kembali pada perannya. Suara datar. Tatapan menyapu ruangan tanpa berhenti padaku. Ia berdiri di depan, membuka materi, dan mulai mengajar.
Aku mengangkat tangan—bukan karena pertanyaan itu sulit, tapi karena aku ingin didengar.
Ia menjawab dengan sempurna. Formal. Tanpa emosi.
Aku mendengus pelan, menunduk, menulis sesuatu yang tidak penting di tepi buku catatan: dingin banget.
Usai kelas, aku berjalan keluar bersama teman-teman. Di ujung koridor, aku melihatnya lagi. Kali ini sendirian, menunggu lift. Aku mempercepat langkah—lalu memperlambatnya. Ragu.
Lift terbuka. Ia masuk. Pintu hampir menutup.
Aku menatap punggungnya, lalu berbisik pelan—cukup untuk diriku sendiri, mungkin cukup untuknya jika ia mau mendengar.
“Jahat.”
Pintu menutup.
Sore hari, ponselku bergetar.
Haruka: Fokus kuliah.
Aku berhenti berjalan.
Kupandangi layar, lalu mengetik cepat.
Alya: Kamu pura-pura nggak kenal aku.
Balasan tidak langsung datang. Beberapa detik terasa lama.
Haruka: Di kampus, itu yang paling aman.
Aku menghela napas, menekan kesal yang mengendap sejak pagi.
Alya: Aku nggak minta dipeluk. Cuma… disapa juga cukup.
Titik-titik muncul. Hilang. Muncul lagi.
Haruka: Maaf.
Satu kata. Tidak dingin. Tidak panjang. Tapi jujur.
Kesalku tidak sepenuhnya pergi—tapi melunak. Aku memasukkan ponsel ke tas dan melanjutkan langkah.
Rumah sudah sunyi saat aku tiba. Aku menaruh tas, mengganti sepatu, lalu menjatuhkan diri di sofa. Kepalaku bersandar ke sandaran, napasku panjang. Perasaan yang sejak pagi kutahan akhirnya turun pelan, menyisakan lelah yang aneh—bukan fisik, lebih ke hati.
Kunci berputar.
Aku langsung menegakkan badan.
Haruka masuk, jasnya masih rapi, ekspresinya sama seperti pagi tadi—tenang, terkendali, terlalu kampus. Ia belum sempat melepas sepatu ketika aku sudah berdiri di depannya.
Ia menoleh. “Alya—”
Aku tidak memberinya waktu.
Kesalku bergerak lebih cepat dari pikiranku. Aku mencengkeram kerah jasnya, menariknya turun sedikit, lalu—tanpa ragu—mencium bibirnya.
Singkat. Tegas. Tidak lembut.
Ciuman orang yang marah karena diabaikan.
Tubuhnya menegang. Aku bisa merasakan keterkejutannya—napasnya tersedak sepersekian detik. Tangannya terangkat, bingung antara menahan atau mendorong.
Aku melepaskannya lebih dulu.
Wajahnya memucat—lalu memerah. Matanya melebar, menatapku seolah aku baru saja melanggar seluruh aturannya dalam satu gerakan.
Tanpa satu kata pun, Haruka mundur selangkah. Dua langkah. Lalu berbalik.
Ia benar-benar lari.
Langkah cepat menuju kamar, pintu tertutup tanpa suara keras—justru itu yang membuat dadaku bergetar.
Aku berdiri terpaku di ruang tamu.
Jantungku berdegup keras. Bibirku masih hangat. Kepalaku kosong beberapa detik sebelum akhirnya satu pikiran muncul, pelan tapi jelas:
Kenapa dia lari… tapi tidak marah?
Aku menghela napas, menyandarkan punggung ke dinding. Kesalku mulai surut, digantikan rasa lain—campur aduk antara puas, gugup, dan sedikit… bersalah.
Beberapa menit berlalu. Tidak ada suara.
Lalu langkah kaki terdengar lagi.
Haruka keluar dari kamar. Jasnya sudah dilepas. Kemejanya kusut sedikit, rambutnya berantakan seolah baru disisir ulang dengan tangan. Wajahnya—tidak dingin. Tidak juga marah. Lebih seperti seseorang yang kalah oleh pikirannya sendiri.
Ia berhenti beberapa langkah dariku.
“Kamu,” katanya akhirnya, suaranya rendah, “tidak boleh melakukan itu sembarangan.”
Aku mengangkat alis. “Di rumah sendiri?”
Ia menelan ludah. “Kamu membuatku kehilangan kendali.”
Aku tersenyum kecil—tidak mengejek kali ini. “Itu maksudku.”
Hening menggantung di antara kami.
Ia memalingkan wajah, menarik napas panjang. “Aku ke dapur,” katanya singkat, lalu berjalan pergi—kali ini tidak lari.
Aku menatap punggungnya, senyumku melebar tanpa sadar.
ada sesuatu yang menggelitik di dadaku—perasaan menang kecil yang hangat. Bukan karena aku berhasil membuatnya gugup, tapi karena ia tetap tinggal. Tidak menutup diri. Tidak menjauh.
Aku mengikutinya ke dapur.
Langkahku sengaja kupelan-pelankan, hampir tanpa suara. Haruka berdiri di depan meja dapur, membuka lemari, mengambil gelas. Gerakannya teratur, terlalu teratur—tanda ia sedang berusaha menenangkan diri.
Aku bersandar di kusen pintu. “Pak,” panggilku santai.
Ia berhenti bergerak. “Apa.”
Bukan bertanya. Menyatakan.
Aku mendekat, berdiri di sampingnya, lalu mencondongkan badan sedikit untuk mengintip wajahnya. “Masih kaget?”
Ia menuang air, pura-pura fokus. “Tidak.”
Aku terkikik kecil. “Oh ya? Kupikir dosen sekelas kamu lebih kebal.”
Ia melirikku cepat. Tatapan singkat—lalu kembali menghadap depan. “Alya.”
“Nggak kok,” potongku ringan. “Aku cuma penasaran.”
“Penasaran apa.”
“Penasaran kenapa kamu lari,” jawabku jujur. Lalu, dengan nada yang sengaja kubuat usil, kutambahkan, “Padahal tadi kan cuma dicium.”
Ia menarik napas. Panjang. Dalam.
“Kamu tahu kenapa,” katanya akhirnya.
Aku mengangguk, pura-pura mengerti. “Karena kamu malu.”
Ia memejamkan mata sesaat. “Karena kamu tiba-tiba.”
Aku menggeser langkah, berdiri tepat di depannya sekarang. Jarak kami tipis. Aku harus mendongak sedikit untuk menatap wajahnya.
“Tapi kamu nggak marah,” kataku pelan.
Ia membuka mata. Menatapku lama. Terlalu lama.
“Kalau aku marah,” katanya rendah, “kamu sudah tahu dari tadi.”
Aku tersenyum—kali ini lebih lembut. Tapi tetap tidak menyerah.
Aku meraih gelas dari tangannya, meneguk sedikit, lalu mengembalikannya. “Berarti aman dong.”
Ia mendecak pelan. “Kamu sengaja.”
“Tentu,” jawabku tanpa ragu. “Aku kesel.”
Ia mengangkat alis. “Dan solusi kamu adalah mencium orang?”
“Kalau orangnya kamu,” aku mengangkat bahu, “iya.”
Ada jeda kecil. Sunyi. Hanya suara kulkas berdengung pelan.
Haruka menyandarkan punggung ke meja dapur, akhirnya berhenti berpura-pura sibuk. “Kamu tidak bisa memperlakukanku seperti itu di luar.”
“Aku tahu,” jawabku cepat. “Makanya aku tahan di kampus.”
“Dan di rumah kamu balas semuanya.”
Aku tersenyum miring. “Kamu belajar cepat, Pak.”
Ia menggeleng pelan, tapi sudut bibirnya bergerak—hampir senyum. “Kamu berbahaya.”
Aku melangkah lebih dekat lagi, sampai ujung kakiku menyentuh sepatunya. “Tapi kamu tetap biarin.”
Tangannya terangkat, seolah ingin menahan pundakku—tapi berhenti di udara. Ragu. Lalu ia menurunkannya lagi.
“Kamu mau makan?” tanyanya, jelas mengganti topik.
Aku tertawa kecil. “Lari lagi.”
Ia mendesah. “Aku bertahan.”
Aku memiringkan kepala. “Oh ya? Buktinya?”
Ia menatapku. Kali ini tidak menghindar. “Aku masih di sini.”
Dadaku menghangat.
Aku menepuk dadanya pelan, sekali. Tidak mendorong. Tidak menekan. “Itu sudah cukup.”
Ia menghela napas, pasrah. “Kamu menang hari ini.”
Aku tersenyum puas. “Belum tentu. Malam masih panjang.”
Ia menatapku tajam. “Alya.”
Aku tertawa, lalu berbalik mengambil piring. “Tenang, Pak. Aku cuma bercanda.”
Sebagian.
Kami akhirnya duduk berhadapan di meja makan. Lampu dapur menyala hangat, cukup terang untuk melihat ekspresi kecil yang biasanya luput—kerut tipis di keningnya saat berpikir, garis senyum yang hampir selalu ia tahan.
Haruka menyendokkan nasi ke piringku dengan rapi. Terlalu rapi. Seperti semua hal yang ia lakukan.
“Kamu belum makan sejak siang,” katanya. Nada dosen. Kebiasaan lama.
Aku mengangguk pelan, lalu menyeringai. “Kalau begitu… suapin dong.”
Ia berhenti bergerak. “Alya.”
“Sekalian di pangkuan,” lanjutku ringan, sengaja. “Biar lengkap.”
Sendoknya berhenti di udara. Ia menatapku—bukan marah, lebih seperti seseorang yang sedang menghitung sampai sepuluh.
“Tidak,” jawabnya singkat.
Aku mengerucutkan bibir. “Ih.”
Ia kembali makan, seolah tak terjadi apa-apa.
Aku memalingkan wajah. Sengaja. Menatap dinding. Bahuku turun sedikit.
“Kenapa?” tanyanya setelah beberapa detik.
“Tidak apa-apa,” jawabku cepat. Terlalu cepat.
Ia menghela napas kecil. Kursinya digeser mendekat—tidak sampai menyentuh, tapi cukup terasa.
“Kamu cemberut,” katanya datar.
“Aku tidak.”
“Kamu.”
Aku tetap tidak menoleh. Mengaduk nasi tanpa selera. Beberapa detik hening jatuh di antara kami, lalu ia menaruh sendoknya.
“Alya,” ucapnya lebih pelan. “Aku cuma… tidak ingin kebiasaan yang membuatmu tidak nyaman di luar rumah terbawa ke sini.”
Aku menoleh setengah. “Aku nyaman,” kataku. Jujur.
Ia mengangguk kecil. “Aku tahu. Itu sebabnya aku hati-hati.”
Hening lagi. Tapi kali ini hangat.
Ia mendorong piringku sedikit mendekat. “Makan,” katanya.
Aku menatap piring, lalu ke wajahnya. “Kalau aku makan, kamu janji tidak kabur?”
“Janji.”
“Tidak pakai jaket?”
Ia mendesah. “Alya.”
Aku tersenyum kecil. “Bercanda. Sebagian.”
Kami makan pelan-pelan. Obrolan mengalir ringan—tentang kampus, tentang hujan yang datang terlalu sering, tentang film yang tadi belum selesai. Sesekali aku menyelipkan godaan kecil; sesekali ia menahan senyum yang gagal ia sembunyikan.
Dan meski aku masih pura-pura kesal, aku membiarkan bahuku menyentuh lengannya saat bangkit dari kursi.
Ia tidak menjauh.
Bersambung....