NovelToon NovelToon
The Shadowed Psyche

The Shadowed Psyche

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Balas Dendam
Popularitas:604
Nilai: 5
Nama Author: De Veronica

Sinopsis Bab

Kedatangan Alexey Liebert ke kampus elite Icheon langsung mengguncang keseimbangan yang selama ini mapan. Sosoknya yang dingin, tertutup, dan mencolok dengan aura berbahaya segera menarik perhatian, sekaligus memicu bisik-bisik kagum dan rasa terusik di kalangan mahasiswa. Namun di balik statusnya sebagai mahasiswa baru rekomendasi internasional, Alexey menyimpan masa lalu kelam: putra pewaris dunia bayangan yang kembali ke Icheon bukan semata untuk kuliah, melainkan untuk tujuan tersembunyi yang berakar pada kematian ibunya delapan tahun lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Veronica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Lagi Satu Musuh

Setelah berhasil keluar dari gedung, mereka berdua pulang ke apartemen. Di ruang kerja, Alexey memotret satu per satu berkas tersebut dan mengirimnya pada Thomas.

Haerim yang bingung menatap Alexey dengan tatapan penasaran.

"Kenapa kamu sangat santai setelah tahu nominal uang yang dikorupsi Kim Group?" tanyanya sambil duduk di sofa. "Apa kamu sudah terbiasa dengan nominal segitu?"

"Anggap saja begitu," jawab Alexey singkat sambil terus memotret dokumen.

Ia melirik Haerim sekilas sambil tersenyum tipis.

"Bukankah keluarga Kang juga sangat kaya?" tanyanya sambil melanjutkan pekerjaannya.

"Iya, keluargaku kaya," jawab Haerim sambil mengangguk. "Tapi buat aku, jumlah 90 triliun won tetap aja nggak masuk akal. Itu terlalu besar... dan mereka korupsi hampir semuanya. Gila!"

"Minta sedikit aja sama pamanmu," goda Alexey sambil tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen.

"Hahaha, nggak mau!" tawa Haerim sambil menggeleng keras. "Uang haram gitu! Aku nggak segila Paman Minsook. Mending miskin daripada pakai uang korupsi!"

Haerim mendekati Alexey sambil menatapnya dengan ragu.

"Apa keluarga Kim melakukannya hanya dengan Paman Minsook?" tanyanya pelan.

"Dari nominal dan cara transaksinya, mereka tidak mungkin melakukannya hanya dari dua kubu," jawab Alexey datar sambil meletakkan kamera. "Terlalu besar dan kompleks."

"Berarti... ada orang lain yang terlibat?" tanya Haerim dengan mata melebar.

"Iya," jawab Alexey sambil mengangguk. "Dan orang itu yang harus kita tangkap. Karena untuk sekarang, tidak mungkin menyentuh Minsook atau keluarga Kim langsung. Terlalu berbahaya."

Alexey menggeser beberapa halaman di laptop lalu menunjukkan layar pada Haerim.

"Lihat ini," ucapnya sambil menunjuk satu bagian dokumen. "Ada inisial SH di samping tanda tangan Minsook."

Haerim mendekat dan menyipitkan mata melihat layar.

"Apa mungkin SH ini yang bantu mereka meloloskan uang dari Icheon ke Hongkong?" tanyanya sambil menatap Alexey penasaran.

"Sangat mungkin," jawab Alexey sambil memperbesar dokumen. "Dilihat dari kode otorisasi ini... ini bukan kode perbankan biasa. Ini kode milik pejabat tinggi yang meloloskan transfer yang dilakukan keluarga Kim."

Haerim menunduk lebih dekat ke layar sambil menatap kode tersebut dengan khawatir.

"Berarti yang kamu lawan sekarang bukan lagi keluarga mu atau Paman Minsook..." ucapnya pelan dengan nada cemas. "Tapi juga pejabat pemerintah yang punya kekuasaan besar..."

Alexey menarik Haerim ke dalam pangkuannya dengan gerakan cepat sambil memeluknya dari belakang.

"Apa kamu sangat mengkhawatirkanku?" godanya sambil berbisik di telinga Haerim. "Kalau iya... berarti aku sudah menang karena berhasil membuatmu jatuh cinta."

"Jangan bercanda di situasi seperti ini!" ucap Haerim kesal sambil memukul pelan dada Alexey.

Alexey tertawa pelan—suara langka yang jarang terdengar lalu mengecup bibir Haerim sekilas dengan lembut.

"Aku janji nggak akan kenapa-napa," bisiknya sambil menatap mata Haerim. "Percayalah padaku."

Haerim yang sejak tadi menahan kegelisahan langsung mencium Alexey dengan tidak terkendali—melepaskan semua ketakutan dan kekhawatirannya dalam ciuman itu.

Setelah melepaskan ciumannya dengan napas tersengal, ia menatap mata Alexey dengan serius.

"Kalau kamu nggak menepati janji untuk nggak terluka..." bisiknya sambil menggenggam kemeja Alexey erat. "Aku akan marah. Serius, Alexey..."

Di gedung arsip, dua satpam yang dilumpuhkan Alexey baru saja terbangun dengan kepala pusing.

"Sial! Bisa habis kita kalau sampai Rektor Minsook tahu!" umpat salah satu satpam sambil memegang kepalanya yang masih pusing. "Kita harus lapor atau gimana?!"

"Kita harus tetap laporin!" jawab temannya sambil berdiri dengan limbung. "Daripada nanti ketahuan sendiri, malah kita yang kena!"

Mereka berdua langsung bergegas menuju ruang Rektor dengan langkah tergesa-gesa.

Minsook yang sedang duduk di kursinya langsung menatap mereka dengan alis terangkat penasaran.

"Kenapa kalian kayak dikejar setan?" tanyanya sambil meletakkan pulpennya. "Ada apa?"

"P-pak Rektor... ada seseorang yang membobol ruang arsip kampus," jelas salah satu satpam dengan gugup sambil menundukkan kepala. "Kami... kami diserang dan dibuat pingsan..."

PRANG!

Minsook langsung melempar vas bunga ke arah kedua satpam itu hingga pecah berkeping-keping.

"BODOH!" bentaknya sambil berdiri dengan wajah merah padam. "Kalian dibayar mahal buat apa?! Cuma jaga satu gedung aja nggak becus! Sialan! Kalian pikir gaji kalian dari mana?!"

"Kumpulkan semua dosen dan mahasiswa di lapangan!" perintah Minsook dengan suara keras sambil menunjuk pintu. "SEKARANG! Jangan sampai ada yang ketinggalan!"

Kedua satpam langsung berlari keluar dengan panik.

Setelah mereka pergi, Minsook bersandar di meja sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

"Kalau ini benar... terjadi," gumamnya pelan sambil gemetar. "Nyonya Kim akan membunuhku..."

Semua orang berkumpul di lapangan dengan wajah kesal dan penasaran. Matahari siang menyengat kulit mereka.

"Panas banget sih!" gerutu Yubin sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan.

Ia melirik ke Dosen Lisa yang berdiri tidak jauh dari mereka.

"Miss Lisa, kenapa kita dikumpulin di sini?" tanyanya dengan nada kesal. "Ada apa sih?"

"Saya juga nggak tahu, Nona Yubin," jawab Dosen Lisa sambil menggeleng. "Mungkin ada sesuatu yang penting ingin disampaikan pihak kampus. Kita tunggu saja..."

Minsook datang ke lapangan dengan wajah sangat marah dan langsung naik ke podium. Ia meraih microphone dengan kasar.

"PERHATIAN SEMUANYA!" bentaknya dengan suara keras yang bergema. "Ada orang yang sudah melanggar peraturan kampus! Telah berani membobol gedung arsip kampus! Ini pelanggaran BERAT!"

Minsook datang ke lapangan dengan wajah sangat marah dan langsung naik ke podium. Ia meraih microphone dengan kasar.

"PERHATIAN SEMUANYA!" bentaknya dengan suara keras yang bergema. "Ada orang yang sudah melanggar peraturan kampus! Telah berani membobol gedung arsip kampus! Ini pelanggaran BERAT!"

"Ternyata cuma perkara gudang tua itu kita dikumpulin di sini..." bisik salah satu mahasiswi sambil menggelengkan kepala.

"Diam dulu!" tegur Yubin sambil menoleh ke belakang. "Dengerin dulu apa yang mau disampaikan Rektor. Nanti kalian nyesel kalau ketinggalan info penting!"

"Kejadian ini terjadi pagi tadi!" ucap Minsook sambil menatap tajam ke seluruh lapangan. "Semua dosen yang mengajar pagi ini WAJIB memeriksa daftar kehadiran siswa! Cek siapa yang masuk dan siapa yang TIDAK masuk!"

Dosen Lisa langsung kaget dan bergumam pelan sambil menatap kosong.

"Tidak mungkin... Alexey dan Haerim yang melakukan..." gumamnya sambil menggelengkan kepala tidak percaya.

Ia mengerutkan kening sambil berpikir keras.

"Tapi... kalau bukan mereka, terus kemana perginya mereka hari ini?" tanyanya pada diri sendiri dengan nada bingung. "Mereka berdua nggak masuk kelas..."

Minsook turun dari podium dan langsung menghampiri barisan dosen dengan tatapan menyelidik.

"Di setiap unit, siapa saja yang TIDAK masuk kelas pagi ini?" tanyanya dengan nada tajam sambil menatap satu per satu dosen.

Semua dosen yang mengajar pagi menjawab serentak dengan kompak.

"Semua mahasiswa ada di kelas saya, Pak!" jawab mereka bersamaan.

Hanya Dosen Lisa yang terdiam sambil menggigit bibir dengan wajah cemas.

"Dosen Lisa," panggil Minsook sambil menatap tajam. "Kenapa kamu tidak menjawab? Apa ada mahasiswa yang tidak hadir di kelasmu?"

Dosen Lisa menelan ludah dengan gugup sambil menundukkan kepala sedikit.

"T-Tuan Liebert dan Nona Kang... tidak masuk kelas pagi ini, Pak," jawabnya dengan suara bergetar.

"Tapi..." tambah Dosen Lisa cepat sambil mengangkat kepala. "Keduanya memang tidak terlihat di area kampus sejak pagi, Pak. Mungkin mereka benar-benar tidak datang hari ini karena sakit atau ada keperluan..."

Ia berusaha memberikan sedikit pembelaan meski suaranya masih gemetar.

"Pak Rektor!" seru Junhwan tiba-tiba sambil melangkah maju dengan wajah penuh kepuasan. "Saya melihat Alexey dan Haerim di parkiran pagi tadi! Tapi saat kelas dimulai, mereka sudah nggak ada!"

"Dosen Lisa," perintah Minsook dengan nada dingin. "Besok pagi, suruh Tuan Liebert dan Nona Kang datang ke ruanganku. Jangan sampai terlambat."

Ia kemudian berbalik ke arah kerumunan.

"Kalian semua bubar! Kembali ke kelas masing-masing!" teriaknya sambil melambaikan tangan."

Junhwan berjalan menjauh sambil tersenyum penuh kemenangan.

" Akhirnya... aku bisa kasih Alexey pelajaran," batinnya sambil menyeringai puas. " Lihat saja besok. kalo sampai terbukti dia pasti akan dikeluarkan..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!