Elena bukan perempuan biasa meskipun hidupnya tampak biasa. Lahir dari keluarga berada, ia rela meninggalkan segalanya demi menikahi Adrian, lelaki sederhana yang ia cintai sepenuh hati.
Mereka hidup miskin tapi bahagia. Hingga suatu hari Adrian merantau ke kota mencari kerja dan perlahan menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada lagi kiriman uang. Tapi Elena tetap setia menunggu, banting tulang sendirian, membesarkan kedua buah hatinya dengan keyakinan bahwa suaminya pasti punya alasan dan suatu saat pasti kembali.
Hingga pada akhirnya kabar itu datang padanya. Bahwa Adrian ternyata hidup mewah di kota bersama wanita lain.
Elena memutuskan datang ke kota menyusul suaminya dan ia mendapati pengkhianatan yang telah dirancang sejak lama. Elena diam-diam mulai menyusun rencana untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Entah sudah berapa lama Elena duduk di sana ketika Bu Ratih akhirnya dengan sangat pelan menyentuh bahunya.
"Elena. Kita harus hubungi pihak rumah sakit. Ada banyak yang harus..."
"Sebentar." Suara Elena serak sampai tidak terdengar seperti suaranya sendiri.
Bu Ratih menarik tangannya kembali.
Elena menatap wajah anaknya untuk terakhir kalinya menelusuri setiap detailnya dengan matanya, menghafal semuanya, menyimpannya di tempat yang tidak akan pernah bisa dilupakan.
Pipi yang tembam. Hidung yang kecil. Bulu mata yang panjang. Bibir yang selalu sedikit terbuka saat tidur. Lalu pelan-pelan ia melepaskan tangan Ara.
Elena pun berdiri. Mengusap wajahnya dengan punggung tangannya yang sudah basah. Menarik napas yang panjang dan berat sampai dadanya penuh, lalu menghembuskannya pelan sampai kosong.
Elena menoleh ke Bu Ratih.
"Saya harus menelepon Adrian."
Bu Ratih menatapnya dengan mata yang masih basah. Ia mengangguk pelan tanpa berkata apapun.
Elena mengeluarkan ponselnya. Membuka nama Adrian. Menekan tombol telepon.
Telepon itu tersambung tapi begitu lama Elena menunggu tidak ada jawaban. Hampir saja Elena mengakhiri panggilan, lalu suara itu terdengar. Berat, kasar, tidak sabar. Suara orang yang sangat terganggu.
"Halo? Elena? Jam berapa ini?"
Elena membuka mulutnya tapi Adrian sudah melanjutkan.
"Kamu tahu tidak sekarang jam berapa? Ini sudah lewat tengah malam. Aku besok ada meeting pagi, aku lagi tidur. Kalau tidak ada yang benar-benar penting jangan telepon jam segini, dong. Aku juga butuh istirahat, aku kerja keras di sini..."
"Adrian."
"Apa? Kenapa? Ada apa lagi?"
Elena menarik napas.
"Ara sudah tidak ada."
Hening.
Hening yang tiba-tiba berhenti seperti seseorang yang menghantam tombol pause di tengah-tengah sebuah film.
"...Apa?" Suara Adrian keluar berbeda dari sebelumnya, lebih pelan, lebih lambat, seperti orang yang baru saja mendengar bahasa yang tidak ia mengerti dan sedang mencoba menterjemahkannya.
"Ara demam tinggi dari kemarin." Elena mengucapkan setiap kata dengan jelas, dengan pelan, dengan cara yang tidak memberikan ruang untuk salah dengar. "Tengah malam tadi kejang. Saya bawa ke rumah sakit kabupaten. Dokter sudah berusaha tapi tidak berhasil." Ia berhenti sedetik. "Ara sudah tidak ada, Adrian."
Hening lagi. Lebih panjang kali ini. Elena menunggu.
Ia tidak tahu apa yang ia harapkan dari seberang telepon itu, mungkin tangisan, mungkin kepanikan, mungkin suara orang yang langsung bilang ia akan ke sana, ia akan datang, ia minta maaf karena tidak ada. Mungkin itu yang masih ada di sudut hatinya yang paling naif yang masih belum mati.
Tapi yang ia dengar bukan itu.
"Kamu serius?" Suara Adrian akhirnya terdengar, dan ada sesuatu di nadanya yang membuat bulu kuduk Elena berdiri. Bukan sedih atau hancur yang ia dengar. Tapi seperti orang yang tidak tahu harus bereaksi apa dan memilih untuk tidak percaya dulu. "Kamu tidak lebay kan? Anak demam wajar, Elena. Anak kecil sering demam. Masa langsung...."
"Adrian." Suara Elena sangat pelan. "Saya tidak menelepon kamu jam dua belas malam untuk lebay-lebayan."
"Tapi...."
"Ara sudah tidak ada." Elena mengulangnya sekali lagi. Kalimat itu yang paling berat yang pernah ia ucapkan sepanjang hidupnya. "Putri kamu. Anak kita. Sudah tidak ada."
Hening lagi. Lalu suara Adrian berubah, dan perubahan itu membuat Elena ingin melempar ponselnya ke dinding.
"Ini gimana sih kamu ngurus anak?" Suaranya meninggi, bergetar, mencari sasaran. "Anak demam saja tidak bisa ditangani. Kamu itu ngapain saja di sana? Kamu ibu macam apa sih? Masa anak sekecil itu dibiarkan sampai parah begitu...."
"Adrian...."
"Kamu itu tidak becus!" Suaranya semakin keras sekarang, tidak lagi menahan. "Saya kerja mati-matian di sini, saya kasih uang setiap bulan, tapi untuk jaga anak dua orang saja kamu tidak sanggup? Satu hal itu saja, Elena. Satu hal. Jaga anak. Masa tidak bisa?"
Di sampingnya Bu Ratih menghentikan napasnya.
Elena tidak bergerak. Bahkan seperti tidak berkedip.
Ia membiarkan Adrian selesai berbicara. Membiarkan semua kata itu keluar dan jatuh satu per satu di telinganya, kata-kata yang harusnya tidak pernah diucapkan seorang suami kepada istrinya yang baru saja kehilangan anaknya.
Lalu Elena mulai berbicara.
"Kamu kasih uang setiap bulan." Suaranya keluar sangat tenang, seolah sudah lelah menghadapi keadaan. "Uang terakhir yang kamu kirim itu enam bulan lalu, Adrian. Enam bulan."
"Itu...."
"Saya kirim pesan minta uang buat beli obat Ara." Elena memotong tanpa menaikkan nada suaranya sedikit pun. "Kamu baca. Kamu tidak balas. Saya telepon. Kamu tidak angkat. Saya tidak punya uang untuk beli obat. Saya tidak punya uang untuk beli beras. Saya tidak punya uang untuk apa-apa karena sudah enam bulan kamu tidak mengirimkan sepeser pun."
"Kamu harusnya kerja...."
"Saya kerja." Suara Elena untuk pertama kalinya malam itu ia tinggikan. Cukup untuk menunjukkan bahwa di balik semua ketenangan itu ada sesuatu yang sangat terluka. "Saya kerja serabutan, saya cuci baju orang, saya jual apa yang bisa dijual. Tapi hari itu saya tidak bisa kerja karena Ara sakit dan saya tidak bisa meninggalkan anak yang sakit sendirian di rumah." Napasnya sedikit tidak rata. "Saya bahkan pergi ke tetangga minta pinjam uang tapi malah mendapat hinaan."
Hening di seberang.
"Jadi sebelum kamu bilang saya tidak becus ngurus anak...." Elena melanjutkan dengan suara yang sudah kembali datar dan sangat dingin, "tanya dulu ke diri kamu sendiri. Kamu sudah becus jadi ayah? Kamu sudah becus jadi suami? Kamu sudah becus jadi laki-laki yang pergi merantau katanya mau cari kehidupan lebih baik tapi tidak pernah pulang, tidak pernah kirim kabar, tidak pernah kirim uang, dan sekarang baru mau bicara setelah anak kita sudah tidak ada?"
"Elena, aku...."
"Saya butuh uang untuk biaya rumah sakit dan keperluan pemakaman Ara." Suara Elena kembali menjadi laporan, suaranya datar dan tenang, tanpa emosi yang terlihat. "Kirimkan sekarang. Itu satu-satunya yang saya minta malam ini."
"Aku akan ke sana...."
"Tidak perlu."
"Elena...."
"Saya bilang tidak perlu." Elena mengucapkannya untuk kedua kalinya dengan cara yang tidak memberi ruang untuk dibantah. "Kamu tidak ada waktu saat anak kamu masih hidup. Jangan pura-pura peduli sekarang saat dia sudah pergi."
Ia menutup telepon. Tangannya menurunkan ponsel itu perlahan ke sisinya.
Bu Ratih di sampingnya menangis diam-diam, menyeka matanya berkali-kali dengan ujung dasternya. Perempuan tua itu tidak berkata apa-apa karena mungkin memang tidak ada kata yang tepat untuk momen seperti ini.
Elena memasukkan ponselnya ke saku. Dan berjalan ke meja perawat untuk mengurus semua yang perlu diurus.