NovelToon NovelToon
After Married

After Married

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: zahra

apa yang akan terjadi jika kamu bangun dari tidur mu , tiba tiba sudah memiliki suami yang begitu menolak mu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

gagal bercerai

Keesokan paginya, saat mentari masih malu-malu menampakkan sinarnya, kedua wanita itu telah bersiap

Nana mengantar Thalia menuju gedung pengadilan dengan perasaan yang berkecamuk. Di lobi yang dingin itu, mereka menunggu di deretan kursi kayu.

"Eh, Paman... itu ada di sini juga?" ucap Thalia tiba-tiba saat matanya menangkap sosok dua pria yang baru saja melangkah masuk.

"Tha, kau mengingat nya" tanya Nana terperanjat.

"A" Thalia tergagap. Ia tersadar, tak mungkin Nana percaya jika ia bercerita bahwa pria itu adalah sosok yang menolongnya di negeri Gloria yang jauh.

Meski pakaiannya kini berbeda, perawakan dan tatapan mata pria itu identik dengan ingatannya. "Tidak... Thalia tidak kenal siapa Om itu. Mungkin aku salah lihat."

Nana ingin menginterogasi lebih jauh seperti ada yang di sembunyikan oleh sahabatnya itu, namun kehadiran sang Hakim memutus pembicaraan mereka.

Di dalam ruang sidang yang kaku, kecemasan Nana menjadi kenyataan. Thalia kembali bertingkah aneh. Dengan antusiasme yang kekanak-kanakan, ia menceritakan bagaimana Nana mengajarinya banyak hal, seolah sedang bercerita pada kawan lama. Ia memanggil Hakim dengan sebutan "Paman Tua" dan menyebut Cavin Vior dengan sebutan "Om".

Setelah keheningan yang panjang, sang Hakim mengetuk meja, memberikan keputusan yang meruntuhkan harapan Nana.

"Berdasarkan hasil musyawarah, kami memutuskan bahwa perceraian Tuan Yuan Ru dan Nona Thalia dinyatakan tidak sah."

"maaf pak,Apa ada berkas yang kurang? Biar saya lengkapi sekarang!" seru Cavin dengan nada otoriter.

"Maaf, Tuan Yuan Ru . Meskipun Anda menandatanganinya, perceraian ini tetap tidak sah. Istri Anda dinyatakan mengalami gangguan mental dan Anda, sebagai satu-satunya keluarga terdekat, wajib merawatnya. Karena sesuai UU dan hasil musyawarah istri ada adalah tanggung jawab anda dan jika perceraian itu terjadi maka hanya akan merugikan pihak istri jadi dengan demikian maka Sidang ini saya nyatakan ditutup."

Tok! Tok! Tok!

Palu diketuk tiga kali. Dunia Nana seolah runtuh. Ketakutan terbesarnya menjadi nyata: Thalia gagal bercerai dan ia akan kembali terjebak dengan suami nya.

"Ikut aku sekarang!" geram Cavin Vior setelah ruang sidang bubar. Tanpa belas kasihan, ia menyambar pergelangan tangan Thalia dan menariknya paksa keluar dari ruangan, meninggalkan Nana yang hanya bisa terpaku menatap punggung sahabatnya yang diseret oleh suami nya .

Nana hanya bisa menghela nafas ia tidak bisa berbuat apa-apa pada sahabatnya yang di bawa oleh suami nya.

Di bawah langit yang muram, sebuah drama kehidupan nyata terbentang di pelataran gedung pengadilan yang kaku. Harapan untuk menghirup udara kebebasan musnah seketika saat palu hakim diketuk, menyisakan gema kegagalan

"Tidak mau! Om jahat! Thalia tidak mau ikut!" teriakan Thalia memecah kesunyian, suaranya melengking penuh ketakutan yang murni.

Jemari mungilnya berusaha mencengkeram udara, meronta sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari cengkeraman tangan lelaki yang seharusnya menjadi pelindungnya. Namun, tenaga Thalia hanyalah seumpama kepakan sayap kupu-kupu di tengah badai sia-sia jika di bandingkan dengan kekuatan Cavin Vior (Yuan Ru).

"Nana, tolong lapor polisi! Om ini mau menculik Thalia!" tangisnya pecah, matanya yang sembab menatap Nana penuh permohonan.

Nana, dengan jantung yang berdegup kencang mencoba menerjang maju.

Namun, langkahnya terhenti oleh tubuh kokoh Nino, sang asisten, yang berdiri layaknya benteng yang tak tergoyahkan.

"Minggir! Aku tidak punya urusan denganmu, Kak!" gertak Nana dengan suara yang bergetar. Ia mencoba terlihat berani, meski lututnya lemas menatap sosok dari kalangan penguasa

"Maaf, Nona. Anda mendengar sendiri vonis hakim tadi," ucap Nino dingin namun sopan.

"Secara hukum, Tuan Cavin adalah satu-satunya yang berhak atas istrinya. Jangan menghalangi kewajiban suami."

"Kewajiban? Kalian hanya akan menyakitinya!" bentak Nana dengan air mata kemarahan yang mulai mengalir. Namun, suaranya hilang ditelan deru mesin mobil mewah yang mulai menjauh, membawa sahabatnya pergi

Tapi ketika asisten itu akan pergi Nana menahan nya sebab ia juga harus menjelaskan tentang keadaan Thalia yang sekarang agar asisten itu memberi tahu pada bos nya.

" baik nona, terima kasih atas informasinya saya akan memberi tahu kepada tuan cavin "

▪️▪️▪️

Di dalam mobil yang melaju membelah jalanan kota, atmosfer terasa mencekam, Cavin Vior mengemudi dengan rahang mengeras, mengabaikan ocehan istrinya yang terdengar asing di telinganya.

"Om mau membawa Thalia ke mana? Kenapa Nana tidak ikut?" tanya Thalia dengan nada polos

Cavin membuang muka. Ingatannya berkelana pada malam terkutuk yang mengikat paksa takdir mereka. Pernikahan ini bukanlah sebuah altar suci, melainkan sebuah eksekusi.

Orang tua Cavin mendapati mereka berada dalam satu ranjang yang sama di apartemennya

sebuah jebakan yang ia yakini dirancang dengan rapi oleh Thalia. Cavin, sang pewaris yang tak pernah bisa menolak tangis sang ibu, terpaksa menikahi Thalia, wanita yang tak lain adalah teman dari kekasih pilihannya sendiri. Sebuah pengkhianatan yang tak termaafkan.

"Om, sebenarnya..."

"Siapa 'Om'-mu?!" Cavin membentak keras, suaranya menggelegar memenuhi ruang sempit mobil itu.

Thalia tersentak, bahunya menciut seketika.

Pertanyaan-pertanyaan batin dalam benaknya Mengapa ia berubah begitu menakutkan? terkunci rapat di tenggorokan.

Ia ingin menangis, namun ketakutan akan amarah sang tuan membuatnya menahan napas.

Namun, sekuat apa pun ia membentengi diri, air mata itu tetap meluncur jatuh, membasahi pipinya yang pucat.

"Om jangan marah... Thalia takut. Thalia mau pulang... Om jahat suka marah-marah... hiks... hiks..." isaknya lirih, pundaknya bergetar hebat menggambarkan kerapuhan jiwa yang terluka.

Melihat pemandangan itu, seberkas keraguan melintas di mata tajam Cavin. Bagian terdalam dari nuraninya selalu lumpuh setiap kali melihat wanita menangis. Itulah alasan mengapa ia menyerah pada desakan ibunya; ia tak tahan melihat sang ibu jatuh sakit karena aib yang ia yakini dilakukan putranya.

"Ok, kita pulang sekarang. Berhenti menangis," ucap Cavin, suaranya melunak tipis, meski tetap dibalut ketegasan yang kaku. Cavin melirik lewat ekor matanya.

Ia teringat bagaimana Thalia sebelumnya seorang wanita yang selalu pandai bersilat lidah dan membantah setiap ucapannya sebelum ia berangkat ke luar kota.

Kini, wanita di sampingnya bersikap seperti anak kecil yang kehilangan arah.

Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibir Cavin. Dia pikir dia bisa membodohi ku dengan sandiwara amnesia ini? Hanya agar perceraian ini batal? batinnya penuh prasangka.

Ide-ide gelap mulai menari di benaknya. Ia akan mempermainkan 'permainan' ini. Jika Thalia ingin berpura-pura gila, maka ia akan memberikan dunia yang cukup 'gila' untuknya.

Ia akan menguji seberapa lama topeng kepolosan itu bertahan di bawah siksaan pengabaian yang akan ia berikan akan lebih besar

Cavin teringat bagaimana dulu ia pernah mengunci Thalia di luar apartemen saat pertama kali ia membawa ke apartemennya itu.

membiarkan wanita itu telantar hingga harus kembali ke tempat Nana yang sangat jauh.

Dan kali ini, di balik kemudi mobilnya, Cavin berjanji bahwa apartemennya tidak akan lagi menjadi rumah, melainkan sebuah panggung di mana Thalia harus mengakui segala kebohongannya atau hancur di dalamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!