NovelToon NovelToon
Randy Sang Tabib Tampan

Randy Sang Tabib Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Harem / Dokter Ajaib
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: jeffc

Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.

Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.

Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langit Jingga

Mat Pelor mengendarai motornya ke rumah Mbah Sembur Getih, sendirian saja.

“Selamat siang, bang,” sapa Arief yang menjaga parkir di wilayah itu. ”Perlu dianter?”

“Gak usah, biar gua sendirian aja,” kata Mat Pelor yakin. “Lu jaga aja wilayah ini biar aman.”

“Siap, bang,” jawab Arief sambil melakukan hormat ala tentara.

Mat Pelor segera masuk ke ruang tamu merangkap ruang tunggu di rumah Mbah Sembur Getih. Ruang tamu itu cukup membuat merinding bagi siapa pun yang masuk ke situ, termasuk Mat Pelor. Ruang itu berbau kemenyan yang pekat, bercampur bau amis, entah bau darah atau apa. Suasana ruang itu remang-remang, dengan sinar hanya bersumber dari cahaya sebuah lampu minyak kecil yang membuat bayangan-bayangan bergoyang mengikuti gerakan api lampu itu.

Dinding ruang itu tampak ada coretan-coretan dan ada beberapa bagian yang terkelupas sampai kelihatan batu batanya. Di beberapa bagian dinding itu tergantung beberapa jimat berupa anyaman akar dan beberapa tengkorak kecil, mungkin tengkorak kucing, anjing, atau monyet, entahlah.

Ada dua orang tengah duduk di kursi tamu tua dari kayu yang pliturnya sudah pudar, dengan ukir-ukiran yang tidak dapat dikatakan cantik lagi. Ada seorang bapak-bapak berkumis dengan baju parlente dan di jarinya berhias cincin dari batu akik, tampaknya sedang menunggu giliran menemui Mbah Sembur Getih sambil asyik merokok.

Di dekatnya, seorang laki-laki setengah baya yang berpakaian bersih dan membawa sebuah tas duduk diam sambil setengah tidur. Dia hanya melirik sedikit ketika Mat Pelor tiba dan duduk di sebuah kursi.

Seorang karyawan Mbah Sembur Getih mempersilakan bapak yang berkumis tadi masuk ke kamar satunya yang dijadikan ruang praktik Mbah Sembur Getih. Setengah jam kemudian, bapak tadi keluar, dan bapak yang satunya dipersilakan masuk. Sekitar 20 menit, bapak tersebut keluar, dan staf Mbah tadi mempersilakan Mat Pelor masuk. “Silakan masuk, bang,” ujarnya.

Ruangan praktik Mbah Sembur Getih tidak terlalu luas, hanya sekitar 4x4 meter dan dindingnya dicat serba hitam, juga dengan pencahayaan yang bersumber dari sebuah lampu teplok yang digantung di dinding. Di pojokan ada sebuah kelambu dengan seseorang sedang duduk bersila dan di depannya ada sebuah anglo yang menyala. Seseorang yang menyebut dirinya Mbah itu tampak belum terlalu tua, berusia sekitar 50-an, dengan kumis dan brewok yang menghiasi wajahnya. Dia berpakaian serba hitam lengkap dengan ikat kepala batik.

“Silakan mendekat,” kata Mbah Sembur Getih lalu terbatuk sebentar. “Apa yang bisa saya bantu?”

Mat Pelor kemudian mendekat ke tempat Mbah Sembur Getih bersila di dalam kelambu. Kemudian dia juga duduk bersila di depan Mbah Sembur Getih.

“Saya punya musuh di wilayah ini, mbah,” kata Mat Pelor. “Saya butuh bantuan mbah untuk menggarap musuh saya tersebut.”

“Berapa usianya sekitar?” kata Mbah Sembur Getih dengan suara berat agak menakutkan. “Ada fotonya?”

“Yang sekitar 40-an, mbah,” jawab Mat Pelor tegang, kemudian mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Bung Karta perlahan. “Kebetulan ada, ini mbah.”

“Namanya siapa?” tanya Mbah Sembur Getih.

“Dia menyebut dirinya Bung Karta, mbah,” jawab Mat Pelor.

“Alasan apa kamu hendak melenyapkan dia?” tanya Mbah Sembur Getih menatap lekat ke Mat Pelor.

“Saya curiga dia meracuni istri saya 10 tahun yang lalu, mbah,” jawab Mat Pelor.

Mbah Sembur Getih diam saja dan hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian dia memejamkan mata dan berkomat-kamit sejenak lalu menyebarkan garam ke dalam bara api di dalam anglo di depannya. Lalu dia mengambil sesuatu dari mejanya, sebuah kotak, lalu membuka dan meniupnya.

“Ini beras kuning yang sudah saya kasih mantra,” kata Mbah Sembur Getih. “Sebarkan di halaman rumahnya jam 4 pagi sebelum matahari terbit,” katanya.

“Cuma ini, tidak ada syarat lain, mbah?” tanya Mat Pelor.

“Iya, cukup itu saja,” tegas Mbah Sembur Getih. “Jangan lupa sebelum jam 4 pagi ya, sebelum matahari terbit.”

“Baik, mbah,” jawab Mat Pelor. “Biayanya berapa, mbah?”

“Saya tidak mengenakan tarif,” jawab Mbah Sembur Getih sambil menunjuk sebuah baskom berwarna hitam yang ditutupi sehelai kain warna hitam juga. “Terserah berapa saja, dan masukkan ke dalam baskom itu.”

Mat Pelor membuka tutup baskom itu dan dilihatnya sudah ada beberapa lembar uang seratus ribuan, lalu menaruh dua lembar seratus ribuan, kemudian menutup kembali baskom itu.

“Terima kasih, mbah,” kata Mat Pelor lalu pamit dan keluar ruangan itu sambil membawa kotak berisi beras kuning pemberian Mbah Sembur Getih tadi. Di ruang tamu, kini sudah ada seorang tamu lagi, muda, berusia sekitar 30-an.

“Silakan masuk, mas,” kata sang staf itu. Mat Pelor lalu berjalan pelan keluar menuju motornya.

“Beres, bang?” tanya Arief begitu melihat Mat Pelor.

Mat Pelor tidak menjawab, dan hanya berkata, “Pastikan wilayah ini aman.”

“Siap, bang,” kata Arief, dan Mat Pelor pun segera menarik gas motornya meninggalkan tempat itu.

Deru knalpot motor Mat Pelor yang berisik memecah keheningan gang sempit dekat rumahnya, dan kemenyan seolah masih menempel di baju, dan kotak berisi beras kuning di saku jaketnya terasa lebih berat dari biasanya. Mat Pelor lalu menggenggam erat-erat kotak kecil itu dengan keyakinan dendam lamanya akan segera terbalas.

Beberapa jam kemudian, saat matahari sudah mulai terbenam, langit mulai berubah jadi warna jingga keemasan dan burung-burung terbang ke sarang menghiasi langit itu, di ujung kota yang sama, di sebuah rumah sederhana tapi rapi di pinggiran perumahan, Randy bersenandung riang sambil mengaduk masakan di dapur. Malam ini malam minggu, hari ini dia mau mengajak Mulan beserta papa dan mamanya makan malam.

Setelah mandi dan berdandan secukupnya, dia lalu memanaskan mesin mobil Solunanya, kendaraan yang jarang dia pakai, kecuali terpaksa seperti saat ini. Jika dalam keadaan biasa, Randy lebih senang mengendarai motor Kawasaki Ninjanya yang lincah dan bisa selap-selip menembus jalanan macet.

“Mau ke mana, Rand, rapi amat?” tanya mamanya heran. “Mau ngapel ya? Sudah ada gebetan?”

“Enggak, ma, ada janji mau makan sama teman,” kata Randy sambil tersenyum lalu mencium kening mamanya. “Randy pamit keluar dulu ya, ma, pamitin ke papa juga.”

Mama Randy cuma bisa geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat tingkah anaknya yang tidak biasanya sore itu. Randy lalu segera memacu sedan Soluna tuanya ke Petak Sembilan.

Di Petak Sembilan, Suwanto tampak gundah tidur di tempat kawannya. Ponselnya bergetar. “Halo, Wan, bagaimana? Ada perkembangan rencana lu nyomblangin gua sama adik lu?” tanya Rody dari seberang telepon.

“Halo, Rod,” balas Suwanto di teleponnya. “Si brengsek itu bikin rusak rencana, Rod.”

“Itu urusan lu,” potong Rody. “Gini aja, gua kasih waktu lu sebulan. Kalau lu nggak bisa ndeketin gua sama adik lu, utang lu harus lunas. Titik.” Telepon lalu terputus, menyisakan Suwanto dengan pandangan kosong namun berpikir keras.

“Gua lagi diusir dari rumah, gimana caranya bisa ngedeketin Mulan dan Rody?” pikirnya dalam hati. Tiba-tiba dia punya akal.

“Wan, kenapa lu, kok bengong gitu?” tanya Daniel, kawan Suwanto. “Kayak kesambet apa gitu?”

“Dan, gua harus pulang cepat-cepat, ada sesuatu yang harus gua kerjain,” jawab Suwanto.

“Bukannya elu lagi diusir sama bokap lu?” tanya Daniel heran.

“Bener, Dan,” jawab Suwanto. “Terima kasih bisa numpang nginep semalam, tapi gua harus pulang dulu, ntar gua jelasin.” Suwanto lalu mengemasi barang-barangnya dan mengendarai sepeda motornya pulang ke rumahnya.

Apakah santet Mbah Sembur Getih akan bisa mencelakai Bung Karta, atau malah menjerat Mat Pelor dalam penyesalan yang lebih dalam? Dan apa rencana Suwanto yang membuatnya buru-buru pulang ke rumah pada sore hari menjelang malam itu?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!