“Capek tidak, Sayang? Aku masih mau sekali lagi.”
“Kamu kuat sekali, Mas,” jawab istrinya sambil tersenyum lelah.
Tama tertawa pelan dan mencium pipi wanita itu dengan penuh kasih. Namun beberapa detik kemudian ia bertanya pelan,
“Sudah diminum pilnya?”
Senyum sang istri perlahan memudar.
“Harus terus, Mas? Aku lelah minum pil KB…”
Tama terdiam sejenak sebelum mengelus rambutnya lembut.
“Turuti saja, Sayang. Ini demi kebaikan kita.”
Istrinya tidak pernah benar-benar mengerti mengapa Tama selalu menolak memiliki anak.
Malam kembali hening saat Tama memeluknya dari belakang. bayangan masa lalu itu kembali datang.
Sebuah rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
“Aku takut kamu meninggalkanku jika tahu siapa aku sebenarnya,” bisiknya dalam hati.
Karena jauh di masa lalu, Tama pernah melakukan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Dan jika kebenaran itu terungkap…
yang hancur bukan hanya rahasianya.
Tetapi juga pernikahan yang selama ini ia jaga mati-matian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEGUGURAN !
“Janin?”
Bukan hanya Tama yang kaget, bahkan semua mata yang ada disana ikut syok.
“Istrimu hamil Tam?” Tama menggeleng dengan sisa-sisa kesadarannya.
“Istri saya hamil Dok?”
Dokter itu mengangguk.
“Tuan tidak tau?” Tama menggeleng lagi.
“Usianya kurang lebih 7 minggu, kandungannya lemah, Dokter kandungan sedang berjuang di dalam sana.”
Tama mematung, mencerna kembali apa yang di dengar.
“Tam?” kini Selin yang datang mendekat. Dia cemas dengan keadaan bosnya.
“Sein, Anakku?”
Gery mendekat mengusap punggung sahabatnya.
“Kamu benar tidak tau Alisya mengandung?”
“Tidak Ger, dia tidak memberitahu aku.”
Tanpa sadar air mata Tama menetes, hatinya sunggu sakit.
“apa ini karena semalam aku menyentuhnya?”
“Tam?”
“Aku terlalu kasar semalam ya?”
“Anakku celaka karenaku?”
Tama meremas lengan Gery namun pria itu hanya membantu menenangkan.
“Sssttt.. kita berdoa saja, semoga Alisya dan kandungannya baik-baik saja.”
Tama mengusap air matanya.
Hening yang mencekam di lorong rumah sakit itu mendadak pecah oleh suara pintu ruang operasi yang terbuka dengan kasar. Dokter kandungan keluar dengan wajah yang tidak bisa menyembunyikan duka.
Langkahnya berat saat menghampiri Tama yang sudah berdiri dengan sisa-sisa harapan di matanya.
"Tuan Tama..."
Dokter itu menghela napas panjang, menatap Tama dengan tatapan yang sangat dalam.
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Nyawa istri Anda berhasil kami selamatkan, pendarahannya sudah terkendali."
Tama merasakan dadanya sesak, ia menunggu kalimat selanjutnya.
"Lalu... anak saya?"
Dokter itu menggeleng pelan, meletakkan tangan di bahu Tama.
"Maafkan kami. Tubuh istri Anda mengalami trauma fisik yang terlalu berat. Janinnya tidak bisa bertahan. Kami terpaksa melakukan tindakan untuk menyelamatkan ibunya."
Dunia seolah runtuh menimpa Tama.
Lututnya lemas, ia jatuh terduduk di lantai rumah sakit yang dingin.
Gery dan Argo hanya bisa terdiam, tidak ada kata-kata yang cukup kuat untuk menghibur seorang ayah yang baru saja kehilangan anaknya karena kesalahannya sendiri.
Dunia Tama seakan runtuh.
Namun, yang lebih menghancurkannya adalah fakta bahwa ia tidak pernah tahu istrinya sedang hamil.
Tama berlari menghampiri istrinya yang masih tak sadarkkan diri.
"Sayang... kenapa kamu nggak pernah bilang kalau kamu sedang mengandung?" bisik Tama di samping ranjang Alisya yang masih memejamkan mata.
Tama menangis hebat, menyadari bahwa di saat ia kehilangan kendali karena obat itu, ia sebenarnya sedang menyakiti darah dagingnya sendiri.
Rasa bersalah itu mulai menggerogoti jiwanya.
beberapa jam kemudian, Alisya terbangun.
Ruangan itu sunyi, hanya ada suara detak monitor yang terdengar seperti lonceng kematian di telinga Tama.
Tama duduk di samping tempat tidur, menggenggam tangan Alisya yang terasa sangat dingin.
Saat mata Alisya terbuka, hal pertama yang ia lakukan adalah meraba perutnya.
Ia menatap Tama dengan tatapan kosong, mencari jawaban yang paling ia takuti.
"Mas..." bisik Alisya, suaranya hilang ditelan isak tangis yang tertahan.
"kandunganku?"
Tama tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menyembunyikan wajahnya di tangan Alisya dan menangis sejadi-jadinya.
"Maafkan aku, Sayang... Ini semua salahku. Seharusnya aku nggak kasar, seharusnya aku bisa mengendalikan diri... Aku yang membunuhnya, sayang. Aku yang membunuhnya!"
Alisya memejamkan mata, air matanya mengalir deras membasahi bantal.
Tidak ada kemarahan di wajahnya, yang ada hanyalah duka yang begitu dalam hingga ia bahkan tidak punya tenaga untuk memarahi suaminya.
Ia membelai rambut Tama dengan lemah.
“Aku kurang baik menjaganya mas.” Tama menggelengkan kepala.
“Tidak sayang, justru aku yang tidak bisa menjaga kalian.”
Tama menangis, Alisya hanya diam meraba perutnya. Bayi yang sangat dia tunggu-tunggu, kenapa Tuhan harus mengambilnya kembali.
Dua hari setelah tragedi itu, Zurich masih tertutup salju,
Namun bagi Alisya, dunia seolah berhenti berputar. Ia hanya duduk diam di ranjang rumah sakit, menatap kosong ke arah pegunungan Alpen dari balik jendela.
Tidak ada air mata, tidak ada kemarahan, hanya keheningan yang mencekam.
Tama tidak pernah meninggalkan sisi istrinya. Ia mencoba menggenggam tangan Alisya, mencium keningnya, dan membisikkan kata-kata cinta.
Namun, Alisya seperti raga tanpa jiwa. Setiap kali Tama menyentuhnya, Alisya sedikit berjengit, bukan karena benci, tapi karena rasa sakit yang luar biasa mengingat bagaimana janin itu hilang dalam pergulatan yang tak sengaja.
Selin, yang biasanya dingin, kini luluh melihat kondisi Alisya.
Saat Tama keluar sejenak untuk mengurus administrasi, Selin duduk di samping Alisya.
"Kenapa kamu diam saja, Sya? Tama sangat khawatir," ucap Selin pelan.
Alisya akhirnya menoleh, matanya berkaca-kaca.
"Dia tidak pernah ingin aku hamil, Sel. Selama pernikahan kami, dia selalu melarang keras. Aku takut... aku takut kalau dia tahu aku hamil, dia akan memintaku menggugurkannya. Jadi aku menyembunyikannya."
Ada rasa bersalah juga di hati Alisya karena tidak jujur pada suaminya.
Selin tertegun. Ia tidak menyangka alasan Alisya tutup mulut adalah ketakutan pada suaminya sendiri.
"Tapi sekarang dia sudah tahu, Sya. Dan dia hancur melihatmu seperti ini."
"Dia hancur karena aku kehilangan 'beban' yang tidak dia inginkan, atau hancur karena kehilangan anaknya?" bisik Alisya pedih.
Tama sebenarnya berada di balik pintu, mendengar setiap kata-kata Alisya. Jantungnya terasa diremas. Dia tidak pernah bermaksud membenci anak mereka.
Alasan dia melarang Alisya hamil adalah karena ketakutan akanmasa lalunya.
Tama masuk ke dalam kamar, matanya merah. Ia berlutut di lantai di hadapan Alisya.
"Sayang... maafkan aku," suara Tama parau. "Aku melarangmu bukan karena aku tidak ingin anak dari kamu.
Aku hanya takut aku tidak bisa melindunginya. Aku takut duniaku yang kotor ini akan menyakitinya. Dan lihat apa yang terjadi... ketakutanku malah membunuhnya."
Sesungguhnya Alisya tidak mengerti arah tujuan ucapan Tama, dia masih diam menatap luar jendela yang begitu teduh.Tama memeluk kaki Alisya, menangis sejadi-jadinya. Alisya, yang selama dua hari ini membatu, akhirnya luluh melihat kerapuhan suaminya. Ia mengelus rambut Tama, dan tangisnya pecah untuk pertama kali sejak operasi.
"Aku hanya ingin menjadi ibu, Mas... Aku hanya ingin kita punya sesuatu yang murni di tengah semua kekacauan ini," isak Alisya.
Tama mengangkat wajahnya, menangkup pipi Alisya dengan penuh cinta.
"Aku berjanji, Sayang. Jika Tuhan memberikan kita kesempatan lagi, aku tidak akan melarangmu. Aku akan membangun benteng terkuat untuk kalian. Tapi sekarang, tolong kembalilah padaku. Aku tidak bisa kehilanganmu juga."
Melihat momen itu, Selin, Gery, dan Gani yang mengintip dari kejauhan merasa lega namun tetap waspada.
Gery tahu bahwa meskipun hubungan Tama dan Alisya mulai membaik, luka keguguran ini akan membekas selamanya.
Mereka pun bersiap meninggalkan Swiss. Gani sudah menyiapkan pengawalan ketat. Tama bersumpah dalam hati, selama perjalanan pulang dan seterusnya, dia akan memberikan sisa hidupnya untuk menyembuhkan luka Alisya, meski dia tahu Kevin masih berkeliaran seperti bayangan yang menunggu waktu untuk menyerang kembali.
“Jaga istrimu Tam.”
Bisik Selin pada Tama, lelaki itu mengangguk.
suka sama karakter Tama walaupun kejam dan cuek tapi sama istri selalu lembut
love banget pokonya 😗 😗
antagonis mulai keluar nih kayanya