Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menembus Kabut
Dua bulan. Itu sudah cukup lama bagi Arman untuk hidup dalam dua kulit yang berbeda. Di pagi hari, ia adalah Arman versi lama: jaket ojol hijau, helm putih, dan target setoran.
Di siang hari, ia adalah Arman versi baru: kemeja navy pemberian Nadia, celana chino rapi, dan sepatu kasual yang nyaman. Ia telah menjadi aktor ulung dalam sandiwara hidupnya sendiri.
Rani tidak lagi bertanya tentang "orderan khusus". Ia sudah lelah berperang dengan kecurigaan yang tak pernah mendapatkan jawaban. Atau mungkin, ia takut dengan jawaban yang sesungguhnya. Ia memilih fokus pada Aldi dan warungnya yang perlahan-lahan mulai stabil.
Hubungan Arman dan Nadia pun semakin dalam. Mereka tidak hanya membahas pekerjaan. Mereka membahas mimpi-mimpi kecil. Nadia bercerita tentang keinginannya memiliki butik thrift shop yang lebih besar, bukan sekadar online store.
Arman, yang awalnya hanya mendengar, mulai ikut membayangkan. Ia bahkan mulai berani memberi saran: "Mungkin kalau displaynya dibuat seperti konsep vintage, Mba, bisa lebih menarik."
Nadia mendengarkan dengan sungguh-sungguh, lalu menerapkannya. Kolega dan relawannya mulai mengenali Arman bukan sebagai "driver Mba Nadia", tapi sebagai "asisten Mba Nadia". Ada kebanggaan diam-diam di sana.
Tapi kebanggaan itu selalu pulang menjadi rasa bersalah di depan pintu rumahnya. Ia harus melepas kemeja navy, melipatnya rapi di dalam tas, dan mengenakan kembali jaket hijaunya sebelum melangkah masuk.
Ia harus menurunkan volume suara, mengubah cara bicaranya yang di mobil penuh percakapan bermakna, menjadi celetukan-celetukan hambar tentang macet dan orderan. Rumah menjadi panggung sandiwara yang paling melelahkan.
---
Suatu sore di penghujung November, Nadia memintanya mengantar ke sebuah kafe di kawasan Kemang. Bukan untuk meeting klien.
"Saya ada urusan pribadi sebentar, Mas Arman. Mungkin sekitar satu jam. Bisa tunggu? Atau mau ikut minum dulu?" tawarnya.
Arman memilih ikut. Mereka duduk di sudut kafe yang teduh, diterangi cahaya jingga senja yang masuk lewat jendela kaca besar. Nadia tampak berbeda hari itu.
Ia mengenakan dress bahan katun motif floral kecil, dengan beludru tipis di bagian kerah. Rambutnya dibiarkan terurai sebahu, tidak diikat seperti biasanya. Tanpa blazer, tanpa riasan tebal, ia terlihat lebih muda, lebih rentan, dan lebih dekat.
"Mba ada acara apa ke sini?" tanya Arman, memesan kopi hitam seperti biasa.
"Saya mau ketemu klien sebenarnya, tapi dibatalkan mendadak. Jadi, ya, ngopi sendiri saja," jawab Nadia, tersenyum tipis.
Matanya tidak fokus pada menu, tapi pada Arman. "Atau lebih tepatnya, ngopi sama Mas Arman."
Keheningan singkat mengisi celah di antara mereka. Ada sesuatu yang menggantung di udara, sesuatu yang selama berminggu-minggu mereka tahan untuk diucapkan. Nadia menyeruput latte-nya pelan, lalu meletakkan cangkir dengan hati-hati.
"Mas Arman," panggilnya, suara yang sama saat ia memanggilnya di tengah riuh acara sosial dulu, tapi kali ini tanpa keramaian sebagai tameng.
"Saya mau terus terang. Dan saya minta Mas Arman dengarkan dulu sampai selesai, jangan potong."
Arman mengangguk kaku. Jantungnya berdebar tak karuan.
"Saya… selama beberapa bulan ini, sangat menikmati waktu bersama Mas Arman. Bukan hanya sebagai driver, tapi sebagai teman bicara, sebagai seseorang yang… membuat saya merasa tidak sendiri."
Nadia menunduk, jarinya menyentuh ujung cangkir.
"Saya sudah lama hidup sendiri, Mas. Usaha berjalan, rezeki ada, tapi pulang ke rumah, rasanya hampa. Bertemu Mas Arman, ngobrol, bahkan hanya sekadar ada di mobil bareng, itu membuat saya… hidup."
Ia mengangkat wajah, dan di matanya ada kejujuran yang telanjang.
"Saya ingin lebih dari ini. Saya ingin ada status yang jelas antara kita. Saya tidak muluk-muluk minta dinikahi sekarang. Saya tahu Mas Arman punya istri dan anak. Tapi… bisakah kita berpacaran dulu? Sebagai pendekatan, untuk saling mengenal lebih dalam?"
Udara di kafe itu terasa berhenti bersirkulasi. Arman membeku. Ia tidak menyangka akan sejauh ini. Ia pikir hubungan mereka akan tetap berada di zona abu-abu yang nyaman—menggoda, penuh kode, tapi tidak pernah terucap.
Sekarang, Nadia telah menembus kabut itu dengan kata-kata yang gamblang. Pacaran. Sebuah kata yang sangat duniawi, sangat manusiawi, namun begitu mustahil bagi pria yang sudah menikah.
"Nadia… Mba Nadia… saya itu sudah punya istri. Dan saya bukan orang berduit. Saya cuma driver. Saya bahkan nggak punya apa-apa untuk ditawarkan ke Mba," ucap Arman, suaranya bergetar antara kaget, malu, dan entah apa lagi.
"Salah." Nadia menggeleng tegas.
"Mas Arman punya banyak hal. Setia pada pekerjaan, mau belajar, punya hati yang baik—saya lihat sendiri waktu acara sosial. Dan soal duit, Mas…"
Ia mencondongkan tubuh, suaranya melembut.
"Duit itu bisa dicari. Usaha saya ini, kalau dijalankan bareng dengan orang yang tepat, pasti bisa lebih besar. Saya tidak butuh suami kaya. Saya butuh pendamping."
Kalimat itu seperti palu godam yang menghancurkan sisa-sisa pertahanan Arman.
Di matanya, Nadia tidak lagi menawarkan "alternatif lain" yang samar. Ia menawarkan sebuah kemitraan hidup. Sebuah tim. Sesuatu yang sangat ia rindukan dari Rani, yang kini justru hidup dalam dunianya sendiri dengan warung dan kue-kue pesanannya.
Nadia tidak menuntutnya kaya; ia menawarkan untuk membangun kekayaan bersama. Ini bukan sekadar godaan. Ini adalah solusi total atas semua krisis yang ia rasakan.
"Tapi… saya sudah punya Rani," lirih Arman, seperti mengucapkan mantra yang mulai kehilangan kekuatannya.
"Saya tidak menyuruh Mas Arman meninggalkannya," kata Nadia cepat.
"Saya hanya minta tempat di hidup Mas Arman. Saya tahu itu tidak mudah. Tapi saya siap belajar. Saya siap berbagi. Asalkan ada kejelasan, ada komitmen."
Nadia menatapnya dengan sorot mata yang tak bisa ia artikan: harapan, keteguhan, dan sedikit kerentanan. "Saya hanya ingin disebut. Bukan disembunyikan."
Kata-kata itu menusuk. Selama ini, Arman menyembunyikan Nadia dari Rani. Tapi juga, tanpa sadar, ia menyembunyikan hubungan ini dari dirinya sendiri. Ia berpura-pura semua ini "profesional".
Tapi kenyataannya, ia telah membiarkan Nadia masuk ke ruang-ruang privatnya: keluh kesah tentang rumah tangga, mimpinya yang kandas, harapan-harapan kecil yang ia pendam.
Ia telah memberikan Nadia sesuatu yang bahkan tidak ia berikan pada Rani dalam setahun terakhir: perhatian penuh dan keterbukaan emosional.
"Mas Arman tidak perlu jawab sekarang," ucap Nadia, mengulurkan tangannya dan meletakkannya di atas meja, dekat dengan tangan Arman yang gemetar.
"Tapi tolong, jangan tolak saya mentah-mentah. Pikirkan. Apakah hidup Mas Arman sekarang sudah bahagia? Apakah di rumah, Mas Arman merasa dihargai? Apakah Mas Arman punya seseorang yang benar-benar mendengar dan memahami?"
Setiap pertanyaan adalah pisau. Dan Nadia tahu persis di mana letak luka-luka itu. Ia telah mendengar semua cerita Arman selama berbulan-bulan, menyimpannya, dan kini menggunakannya dengan presisi seorang ahli bedah. Bukan untuk menyakiti, tapi untuk membuka jalan bagi diagnosis yang lebih baik.
"Kita mulai dari teman spesial dulu," bisik Nadia. "Tidak usah buru-buru. Yang penting, ada kejelasan. Saya bukan sekadar klien Anda. Dan Anda bukan sekadar driver saya."
Arman tidak bisa berkata-kata. Ia hanya mengangguk, lemah, tanpa sadar bahwa anggukan itu adalah jawaban pertama dari sekian banyak jawaban yang akan mengubah segalanya.
Di tangannya, kopi hitam yang sedari tadi tak disentuh kini sudah benar-benar dingin. Pahit, seperti konsekuensi yang pasti akan tiba.
---
Sore itu, Nadia mengantarnya pulang lebih awal. Di dalam mobil, mereka tidak banyak bicara. Namun, ketika Arman akan turun di kos-kosan rahasianya, Nadia memegang pergelangan tangannya.
"Terima kasih sudah mendengar saya," ujarnya. "Saya serius, Arman. Saya menunggu."
Panggilan "Arman" tanpa embel-embel "Mas" itu terasa begitu akrab, begitu intim. Ia mengangguk lagi, lalu turun. Ia berganti pakaian di kos, melipat rapi kemeja navy pemberian Nadia, menyentuh kainnya seolah bisa merasakan kembali hangatnya perhatian perempuan itu.
Saat ia melangkah masuk ke rumahnya sendiri, ia disambut oleh Rani yang sedang mengepel lantai dengan daster rumah lusuh.
Wajahnya berkeringat, rambutnya acak-acakan, dan di depannya ada ember berisi air sabun yang keruh. Perbedaan antara dua perempuan dalam hidupnya hari ini begitu kontras, begitu menyakitkan.
"Pulang?" tanya Rani tanpa menatapnya.
"Iya. Capek," jawab Arman, meletakkan helm.
"Udah makan?"
"Belum."
"Nasi ada. Lauk tinggal tempe goreng." Rani melanjutkan mengepel, tidak menawarkan untuk menghangatkan atau menyiapkan. Ia juga lelah, dengan caranya sendiri.
Arman mengambil nasi dingin dan tempe sisa pagi. Ia makan sendirian di meja, mendengar suara pelan Rani di dapur dan suara Aldi yang tertidur pulas di kamar. Dan di kepalanya, suara Nadia terus bergema:
"Apakah hidup Mas Arman sekarang sudah bahagia?"
Malam itu, Arman tidak bisa tidur. Ia membolak-balikkan badan di kasur, sementara Rani sudah terlelap di sampingnya. Di saku celananya, ponsel bergetar pelan. Sebuah pesan dari Nadia.
[Nadia] : Selamat malam. Terima kasih untuk sore ini. Aku bahagia bisa bicara jujur padamu. Apapun keputusanmu nanti, aku hargai. Tapi ingat, kamu tidak sendirian lagi.
Aku. Kamu. Tidak ada lagi "saya" dan "Anda". Batas terakhir telah runtuh.
Arman membaca pesan itu berulang kali. Lalu, dengan jari yang berat, ia membalas:
[Arman] : Selamat malam. Aku juga bahagia. Terima kasih sudah memilihku.
Dua jam kemudian, balasan Nadia datang, hanya berisi satu emoji: 🌙. Sebuah bulan sabit yang tenang. Sebuah janji.
Di keheningan malam, Arman menyadari bahwa ia telah melewati garis yang tidak bisa ditarik kembali. Ia bukan lagi suami yang berjuang mempertahankan rumah tangga, atau pria yang bimbang antara dua pilihan.
Ia telah membuat pilihan. Kini, yang tersisa adalah menunggu hari ketika semua kebohongan ini runtuh, dan ia harus berdiri di atas puing-puingnya—entah sebagai pemenang, atau sebagai orang yang kehilangan segalanya.
Di kamar Aldi, anak itu bermimpi dan tersenyum dalam tidurnya. Di dapur, sisa tempe goreng yang tidak dimakan Arman sudah diambil Rani dan dibungkus rapi untuk sarapan pagi. Di dunia paralel lain, Nadia mematikan lampu kamarnya dan tersenyum pada langit-langit.
Dan Arman? Arman hanya menatap gelap, menunggu fajar yang tidak lagi ia nantikan dengan harapan, tetapi dengan ketakutan akan apa yang akan ia lakukan saat matahari terbit.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.