NovelToon NovelToon
Milik Sang Penguasa

Milik Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:33.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vaelisse

Arabelle, seorang barista, tak menyangka hidupnya akan berubah ketika Lorenzo Devereaux, pemimpin dunia bawah yang dikenal sebagai Damon, datang menagih utang ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

"Arabelle. Bangun. Kita sudah sampai."

Arabelle membuka mata perlahan, langit-langit mobil, lampu jalan yang menerobos dari jendela, dan wajah Lorenzo yang melihatnya dengan ekspresi yang tidak bisa ia definisikan.

"Sudah di rumahku?" gumamnya.

"Sudah."

Ia mengedipkan mata beberapa kali, duduk tegak, lalu meraih tasnya. Lorenzo menciumnya sekali, singkat, di sudut bibirnya, sebelum ia turun dan berlari kecil ke pintu depan.

Di dalam, Daniel dan Catherine sudah menunggu di ruang tamu. Koper-koper berjejer di dekat pintu. Mila sudah mengantuk di pelukan Catherine.

Catherine langsung berdiri dan memeluknya. "Arabelle, Ibu harap kamu tidak marah."

Arabelle tersenyum meski matanya memanas. "Aku tidak marah."

"Kami titip seribu euro," kata Daniel, menyelipkan amplop ke tangannya. "Untuk makan, kebutuhan, apa saja."

"Ayah, ini terlalu banyak--"

"Simpan."

Arabelle tidak melanjutkan argumennya. Ia memeluk Daniel lama, lalu Catherine lebih lama lagi, menghirup wangi parfum Catherine dalam-dalam, menyimpannya di suatu tempat dalam ingatannya. Terakhir, ia membungkuk dan mencium Mila berkali-kali di pipi sampai anak itu tertawa lalu mengantuk lagi.

"Hati-hati di sana," katanya.

"Kamu yang hati-hati di sini," balas Catherine, menyentuh pipinya sekali lagi sebelum mereka pergi.

**

Arabelle duduk sendirian di ruang tamu yang terlalu besar untuk satu orang.

Ia menyalakan Netflix, menelusuri daftar film selama beberapa menit, dan tidak menemukan satu pun yang terasa cukup menarik untuk melawan sunyi yang tiba-tiba ada di sekeliling. Ia mematikan TV, naik ke kamar, ganti baju, dan tidur lebih awal dari biasanya.

Rumah itu lebih senyap dari yang ia ingat.

**

Pagi harinya, alarm berbunyi pukul sembilan.

Arabelle membuka mata dengan perasaan ringan yang aneh, tidak ada suara kaki kecil di koridor, tidak ada bau masakan dari bawah. Hanya sunyi dan matahari pagi Roma yang masuk dari celah gorden.

Ia bangkit, menghidupkan playlist Harry Styles dan beberapa nama lain yang sudah terlalu sering ia putar sampai hafal setiap jedanya, lalu masuk ke kamar mandi.

Mandi. Losion. Seragam kerja. Kuncir kuda rendah dengan beberapa helai dibiarkan lepas supaya terlihat sedikit lebih rapi dari sekadar asal ikat. Maskara dan lip gloss bening, cukup.

Di dapur, ia membuat bruschetta sederhana roti yang dipanggang, diolesi sedikit minyak zaitun, ditopingkan tomat segar dan basiliko cincang, makan berdiri sambil memeriksa ponsel, lalu memasukkan botol minum dan charger ke dalam ransel kecilnya.

Taksi tiba dalam lima menit. Sepuluh menit kemudian ia sudah di depan mal, jalanan pagi Roma yang bebas macet adalah salah satu hal terbaik yang ada.

**

Masuk ke Luminara Coffee, celemek dipasang, langsung kerja.

"Arabelle!" Hailey muncul dari balik konter dengan senyum yang terlalu lebar untuk jam sesegar ini.

"Pagi." Arabelle mengambil beberapa menu dari laci bawah. "Kamu kenapa?"

"Kamu ingat Dylan? Temanku?"

Arabelle menggulung mata. "Kenapa?"

"Mau kuperkenalkan kalian."

"Hailey--"

"Dia baik. Benar-benar. Bukan modus, bukan PDKT aneh-aneh, cuma kenalan. Siapa tahu cocok jadi teman."

Arabelle menutup laci. "Aku punya Lorenzo."

"Aku bilang teman, bukan pacar."

Arabelle memandanginya sebentar. Hailey membalas dengan tatapan yang tidak akan mundur.

"Baik. Kasihkan nomorku."

Hailey bertepuk tangan dengan antusias yang tidak sebanding dengan apa yang baru saja terjadi.

"Jangan lebay," kata Arabelle, lalu berjalan ke meja pertama yang butuh dilayani.

**

Shift pagi berjalan seperti biasa. Arabelle mencatat pesanan, mengantarkan makanan, tersenyum ke pelanggan yang ramah dan tetap sopan ke yang tidak. Ander di balik konter, sudah menikah, istrinya hampir melahirkan, tapi masih sempat meledeknya dengan "Makasih, cantik" setiap kali ia menyerahkan nota pesanan.

Arabelle selalu membalasnya dengan senyum dan doa supaya bayinya lahir sehat agar Ander punya kesibukan lain.

Lalu pintu lift terbuka.

Lorenzo keluar dengan celana hitam elegan, ikat pinggang perak, kemeja putih yang, entah bagaimana, selalu berhasil tampak seperti baru disetrika bahkan di tengah hari kerja. Ia berjalan langsung ke arah lift kantor tanpa melihat ke kanan kiri.

Tapi di tengah langkah, kepalanya berpaling sebentar ke arah Arabelle.

Satu kedipan mata.

Arabelle kembali menatap buku pesanannya.

**

Beberapa waktu kemudian, ia naik ke kantor.

Ia mengetuk pintu pelan.

"Masuk tanpa mengetuk," kata Lorenzo dari dalam.

Arabelle membuka pintu. Belum sampai ia berkata apa-apa, tangannya sudah ditarik, pintu tertutup di belakangnya, dan punggungnya menyentuh daun pintu.

Lorenzo mendekatkan wajahnya ke lehernya, menghirup.

"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya, bibirnya bergerak di kulitnya.

"B-baik." Arabelle meletakkan satu tangan di bahunya untuk menjaga keseimbangan. "Kenapa kamu tanya sambil begini?"

"Multitasking." Ia berhenti dan menatap matanya. "Kenapa datang kerja hari ini?"

"Karena aku butuh uang."

"Kamu tidak butuh uang. Aku ada."

"Lorenzo." Arabelle memandangnya serius. "Aku tidak minta kamu menghidupi aku."

Ia mengusap pipinya dengan ibu jarinya. "Setidaknya biarkan aku antar pulang."

"Itu bisa." Arabelle memperbaiki celemeknya. "Tapi tidak sekarang."

Lorenzo menciumnya sekali, manis dan singkat dan Arabelle keluar dari kantor dengan langkah yang lebih cepat dari masuk.

Di bawah, Hailey langsung menghampirinya.

"Aku sudah atur pertemuan dengan Dylan."

Arabelle menoleh. "Cepat sekali."

"Dia fleksibel."

"Di mana?"

"Di mana pun kamu mau. Aku bilang ke dia untuk tanya kamu langsung."

Arabelle mengangguk. *Bertemu, mengobrol, selesai. Tidak akan berkembang ke mana-mana.*

**

Shift berakhir. Asisten Lorenzo datang ke konter dan bilang ia dipanggil ke atas.

Arabelle naik. Lorenzo sudah berdiri dengan jaket di tangan, siap pergi.

"Aku keluar duluan," kata Arabelle sebelum ia sempat bergerak.

"Kenapa?"

"Kamu pemilik tempat ini. Aku karyawan. Kalau kita jalan keluar bersama sekarang, semua orang di sini akan punya bahan obrolan sampai bulan depan."

Lorenzo terdengar hampir tertawa. "Dan masalahnya di mana?"

"Aku tidak mau jadi pusat gosip di tempat kerjaku."

Ia menatapnya, lalu terlihat mempertimbangkan.

"Baik."

Arabelle mengangguk, melepas celemek, mengurai kuncir, dan mengambil tasnya. Ia turun duluan lewat lift, keluar melalui pintu samping, dan menunggu di dekat eskalator parkiran.

Tiga menit kemudian, Lorenzo muncul.

"Puas?" tanyanya.

"Sangat."

Mereka turun ke lantai parkiran bawah. Lorenzo membuka pintu mobilnya, sekali lagi, tanpa diminta.

"Kamu melakukan ini lagi," kata Arabelle sambil masuk.

"Aku tahu." Ia menutup pintu dan masuk dari sisi lain.

"Kamu tadi bilang tidak tahu kenapa."

"Sekarang aku tahu."

"Apa alasannya?"

"Karena aku ingin."

Arabelle memutuskan tidak melanjutkan logika itu.

Mobil keluar dari parkiran dan masuk ke jalan-jalan Roma yang mulai ramai di sore hari.

"Aku lapar," kata Arabelle setelah beberapa menit.

"Aku masak."

"Kamu tidak harus--"

"Arabelle."

"...Boleh."

Lorenzo membelokkan mobil ke arah yang sudah Arabelle hafal, jalan menuju rumah yang terlalu besar untuk satu orang, tapi entah kenapa belakangan ini selalu terasa lebih penuh dari yang seharusnya.

1
Amoyy
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!