NovelToon NovelToon
Sajadah Untuk Sang Kupu-kupu

Sajadah Untuk Sang Kupu-kupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Sebuah jam tangan tua milik sang ibu menghilang, membawa Ustadz Adnan pada sebuah nazar yang menguji keimanannya di mata manusia. Ia berjanji: jika pria yang menemukannya, akan ia beri sawah; jika wanita, akan ia jadikan istri.
​Namun, semesta seolah sedang menguji nuraninya saat jam tersebut kembali melalui tangan Kinan—seorang wanita penghibur yang merasa dirinya telah ternoda oleh pekatnya dunia malam.
​"Saya ini bukan bidadari surga, Ustadz. Mana mungkin saya bisa bersanding dengan Anda?"
​Bagi Adnan, Kinan bukanlah sebuah kesalahan, melainkan pintu dakwah yang paling nyata. Namun, keputusan Adnan melamar Kinan memicu badai penolakan. Keluarga, santri, hingga masyarakat mengecam sang Ustadz karena dianggap mencoreng martabat gelarnya demi seorang "pendosa."
​Di antara cibiran dunia dan upaya Kinan untuk lari dari masa lalunya, Adnan tetap teguh pada prinsipnya: "Saya mencari teman menuju surga, bukan seseorang yang merasa sudah memilikinya."


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Mobil melaju perlahan menembus kegelapan malam yang mulai menyelimuti jalanan menuju pesantren.

Di dalam kabin, kesunyian terasa begitu pekat. Perjalanan mereka menuju pondok penuh dengan ketegangan yang tak kasat mata.

Adnan mencengkeram kemudi dengan erat, matanya lurus menatap aspal, sementara pikirannya melayang pada kejadian traumatis beberapa hari lalu saat warga mengusir mereka dengan hinaan.

Kinan duduk di sampingnya, memeluk erat wadah bekal untuk Abah di pangkuannya.

Ia bisa merasakan keringat dingin di telapak tangannya.

Meskipun ia yang meyakinkan Adnan, namun debaran jantungnya tidak bisa berbohong.

"Mas, kalau nanti Abah tidak mau membukakan pintu, kita letakkan saja di depan teras ya?" bisik Kinan memecah keheningan.

Adnan menoleh sejenak, menatap istrinya dengan tatapan haru.

"Kita lihat nanti, Sayang. Mas akan selalu di depanmu."

Begitu mobil memasuki gerbang pesantren, suasana terasa sangat sunyi.

Beberapa santri yang sedang melintas sempat menoleh, mereka berbisik-bisik melihat mobil Adnan kembali.

Adnan memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumah utama agar tidak memancing keributan.

Mereka turun dengan langkah pelan. Momen saat mereka tiba di depan rumah, terlihat Abah yang duduk sendirian di kursi rotan di teras rumah.

Lampu teras yang agak temaram membuat gurat-gurat kesedihan dan beban di wajah tua itu tampak lebih jelas.

Abah sedang memegang tasbih, matanya menatap kosong ke arah kegelapan taman.

Langkah kaki Adnan dan Kinan yang beradu dengan kerikil membuat Abah menoleh. Seketika, gerakan tasbih di tangannya terhenti.

Tatapan matanya yang tajam langsung tertuju pada sosok Kinan yang berdiri di belakang Adnan.

"Assalamualaikum, Abah..." suara Adnan bergetar saat mengucapkan salam.

Ia melangkah mendekat, lalu bersimpuh di kaki ayahnya.

Abah tidak langsung menjawab. Ia terdiam cukup lama, napasnya terasa berat.

Suasana menjadi sangat mencekam. Kinan ikut bersimpuh di belakang Adnan, menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap mata pria yang sangat dihormati suaminya itu.

"Untuk apa kamu kembali?" tanya Abah dengan suara parau yang dingin.

"Belum cukupkah rasa malu yang kamu berikan pada pondok ini?"

Kinan memberanikan diri mengangsurkan wadah bekal yang ia bawa dengan tangan gemetar.

"Abah, maafkan Kinan. Kinan datang hanya ingin memberikan ini. Kinan masak sendiri untuk Abah."

Abah menatap wadah yang dibungkus kain batik itu, lalu beralih menatap wajah Adnan yang masih penuh bekas luka.

Ada kilatan emosi yang tertahan di mata tua itu—antara kemarahan yang besar dan rasa iba seorang ayah yang melihat anaknya terluka.

Malam yang semula terasa mencekam di teras rumah tua itu perlahan mulai mencair.

Angin malam yang berembus seolah membawa pergi ketegangan yang sempat membeku.

Abah menatap wadah bekal di tangan Kinan, lalu beralih menatap wajah Adnan yang masih tampak sisa-sisa luka lebamnya.

Ada hela napas panjang yang keluar dari dada pria tua itu, sebuah embusan napas yang menyiratkan rasa lelah sekaligus kasih sayang yang tak bisa ia bunuh.

Abah yang perlahan luluh dan menerima bekal itu mengulurkan tangannya yang gemetar.

Ia mengambil wadah berbalut kain batik tersebut dari tangan Kinan.

Sentuhan singkat itu membuat jantung Kinan berdegup kencang, antara takut dan haru.

"Masuklah ke dalam," ucap Abah dengan suara parau, namun tak lagi sedingin tadi. Ia berdiri perlahan, memegangi pinggiran kursi rotannya.

Mendengar kalimat itu, Adnan seolah mendapatkan napas baru.

Ia segera bangkit dan Adnan mengajak istrinya untuk masuk ke dalam rumah yang selama ini menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya.

Mereka melangkah melewati ruang tamu yang dipenuhi rak-rak kitab, menuju meja makan kayu yang sederhana.

Sambil membantu Kinan menyiapkan piring, Adnan menceritakan segala hal yang terjadi sejak mereka diusir.

Dengan nada rendah penuh rasa syukur, ia menceritakan tentang pekerjaan sebagai guru di pondok Tuan Aris, tentang bagaimana ia disambut dengan hormat, dan bagaimana Kinan kini menjadi desainer perhiasan yang mulai diakui.

Adnan mengira Abah akan terkejut, namun sang ayah hanya terdiam sambil menata posisi duduknya.

"Abah sudah tahu, Adnan," potong Abah pelan. Ia menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Tuan Aris adalah kawan lama Abah. Dia menelepon tadi sore, menceritakan betapa bangganya dia memilikimu di pondoknya, dan betapa kagumnya dia pada istrimu."

Kinan tertunduk, air mata haru mulai membasahi pipinya.

Ia tidak menyangka Tuan Aris sampai hati melakukan pembelaan sejauh itu di depan mertuanya.

Abah kemudian membuka wadah bekal cumi hitam buatan Kinan. Aroma gurih yang kuat langsung menyeruak.

Abah mengambil sendok, mencicipi sedikit bumbu hitam pekat itu, lalu mengangguk kecil.

"Ayo kita makan malam dulu," ajak Abah sambil menatap Kinan untuk pertama kalinya dengan tatapan yang lebih lembut.

"Jangan biarkan makanan enak ini dingin. Duduklah, Kinan."

Malam itu, di meja makan yang dulu penuh dengan penghakiman, kini tercipta sebuah rekonsiliasi yang indah.

Kinan merasa martabatnya sebagai seorang istri dan menantu perlahan-lahan dipulihkan oleh ketulusan dan bakat yang ia miliki.

Suasana hangat di meja makan itu tiba-tiba terinterupsi oleh suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah pintu samping.

Fauziah yang datang tiba-tiba kaget melihat mereka makan bersama, matanya membelalak tak percaya menyaksikan Kinan duduk di satu meja dengan Abah, pemandangan yang selama ini ia coba hancurkan dengan segala fitnahnya.

Wajah Fauziah memerah padam, rasa iri dan benci terpancar jelas. Fauziah yang merasa kalau ia bukan santri biasa, melainkan orang yang merasa punya kedudukan khusus di hati Abah, melangkah dengan angkuh mendekat ke arah mereka.

Tanpa salam, ia langsung berdiri di samping meja makan dengan tatapan menghina.

"Abah? Kenapa wanita ini bisa ada di sini lagi?" seru Fauziah dengan nada suara yang meninggi, tidak lagi memedulikan kesopanan.

"Apa Abah lupa apa yang dia lakukan sampai pondok kita gempar? Kenapa Abah sudi memakan masakannya yang..."

Belum sempat Fauziah menyelesaikan kalimat kasarnya, Kinan perlahan meletakkan sendoknya.

Ia bangkit berdiri, menatap Fauziah dengan tatapan yang tenang namun sangat tajam. Tidak ada lagi ketakutan di wajah Kinan seperti hari-hari sebelumnya.

"Apa kedua orang tua kamu tidak pernah mengajarkan tata krama?" tanya Kinan dengan nada suara yang sangat tenang namun sanggup membungkam ruangan itu.

Fauziah tersentak, mulutnya ternganga. Ia tidak menyangka Kinan yang biasanya hanya menunduk dan menangis kini berani melawannya dengan kalimat yang menusuk.

"Kamu masuk ke rumah orang tanpa salam, memotong pembicaraan orang tua, dan menghina makanan yang sudah didoakan," lanjut Kinan sambil melangkah satu tindak lebih dekat.

"Di mana letak adab yang selama ini kamu pelajari di pesantren ini, Fauziah?"

Adnan dan Abah terdiam, keduanya tertegun melihat keberanian Kinan yang muncul dari harga diri yang telah pulih.

Fauziah gemetar, bukan karena takut, tapi karena merasa harga dirinya diinjak-injak di depan Abah oleh wanita yang ia anggap "kotor".

Setelah itu mereka berpamitan kepada Abah. Adnan merasa sudah cukup untuk malam ini; ia tidak ingin perselisihan semakin memanas.

"Abah, kami pamit dulu. Terima kasih sudah menerima kami," ucap Adnan sambil mencium tangan ayahnya.

Kinan juga mencium tangan Abah dengan takzim.

Sebelum keluar, ia melirik Fauziah yang masih mematung dengan wajah penuh amarah.

Mereka melangkah keluar menuju mobil, meninggalkan Fauziah yang kini harus berhadapan dengan tatapan dingin dan kecewa dari Abah.

Setelah pintu depan tertutup dan deru mobil Adnan perlahan menghilang di kejauhan, suasana di ruang makan itu menjadi sangat dingin.

Abah masih duduk di kursinya, menatap sisa makanan di piringnya dengan rahang yang mengeras.

Fauziah, yang merasa memiliki posisi istimewa, mencoba mendekat dengan wajah yang dibuat-buat sedih.

"Abah, kenapa Abah membiarkan wanita itu menghina saya? Dia itu hanya orang asing yang—"

"Cukup, Fauziah!" suara Abah menggelegar, memotong kalimat Fauziah dengan ketegasan yang jarang ia tunjukkan.

Abah berdiri, menatap tajam ke arah santriwati itu.

"Apa yang dikatakan Kinan tadi benar. Di mana adabmu? Kamu masuk ke rumah gurumu tanpa salam, berteriak di depan meja makan, dan menghina tamu yang baru saja Abah terima dengan baik."

Fauziah tertunduk, tubuhnya gemetar karena baru kali ini melihat Abah semarah itu padanya.

"Ilmu tanpa adab itu kosong, Fauziah. Kamu terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain sampai lupa membersihkan hatimu sendiri," lanjut Abah dengan nada parau namun menusuk.

Abah kemudian memberikan hukuman yang tidak main-main sebagai peringatan keras.

"Besok, hafalkan surat Al-Baqarah dari ayat pertama sampai seratus, setor kepada Ustazah Senior sebelum Zuhur. Dan sebagai tambahan untuk melatih kerendahan hatimu, bersihkan ruang guru sendirian sampai mengkilap."

"Tapi Abah, Al-Baqarah itu panjang sekali..." keluh Fauziah dengan suara mencicit.

"Lakukan atau silakan pulang ke rumah orang tuamu!" tegas Abah.

"Sekarang keluar dari sini!"

Fauziah berlari keluar dengan air mata kemarahan dan malu yang bercampur aduk. Rencananya untuk menghancurkan Kinan justru berbalik menjadi bumerang yang menghantam dirinya sendiri.

Sementara itu, Abah kembali duduk, menghela napas panjang, dan menyadari bahwa menantunya, Kinan, memiliki hati yang jauh lebih mulia daripada mereka yang merasa paling suci di pesantren ini.

1
falea sezi
kapok laki. kok gampang bgt esmosi
falea sezi
cerai aja beres athar ini ttep blooonn
Rosmazita Imah
macam tu la. kena bertegas
Dar Pin
haduh kenapa Adnan terus yg salah sebagai seorang istri meskipun atas nama keselamatan dan mendesak harusnya tetap membangunkan suaminya beda KL suaminya nggak dirumah sebenernya ini mau dibuat pisah apa gimana ya Thor maaf bukanya membela Adnan dan seharusnya pamannya menghubungi Adnan dulu bukan Kinan bagaimanapun itu tengah malam aku rasa bukan hanya Adnan yg marah semua suami jg akan emosi 😄
Dar Pin
semoga cepat hamil biar nggak kesepian ya Thor 👍
Dar Pin
kadang kita hanya mengingat kesalahan seseorang tapi lupa kebaikannya ayo Kinan lapangkan hatimu kasihan Adnan dia jg banyak berkorban buat kamu diusir dr pondok dilempari batu semua demi kamu jg rela meninggalkan pondo jg keluarga bahkan ayahnya semua demi kamu 💪
Dar Pin
bagus kak ceritanya setiap masalah harus diselesaikan dengan kepala dingin komunikasi dan bicara dr hati kehati lebih baik dari kata perceraian 👍
Mrs. Ketawang
Adakalanya seorg yg pintar memberi tausiah atopun nasehat kpd org lain tp lupa akan hidupnya yg trkadang tdk sesuai dg lisannya🙏🏻
ustadz jg manusia bysa😁
Rosmazita Imah
kenapa up 2 kali benda part yang sama
my name is pho: maaf kak ada kesalahan tekhis.
🙏🙏
yang bab 31 ketinggalan 🤭🙏
total 1 replies
Astrid Kucrit
lah, di ulang kak?
my name is pho: maaf kak ada kesalahan tekhis.
bab 31 ketinggalan
total 1 replies
falea sezi
Kinan jangan2 masih perawan
Dar Pin
begitu dong Adnan turunkan ego masing masing untuk menyelesaikan masalah yg terpenting komunikasi 💪
Mrs. Ketawang
gongnya ... nanti saat MP trnyata Kinan masih mnjaga satu"nya kesuciannya mski Kinan bkerja d club mlm...
Syok berat tuh pak ustadz Adnan😅
Dar Pin
jangan kasih cobaan yg lebih LG dong Thor Adnan udah berusaha menyembuhkan luka istrinya tidak ada manusia yg sempurna beri kesempatan yg kedua buat adnan
tiara
Athar membuat Kinan berusaha menerima Adnan kembali,semoga tidak ada lagi yang mengganggu kehidupan mereka
gaby
Maaf sekedar masukan, ga di terima jg gapapa. Masa sih Adnan ga dapet hukuman apa2?? Kesalahannya fatal loh, menuduh istri berbuat zina & mengabaikan istri demi wanita lain. Kalo di telaah bukankah Adnan yg berbuat Zina dgn Fauziah. Zina itu ga mesti berhubungan intim, lewat mata & sentuhan aja bisa di bilang zina. Bukankah Adnan merangkul Faiziah wkt tersiram kuah panas, bukankah Adnan menerima ajakan Wanita lain lalu meninggalkan istri. Ko enak bgt jadi Adnan, setelah kesalahan fatal yg membuat istrinya luka secara fisik & mental tp di lupakan aja kesalahannya yg di sengaja. Jujur aq jd kehilangan minat bacanya kalo Adnan ga di hukum. Ga mesti cerai, seenggaknya menjauhlah dr adnan sementara. Biar sama2 introspeksi diri. Rendah bgt harga diri wanita, di fitnah & di lukai secara fisik tp cm bisa diem aja.
my name is pho: sabar kak nanti ada hukumannya
total 1 replies
Rosmazita Imah
adnan jangan sia2kan lagi peluang yang di berikan
Rosmazita Imah
semoga athar akan menjadi penghubung hubungan kinan dan adnan ke arah yg lebih baik.
gaby
Yah, kirain ibunya Athar doang yg meninggal, ternyata ayahnya jg. Coba kalo ayahnya duda, siapa tau cocok sm Kinan😄😄
my name is pho: 🤭 hehe
total 1 replies
Rosmazita Imah
so sad for both of u
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!