Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 MANTAN
Mobil melaju dengan kecepatan stabil, meninggalkan area kampus yang perlahan menjauh di kaca spion. Jalanan siang itu cukup ramai, namun di dalam mobil justru terasa sangat sunyi.
Khay duduk di kursi penumpang, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Sesekali ia melirik ke arah Revan yang fokus menyetir.
Wajah pria itu… terlalu tenang. Terlalu datar. Dan justru itu yang membuat Khay merasa tidak nyaman. Ia lebih takut Revan diam seperti ini dibandingkan marah.
Beberapa detik berlalu. Hening.
Hanya suara mesin mobil dan hembusan AC yang terdengar.
Hingga akhirnya... “Sebenarnya dia siapa?” Suara Revan terdengar pelan. Lembut.
Namun tetap memiliki tekanan yang tak bisa diabaikan.
Khay menarik napas panjang. Ia tahu pertanyaan itu akan datang. Dan ia juga tahu… ia tidak bisa menghindarinya.
“Dia…” Khay menunduk sebentar. “Mantan aku.”
Revan tidak langsung merespon. Tangannya tetap tenang di setir, matanya lurus ke depan.
“Namanya Romi,” lanjut Khay pelan.
Hening lagi.
Namun kali ini, Khay merasa ia harus menjelaskan semuanya. Ia menoleh sedikit ke arah Revan. “Maaf ya, Mas…”
Revan sedikit mengernyit. “Untuk apa?”
“Untuk… kejadian tadi.”
Revan menghela napas pelan. “Kamu tidak salah.”
Jawaban itu singkat.
Tapi cukup membuat dada Khay terasa sedikit lebih ringan.
Namun tetap saja.. Ia ingin menjelaskan. Bukan karena diminta. Tapi karena ia tidak ingin ada kesalahpahaman.
Khay kembali menatap ke depan. Lalu perlahan mulai bercerita. “Aku sama dia… dulu pacaran cukup lama,” ucapnya. “Awalnya semuanya baik-baik aja. Dia perhatian, baik, dan kelihatan serius.”
Revan diam.
Mendengarkan.
“Aku pikir… dia orang yang tepat.” Nada suara Khay terdengar berubah. Tidak sedih. Tapi lebih ke arah… kecewa yang sudah lama selesai. “Sampe akhirnya aku dikenalin ke keluarganya.”
Revan sedikit melirik sekilas. “Dan… semuanya berubah.”
Khay menghela napas. ia menceritakan semuanya kepada Revan.
Mobil masih melaju. Ia menelan ludah pelan.
“Itu alasan aku putus sama dia,” ucapnya akhirnya.
Hening.
Beberapa detik. Khay memberanikan diri menoleh.
Revan masih dengan ekspresi yang sama.
Datar.
Tenang.
Namun entah kenapa.. Aura dingin itu semakin terasa.
“Mas…” panggil Khay pelan.
Revan akhirnya berbicara. “Kamu melakukan hal yang benar.” Jawaban itu sederhana. Tapi tegas.
Khay sedikit terkejut. “Hah?”
Revan meliriknya sebentar. “Kamu tidak memilih orang yang tidak bisa memilih kamu dengan benar.” Kalimat itu membuat Khay terdiam.
Ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang… dalam.
Revan kembali fokus ke jalan. Namun tangannya yang menggenggam setir terlihat sedikit menegang.
Di dalam hatinya Ada rasa kesal. Bukan pada Khay.
Tapi pada Romi.
Bagaimana bisa seseorang meminta wanita seperti Khay… meninggalkan orang tuanya? Dan yang lebih membuatnya tidak suka
Romi tidak membela. Namun Revan tidak menunjukkannya. Ia tetap tenang. Tetap dewasa. Meski dalam hatinya… ada sedikit rasa cemburu yang ia tahan.
Khay memperhatikan wajah Revan. “Mas…”
“Hm?”
“Kamu… marah?”
“Tidak.” Jawabannya cepat. Terlalu cepat.
Khay menyipitkan mata. “Bohong.”
Revan menghela napas kecil. “Aku hanya… tidak suka.”
“Nggak suka apa?”
Revan diam sejenak. Lalu menjawab pelan “Dia menyentuh kamu.”
Deg.
Khay terdiam. Pipinya langsung memanas. “Mas…” Nada suara Revan tetap tenang.
“Tangan kamu itu bukan untuk ditarik paksa oleh orang lain.”
Khay menunduk. Entah kenapa Ucapan itu terasa… berbeda. Bukan posesif yang mengekang. Tapi lebih seperti… melindungi.
Suasana kembali hening. Dan Khay tahu...
Kalau ia biarkan seperti ini, suasana akan semakin canggung.
Akhirnya Ia mengambil keputusan. Khay tiba-tiba menepuk pipinya sendiri.
Plak!
Revan langsung menoleh. “Apa yang kamu lakukan?”
Khay meringis. “Mengusir aura dingin.”
Revan mengernyit. “Apa?”
Khay lalu menatapnya dengan wajah serius—yang dibuat-buat. “Mas, aku curiga.”
“Curiga apa?”
“Kamu ini sebenarnya manusia atau… kulkas berjalan?”
Revan terdiam. Lalu Satu sudut bibirnya bergerak naik.
Hampir tak terlihat.
Khay langsung menunjuk. “Nah itu! Senyum! Akhirnya!”
Revan menggeleng kecil. “Kamu aneh.”
“Kamu yang bikin suasana jadi dingin!” protes Khay.
“Aku sampai mau beku tadi.”
Revan menghela napas. Namun kali ini Ekspresinya sedikit lebih ringan.
Khay menyandarkan punggungnya. “Mas…”
“Hm?”
“Kalau aku tadi jatuh gimana?”
Revan langsung menoleh. “Kenapa kamu bisa jatuh?”
“Kan tadi ditarik-tarik gitu…”
Revan mengernyit. “Kalau kamu jatuh…” Ia berhenti sebentar. Tatapannya berubah serius. “Aku tidak akan diam saja.”
Khay terdiam. Nada itu… Bukan main-main.
Ia tersenyum kecil. Lalu, tanpa sadar
Khay menggeser tangannya. Perlahan. Dan menyelipkan jemarinya ke tangan Revan yang bebas dari setir.
Revan sedikit terkejut. Ia melirik tangan mereka.
Khay pura-pura melihat ke depan. “Biar hangat,” gumamnya.
Revan tidak melepaskan. Justru Ia menggenggam balik.
Lebih erat. Mobil terus melaju. Namun kali ini
Suasana di dalamnya tidak lagi dingin.
Dan untuk pertama kalinya sejak tadi Revan benar-benar merasa tenang. Karena yang ia genggam sekarang… bukan hanya tangan Khay. Tapi juga… seseorang yang mulai ia anggap berharga.
Mobil masih melaju dengan tenang di jalanan kota yang mulai ramai oleh lampu sore menuju malam. Tangan Khay masih berada dalam genggaman Revan, hangat dan terasa… nyaman.
Khay sesekali melirik ke arah luar jendela, lalu kembali melirik ke arah Revan. Keningnya mulai berkerut.
“Ngomong-ngomong…” ucapnya sambil memiringkan kepala. “Kita mau ke mana sih?”
Revan tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis. Senyum yang… mencurigakan.
Khay langsung menyipitkan mata. “Mas…”
“Hm?”
“Kamu kenapa senyum-senyum begitu?”
“Memangnya kenapa?”
“Itu senyum kayak orang lagi punya rencana jahat.”
Revan terkekeh pelan. “Jahat menurut kamu?”
“Iya,” jawab Khay cepat. “Aku harus waspada.”
Revan hanya menggeleng kecil. “Tenang saja,” ucapnya santai. “Aku tidak akan menculik kamu.”
Khay langsung menatapnya lebar. “Loh?! Jadi memang ada niat?!”
Revan tertawa kecil, kali ini benar-benar terlihat lebih santai. " nyulik istri sendiri gak apa-apakan " goda reva
Mobil akhirnya berbelok memasuki sebuah area yang terlihat mewah.
Bangunan tinggi dengan lampu-lampu elegan mulai terlihat jelas di depan mata.
Khay yang awalnya santai, langsung menegakkan tubuhnya. “Mas…”
Revan tidak menjawab.
Mobil terus masuk ke area parkir dengan penjagaan ketat.
Seorang petugas langsung membukakan pintu dengan sopan.
Khay semakin bingung. Ia menoleh ke kanan, ke kiri.
Matanya membulat. “Mas ini…” ia menunjuk ke arah bangunan besar itu. “Ini hotel.”
Revan turun lebih dulu, lalu berjalan ke sisi Khay dan membukakan pintu untuknya. “Iya,” jawabnya santai.
Khay turun perlahan. Tatapannya masih penuh tanda tanya. “Ngapain kita ke hotel?”
Revan mendekat sedikit. Lalu menunduk ke arah telinga Khay. “Menurut kamu…” bisiknya pelan, suaranya rendah. “Kalau sepasang suami istri datang ke hotel… mau ngapain?”
Deg.