"Capek tidak sayang? aku masih mau sekali lagi.."
"Kamu kuat sekali Mas.."
Si tampan itu tertawa menciumi pipi sang Istri, entah sejak kapan dia sangat mencintai istrinya ini.
"Sudah di minum Pilnya Sayang?"
"Harus Mas? Aku lelah minum Pil KB terus.."
"Menurutlah sayang semua demi kebaikan.."
Tidakkah Tama tau jika larangannya itu justru menyakiti hati Istrinya?
"Aku takut sayang, Aku takut kamu akan meninggalkan aku saat mengetaui kebenaran atas Suamimu ini."
Tama selalu di hantui rasa bersalah, ketakutan dia akan masa lalunya.
Sebenarnya apa Yang terjadi di masa lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADOPSI
BAB 22
“Mas badanmu panas.”
Alisya memegangi kedua lengan suaminya. Entahlah apa yang terjadi pada Tama, lelaki ini masih saja menunduk.
Sebenarnya saat tiba di rumah Alisya sudah merasa ada sesuatu yang mengganjal.
Pertama Tama pulang kerja lebih awal, kedua Tama pulang dalam keadaan mabuk, dan ketiga suhu tubuh lelaki ini tinggi. Alisya sudah bisa memastikan jika sesuatu sedang terjadi pada Suaminya.
Alisya tidak tau kalau Tama seperti ini karena dia, Tama sejak di kantor sudah menahan amarah.
Posesif sekali memang, jangankan melihat Istrinya jalan dengan lelaki lain, terlihat dekat dengan lelaki asing saja rasanya Tama ingin mengamuk.
“Siapa Pria yang bersamamu tadi?”
Tama mengangkat wajahnya, kedua matanya sudah memerah, Alisya yang melihatnya mundur sejenak.
“Mas?”
“Jawab sayang.”
Kedua mata merah itu kembali terpejam, susah parah Tama melawan amarahnya yang ingin sekali meledak. Tapi Tama tidak bisa menunjukan kemarahannya itu.
Tidak!
Istrinya itu tidak boleh melihat sisi lain Tama.
Sisi Mafianya.
“Kak Dion, Mas. Dia teman satu pantiku dulu.”
Tama membuka mata, dan pandangannya beralih menatap kalung yang di kenakan istrinya.
“Kalung pemberian dia?”
Alisya memegang kalungnya kemudian menggeleng.
“Tidak mas, ini kalung punya aku. Kamu ingat tidak? dulu aku pernah mencari kalung ku yang hilang? Ini kalungku ketemu, ternyata di simpan sama Kak Dion.”
Tama kembali mengingat dan benar saja, Istrinya dulu ribut sekali mencari kalungnya yang hilang, karena Alisya bilang kalung itu adalah satu-satunya barang yang di tinggalkan keluarganya.
“Kok bisa ada di dia?”
“Dulu putus mas, terus aku minta tolong Kak Dion untuk memperbaikinya, eh pas Kak Dion di Adopsi kebawa sama dia.”
Baiklah, Tama bisa menghembuskan nafasnya.
Awalnya dia berpikir kalau kalung itu di berikan Cuma-Cuma untuk Alisya dan ternyata pikiran Tama salah.
“Kamu kenapa sih mas? Tidak biasanya kamu mabuk.”
Tama menarik Alisya ke dalam pelukannya, rasa cemas dan ketakutannya begitu menggebu-gebu.
“Jangan pernah lagi dekat dengan pria lain Sayang, pria manapun itu.”
Alisya mengerjapkan kedua matanya.
“Tapi dia sudah seperti kakak laki-lakiku Mas.”
“Aku tidak peduli, tanpa kecuali jangan pernah dekat lagi sama dia ya.”
Alisya menggeleng, dia sangat tau suaminya ini pencemburu tapi tidak sampai harus mengekangnya berlebihan, Alisya tentu sangat tidak suka.
"Mas jangan berlebihan." pinta Alisya mengusap kedua pipi Suaminya.
“Aku cemburu sayang, bahkan tubuhku ikut terbakar menahan rasa cemburu ini.”
Alisya menggeleng sangat tidak masuk akal tapi dia pun ikut merasakannya.
“Baiklah aku minta maaf ya, tapi jangan larang aku untuk dekat dengan Kak Dion, dia sudah aku anggap kakak ku sendiri. Dia yang dulu selalu menjagaku.”
Tama membuang nafasnya kasar.
“aku pastikan dia tidak akan melakukan sesuatu di luar batas Mas,”
Tama menggelengkan kepala.
“Lepaskan kalungnya.”
“Mas?”
“Lepas sayang.”
Kedua mata Alisya berair, segitunya Tama sampai dia tidak mau Istrinya memakai Barang dari orang lain.
"Mas, kamu tau kan? Kemungkinan kalung ini peninggalan Ayah dan ibuku. Jangan di buang.” Alisya memohon bahkan dia sudah ingin sekali menangis.
“Siapa bilang aku mau membuangnya?”
“Lalu?”
“Lepaskan saja.”
Alisya menurut, melepaskan kalungnya dan memberikan ke tangan Tama.
“Aku pinjam ya, nanti akan aku kembalikan lagi.”
Alisya mengangguk dia percaya Suaminya ini tidak akan membuang kalung miliknya.
“Kenapa kamu minum Mas?”
“Hanya segelas, kepalaku sakit banget.”
“Tapi apa dengam minum jadi sembuh sakitnya?
Tama menggelengkan kepalanya.
“Jangan di ulangi lagi ya?” Tama hanya berdehem, tentu saja dia tidak bisa berjanji.
Pasalnya Tama memang bukan peminum bahkan dia tidak menyentuh rokok. Dan jika tama sudah menyentuh minuman itu tandanya kepalanya sedang berisik.
“Tubuhku masih panas sayang.”
Alisya membuka satu persatu kancing kemeja Suaminya.
“Mau mandi?”
Jelas dia tau panas di tubuh Suaminya ini karena menahan Cemburu, bukan demam badan pada umumnya.
“Bersamamu?”
Alisya mengangguk dengan senyum.
“Tapi kan kamu sudah mandi sayang.”
Tama merapikan rambut sang Istri, dia begitu menyayangi wanita ini.
“Tidak masalah kalau aku harus mandi lagi.”
Alisya mengalungkan tangannya di leher Tama, lelaki itu tersenyum mesum.
“Good baby!”
Tama menggendong Alisya membawanya ke kamar mandi.
Kini di bawah guyuran air shower Keduanya saling bercumbu. Tama mengeksplor tubuh Alisya dengan liar. Si cantik itu memejamkan matanya.
“sayang?”
“Hmmm?”
Tama menghentikan aktifitasnya kemudian menatap Alisya.
“Bisa lakukan perlahan? Akhir-akhir ini perutku sedang tidak nyaman.”
Alisya hanya beralasan, tentu saja dia tidak mau janin yang tumbuh di rahimnya ini kenapa-napa.
Tama mengatupkan bibirnya, dan benar saja dia menghentikan aktifitasnya.
“Loh, kenapa Mas?”
Alisya bingung karena kini Suaminya itu malah berbalik meninggalkan dirinya.
“Kita berendam saja ya, kamu sedang tidak sehat.”
Alisya menggeleng menarik kembali tangan Suaminya.
“Ngga gitu juga Mas, pelan-pelan saja.”
“Aku tidak mau Sayang.”
“kenapa?”
Tama mengecup bibir mungil Istrinya.
“Buatku kamu yang terpenting, kalau kamu tidak sehat aku tidak akan memaksamu.”
“Tapi kamu harus ku tenangi mas.”
Tama menggelengkan kepala.
“Banyak cara lain sayang, nafsuku tak selalu nomer 1.”
Tama menarik istrinya untuk berendam, keduanya bermanja dan saling memeluk. Alisya merasakan kenyamanan yang selama ini selalu suaminya berikan.
“Mas,”
“hmm?”
“Aku boleh tanya gak?”
“Kenapa sayang?”
Alisya membalikan tubuhnya, mengalungkan kedua tangannya dan kini keduanya berhadapan.
“Tapi jangan marah ya.”
Tama langsung menganggukan kepalanya.
“Memangnya aku pernah marah sama kamu hmm?”
“Tidak sih!”
“Lalu kenapa tanya begitu hmm?”
Allisya mengecup bibir Suaminya.
“Sebenarnya kenapa sih aku tidak boleh hamil?”
Deg!
Tama memalingkan pandangannya.
“Haruskah ku jawab?”
Alisya mengangguk cepat.
“Aku harus tau alasan kamu sebenarnya Mas, jangan bilang kamu belum siap. Dalam segi apapun kamu sudah sangat siap bukan?”
“Aku takut sayang.”
“Takut?”
Alisya bingung, menatap Suaminya penuh tanda tanya.
“Aku takut kamu kesakitan saat melahirkan, dan aku tidak mau kamu tersakiti.”
“Mas!”
Tama memegang kedua pipi istrinya, dia harus bisa meyakinkan istri kecilnya ini.
“Aku lebih baik tidak punya keturunan dari pada harus melihat kamu kesakitan saat melahirkan.”
“Itu konyol mas.”
“tapi itu yang aku rasain sayang.”
Alisya menggelengkan kepala.
“Tapi kamu juga harus punya keturunan, kamu harus punya penerus.”
Tama mengerti maksud istrinya, dia tidak bisa memaksakan keinginannya itu.
“kita kan bisa adopsi? Dengan begitu kita bisa punya anak.”
“No Mas, selagi aku bisa mengandung kenapa harus adopsi?”
Kini Alisya sudah menaikan nada bicaranya, dia sangat tidak suka dengan pernyataan suaminya.
“bolehkah kamu menurut saja?”
“Tidak! aku juga punya hak sebagai Istrimu.”
Tama membuang nafasnya, Alisya ini hebat.
Karena dia adalah manusia satu-satunya yang bisa membantah dan berubah prinsip hidup seorang Tama.
Orang tua kandungnya saja bahkan tidak bisa.
“kita bicarakan itu nanti ya, aku sedang ingin bermanja denganmu, jangan memperburuk Moodku sayang.”
“Jadi aku bikin Mood kamu buruk?”
“Ah tidak begitu, astaga!”
Tama meremas rambut belakangnya, kenapa istrinya ini jadi sensitif sekali?
Tidak seperti biasanya.
“Bukan begitu maksud aku sayang.”
“Lalu apa?”
Alisya ingin beranjak namun tubuhnya di tahan segera.
“Kenapa jadi bawel kamu hhhmm?”
“Kenapa? Ngga suka?”
“Ngga!”
Alisya menunduk kedua matanya sudah berair.
“Baik, aku yang salah, aku minta maaf doro ayu.. jangan nangis, pukulah aku.”
Tama mengambil satu tangan Alisya dan memukuli dengan tangan itu.
“Diam ah mas!”
“Pukul saja aku, tidak apa! Aku lebih baik di pukuli kamu dari pada harus liat kamu menangis sayang.”
______
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya